
Hari sudah malam dan Lorenzo masih diam dengan memikirkan macam-macam cara untuk membuat Elisa merasa kesal.
Hah kenapa aku jadi suka mengerjainya ya. Tersenyum tipis.
Stefan yang melihat dari spion mobil terheran-heran melihat tingkah Tuannya yang dari siang tadi suka tersenyum sendiri.
Sampai di mansion Elisa dan Pak Sam sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang tuan, bagaimana hari Anda?" tanya Elisa mengambil tas yang di pegang Lorenzo.
Lorenzo melirik tanpa membalas.
Maunya apa sih, jelas-jelas aku sudah menyapanya tapi malah diam saja.
"Kalau begitu saya permisi Tuan," Stefan menunduk hormat kepada Lorenzo tapi sebelum Lorenzo masuk Dia belum pergi. Elisa menoleh sesekali kebelakang memastikan keberadaan sekretaris Stefan yang belum pulang.
Sudahlah.
Lorenzo masuk duluan ke kamar dengan isyarat tangan kepada pak Sam agar tidak perlu masuk, lalu disusul Elisa. Suara tutupan pintu oleh pak Sam sangat menggelitik buku kuduk Elisa.
Elisa menoleh ke arah Lorenzo yang sudah duduk di kursi. Elisa menghampiri lalu duduk bertumpu di atas kakinya dan melepaskan sepatu Lorenzo. Setelah meletakkan sepatu di tempatnya Elisa membuka blazer Lorenzo.
Tangannya gemetar tidak bisa lagi membuka kemeja putihnya karena masih syok dengan kejadian kemarin dia belum siap melihat sesuatu yang menodai mata, tapi sebenarnya bisa dibilang limited pemandangan tapi Dia tidak berpikir seperti itu. Lorenzo meliriknya yang diam.
"Kau siapkan saja air mandiku," lalu Dia berjalan menuju ruang ganti.
Untunglah.
Elisa berjalan cepat menuju kamar mandi Ia menyalakan keran air di dalam bak mandi dan menambahkan sabun dan aroma terapi di dalamnya. Setelahnya Elisa keluar secara bersamaan dengan Lorenzo dari ruang ganti yang memakai handuk yang melingkar di pinggangnya sehingga tampak lagi otot perut, bahu, dan dada bidangnya yang pastinya sering dilatih olahraga.
Elisa menutup mata mencoba mengontrol dirinya dan terus bersabar menghadapi kehidupannya yang baru ini.
Ia menunggu Lorenzo masuk ke dalam kamar mandi namun yang di dalam bersuara.
"Mau ke mana kau? Bilas rambutku."
Elisa berjalan dalam diam dan duduk di belakang bak membelakangi Lorenzo.
Apa dia masih tidak puas mempermainkanku?
Elisa mengambil sampo dan memijat-mijat kepala Lorenzo itu. "Kurang kuat," ucap Lorenzo.
Oke rasakan ini.
"Kau ingin membuat otakku gegar ya?"
"Maafkan saya Tuan, apa seperti ini sudah pas?" Lorenzo tidak menjawab.
Bagaimana bisa bahunya secantik ini. Memperhatikan punggung Lorenzo yang putih bersih itu dan tentu bau badannya yang khas masih tercium.
Hening, Lorenzo diam dalam kebisuan setelah itu dan Elisa yang diam tapi pikirannya ke mana-mana.
Laki-laki seperti ini tidak mungkin tidak memiliki pacar kan? Toh dia menikah denganku karena aku mengandung anaknya, aku cukup sadar diri tidak bisa disamakan dengannya, jelas. Kejadian seperti itu pasti akan mudah dilupakannya. Tidak heran suatu saat dia akan membuangku dan memisahkanku dari anakku tapi aku tidak akan menerima begitu saja jika dia memisahkanku dari anakku . Baiklah Elisa untuk mencegah dirimu menjadi sampah yang lebih buruk lagi aku akan membuka sebuah usaha toko. Sudah untung dia memperlakukanku seperti ini.
__ADS_1
Elisa terperanjat saat Lorenzo berdiri dan berjalan menuju shower untuk membilas rambutnya, Elisa membuka saluran bak mandi sehingga air di dalamnya seketika kosong. Elisa berdiri saat Lorenzo berjalan keluar. Dilihatnya laki-laki itu duduk bersender di sofa dengan kepala tertidur tertutup handuk. Elisa mendatanginya dan berdiri di sebelahnya.
"Kenapa berdiri saja? Pijat pundakku, bukankah kau sudah membaca kertas panjang tadi dan menambahkan catatan tambahan?" ucap Lorenzo mengangkat kepalanya dan menyingkirkan handuk kecil itu di sampingnya.
Apa! Bagaimana dia tahu jangan-jangan. Elisa melihat sekeliling di setiap pojok ruangan dan... dilihatnya ada beberapa cctv yang memantau.
Argh Elisa kenapa kau tidak lihat-lihat ke atas tadi? Dia pasti tahu kan apa yang kulakukan seharian? Tidak, Dia tahu lihat saja dibalik wajah datarnya itu, pasti ada seribu cara untuk mengerjaiku.
"Ahaha apa yang Anda bicarakan saya hanya berkeliling mansion saja," tersenyum pelik.
"Jika sudah mengerti cepat lakukan tugasmu," titahnya Elisa berjalan sambil bergerutu mencaci maki dirinya yang sangat ceroboh sehingga membiarkan Tuan Muda ini mendengar semua ocehannya siang tadi.
Elisa berdiri di belakang Lorenzo dan mulailah sesi memijat nomor dua hari ini.
"Tenagamu kurang kuat bukankah pak Sam sudah memberimu makan tadi?"
Elisa tidak menjawab dan terus memijat punggung Lorenzo sampai tangannya merasa keram.
Dia ini berkepribadian ganda ya? Kenapa saat di apartemen dia seperti orang yang berbeda. Tapi mulutnya tetap tajam seperti biasa sih. Ahh aku jadi ingat Nenek, ingin pulang ke desa melihat pemandangan hamparan hijau.
Sangat berbeda dengan sekarang kehidupan masyarakat kelas atas hanya ada barang-barang mewah mengkilap di setiap sudut ruangan. Walau di kamar Lorenzo tidak memiliki banyak aksesoris dan properti karena Dia tidak terlalu menyukai banyak barang, tapi barang-barang kecil contohnya seperti pin yang dipakainya, dari parfum dan perlengkapan mandi saja sudah dari brand terkenal.
"Duduk di sini," ucap Lorenzo menepuk sofa di sampingnya.
Akhirnya tangan keramku bisa beristirahat sebentar.
Elisa pun duduk di sampingnya.
"Apa kau menyukai pakaian yang tertutup,kulihat kau sangat suka memakainya?" Elisa mengangguk. "Kenapa? Di sini bukanlah negara timur," menoleh ke arah Elisa.
*Me*mang perlu ya menanyakan hal yang sudah pasti begini?
"Kenapa rambutmu pendek sebahu seperti ini, kau memotongnya? Aku menyukai wanita berambut panjang."
Kalau kau tidak suka ya sudah, memang bisa menumbuhkan rambut dalam waktu singkat?
"Ehm itu...," Elisa memegang rambutnya. "Saya hanya tidak suka hal yang mere...potkan...," ragu menjawab karena Dia sudah tau apa yang akan keluar dari mulut tajam Lorenzo.
"Lalu kenapa kau berperilaku aneh tadi siang? Pasti kau ingin menguntit semua hal tentangku ya?"
Kan! Aku tahu kau memang ingin membuatku kesal.
"Haha apa maksud Anda saya hanya house tour?" Lorenzo tertawa membuat Elisa bergidik ngeri lalu Dia berdiri dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil baju tidur Lorenzo.
"Ini Tuan," Elisa menyerahkan baju tidur kepada Lorenzo tapi hanya mengambang angin tidak di sambut. Lorenzo mengernyit.
"Apa? Bukankah kau sudah membaca semuanya?"
Haaa serius Dia menyuruhku memakaikannya baju!?
"Ta...tapi Tuan bukankah lebih cepat jika Anda memakai sendiri?" sedikit berani Elisa ini, ya dia sadar jika itu bisa membuat Lorenzo marah tapi bagaimana lagi hatinya belum siap untuk pemandangan itu lagi.
"Kau membantahku?" nada bicaranya sudah kesal Elisa mengaku kalah pada pendirian yang sekejap dibuatnya tadi.
__ADS_1
"Ba..baiklah," Elisa memakaikan baju tidur Lorenzo dengan sekejap menutup mata sekejap membuka saat akan pindah tempat.
"Heem," Elisa mendongak saat memasang sendalnya dan melihat Lorenzo memasang senyum penuh kemenangan.
Elisa merinding.
Apa lagi sih, puas kan puas!
Setelah selesai mengurus suami itu, Elisa duduk di sofa ketika Lorenzo menggunakan telepon dinding rumah. Tidak terdengar apa yang dibicarakannya, namun itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan Elisa.
Dilihatnya lagi laki-laki itu sudah duduk bersandar di atas ranjang dan mengisyaratkan tangannya yang kalau diterjemahkan artinya 'kemari' Elisa langsung berdiri dan berjalan lalu berhenti di depan Lorenzo.
Orang yang punya kaki panjang memang jalannya cepat ya.
"Kenapa berdiri? Cepat tidur," menepuk ranjang kosong di sampingnya.
"Ba-baik," Elisa berjalan pelan menuju ranjang teringat kejadian kemarin malam yang membuatnya di permainkan Lorenzo.
Pelan-pelan Elisa jangan sampai kau membuat suara. Dilihatnya Lorenzo menghadap sisi lain dan sepertinya sudah tertidur di bawah selimut.
"Sepertinya kau melupakan kesalahanmu kemarin malam ya, lihat dadaku masih saja sakit," memegang dadanya, duduk melipat kaki panjangnya dan menghadap Elisa yang tidur menghadap ke sisi lain.
Sial aku bahkan memaksanya untuk melihat ke arahku!
Elisa duduk bersimpuh ke arahnya "Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menenebusnya?"
"Ya pijat," mengangkat kepalanya sombong.
Memang ada ya memijat dada? Dasar Tuan Muda ini apa dia maniak pijat?
Elisa mendekat dan menempelkan tangannya di dada bidang Lorenzo yang tertutup baju dipikirannya bukankah ini badan yang berkulit putih bersih dengan otot yang bagus. Pijat-pijat terus, ada sedikit aliran listrik yang menyambar ujung jarinya. Ia mendongak melihat Lorenzo menatapnya. Lalu dia memegang bibir Elisa.
"Ini bibir yang membicarakan aku tadi siang kan?" Elisa terkesiap.
"A-apa maksud Anda," melepaskan tangan Lorenzo yang memegang bibirnya.
"Aku ingin memakannya," Elisa bergidik. Walaupun sekarang mereka resmi menjadi suami istri Elisa belum terbiasa dengan sentuhan pria ini.
Lorenzo memegang lembut leher dan bahu Elisa mendekatkan dirinya. Dan cup, ciuman pertama sudah masuk ke mulut Elisa dorongan yang sedikit demi sedikit masuk memaksanya membuka mulut.
Elisa yang tidak pernah berciuman kehabisan napas.
"T...tuan," Lorenzo melepaskan ciumannya dan mengambil napas, ciuman kedua masuk dengan mudah Lorenzo sepertinya sangat menikmati ciuman ini dia ******* dan menjaja bibir Elisa. Sedangkan Elisa sendiri kaku dan tidak bisa mengikuti arah kecepatan Lorenzo.
Lorenzo melepaskan ciumannya dan menatap Elisa yang wajahnya sangat merah sekarang dengan napas terengah-engah. Ctakk. Lorenzo menyentil dahinya.
"Bernapas bodoh, kau harus belajar lagi," tersenyum puas. "Apa bibirmu memang merah dan semanis ini?" mengelap bibir Elisa dengan jarinya, masih menatap Elisa lekat.
Elisa tidak menjawab dan memalingkan wajahnya memilih tidur menghadap sisi lain dan menutup kepalanya dengan bantal.
Aaaa apa lagi sih, belum puas mengerjaiku dia malah menciumku apa dia tidak lihat aku sangat malu seperti ini dan masih saja bisa menanyakan hal itu. Pasti dia sudah sering melakukan ini dengan banyak wanita.
Malam diakhiri dengan senyum kemenangan Lorenzo yang mendapatkan keinginannya mencicipi gulali baru menurutnya.
__ADS_1
Hah apa dia memang sepolos ini?
Halo semuaa selamat membaca hehe terima kasih💖🙆♀️❤