Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Titik Temu


__ADS_3

Argh aku hampir telat.


Lea memasang sepatunya dengan buru-buru karena semalam Dia pergi keluar sebentar bersama Alexa dan ternyata Ia lupa dengan satu persyaratan yang harus dibawanya saat ujian tes nanti, lalu Ia pergi keluar lagi untuk mencari setelah berkeliling mereka baru pulang pada tengah malam.


"Lea santai jangan merasa terdesak seperti itu," sahut Alexa yang sedang memeriksa bagasi mobilnya.


"Ayo Kak!" Lea berlari kecil mendekati Alexa.


"Haaa memang ya semangat muda itu masa keemasan hidup."


Lalu Alexa mengantar Lea sampai universitas dengan cepat, beberapa menit sebelum ujian dimulai Lea datang dengan tepat.


"Oke sampai di sini saja aku mengantar, Lea semangat kau pasti bisa melakukannya. Bukankah kau sudah sangat berjuang untuk momen ini?" sambil memegang kedua bahu Lea.


"Terima kasih Kak, aku akan berusaha semaksimal mungkin," Alexa pun mengangguk lalu Lea berjalan memasuki gerbang universitas. Alexa pergi saat Lea sudah tidak terlihat lagi.


"Yap sekarang waktuku bekerja semangat-semangat," Alexa meregangkan kedua tangannya lalu pergi kerumah sakit.


...----------------...


Setelah kejadian di kantin kemarin kini perusahaan dipenuhi pembicaraan mengenai wanita yang memiliki kartu putih milik Lorenzo banyak yang berspekulasi bahwa dia adalah Istri yang selama ini disembunyikan, Istri yang tidak dihargai dan diakui. Tidak butuh waktu lama untuk Stefan mendengar ini, Ia dengan cepat memberitahu Lorenzo.


"Tuan maafkan saya karena lancang mengatakan ini, mengenai Nona Elisa saya akan bertangg-"


"Aku tahu," Lorenzo memotong pembicaraan Stefan. "Kau cukup berbicara dengan pegawai kantin yang melayaninya, aku serahkan kepadamu."


Stefan mengangguk. "Baik Tuan," lalu Ia segera pergi keruangan pribadinya dan menelpon kepala Koki kemarin.


"Iya Tuan Stefan?"


"Suruh pegawai yang melayani Nona Elisa ke ruanganku sekarang."


"B-baik Tuan," Stefan langsung mematikan sambungan.


Koki itu langsung berjalan menuju kantin depan. "Luna," panggilnya. Lalu Ia langsung menoleh.


"Iya Tuan Koki ada apa?"


"Kau disuruh Tuan Stefan keruangan pribadinya sekarang."


"A-apa Tuan? Tiba-tiba sekali apa yang sudah saya lakukan?" Luna sangat cemas dan wajahnya menjadi lebih pucat, karena Ia sangat tahu sekretaris Stefan itu seperti apa. Selain wajahnya Ia sangat takut dengan hal lain yang dimiliki Stefan, itupun Ia hanya berani menatapi Stefan dari kejauhan.


"Sekarang," tegas kepala Koki.


Lalu ia melepas celemek dan segera naik ke lantai atas. Sekeluarnya Luna dari lift pegawai Ia menggengam erat tangannya dengan wajah pucat pasi. Lalu berjalan menuju ruangan Stefan.


Tok tok tok


Luna mengetok pintunya dengan gemetaran.

__ADS_1


"Masuk," suara dingin Stefan membuat badan Luna merinding bukan main.


"Permisi Tuan," ucapnya sambil menunduk lalu Ia berdiri di depan Stefan. "A-ada apa Tuan memanggil saya?" tanyanya .


Stefan menatapnya. "Mengenai Nona Elisa. Kau pasti paham kan?"


Luna mengangguk. "Maaf Tuan b-bukan saya yang menyebarkan berita seperti itu."


"Jangan menggali kuburanmu sendiri," Luna langsung merapatkan bibirnya. "Aku tidak peduli kau atau orang lain yang melakukannya, kau harus memberitahu orang lain jika hal itu tidak benar bagaimanapun caranya. Aku menunggu tindakanmu, pergilah."


Luna menganggukkan kepala. "Baik Tuan," dan pergi sambil menundukkan kepalanya.


Padahal aku hanya memastikan bagaimana Nona itu memiliki kartunya. Itu kan juga pekerjaanku, bagaimana bisa aku yang harus bertanggung jawab karena hal ini.


Luna banyak memikirkan berbagai cara untuk mengatasi hal ini, padahal Dia baru saja diterima di Elioztan Group walau umurnya tidak terlalu jauh dari Stefan tapi Dia merasa bahwa mereka benar-benar berbeda jauh dalam unsur mental.


Padahal anda memiliki wajah tampan, jika sikap anda seperti itu bisa-bisa anda tidak akan menikah nanti Tuan Stefan!


Lalu Luna kembali mengerjakan tugasnya setelah tiba jam makan siang itulah saat yang tepat untuk membenarkan kesalahpahaman terhadap Nona Elisa, menurut Luna. Tapi ternyata tidak semudah itu.


Luna memberitahu mereka jika Ia dipanggil Tuan Stefan dan memberitahu kebenarannya bahwa Ia adalah Istri Tuan Lorenzo yang sangat dicintainya lihat saja Dia sampai memberikan kartu putih miliknya. Seperti itu.


Sebagian teman-temannya ada yang percaya tapi juga masih ada yang memiliki pendapat masing-masing dan memilih untuk diam saja. Dan karena hal ini gosip mengenai Nona mereka sudah mereda.


Untuk pertama kalinya Stefan ke kantin sendiri dan mengambil makanannya, saat itu juga Luna sedang berada di depan hingga mereka bertemu.


"Dua sandwhich dan affogato," Luna mengenali suara itu saat sedang menunduk mengambil tisu, lalu Ia langsung mendongak dan berdiri.


"Ini Tuan," ucap Luna sambil memberikan nampan kepada Stefan dan mengambilnya.


Stefan memegang gelas affogato dan melirik Luna, "Jika seperti ini pegawai lain tidak akan kebagian, tidak kusangka secepat ini Luna Esther."


Mata Luna membelalak ketika Stefan menyebut nama lengkapnya. Bagaimana dia bisa tahu? Apa aku tidak salah dengar? Segala macam pertanyaan itu muncul di kepala Luna. Padahal mereka baru bertemu berhadapan saat Luna dateng ke ruangan Stefan.


Aku menyukai laki-laki yang mengerikan.


Walau begitu Luna tetap saja menatap punggung Stefan yang berjalan menuju lift VIP hingga tidak terlihat.


"Luna," panggil teman yang di sebelahnya.


"Hmm?"


"Kau tidak sedang jatuh cinta dengan sekretaris Stefan kan?"


"A-apa maksdumu? Ah dasar gila aku tidak dengar," Luna menutup kedua telinganya dan berjalan menuju kantin belakang untuk berganti shift.


...----------------...


Lea sudah menyelesaikan ujian tes masuk universitas dan Ia sedang duduk di kursi taman yang di depannya terdapat patung air mancur yang sangat cantik.

__ADS_1


"Syukurlah semua berjalan lancar, terima kasih diriku sudah berjuang," mengepalkan satu tangannya. "Hmm sepertinya aku ingin mencoba makanan di kantin saja sebelum pulang. Lea berjalan menelusuri koridor kampus yang luas itu sampailah di sebuah ruangan yang outdoor terdapat banyak stand food serta kursi di sana, sangat cocok untuk mengerjakan tugas saat di luar kelas.


Lalu ia memesan sebuah Trapizzino, Parfait, dan Tiramisu cokelat. Ia pun membawanya dengan sebuah nampan mini saat Lea berbalik Parfait yang ia bawa mengenai jas milik seorang mahasiswa yang sedang berjalan dengan teman-temannya.


"Apa yang kau lakukan?" tegurnya.


"Maafkan saya Kak, saya tidak sengaja."


Seorang kakak tingkat tadi mendekat ke Lea. "Hmm sepertinya kau mahasiswa baru?"


"Saya baru selesai mengikuti ujian tes masuk Kak," Lea mengangkat kepalanya dan melihat wajah 4 seniornya.


"Belum tentu kau lolos juga, tapi jika kau lolos jangan berharap bisa lepas dariku ya?" bisiknya lalu tersenyum lebar. Siapa namamu?"


"Lea," tatapnya malas.


"Aku suka matamu, sampai bertemu jika kau lolos Lea. Ayo kita makan teman-teman perutku sudah berteriak," ucapnya lalu pergi dan melambaikan tangan.


Lea menghela napas.


Ini baru hari pertama, memang banyak sekali jenis orang di dunia ini ya.


Lea pergi dak duduk di sekitaran kantin tepatnya di bawah pohon. Lalu ia pulang menaiki bus umum.


...----------------...


Saat malam hari Lea menyambut kepulangan Alexa. "Malam Kak, bagaimana hari ini? Aku sudah menyiapkan makanan untuk Kakak di sana."


"Arghh terima kasih Lea, kau tahu saja obat terampuh menghilangkan rasa lelah ini."


"Iya Kak hehe," Alexa dan Lea pun duduk di depan tv dan menonton sebuah film horor di sebuah aplikasi berbayar.


"Lalu bagaimana hari ini? Apa berjalan lancar?" tanya Alexa yang sedang makan ayam katsu buatan Lea.


"Lancar Kak syukurlah, tapi tadi saat di kantin aku sempat berselisih dengan kakak tingkat."


Grakk


Alexa langsung menghentakkan piring yang digunakannya untuk makan. "Kenapa, ada apa?"


"Parfait yang kubeli tidak sengaja mengenai jas yang dia pakai, lalu ia berkata jika nanti aku lolos jangan harap aku lolos darinya."


"Ehm musim semi akan segera tiba untukmu Lea," Alexa memegang sebelah bahu Lea. "Ini adalah saatnya kau akan segera mendapatkan pacar."


Dahi Lea mengkerut. "Dasar Kakak ini, aku tidak mau."


"Jangan seperti itu, masa-masa kuliah memang seperti itu penuh dengan kejutan. Tugas kita hanyalah menghadapinya dan menyelesaikannya. Semangat semoga kau segera bertemu lagi dengan kakak tingkatmu hihi."


"Haa Kakak ini," Alexa hanya menertawainya. Mereka berdua mengobrol tanpa mempedulikan film horor yang sedang diputar di tv.

__ADS_1


Halo semuaa selamat membaca ya!🥰❤


__ADS_2