
"Sindrom Couvade?"
"Benar, itu adalah sindrom simpatik yang dirasakan oleh calon Ayah saat Istrinya sedang mengandung pada trimester pertama," jelas Daran.
"Sebentar mengandung? Maksudnya?" tanya Elena menoleh ke Elisa.
"Elisa sedang mengandung cucu kami?" Carl langsung menoleh Elisa.
Kedua wajah mereka yang sudah tampak kerut itu syok dan membuat kulit mereka kencang sesaat.
"Benar Tuan Besar, untuk memastikan Asisten saya akan memeriksa Nona," Tuan dan Nyonya besar mengangguk.
Lalu Elisa berbaring di sebelah Lorenzo, asisten Daran pun mulai memeriksa perut Elisa.
"Selamat Tuan, Nyonya Besar dan Tuan Muda kandungan Nona Elisa sudah memasuki trimester pertama," ucap Asisten itu menunduk.
Carl dengan raut senang langsung menghampiri Lorenzo dan menepuk pundaknya. "Kau harus menjaga Istrimu dengan ketat mulai sekarang! Jangan menyusahkannya," Lorenzo mengangguk.
Elena mendekati Elisa dan menatapnya lekat. "Apa benar kamu mengandung cucuku Elisa?" Elisa mengangguk. Lalu Elena memegang tangannya.
"Segera beritahu berita ini kepada seluruh orang di mansion dan kerabat kita," ucap Elena. "Semua orang harus tahu bahwa Elioztan Group akan segera memiliki pewaris."
Lorenzo menegakkan badannya dari sandaran. "Ibu aku ingin berita ini tidak disebarluaskan, cukup kerabat dan orang di mansion saja yang tahu. Lalu para pelayan juga harus di larang untuk menyebarkannya di luar mansion," sahut Lorenzo.
"Kenapa?" tanya Ayah.
Lorenzo menghela napas. "Akan berbahaya jika semua orang tahu itu, Ayah tahu sendiri kan?"
Ayah mengangguk, dia mengingat bagaimana kejadian saat di mana banyak orang bayaran ingin mencelakakan Ibu beberapa kali saat mengandung Lorenzo dan saat Lorenzo masih kecil beberapa kali percobaan penculikan terjadi namun gagal di saat-saat terakhir mereka hampir membawa Lorenzo pergi oleh Pak Sam sewaktu beliau masih cukup muda dan bertenaga.
"Kau benar, lebih baik seperti itu saja," ucapnya menghampiri Istrinya.
"Maaf menyela Tuan Besar, jadi untuk sindrom yang dialami Tuan Lorenzo akan berlangsung selama beberapa hari kedepan."
"Jadi apa yang harus kami lakukan untuk mengatasinya?" tanya Lorenzo.
Daran menoleh, "Mereka hanya bisa menuruti permintaanmu atau kamu sendiri menekan keinginan sementaramu itu, lalu aku akan memberi obat agar dapat mencegah rasa mual dan pusing mu nanti."
"Nanti?" Lorenzo.
"Ya, sindrom ini juga akan menyebabkan pusing dan mual pada umumnya, untuk berjaga-jaga akan aku berikan obatnya," Daran dibantu asistennya merapikan peralatan yang digunakan untuk memeriksa Lorenzo tadi lalu pamit. Untungnya sebelum datang Daran mengirim pesan kepada Stefan dia bertanya. Jika tidak Daran pasti secara tidak sengaja akan memberitahu mereka bahwa Elisa sedang hamil.
"Stefan apa Tuan mu belum memberitahu orang mansion bahwa Nona sedang hamil?"
Stefan membalas. "Tidak."
__ADS_1
Lalu Daran hanya mengirim stiker kartun pingsan.
Keluarga ini..., sepertinya aku melakukan kesalahan besar di kehidupan sebelumnya hingga harus melayani keluarga pendiam ini.
Setelah Daran dan Asistennya pergi Pak Sam mengantar mereka.
"Elisa setelah ini datanglah ke kamar Ibu," ucap Elena menoleh ke arahnya.
Elisa mengangguk. "Iya Ibu."
"Lorenzo cepat pulih," ucap Carl lalu berjalan keluar kamar bersama Istrinya meninggalkan Elisa dan Lorenzo. Situasi menjadi aneh.
"Emm Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Lorenzo.
Ah aku ingin bersamanya hari ini.
"Aku mandi dulu," Lorenzo berangkat dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.Lalu Elisa merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan karena kejadian tadi pagi.
Jadi apa aku tidak akan diizinkan pergi bekerja lagi? Bagaimana nasib mereka nanti.
Elisa berpikir setelah satu mansion ini tahu kemungkinan besar Elisa pasti sulit untuk keluar rumah lagi dan Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolaknya. Kecuali jika Dia memohon-mohon dengan Lorenzo mungkin ada sedikit kemungkinan.
...----------------...
Lorenzo sudah selesai mandi dan berpakaian sehari-harinya, dan sepertinya hari ini Dia tidak akan pergi bekerja pikir Elisa.
Elisa mengangguk lalu Ia berjalan menuju kamar Ibu, karena sebelumnya Ia meminta Elisa untuk datang. Sesampainya di depan Elisa mengetuk pintunya.
"Ibu ini saya Elisa," ucapnya sambil mengetuk.
"Masuk," sahut suara dari dalam. Saat Elisa membuka pintu dia melihat Ibu sudah duduk menunggunya. Rasa gugup pun datang tiba-tiba karena ini pertama kalinya dia memasuki kamar Ibu mertuanya.
"Duduklah," sambut Ibu sambil menuangkan teh yang sudah disediakan. "Ibu ingin berbicara sebentar."
Elisa mengangguk. "Iya Ibu."
"Pertama-tama dengarkan dulu penjelasan Ibu jauh sebelum kau mengenal Lorenzo," Elisa diam menyimak pembicaraan Ibu yang sangat jarang berbicara dengannya.
"Ini menyangkut Ibu yang selalu dingin kepadamu, sebelum kau menikah dengan Lorenzo. Dia memiliki seorang tunangan yang harusnya akan menjadi calon menantu keluarga ini namun karena suatu hal Lorenzo membatalkan tunangan dan memilih diam untuk beberapa waktu, Aku dan Ayahnya tidak banyak bertanya tentang hal itu karena Lorenzo terlihat sangat berbeda dari sebelumnya," menatap mata Elisa.
"Setelah kau menikah dengannya Ibu masih tidak percaya bahwa Lorenzo sudah benar-benar melepaskan mantan kekasihnya itu, karena itu Ibu selalu bersikap acuh tidak acuh kepadamu. Ibu minta maaf soal itu," menggenggam tangan Elisa.
"Lalu ketika tadi Ibu melihat Lorenzo mengalami sindrom itu dan sekarang kau sedang mengandung cucu ku, Aku sempat terkejut dan masih tidak percaya. Sebelum Lorenzo sendiri yang meminta tidak untuk menyebarluaskan berita ini tadi, barulah Ibu percaya."
Elisa mengerti soal itu.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanyanya.
Elisa agak ragu bertanya tapi daripada bertanya dengan Lorenzo pasti Dia tidak akan menjawab. Apalagi untuk situasi sekarang.
"Apa yang terjadi dengan mantan kekasihnya? Kenapa Dia membatalkan pertunangan?" Elisa penasaran, tidak bisa diingkari karena Elisa sudah terlanjur masuk di keluarga ini Dia merasa harus tahu tentang ini.
"Hmm," Ibu memiringkan kepalanya dan menatap Elisa. "Untuk lebih jelasnya bisa kamu tanyakan sendiri pada suamimu," tersenyum hingga wajahnya yang memang cantik semakin cantik, baru kali ini Elisa melihatnya.
"Ibu sangat cantik...eh," menutup mulutnya.
"Ohh terima kasih haha," menatap Elisa. "Lalu apa kau masih bekerja?"
"Em soal itu saya membuka sebuah toko bouqet Bu saya akan pergi ke sana setelah ini," Elena yang dikenal dingin itu olehnya malah membelalak.
"Apa? Kamu masih bekerja? Lorenzo tidak memberikan kartu rekeningnya?" berdiri dan hampir melangkah menuju keluar namun tangannya di pegang Elisa
"Ibu tunggu, bukan seperti itu," Elena menoleh dan kembali duduk. "Dia memberikan saya sebuah black card, tapi tentang toko itu saya sendiri yang membangunnya jadi saya ingin tetap bekerja semampu yang saya bisa."
Elena terdiam, dia ternyata salah paham tentang Elisa yang menikah dengan Lorenzo hanya untuk memanfaatkannya tapi nyatanya menantu yang tidak di pedulikannya ini sangat pekerja keras dan bertanggung jawab.
"Hmm, Ibu tidak bisa memutuskan tentang itu. Kau harus meminta izin sendiri pada Lorenzo lalu...,hari ini kau tidak bekerja kan."
"Ah ehm itu saya bilang akan datang telat."
"Sudah, hari ini kau tidak usah bekerja dulu dan ikut Ibu ke kelas yoga hamil, itu bisa membuat mu merasa lebih sehat dan tentunya kandunganmu juga. Ibu akan menemanimu," Elisa mengangguk. "Bersiaplah dan bawalah beberapa baju olahraga ringan Ibu tunggu 15 menit di bawah."
"Iya Bu saya permisi dulu," Elisa menunduk hormat lalu berjalan keluar kamar. Dia pun masuk ke kamarnya dan Lorenzo dan memasukkan beberapa baju olahraga ke dalam tas ransel, Dia juga sudah memakai setelan yang nyaman menurutnya.
"Aku harus memberitahunya dulu," Elisa berjalan menuju ruang kerja Lorenzo.
Tok tok
"Lorenzo apa kamu di dalam?" ucap Elisa.
"Iya, masuklah," sahutnya dari dalam lalu Elisa membuka pintu Lorenzo mengernyit. "Kau mau ke mana?" tanya nya melihat Elisa memakai kaos abu tua yang agak longgar dari badannya, legging pants, dan rok pendek navy dan sebuah sepatu olahraga.
"Itu...saya ingin meminta izin pergi ke kelas yoga bersama Ibu, Ibu mengajak saya pergi bersamanya ke sana," Lorenzo diam.
"Hmm," menatap Elisa. "Tapi jangan terlalu lama dan hati-hati," ucapnya.
Elisa tersenyum. "Terima kasih saya permisi," Elisa keluar dan turun melalui tangga dan melihat Ibu duduk sudah menunggunya.
Ibu berdiri. "Elisa cepat turun ayo kita pergi," Elisa mengangguk dan berjalan turun dari tangga dan pergi bersama Ibu menuju garasi untuk berangkat menggunakan mobil dengan sopir.
"Padahal hari ini aku rasanya ingin selalu di dekatnya," ucap Lorenzo sambil memegang tengkuk lehernya.
__ADS_1
Kapan sindrom ini akan hilang.
Halo semua selamat membaca yaa terima kasih❤🌈🙆♀️