Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Rapat


__ADS_3

"Aku pergi dulu," mengambil tas dari Elisa Lorenzo sudah siap untuk berangkat bekerja.


"lya, hati-hati," jawab Elisa lalu Lorenzo pergi bersama dengan Stefan.


Sesampainya di Elioztan Group.


"Stefan rapat kita mulai dua jam lagi. Hubungi semuanya, ada hal penting yang harus di bahas untuk proyek baru ini." Perintah Lorenzo langsung di sigapi Stefan lalu dia menghubungi semua keluarga Elioztan Group.


Dimulai ddari sang Dokter keluarga Daran, Louis seorang dosen. Si otak Elioztan Group yang ikut andil dalam mengembangkan perusahaan di balik layar, Killian seorang diplomat yang selalu memberikan saran dan Azka dan Felix sebagai kedua pemilik perusahaan besar yang akan diikut sertakan dalam membangun proyek besar-besaran ini.


"Apa dua jam lagi? Dasar Lorenzo." Daran yang sedang berada di tengah kemacetan.


"Harusnya dia mengabari dari semalam kalau ada rapat seperti ini," balas Azka dan Felix bersamaan, karena Stefan tahu dua sohib ini pasti sedang bersama.


"Aku akan terbang dengan pesawat pribadiku, tunggu saja." Killian yang sedang cuti beberapa hari karena sakit, tapi dia tetap datang karena proyek itu juga sangat penting untuk pertumbuhan pariwisata negara.


"Baik saya akan datang," tentunya jawaban singkat ini dari Louis, yang sudah mengerti situasinya.


Dan rapat antara perwakilan Elioztan Group pun mulai dalam dua jam.


...----------------...


"Tuan, hari ini Elioztan Group akan mengumpulkan semua anggotanya. Untuk mengadakan rapat di proyek baru yang akan mereka bangun," ucap salah satu sekretaris.


"Oh, yang aku tahun proyek baru mereka itu bukankah untuk pariwisata masyarakat?" mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoin di tangannya.


"lya Tuan Zaki."


"Aku harus ikut dalam proyek ini bukan? Yah walau tidak secara langsung," berdiri tersenyum menghadap kaca yang memperlihatkan pemandangan kota besar.


"Hei pergi bareng?" tanya Felix di ruang chat dirinya dan Azka.


"Ya tapi, kau jemput aku di kantorku," balas Azka.


"Dasar, kau mau menumpang di mobilku?" Felix mengirim fotonya di dalam mobil.


"Kalau kau tidak keberatan, lagi pula aku sedang tidak mood menyetir sendiri." Dengan stiker malas.


"Oke on the way."


Elioztan Group


"Hah sampai juga," ucap Daran sambil melihat jam tangannya. "Tiga puluh menit lumayan," berjalan menuju lobi.


"Anda langsung saja menaiki lift pribadi yang sering digunakan tuan muda," pesan Stefan di ruang chat dirinya dengan Daran.


"Apa kau tidak bisa menelponku saja sekretaris Stefan, bukankah aku juga orang penting?" keluhnya kepada Stefan, namun pesan itu tidak dibalas dan hanya dibacanya. Daran pun hanya mendengus dan berjalan menuju lift pribadi Lorenzo.


Killian sedang dalam perjalanan udara menuju Roma sedangkan Louis Stefan mendapat kabar bahwa dia sudah berada di lokasi tempat yang akan dibangun sebuah proyek.


"Stefan apa kau sudah menghubungi mereka?" tanya Lorenzo.


"Sudah tuan, saya tinggal menunggu kedatangan mereka," jawab Stefan sambil melihat-lihat kembali dokumen yang berisi bahan yang akan dibahas pada rapat.


Stefan pun izin keluar ruangan menuju ruang tunggu di depan ruangan Lorenzo untuk menelpon, sesaat kemudian Daran datang.


"Siang sekretaris Stefan," sapanya.


"Siang," balasnya singkat.


"Seperti biasa kau sangat membutku kesal ya," mengambil posisi duduk di samping Stefan.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sampingku." Stefan merasa terganggu. Namun Daran tidak memedulikannya dan terus bicara.


"Apa proyeknya sangat besar hingga kita harus berkumpul seperti ini?" tanyanya.

__ADS_1


Stefan pun menoleh. "Nanti kau juga akan tahu."


Stefan kau membuat orang merinding saja.


Daran pun berhenti bicara dan menjauhkan dirinya beberapa cm dari Stefan.


...----------------...


"Hei lihat-lihat tampan sekali tuan itu," bisik-bisik para pegawai di perusahaan game milik Azka.


"Halo, selamat pagi," sapa Felix ke segerombolan wanita. Tentu dia akan tebar pesona.


Sesampainnya di ruangan Azka.


"Kupikir di perusahaan ini tidak ada orang tampan," tersenyum mengejek.


"Apa maksdumu, ayo pergi sebentar lagi rapat dimulai," berdiri dari kursinya lalu Azka mengambil tas kecilnya.


"Para pegawaimu membicarakanku tahu."


"Mereka belum tahu saja sifat asli dibalik topeng ini," melemparkan tasnya ke wajah Felix.


"Sakit Sial," memegang wajahnya yang sedikit memerah.


"Ck lemah, ayo pergi kau tahu kan Lorenzo," Ajak Azka sekali lagi karena jika tidak diingatkannya mungkin dia akan terus berdebat dengan Felix. Setelah menghubungi asisten pribadinya untuk mengurus perusahan saat dia pergi.


Mereka pun berjalan menuju lift lalu memasuki mobil Felix menuju Elioztan Group.


...----------------...


"Lokasi ini di pikir-pikir memang sangat strategis dari tingkat pariwisata atau pun turis dan masyarakat sekitar." Memutar kedua matanya menelusuri setiap jengkal tanah dan kondisi alam sejauh mata memandang. "Ayo pergi. Ke Elioztan Group," ucapnya kepada sopir.


...----------------...


"Siang Tuan Azka dan Tuan Felix," sapa Stefan ketika Azka dan Felix datang.


"Hei apa hanya Daran saja yang baru datang?" Felix mengambil posisi duduk di depan Daran lalu menolehkan kepalanya untuk mencari-cari keberadaan dua orang lagi.


"Louis dan Killian belum datang biasa anak emas," bisik Daran sambil melirik Stefan.


"Saya bisa mendengarnya. Lebih baik anda menjaga mulut anda baik-baik," sahut Stefan berdiri. "Setelah semua datang masuklah ke ruangan, permisi." Stefan pun pergi dan masuk duluan ke dalam ruang rapat.


Stefan memang menyeramkan batin Daran.


"Halo selamat siang, maaf saya terlambat," ucap Killian terengah-engah.


Sepertinya dia berlari-lari kecil menuju sini. Pikir Azka.


"Tidak apa-apa tuan lagi pula rapatnya masih beberapa puluh menit lagi," sahut Azka.


"Iya tuan, silakan duduk dulu di sini." Daran mempersilahkan Killian duduk di sampingnya.


"Apa kabar anda dan keluarga anda?" sambung Daran.


Killian pun duduk dan menoleh ke arah Daran.


"Kabar saya baik, Istri dan Putra saya sangat sehat dan sedang bersekolah. Bagaimana Tuan sendiri?" dari beberapa orang di Elioztan Group hanya Killian Iah yang memiliki cara bicara yang seperti orang normal.


"Saya? Aduh saya tidak bisa bilang kalau saya baik-baik saja sekarang," balas Daran memegang dadanya.


"Anda sakit Tuan Daran?" tanya Killian.


"Sudahlah Tuan Killian, Dokter ini hanya bisa bercanda." Sahut Felix menujuk Daran.


"Apa maksudmu orang laut."

__ADS_1


Felix terkejut dengan panggilan itu. "Hah apa?"


"Sudah-sudah ayo masuk ini sudah waktunya," ucap Killian berdiri.


"Iya anda benar tapi...," balas Azka sambil menoleh ke arah Pintu masuk.


"Ya Louis belum datang, kita tunggu saja di dalam kalau begitu." Felix pun berjalan duluan dan masuk ke dalam ruang rapat.


"Ayo Azka kita masuk, Lorenzo sudah menunggu." Daran melihat Azka yang masih berdiri menghadap Pintu masuk. Daran pun masuk dan diiring Killian. Saat Azka ingin menutup Pintu sebuah tangan menghentikannya.


"T-tunggu," ucapnya dengan napas yang terengah-engah.


"Tuan Louis. Ayo masuk." Azka dan Louis pun masuk ke dalam ruang rapat yang sudah ada Lorenzo, Stefan yang sudah menunggu beberapa jam yang lalu.


"Maaf tuan saya terlambat." Louis sambil membungkuk di depan Lorenzo.


"Sudahlah, duduk saja langsung di kursimu. Rapat juga baru akan dimulai." Lorenzo pun menyuruh Stefan untuk mempersiapkan bahan yang akan dibahas dan membagikan dokumennya satu-persatu pada mereka berenam.


"Baiklah rapat akan kita mulai," lalu Stefan sambil membuka layar laptopnya.


"Terima kasih untuk tuan-tuan yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk datang. Rapat akan saya pimpin," lanjutnya.


"Proyek yang akan kita bangun adalah sebuah taman besar dengan danau dan akan di tambahkan beberapa fasilitas seperti tempat berenang umum, alat gym toko-toko untuk masyarakat sekitar berdagang agar terlihat nyaman untuk pedagang atau pun pengunjung.


"Melampirkan sketsa bentuk taman dan beberapa fasilitas yang akan di sediakan.


"Jika ada saran dari Tuan-Tuan saya persilakan untuk menyampaikan."


"Permisi ada ingin saya sampaikan," Louis sambil melihat dokumen.


"Silakan Louis." Lorenzo mengisyaratkan tangannya untuk Louis berdiri.


"Seperti yang saya lihat lokasi dari tempat yang akan dibangun proyek ini sangat berdekatan dengan lokasi danau merah yang pengunjungnya sering berdatangan saat sore. Menurut saya danau yang akan kita bangun lebih bagus jika kita membuat sebuah sungai kecil untuk menghubungkannya dengan danau merah, dan membangun dua sampai tiga jembatan.


Dengan begitu masyarakat juga bisa datang langsung ke taman baru nanti. Jarak danau merah dengan danau yang akan dibangun sekitar lima puluh meter, apa benar?" jelas Louis panjang lebar.


"Benar juga," gumam Azka melihat gambar danau dan tanah luas yang berdekatan.


"Pendapatmu sepertinya akan sangat membantu Louis, apa kau sudah mengunjungi lokasi yang akan dibangun nanti?" Lorenzo menandai rancangan sketsa danau seperti yang diucapkan Louis tadi.


"Saya juga memiliki saran." Felix pun berdiri. "Jika apa yang dikatakan tuan Louis tadi mengenai menghubungkan danau merah dan danau baru di proyek ini. Bagaimana jika saya menyediakan fasilitas beberapa kapal dan kendaraan laut Iainnya? Dengan itu pengunjung bisa menikmati pemandangan di laut dengan daya tarik tersendiri," ucapnya serius.


"Dan saya juga menyarankan untuk menyediakan beberapa kotak sampah, hand sanitizer di setiap sisi danau dan sudut di tempat dagangan atau pun di setiap sisi fasilitas yang akan disediakan nanti. Dan juga kita harus melakukan kontrak dengan para pedagang agar juga menjaga kebersihan mereka dan menyediakan kotak sampah khusus toko mereka," ucap Daran sambil berdiri.


"Baiklah, terima kasih untuk saran-saran kalian silakan duduk kembali," balas Stefan.


"Ya saran kalian sangat membantu, untuk itu kita harus meminta izin kepada pemerintah untuk membangun proyek ini, dan jika sudah disetujui kita hanya perlu mempromosikan tempat ini dan memberitahu masyarakat akan adanya tempat pariwisata lokal dan tentu dengan biaya kontrak dagang standar dan terjangkau untuk rata-rata masyarakat. Karena tujuan utama dibangunnya proyek ini adalah untuk membuat masyarakat nyaman dan aman serta mendapatkan lingkungan yang sehat dan segar. Dan tentu juga untuk meningkatkan turis yang datang untuk pemasukan negara serta perusahaan kita," jelas Lorenzo.


"Dan tidak dipungkiri jika kita membangun proyek ini pasti ada pihak yang tidak setuju atau mencoba menggagalkan dan mengacaukannya. Karena itu aku meminta kerja sama kalian semua."


"Aku akan melakukan sponsor dan promosi keseluruh negeri dan di beberapa negara," balas Azka.


"Saya merasa proyek ini akan sangat bermanfaat. Oleh karena itu saya akan mengurus proposal izin kepada pemerintah," ucap Killian.


"Terima kasih untuk dukungan dan kerja sama kalian." Lorenzo pun membungkuk berterima kasih tulus. "Dengan ini rapat kita berakhir," mereka pun bertepuk tangan untuk apresiasi dan semangat karena sudah merancang, membentuk dan merencanakan proyek baru mereka.


"Baiklah karena rapat sudah selesai Tuan-Tuan dipersilakan untuk pulang. Kami tunggu hasil kerja sama kita," ucap Stefan wibawa namun tetap dengan ekspresi datar.


Mereka semua pun keluar dari ruangan kecuali Lorenzo dan Stefan.


"Anda sudah bekerja keras tuan, anda ingin langsung saja kembali ke mansion? Urusan di sini bisa saya lakukan sendiri. Anda lebih baik istirahat saja dulu."


Melihat ke arah Lorenzo yang sudah menahan rasa kantuknya. Karena setelah datang dari mansion dia membuat sebuah surat proposal resmi pribadi untuk presiden dan bahkan beberapa malam sebelum hari Iibur Lorenzo selalu begadang untuk menyusun sedemikian rupa rancangan proyek dalam positif atau negatifnya ketika proyek di bangun. Dan tentu tanpa sepengetahuan Elisa.


"Ya kau juga. Aku akan kembali ke mansion."

__ADS_1


Sambil melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore.


Halo semuaa selamat membaca ya! Enjoy❤🤍


__ADS_2