
Elisa masih terdiam sejak sampai kamar tadi dan melirik kamar mandi yang takut seseorang akan cepat keluar dari sana.
Hei hei apa Dia serius? A-apa yang harus kulakukan? Apa tidak ada yang membutuhkanku melakukan sesuatu atau apa. Pokoknya aku ingin lari dari sini!
Elisa menggenggam erat kedua tangannya dan masih berdiri mematung di sudut dinding dekat tirai balkon, mengingat pembicaraan Lorenzo beberapa puluh menit lalu.
"Apa yang kau lakukan di sana?" ucap Lorenzo yang keluar dari kamar mandi sambil mengibaskan rambut basahnya dengan handuk.
Elisa terkejut dan berbalik. "Ah itu saya sedang membersihkan gorden ini," mengibaskan tangannya membersih-bersihkan benda di dekatnya.
Lorenzo diam menatap Elisa dari jarak beberapa meter itu lalu ia masuk ke ruang ganti.
Lihat itu Dia sangat mengerikan. Aku tahu Dia baik tapi aku belum siap untuk itu lagi! Oke aku akan berbicara dengannya. Alasannya nanti aku serahkan kepada diriku beberapa menit kedepan!
Klak
Bunyi pintu ditutup.
Elisa menggigit bibirnya mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada Lorenzo, tentu ini bisa dikatakan bentuk penolakan. Seketika terbesit awal semua pertemuannya dengan Lorenzo dan ia menyadari bahwa Lorenzo tetap saja Lorenzo yang akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tuan," panggilnya dengan ujung kaki dan tangan yang hanya diketahui olehnya.
"Hmm," Lorenzo berjalan dan naik ke atas kasur dan menepuk kasur di sebelahnya, Elisa mendekat berjalan lambat.
"Anu Tuan sebenarnya saya ada urusan...di toko. Iya di toko sedang ada keadaan darurat saya harus pergi sebentar."
Kumohon...sekali ini saja Tuhan.
"Pergilah," Lorenzo pun merebahkan badannya dan berbalik membelakangi Elisa. "Aku tidak pernah memaksa wanita," lanjutnya.
Semudah ini?
Elisa diam tidak menjawab. Ia merasa bersalah ketika Lorenzo berbicara seperti itu. Apa salahnya jika Lorenzo ingin bersama dengannya? Mereka juga sudah resmi menikah walau tidak ada cinta saat ini. Ya mungkin saat ini, pikir Elisa. Lalu Elisa berjalan pelan mendekati Lorenzo dan duduk di pinggir ranjang.
"Sofi bilang aku tidak perlu ke sana...," jeda hening tercipta akhirnya Lorenzo duduk dan menyandarkan badannya di kepala ranjang.
"Aku tanya kepadamu," Elisa mendengarkan dengan baik. "Selama ini apa kau terpaksa bersamaku?"
Elisa menggeleng cepat. "Tidak!" Elisa setengah berteriak. "Maksud saya, Tuan sudah memperlakukan saya dengan sangat baik mana bisa saya berpikiran seperti itu."
Lorenzo tidak menjawab. "Apa kau sudah memiliki nama untuknya?" melirik perut Elisa yang mulai membesar.
"Sebenarnya saya sudah memilih nama untuknya nanti, walaupun hanya baru nama panggilan...," Elisa menunduk tidak berani.
"Katakan," sahut Lorenzo membuat Elisa langsung menatapnya. "Ada apa?"
"Ah tidak, jika Tuan sudah memilih nama untuknya. Pasti nama itu lebih baik."
__ADS_1
"Elisa katakan nama yang sudah kau pilih," Lorenzo tidak mau mendengar alasan Elisa seolah Ia tidak memiliki hak untuk memberikan nama kepada anaknya sendiri.
"Ehm, jika dia laki-laki saya memilih nama William dan jika perempuan saya memilih nama Liana, jika menurut Anda nama itu jelek saya minta maaf Anda bisa memberinya nama sesuai yang Tuan pilih."
Lorenzo menatap Elisa. "Apa maksudmu? Kita berdua akan bersama-sama memberikannya nama. Jangan lupa kau Ibu darinya."
"I-iya maaf."
"Sudah," Lorenzo berdiri. "Hari ini sedang libur tapi aku harus ke perusahaan sebentar. Kau ingin pergi bersamaku?"
Elisa mendongak. "Apa boleh?"
"Tentu," Lorenzo mengangguk lalu mereka berjalan beriringan menuju garasi dan pergi berdua menaiki mobil yang dikemudikan Lorenzo sendiri.
...----------------...
Sesampainya di Elioztan Group
"Selamat datang Tuan," sapa Stefan yang sudah menunggu di pintu depan perusahaan karena Dia lah yang memberitahu Lorenzo untuk datang dan membahas beberapa hal sebelum rapat proyek baru.
Stefan baru melihat Elisa yang keluar dari mobil lalu menunduk sebentar. "Nona selamat datang. Silahkan," ucap Stefan memberikan jalan kepada Lorenzo dan Elisa untuk berjalan di depannya dan menaiki lift khusus menuju lantai atas.
"Stefan kau duluan saja," Lorenzo melambaikan tangannya lalu Stefan masuk duluan ke dalam ruangan Lorenzo. Sekarang dirinya dan Elisa ada di ruang khusus pribadi yang baru saja disediakan beberapa minggu lalu setelah Elisa berkunjung mengantarkan bento untuk Lorenzo.
"Kau bisa menunggu di sini," Elisa tidak berkedip 8 detik melihat di dalam ruangan ini sudah seperti ruang keluarga di mansion saja.
"I-iya Tuan."
"Ini kartu VIP, sebentar lagi jam makan siang mungkin ada beberapa pegawai yang bekerja hari ini. Kartu itu bisa kau gunakan untuk fasilitas khusus di sini," Lorenzo meletakan sebuah kartu berwarna putih emas yang di atasnya tertera nama Lorenzo Elio.
"Tapi kartu ini kan milik Anda."
"Gunakan saja, sudah aku pergi dulu gunakan saja semua yang ada di sini."
"Baik Tuan terima kasih," Lorenzo mengangguk lalu berbalik menuju ruangannya.
Elisa memperhatikan kartu elegan yang ada di tangannya itu. "Cantik," ucapnya. "Haa setelah Dia berkata seperti itu, aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang."
Lalu ia mencoba beberapa makanan dan minuman yang ada di atas meja, karena Ibu hamil itu kalau tidak sering makan ya pasti beristirahat. Lalu ia teringat ucapan Lorenzo bahwa sebentar lagi jam makan siang Elisa jadi ingin mencoba makanan yang ada di kantin perusahaan ini.
"Aku beri tahu sekretaris Stefan saja, Tuan Lorenzo pasti sedang sibuk," lalu Elisa mengetik sebuah pesan kepada Stefan.
"Sekretaris Stefan saya pergi dulu, sepertinya saya ingin mencoba makanan yang ada di kantin."
Pesannya pun sudah terkirim lalu Elisa berjalan keluar dan tidak lupa membawa kartu cantik yang terukir nama Lorenzo di atasnya.
Kalau dipikir-pikir aku memang tidak pernah datang dan berkeliling ke sini, yang pertama kali saat mengantar bento dan Tuan Lorenzo...argh kenapa aku mengingat kejadian itu sekarang dasar.
__ADS_1
Tidak lupa kejadian saat Lorenzo masih dalam keadaan sindrom couvade saat itu. Yang membuat Elisa seharian tidak berani bertatapan ataupun lama-lama di sebelah Lorenzo.
Di dalam ruangan Lorenzo.
"Tuan untuk proyek baru ini saya sudah menyiapkan beberapa bahan pertimbangan untuk dibahas nanti saat rapat," Stefan memberikan proposal yang tidak terlalu tebal seperti biasanya sepertinya itu sudah diringkas agar Lorenzo membaca bagian terpentingnya saja.
"Apa kau sudah menghubungi mereka semua?" Mereka yang dimaksud Lorenzo adalah para 'pendukung' berdirinya Elioztan Group sampai saat ini.
Stefan melihat layar hp miliknya. "Hampir semua saya mendapatkan respon positif dari mereka jadi sepertinya rapat akan dihadiri dengan lengkap."
"Bagus lakukan sesuai prosedur," Stefan mengangguk.
"Baik Tuan," lalu ia memberikan hp nya dan menampilkan sebuah pesan. "Tuan, Nona memberitahu saya bahwa Ia ingin mencoba makanan yang ada di kantin."
"Beritahu Koki di kantin jika Elisa akan ke sana."
"Baik Tuan," Stefan segera mengirimkan pesan kepada semua para Koki yang memasak di kantin melalui sebuah obrolan grub dan langsung mendapatkan respon cepat.
...----------------...
Elisa yang sedang berjalan menuju kantin sambil sesekali mendongak melihat keindahan arsitektur detail atap perusahaan yang sangat memukau mata.
Sampai di bagian kantin stan makanan sudah dipenuhi antrean para pegawai, mungkin sedikit pegawai yang bekerja hari ini menurut Lorenzo adalah 100 orang. Pikir Elisa, lalu Ia melihat sebuah stan yang antreannya tidak terlalu panjang sekitar kurang lebih 12 orang lah.
Elisa lalu berjalan ke sana dan ikut mengantre, sudah beberapa puluh menit berlalu akhirnya gilirannya tiba. Seorang anak muda sepertinya baru bekerja memperhatikan Elisa yang tidak mengenakan pakaian formal untuk bekerja.
"Maaf Nona, apa Anda pegawai di sini?" tanyanya.
"Ah maaf saya bukan pegawai, tapi saya memiliki ini," mengeluarkan kartu putih tadi.
"No-nona Anda mendapatkan kartu ini dari mana?"
"Ah ehm itu, Tuan Lorenzo yang memberikannya kepada saya."
Pegawai baru itu memiringkan kepala tidak percaya. "Jika Anda berbohong saya akan melaporkan Anda."
"Tidak-tidak saya tidak bohong, apa saya bisa memesan makanan di sini?" balas Elisa lalu menyerahkan kartu putih tadi.
Lalu seorang koki tidak sengaja lewat dan melihat kartu yang dipegang oleh pegawai baru itu.
"Anda Nona Elisa?" tanya Koki itu disusul tatapan pegawai yang langsung menoleh Koki.
Elisa mengangguk. "Benar bagaimana Anda bisa tahu Tuan Koki?"
"Ah Nona jangan panggil saya seperti itu cukup panggil saya Koki saja, cepat siapkan menu terbaik kita untuk Nona," titah Koki kepada pegawai muda tadi.
"B-baik Tuan," langsung pergi dengan rasa penasaran 'siapa Nona itu?' lalu Elisa pun di persilakan duduk dan menikmati makanan yang sudah datang.
__ADS_1
Halo semuaa selamat membaca ya🥰🥰