Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Petrichor


__ADS_3

Pagi menjelang sayup-sayup matahari mulai menerangi langit yang masih gelap agak mendung. Lea sudah terbangun sejak pukul 2 pagi tadi dan tidak bisa tidur karena selalu memantau website pengumuman kelulusan, padahal pengumumannya baru akan di publik besok. Kegiatannya ini masih dilakukannya entah sampai kapan, mungkin sampai Lea tertidur lagi karena begadang??


Di mansion sendiri para pegawai sudah bersiap untuk bekerja begitu juga dengan Tori yang sedang memakai seragam kerjanya.


"Sudah lama aku tidak tidur nyenyak seperti ini," menyisir rambut pendek sebahunya. "Semangat Tori, hari ini kau harus menjaga Nona dan menghasilkan uang yang banyak hahaha.


Sedangkan Lorenzo sendiri masih merebahkan diri mengumpulkan energi, Elisa sedang di ruang ganti. Memang cuaca hari ini sangat sejuk, angin yang agak kencang bertiupan membuat dedaunan yang gugur masuk dari balkon.


Elisa baru selesai berganti pakaian dan berjalan menuju ranjang untuk membangunkan Lorenzo yang masih setengah sadar.


"Tuan sudah pagi," ucapnya sambil berdiri di samping Lorenzo.


Lalu ia membuka mata dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan menatap Elisa. Sebenarnya Elisa masih canggung karena kejadian semalam lalu ia menundukkan kepalanya.


"Air," melirik jendela dengan gorden yang bertiupan karena angin. Awan pagi mulai menjadi gelap.


"Ini Tuan." Elisa meletakkan gelas di atas nakas.


"Beritahu Stefan aku tidak datang hari ini," memberikan hp miliknya kepada Elisa, lagi.


Elisa mengambil hp dan melirik Lorenzo. "Hm Tuan. " Lorenzo menoleh.


"Ke-kenapa anda tidak datang ke kantor? Anda baik-baik saja?" tanya Elisa memastikan.


"Kenapa aku harus punya alasan? Jika aku tidak ingin pergi maka itulah yang akan terjadi," mengambil gelas dan meminumnya lalu Lorenzo berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajah lalu masuk ke ruang kerjanya. Itulah kebiasaannya saat tidak pergi ke kantor.


"Jangan lupa beritahu Stefan."


Elisa mengangguk dan segera mengirim pesan itu pada Stefan, karena dilihatnya Lorenzo belum keluar Elisa ingin mencoba mencari nama pacar Lorenzo? Ia membuka kontak dan mencari nama seorang wanita. Tapi Elisa hanya menemukan nama Elena, Clarenza dan bibinya.


"Eh," saat Elisa melihat kebawah lagi ia melihat sebuah kontak dengan nama 'Zeel' yang profilnya adalah seorang wanita cantik. Elisa langsung membuka kontak sosialnya dan melihat bahwa nomor itu sudah diblokir oleh Lorenzo tidak ada riwayat chat sepertinya sudah di hapus.


Elisa segera mematikan hp saat melihat Lorenzo berjalan menuju ranjang dan duduk kembali di sana.


"Tuan ini hp anda," mengembalikan kembali hp milik Lorenzo.


Lorenzo membuka hp nya dan melihat daftar jendela aplikasi yang ternyata Elisa lupa menghapusnya. Lorenzo melihat kontak chat dirinya dan seseorang yang bernama kontak 'Zeel' di hp-nya.


Elisa tersentak saat Lorenzo menatapnya datar. Ia menelan salivanya sendiri dan bodohnya ia baru sadar jika lupa menghapus daftar jendela aplikasi yang dibukanya.


"Maafkan saya Tuan!" ucapnya setengah berteriak.


Lorenzo meletakkan hp di atas nakas dan menatap Elisa dalam kediaman. Cuaca yang gelap dan tiupan dari angin serta kesunyian dari ruangan ini membuat Elisa sudah seperti dalam film fantasi misteri saja.


"Maafkan saya sudah lancang dengan hp anda, saya benar-benar minta maaf. Saya mohon jangan marah Tuan," Elisa terduduk dan memegang kaki Lorenzo sambil menunduk.


Kenapa dia diam? Tuhan aku tahu ini tidak sopan tapi tetap saja aku dikalahkan rasa penasaranku. Ampunilah aku.


"Berdiri," ucap Lorenzo datar. "Beritahu Pak Sam untuk mengantar sarapan saat kau telepon lagi."


Elisa mengangguk dan berjalan cepat menuju telepon dinding.


"Halo Pak Sam," sedikit tergesa-gesa Elisa.


"Iya Nona, ada apa?"


"Tuan Lorenzo ingin sarapannya diantar saat saya menelpon kembali nanti."


"Baik Nona, apa Tuan tidak ke kantor?"


"Tidak, lalu tolong beritahu Victoria juga hari ini dia tidak perlu menjagaku. Karena sepertinya aku akan di mansion seharian ini."

__ADS_1


"Elisa," panggil Lorenzo.


"Baiklah begitu saja terima kasih Pak Sam."


"Iya Nona," Pak Sam menutup sambungan dan sedikit tersenyum di dalam ruangannya.


...----------------...


"Lama sekali." Lorenzo menatap Elisa yang berdiri di depannya.


"Maafkan saya Tuan," lagi Elisa tidak berani menatap Lorenzo.


"Kenapa kau selalu minta maaf, sudah pijat punggungku."


Elisa mengangguk dan duduk di belakang Lorenzo di atas kasur. "Kurang kuat, apa kau tidak ada tenaga?"


"Baik Tuan," walau tangannya yang terlihat rapuh itu sudah terlihat memerah Elisa tetap memijatnya karena ia tahu ini lebih baik dari pada harus mendapat hukuman dari Lorenzo.


"Tu-tuan," panggil Elisa.


"Hmm."


Elisa melirik arah jendela. "Apa saya tutup saja jendelanya? Sepertinya akan turun hujan."


"Biarkan saja." Lorenzo memejamkan matanya.


"Apa anda tidak kedinginan?" tanya Elisa lagi, justru malah mematik api Lorenzo.


Dia berbalik badan dan menatap Elisa. "Itu malah membuatku panas Elisa." Lorenzo memegang tangan Elisa dan melihat kedua telapak tangannya yang memerah.


Lick lick


"Ah Tuan," Elisa terkejut melihat Lorenzo menj*lat tangan Elisa. Lalu ia menatap Elisa pekat. "Terlalu penasaran membuatmu terjebak Elisa."


"Tuan saya bukan anak kecil turunkan saya," ucap Elisa dengan tangannya terhimpit di dada Lorenzo.


Lorenzo menatapnya datar lalu mulai menyerang Elisa melalui ciuman-ciuman di sekujur tubuh atas Elisa, dan tangannya mulai meraih kancing baju Elisa.


"T-tuan saya baru saja mandi," lirih Elisa.


Lorenzo terus membuka baju Elisa. "Kita bisa mandi bersama nanti," mulai lagi Lorenzo memberikan kecupan tanda di dada Elisa membuat wanita itu sesekali berteriak.


"Ahh...ah hmm Tuan ahh," ini hanya awal untuk Lorenzo, Elisa berpikir bagaimana kejadian saat itu terjadi jika dia dalam keadaan sadar? Seperti ini saja dia rasanya tidak sanggup.


Tanda di dada Elisa sudah banyak, baju atas Elisa juga seluruhnya sudah luput dan semuanya terlihat di depan Lorenzo, Elisa mencoba menutupinya dengan kedua tangannya.


"Ma-maafkan saya Tuan...saya tidak sengaja." Elisa tertunduk lalu tangan Lorenzo mengangkat dagunya dan mulai mel*umat dalam mulut Elisa seperti memakan permen saja.


Lorenzo melepaskan ciumannya. "Aku tidak akan melepaskanmu, Elisa." Lorenzo memutar tubuh Elisa hingga membuat tubuh Elisa membelakanginya, Lorenzo mulai menelusuri punggung Elisa, tangannya sudah tidak bisa di kondisikan arahnya. "Ah...ahhh Tuan Lorenzo...."


Lambat laun mereka sama-sama terbawa suasana, Elisa mencekram rambut Lorenzo saat tubuhnya sudah berada di bawah pria itu yang mulai menelusuri dada Elisa.


Tidak terasa hujan sudah turun dari tadi angin menerpa mereka membuat gairah memuncak. "Argh," gumam Lorenzo saat dirinya dan Elisa menyatu kembali setelah beberapa bulan yang lalu saat mereka melakukannya secara tidak sadar.


"Ahh...ah Lorenzo!" teriak Elisa saat mereka *******.


"Elisa!"


Tubuh Lorenzo jatuh di sebelah Elisa yang terpejam dan menatapnya.


Terima kasih Elisa.

__ADS_1


Lorenzo memeluk Elisa yang sama-sama tanpa pakaian itu dan menutupnya kembali dengan selimut karena ia baru merasakan udara sangat dingin.


Elisa membuka matanya, ia dan Lorenzo saling bertemu tatap dalam diam.


Kamu benar-benar membuatku bimbang Lorenzo, sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadamu. Maaf.


Lorenzo duduk. "Ayo kita mandi Elisa," ajaknya.


"Ti-tidak anda duluan saja," memalingkan wajahnya.


Lorenzo menaikkan sebelah alisnya. "Ingin ku gendong?" tanya Lorenzo saat wajahnya di depan Elisa.


"Astaga!" Elisa bangkit membuat kepala mereka berbenturan. "Maaf Tuan." Elisa duduk dan memegang dahi Lorenzo. "Apakah sakit? Akan saya kompres dulu."


"Kau yakin?" tanya Lorenzo sambil melihat Elisa dari atas sampai bawah.


Elisa yang menyadarinya langsung kembali mengambil semua selimut untuk menutupinya. Lorenzo berdiri tanpa sehelai benang pun. Elisa langsung menutup matanya.


"Sudah kubilang kita mandi bersama." Lorenzo mengangkat tubuh Elisa yang memakai selimut di tubuhnya.


"Tu-turunkan saya Tuan saya bukan anak kecil, saya bisa berjalan sendiri." Lorenzo berhenti.


"Baiklah," lalu ia menurunkan Elisa dan berjalan di depan Elisa, dia hanya bisa menutup matanya dan mengintip sedikit-sedikit dan masuk ke dalam kamar mandi, sudah melihat Lorenzo duduk di dalam bathub.


"Duduk di depanku," ucap Lorenzo.


"Ah hmm maksud anda Tuan?" tanya Elisa, lebih tepatnya Elisa mengerti apa yang dikatakan Lorenzo hanya saja apakah ia salah dengar?


"Apa kau tidak dengar?" Lorenzo ingin bangkit dari duduknya tapi dihentikan Elisa.


"Baik-baik saya duduk." Elisa masuk ke dalam bathub yang sama dengan Lorenzo dengan selimut yang masih membalut tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan? Memang kau bisa mandi dengan seperti itu?"


Eh aah


Lorenzo melepas selimut itu dan melemparkannya ke sisi lain kamar mandi. Elisa menutupi bagian atas tubuhnya dengan tangan.


"Kau masih canggung? Padahal kita baru saja melakukannya hah," ucap Lorenzo sambil memasang sedikit senyum.


Elisa yang di depannya sudah merah padam, bagaimana bisa pria ini mengatakan hal itu dengan santai hingga ia merasakan sesuatu di ujung kakinya, mata Elisa membelalak lalu melirik Lorenzo.


"Apa kau ingin melanjutkannya?" tatap Lorenzo.


"Ti-tidak Tuan aah...."


Dan seperti itulah 'acara mandi bersama' mereka berlanjut di tengah hujan yang semakin lebat.


...----------------...


"Apa? Jadi hari ini saya libur dulu?" ulang Tori pada Pak Sam.


Lalu ia mengangguk. "Kau bisa kembali ke kamarmu. Sepertinya Nona seharian ini akan berada di kamarnya."


"Baik Pak..., terima kasih."


Ada rasa senang, kesal, bahagia, santai hati Tori saat ini. Jika saja dia tahu ini sejak awal, ia tidak akan mandi pagi-pagi di suhu dingin ini. Lalu sekarang sedang hujan, waktu yang tepat untuk bersantai.


"Bersyukur Tori ternyata kau bisa bersantai hari ini," lalu ia berjalan santai di tengah hujan lalu mandi lagi dan memakai baju ternyaman untuk hari santai ini.


Eh berarti Nona dan Tuan..... kyaaa

__ADS_1


Halo semuaa selamat membaca yaa enjoyyπŸ˜­πŸ‘‹πŸ˜


__ADS_2