
Hujan berhenti sekitar pukul 10 pagi namun masih diiringi sedikit rintik-rintik hujan. Elisa kembali menelpon Pak Sam untuk membawakan mereka sarapan, atau makan siang?
"Baik Nona," awab Pak Sam.
Elisa kembali duduk di depan Lorenzo yang sedang fokus melihat layar laptop yang sekilas sepertinya adalah data-data statistik perusahaan.
Masih malu dan canggung dengan kejadian tadi, Elisa memutar matanya mengelilingi ruangan seperti
pertama kali saja melihatnya. Sesekali ia melirik Lorenzo yang sedang memakai kaca mata miliknya.
Ternyata dia memang tampan.
Dengan memakai sweater coklat dan rambutnya yang masih basah, dilihat bagaimanapun presisi wajahnya memang simetris yang jika di foto tidak akan mendapat masalah di angle manapun.
"Aku tahu wajahku tampan." Elisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Lorenzo memergokinya sedang menatapnya.
"Wajahku bisa terbakar, apa kau sangat menyukai wajahku ini?" memegang sebelah pipinya.
Elisa diam seribu bahasa, dia memilih untuk diam agar tidak membuat kecerobohan seperti tadi.
Pintu kamar pun diketuk, lalu Elisa berjalan dan membukakan pintu.
"Ibu?" ucapnya saat melihat Elena yang datang membawakan nampan yang agak lebar, Elisa pun langsung ingin mengambilnya tapi Ibu menggelengkan kepalanya.
Elisa berjalan di sebelahnya. Ibu pun meletakkan nampan itu di depan Lorenzo. Seketika ia melirik Ibunya yang ikut duduk di depannya.
"Elisa duduk di sini," menepuk sofa di sampingnya.
"Iya Ibu."
Elena menatap Lorenzo hingga anaknya itu akhirnya bersuara.
"Ada apa Ibu?" menghentikan aktivitasnya.
Elena memberikan piring yang berisi sarapan sekaligus makan siang pada Elisa. "Makanlah." Elisa mengangguk dan langsung mendekatkan piring itu ke arahnya.
"Kenapa kau tidak bekerja hari ini? Stefan pasti sedang mengalami kesulitan saat ini," ucapnya sambil menuangkan jus ke dalam gelas.
Lorenzo sambil melihat layar laptopnya. "Aku hanya tidak ingin datang Ibu."
"Benar hanya itu? Ibu dengar bukan hanya kau yang terlambat sarapan dan tidak keluar dari kamar, Elisa juga," menoleh ke Elisa.
"Jangan terlalu sering melakukannya pada Elisa, dia sedang hamil. Kau tahu? Itu sangat melelahkan." Elisa tertunduk menutupi rasa malunya.
Lorenzo mengangkat kepalanya dan menatap Elisa lalu tersenyum tipis. "Dia juga menikmatinya Ibu."
__ADS_1
Jdaar sudah apalagi yang akan Lorenzo katakan, Elisa memalingkan wajahnya dan menutup wajahnya.
"Dasar kau memang mirip Ayahmu. Mengatakan hal seperti itu dengan santai, kau lihat? Wajah Istrimu saja sudah merah seperti dipanggang. Lain kali berlatihlah untuk mengontrol ucapanmu, karena itu berpengaruh untuk kandungannya kau mengerti."
Lorenzo diam, kemudian dia hanya membalas. "Hmm."
"Haa itu saja yang ingin Ibu katakan. Elisa Ibu tahu ini sulit untukmu, tapi berjuanglah karena kau akan bersama dengan anakku ini seumur hidup," ucap Elena sambil menggapai punggung Elisa dan menepuk-nepuknya. Lalu ia pergi meninggalkan Lorenzo dan Elisa yang sama-sama terdiam.
"Hmm apa benar?" tanya Lorenzo memecah keheningan namun matanya tetap fokus ke layar laptop.
Elisa yang sedang makan pun menghentikan aktivitasnya. "Itu...saya rasa tubuh saya pegal semua Tuan...hmm." Elisa ragu melirik Lorenzo, ternyata ia menatap Elisa dengan ekspresi serius.
"Ayo kita ke dokter," ajaknya.
"Tidak apa-apa Tuan, sekarang saya baik-baik saja." Elisa sambil mengisyaratkan tangannya agar tidak perlu melakukannya.
"Tidak, kita harus pergi. Apa kau ingin kugendong lagi?"
Elisa langsung panik. "Iya ayo Tuan kita ke dokter."
Lorenzo mengangguk dan langsung mematikan Laptopnya, lalu mereka berdua pergi menuju dokter kandungan Elisa.
...----------------...
Di rumah sakit
"Woah, Kak ada apa?" tanya Daran pada Elisa. Lorenzo yang saat itu berhadapan langsung dengan Daran menajamkan matanya.
"Minggir ini darurat." Lorenzo mendorong tubuh Daran ke samping, Elisa yang melihatnya tersenyum tipis dan mengangguk merasa tidak enak.
Tapi bukan Daran jika tidak penasaran, ia terus membuntuti mereka dari belakang hingga sampai di dokter kandungan.
"Selamat datang Tuan dan Nona, silahkan Nona rebahkan tubuh anda. Ada keluhan apa Nona?" tanya dokter itu.
"Kami baru saja melakukan hubungan intim dan dia merasakan pegal," ucap Lorenzo. Daran langsung memasang ekspresi kaget, dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut si paling redflag milik Lorenzo ini.
"Oh begitu, baiklah akan saya periksa dulu ya," lalu dokter menampilkan layar USG untuk memperlihatkan posisi bayi. "Lihat Tuan, Nona bayinya tumbuh dengan baik dan ukuran tubuhnya juga berisi umurnya akan memasuki bulan ke 5," meletakkan alat pemeriksaan.
"Lalu untuk hubungan intim saat hamil itu tidak apa-apa asal dilakukan dengan aturan, Nona mengalami pegal mungkin Tuan harus bisa sedikit menahan diri karena Nona sedang hamil saat ini," lanjutnya.
Lorenzo mengangguk-angguk dan melirik Elisa yang sudah menutupi wajahnya dengan selimut. Sedangkan Daran hanya menggelengkan kepalanya.
Dasar Lorenzo harusnya kau bisa menahan dirikan?
"Untuk berjaga-jaga saya membuatkan jadwal untuk Tuan dan Nona mulai hari ini dan posisi apa saja yang bisa dilakukan."
__ADS_1
Apa dia membuatkan jadwal hubungan intim kami? Lalu posisi?! Tidak-tidak, argh apa orang-orang ini memang tidak mengutamakan rasa malu?
Teriak Elisa dalam hatinya. Lalu ia teringat ucapan Ibu saat mengatakan 'kau akan bersama dengan anakku seumur hidup' masih terngiang di kepala Elisa yang baru mengetahui sisi lain Lorenzo 'yang itu' dan tentunya Elisa belum terbiasa, sedikit shock juga sebenarnya.
Lorenzo terdiam dan mengambilnya.
"Lalu ini obat untuk Nona agar pegalnya berkurang dan kembali bugar."
Elisa mengambilnya. "Terima kasih dokter."
Dokter kandungan mengangguk lalu menundukkan kepalanya saat Lorenzo dan Elisa ingin pergi. Daran seribu bahasa untuk kali ini.
"Sepertinya Lorenzo memang terlalu bersemangat," ucap Daran dengan dokter kandungan, lalu dia membalas dengan tawa kecil.
...----------------...
Di dalam mobil Elisa diam. Perkataan dokter tadi masih terngiang di kepalanya, apalagi saat ini jadwal itu sedang dibaca Lorenzo berhubung mereka masih di area parkir.
Elisa menoleh ke samping dan melihat Lorenzo tersenyum tipis.
"Lihat," menunjukkan gambar posisi hubungan intim yang boleh dilakukan saat sedang hamil. "Sepertinya posisi ini tidak buruk juga," tunjuk Lorenzo di salah satunya. Elisa langsung memalingkan wajahnya. "Lalu dia juga menuliskan jadwalnya hmm." Elisa semakin merinding, coba tadi dia lebih baik menolak kemari dengan cara apapun.
Elisa terkejut saat sebelah tangan Lorenzo mengurungnya dalam pelukannya dan menatap Elisa. Lalu ia mulai mencium kembali bibir Elisa.
"Hmm mmh Tuan," Elisa melepaskan ciuman itu dengan napas tersengal. "Saya tidak bisa bernapas, kita pulang dulu ke mansion," ajak Elisa.
"Kita makan dulu, kau pasti belum makan dengan baik kan?" Elisa diam.
Lalu Lorenzo menyetir dengan tujuan sebuah restoran milik anak Pak Sam yang selalu di datanginya saat bersama Stefan.
...----------------...
Sementara di tempat lain Clarenza sedang bersiap pergi dan berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Ren hati-hati ya jika ada kendala segera hubungi Mama," ucap Ibu Clarenza sambil memeluk anaknya.
"Iya Mama, aku pasti akan baik-baik saja. Paman Carl dan Bibi Elena pasti akan menjagaku."
"Jika sudah sampai beritahu kami," ucap Papa Clarenza setelah mengangkat koper terakhir milik Clarenza ke bagasi mobil.
Clarenza mengangguk. "Kau yakin tidak ingin kuliah di sini saja?" tanya Mamanya lagi.
"Ma, universitas kota itu sangat bagus. Banyak mahasiswa dari berbagai negeri, aku pasti akan mendapatkan pengalaman yang berguna," memegang tangan Mamanya.
Clarenza mengikuti tes masuk universitas yang sama dengan Lea, dia mengikuti dua tes. Pertama tes dengan prestasi akademik dan non akademik dari sekolah menengahnya, lalu yang kedua dia mengikuti tes ujian secara langsung namun dengan sesi yang berbeda dengan Lea. Clarenza sudah mendapatkan pengumuman kelulusan lewat jalur prestasi akademi dan non akademik 5 hari yang lalu sedangkan jalur tes ujian baru akan diumumkan besok.
__ADS_1
Setelah berpamitan Clarenza pun berangkat dengan supir untuk menuju stasiun bawah tanah yang akan menuju Roma.
Haloo semuaaa selamat membaca ya!🤍❤