Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Clarenza


__ADS_3

"Apa-apaan ini!" Masuk dari pintu samping yang hanya bisa dibuka saat memiliki identitas keluarga Elio.


Lorenzo dan Elisa menoleh, begitu juga Stefan yang langsung masuk dari pintu depan dan berjalan cepat menuju sumber suara.


Stefan diam. "Ada apa?" tanya Lorenzo. Lalu seseorang muncul dari belakang Stefan.


"Kakak ini aku," berjalan dan menggeser kursi ke depan Lorenzo dan Elisa. "Kakak baru saja menikah tapi sudah lupa padaku?"


"Clarenza bisakah kau masuk dengan sopan?"


"Maafkan aku, aku tidak berani lewat pintu depan karena ada..." melirik Stefan yang berdiri dengan tatapan tajamnya.


"Ada perlu apa anda ke sini Nona?" tanya Stefan.


Menjauhkan diri dan duduk di samping Elisa. "Apa maksudmu sekretaris Stefan? Aku hanya ingin menemui kak Elisa," memeluk sebelah tangan Elisa hingga badannya juga bergoyang mengikuti gerakan Clarenza.


Sepertinya keluarga ini memiliki banyak karakter sendiri ya, kukira semua sama seperti tuan Lorenzo.


"Clarenza hentikan kakak ipar mu sedang sakit."


"Kak Elisa maafkan aku," langsung melepaskan pelukan tangannya.


Lorenzo berdiri. "Aku akan menyapa tamu bersama Stefan kau tunggulah di sini."


Elisa mengangguk "Baiklah."


"Kak Elisa," panggil Clarenza Elisa pun menoleh.


"Pertama-tama maaf padahal ini pertemuan pertama kita tapi aku sudah bersikap seperti ini."


"Tidak apa-apa Clarenza," tersenyum tipis.


"Kakak sepertinya sakit ya, apa kak Renzo tidak tahu?" memiringkan kepalanya menghadap Elisa.


"Justru tuan Lorenzo membawa saya kemari karena saya merepotkannya."


Clarenza bingung dengan panggilan itu. "Tuan Lorenzo?"


"Ehm maksud saya, Lorenzo."


"Oh iya, btw kak Elisa bisa memanggilku Ren hehe," tersenyum hingga menunjukkan lesung pipi. "Karena kalau di panggil Clarenza itu seperti bukan orang dekat, kecuali kak Renzo dia sama sekali tidak berubah dan selalu memanggilku yang namanya mirip dengannya."


Hm kalau di pikir-pikir benar juga. Eh dia dari tadi memanggi tuan Lorenzo, kak Renzo?


Elisa menutup mulutnya yang sedikit tersenyum.


"Iya Ren, lalu kamu datang bersama siapa?"


"Dengan papa dan mama ku, itu mereka," menunjuk kedua orang pasangan yang sedang berbicara dengan Lorenzo.


"Kak udah mendingan? Kalau belum aku mau keluar sendiri," berdiri dari duduknya.


"Apa kakak boleh ikut bersama mu?"


"Tentu, kak Elisa itu bintang utama hari ini. Ayo," ajak Clarenza dengan menuntun tangan Elisa berjalan keluar.


...----------------...


"Lorenzo selamat ya atas pernikahanmu, bibi harap bisa segera menggendong anakmu," ucap seorang wanita paruh baya menggandeng tangan suaminya.


"Bayangkan saja sayang wajah Lorenzo versi lucu," menoleh ke arah Lorenzo. "Mungkin paman mu akan selalu datang ke sini."


Lorenzo mengangguk. "Terima kasih Paman, Bibi sudah menyempatkan untuk datang."


"Tentu saja, walau kami sibuk kami akan tetap datang karena kami ingin bertemu dengan istrimu," melihat sekeliling. "Di mana istrimu?"

__ADS_1


"Elisa sedang tidak enak badan Bi jadi dia masuk dalam ruangan," balas Lorenzo.


"Tuan nona Elisa bersama nona Clarenza di sana," bisik Stefan sambil menunjuk ke arah kumpulan orang yang menghampiri Elisa, Lorenzo menoleh.


"Tidak Lorenzo itu dia sedang bersama Clarenza," tunjuk paman.


"Sepertinya nona sudah agak mendingan Tuan," sahut Stefan.


...----------------...


Sementara Elisa yang dikelilingi oleh orang merasa sesak dan kesusahan untuk pergi.


"Nona anda sangat cantik sekali, semoga selalu bahagia."


"Iya terima kasih," dengan susah payah Clarenza membuka jalan dan berjalan cepat menuju meja kosong yang tampak tidak menonjol dan duduk di sana.


"Akhirnya bebas dari sekumpulan berbasa-basi," Clarenza menghela napas. Elisa terkejut.


"Sebenarnya kak, aku tidak terlalu suka keramaian seperti basa-basi. Tapi kalau festival beda lagi ceritanya. Kakak mau kan ke festival bersama denganku suatu saat?"


"Tentu saja kakak bisa saja, tapi kakak harus izin dulu dengan Lorenzo."


"Tenang kak, aku yang akan meminta izin dengan kak Renzo," melipatkan kedua tangannya merasa bangga.


"Baiklah kalau begitu."


Seseorang muncul di hadapan mereka. "Oh ini pengantin cantik itu?"


"Alexa...," Elisa pun memeluk Alexa. "Ku pikir kau tidak datang, aku tidak melihat mu dari tadi," mereka jadi duduk bertiga.


"Apa yang dilakukan seorang pengantin di pojokan seperti ini? Kau pikir dengan gaun yang sangat elegan ini orang tidak akan mengenal mu?" tanya Alexa menghela napas.


"Sebenarnya...," Clarenza mengangkat tangannya pendek tanda izin memotong pembicaraan. "Kak Elisa sedang tidak enak badan lalu kak Renzo membawanya masuk ke dalam ruangan, tapi aku mengajaknya keluar, maafkan aku kak."


Alexa berdehem. "Ehm begitu, ya sudah lagipula Elisa tidak apa-apa kan?" menoleh ke arah Elisa yang mengangguk.


"Terima kasih kak, tapi ini waktunya aku harus pergi. Orang tuaku ada urusan. Tenang saja sebentar lagi aku akan ke mansion karena akan kuliah di Roma jadi kita akan sering bertemu," mengeluarkan hp nya dari tas.


"Eh bukankah itu-" ucapan Alexa terpotong.


"Sst, aku menyembunyikannya jadi ayo berfoto dengan cepat," menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Oh oke Elisa cepat-cepat mendekat," ajak Alexa. Mereka pun berfoto. Ckrek Ckrek.


"Oke kak, apa boleh aku minta nomor kakak."


"Iya boleh," dengan cepat Clarenza mengetik tombol angka setelah menyimpan nomor Elisa, selanjutnya nomor Alexa.


"Selesai, kalau begitu aku pergi dulu kak," lambai tangan.


Elisa mengangguk.


"Lis...," panggil Alexa lalu ia menoleh. "Aku berpikir kepribadiannya 360 derajat dari tuan Lorenzo."


"Betul aku sempat kaget tapi sepertinya dia memiliki karakter yang sama denganmu jadi aku bisa mudah beradaptasi."


Alexa mendekatkan kursinya dan berbisik. "Apa kau tahu ada pria sangat tampan tadi namanya tuan Azka, dan beberapa temannya."


"Biar kutebak tiga orang laki-laki yang menyampaikan pesan tadi siang?"


"Sst jangan besar-besar," menutup mulut Elisa tapi tidak tertempel.


"Iya, nah tuan Azka itu yang di sebelah pembawa acara, tapi ternyata ia memiliki pacar. Kami berempat sempat berkenalan tadi," balasnya pura-pura kecewa.


Padahal ia sendiri sudah tau pria tampan tidak mungkin tidak memiliki pacar. Hanya dia yang berbeda setelah di ajak kencan banyak pria malah ditolaknya mentah-mentah, dengan alasan ingin fokus dengan diri sendiri. Tapi lihatlah sepertinya itu sebuah kebohongan.

__ADS_1


...----------------...


Acara sudah hampir selesai, ya mereka hanya mengadakan acara sampai jam 15.00 sore karena saat malam cuaca sangat dingin, Stefan memberi saran seperti itu karena akan berpengaruh pada wanita yang sedang mengandung.


Elisa dan Alexa melihat sekretaris Stefan berjalan menuju mereka.


"Nona tuan Lorenzo menyuruh anda menemuinya, mari ikut saya," menganggukkan kepalanya.


"Alexa aku pergi dulu ya," berdiri lalu berjalan menuju Lorenzo. "Sekretaris Stefan kenapa tuan Lorenzo memanggilku?"


"Orang tua beliau ingin bertemu dengan anda," berbicara tanpa menoleh Elisa.


Sekretaris Stefan ini sepertinya sama saja dengan Lorenzo. Tidak bisa ditebak!


"Oh iya," sahut Elisa dengan memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi.


Sesampainya di sana Elisa melihat Lorenzo lalu bergantian ke arah mertuanya. "Selamat sore Ayah, Ibu."


"Sore sayang, bagaimana apa kau sudah baikan?" balas Carl. Elisa menoleh ke arah Lorenzo.


"Aku memberitahu Ayah tadi, bahwa kau sedang tidak enak badan"


"Saya sudah baik-baik saja, Ayah tidak perlu khawatir."


"Berhubung kau sudah jadi menantu ku pastikan kau jangan pernah menyulitkan Lorenzo," sahut Elena dengan wajah datar.


Apa ini tandanya aku sudah diterima? Tidak Elisa kau terlalu cepat memutuskan. Kau harus bertahan lebih lama lagi.


"Baik Ibu saya tidak akan menyulitkan Lorenzo."


"Sayang jangan bicara seperti itu, Elisa pasti lelah kan? Ayo kita pulang ke mansion. Selamat menikmati waktu kalian," Carl melambai dan pergi memasuki mobil bersama Elena.


"Ayo kita pergi tuan," sahut Stefan.


Pergi? pergi ke mana? bukannya harus kembali ke mansion?


Banyak pertanyaan di pikiran Elisa namun ia tidak berani menjawabnya.


Mereka pun berjalan menuju mobil tapi beberapa orang datang menghampiri mereka.


"Yo Lorenzo," sapa Azka melambaikan tangannya.


"Sudah mau pergi? Ada sesuatu yang harus kami berikan kepadamu," bisik Felix.


Azka mengangkat bahu. "Kau tahu sebagian Daran dan Felix yang membeli, khusus dariku ada di kemasan terpisah di dalamnya," tegasnya.


Kotak itu pun diambil Stefan. "Terima kasih," ucap Lorenzo.


"Dan... nona Elisa ini hadiah spesial dari kami dan ada suratnya juga tolong dibaca ya, lalu jangan membukanya di depan Lorenzo," ucap Daran lalu berbisik di akhir kalimat.


"Oke baiklah selamat menikmati waktu kalian," ucap Daran yang sudah disenggol Azka dan Felix.


Mereka pun masuk ke dalam mobil Stefan yang menyetir. Tidak ada suara di dalamnya. Elisa sudah tidak tahan dan akhirnya bertanya.


"Tuan, kita mau ke mana?" yang ditanya tidak menjawab mata yang menyetir melirik dan menjawab. "Kita akan ke hotel Nona."


Elisa terdiam. Ini kenapa yang menjawab sekretaris Stefan? Apa tuan Lorenzo berpura-pura baik saja kepadaku, Elisa tamat riwayat mu setelah ini.


Batin Elisa dengan memegang kuat hadiah yang diberikan tiga pria tadi.


Lorenzo melirik. "Sepertinya kau sangat menyukai hadiah itu, apa kau sudah membukanya?"


"Tidak, saya belum membukanya," Elisa langsung meletakkan kado itu di sampingnya dan diam sampai mobil berhenti di depan hotel.


Halo para pembacaa terima kasih sudah membaca nantikan bab selanjutnya ya❤😊

__ADS_1


__ADS_2