Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Keraguanku | Masa Lalumu


__ADS_3

Elisa beberapa hari mengikuti kelas yoga hamil yang Ibu sendiri awasi dan selama itu juga Elisa tidak datang ke toko. Hari ini Dia memohon kepada Ibu setelah yoga akan pergi ke toko sebentar saja karena sebelumnya sesudah melakukan yoga Elisa selalu disuruh Ibu untuk langsung istirahat.


"Baiklah Ibu izinkan lalu apa kau sudah memberitahu Lorenzo?" tanya Elena yang sedang minum teh di ruang keluarga.


"Sudah Ibu."


"Baiklah Ibu suruh sopir mengantarmu."


"Ti..tidak usah Ibu saya bisa-"


Elena mengisyaratkan tangannya tanda stop yang artinya Dia tidak mau mendengar alasan apapun. "Sopir akan mengantarmu."


Elisa mengangguk dan pergi bersama sopir. Sesampainya di depan toko.


"Pak anda bisa menunggu di sini?" Pak sopir paruh baya itu tidak menjawab. "Saya sebentar saja tidak akan lama."


Pak sopir mengangguk lalu Elisa masuk ke dalam toko. "Nona! anda akhirnya datang," ucap Sofia yang sedikit berteriak Rufina yang sedang membuat bouqet langsung keluar dari ruangan.


"Nona apa kabar? Ke mana saja Anda?" timpal Rufina.


"Saya hm ada urusan keluarga sebentar...iya urusan keluarga," balas Elisa canggung. Karena di antara Sofia ataupun Rufina tidak ada yang tahu mengenai kehidupan pribadi Elisa, tempat tinggalnya, saudaranya bahkan mereka tidak pernah melihat salah satu keluarganya berkunjung. Yang umumnya ketika kita membuka usaha setidaknya ada satu atau dua orang keluarga sendiri berkunjung. "Saya baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?" lanjutnya.


"Nona belakangan ini, toko sangat superr ramai aku dan Rufi sempat hampir terpeleset karena pembeli berdatangan." Rufina mengangguk.


"Maafkan saya Sofi karena tidak datang beberapa hari kemarin."


"Tidak, tidak apa-apa Nona kami justru merasa sangat bersemangat," Sofia menunjukkan bahunya yang sama sekali tidak ada otot.


"Aku membawakan kalian makanan ini," memberikan dua paper bag. "Lalu saya sepertinya ingin menambah pegawai, bagaimana menurut kalian?"


Rufi berpikir sambil memegang dagunya. "Tidak masalah sih Nona, itu malah bisa membantu kami berdua," menoleh ke arah Sofi lalu Ia mengangguk.


"Baiklah untuk ini saya serahkan kepada kalian saja ya, kalian ingin menambah beberapa teman lagi di sini?" tanya Elisa.


"Kami hanya butuh satu teman lagi Nona," jawab mereka serempak.


Elisa sempat terdiam. "Hanya satu?" menunjukkan tanda satu dengan jarinya.


"Iya Nona satu, kami perlu seseorang untuk bertukar saat membuat bouqet dan lilin aroma setiap satu jam, jadi kami bisa memiliki putaran waktu selama dua jam sebelum kembali membuatnya," jelas Sofi.


"Jika hanya kami berdua sepertinya malah akan memperlambat pembuatan," sahut Rufi.


Lalu jika kalian perlu waktu pergantian lama kenapa hanya satu kan bisa dua atau tiga.


"Iya-iya untuk ini saya serahkan dengan kalian saja, jika sudah ada tinggal kalian masukkan saja di grub obrolan nanti."


"Siap Nona!" jawab mereka berdua.


"Baiklah saya harus pergi sekarang. Sepertinya saya tidak bisa setiap hari datang, tapi saya akan berkunjung jika bisa," Elisa tersenyum.


"Baik Nona, beritahu kami jika Nona ingin datang lagi. Dan terima kasih untuk makanannya," Rufi.


"Iya Nona terima kasih," Sofi.


Lalu Elisa keluar toko dan masuk ke mobil. "Pak bisa tolong bawa saya ke taman kota?" Pak sopir mengangguk.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan banyak hal yang dipikirkan Elisa. Bagaimana jika dia sudah melahirkan dia akan benar-benar dibuang? Sikap Ibu yang sudah menerimanya apakah akan berubah saat dia sudah melahirkan?


Jika itu terjadi aku tidak yakin bisa dengan mudah melupakannya dengan waktu singkat. Apa sekarang Lorenzo menganggapku Istrinya? Atau hanya seorang wanita yang melahirkan pewaris untuknya? Mengenai kekasihnya di masa lalu Lorenzo pasti belum melupakannya. Bagaimana jika aku duluan yang memiliki perasaan kepadanya? Sayang kamu satu-satunya sekarang yang bisa mendengarkan selalu keluh kesah Ibu, maafkan Ibu yang selalu seperti ini, apakah Ibu menganggu tidur mu? mengelus perutnya.


Terasa cepat saja mobil sudah berhenti. "Nona kita sudah sampai," Elisa keluar dari mobil dan duduk di sebuah kursi di bawah pohon rindang karena saat ini awal musim semi jadi tumbuhan banyak bermekaran dan berbanding terbalik dengan pikiran Elisa saaf ini. Dia memandang lurus ke depan pikirannya kosong mengambang setelah berpikir hal tadi saat di perjalanan.


Pilihan yang tepat aku membuka toko. Aku harus membatasi diriku agar tidak jatuh hati kepadanya. Dia pasti akan kembali kepadanya kan?


Masih duduk dengan berbagai kemungkinan yang terjadi.


...----------------...


Setelah Elisa keluar meminta izin pergi Lorenzo yang di ruang kerjanya merasa gelisah dan tidak tenang, Dia yang biasanya menggunakan telepon dinding untuk meminta sesuatu malah repot-repot turun naik tangga bukannya menggunakan lift.


"Tuan Muda apa anda memerlukan sesuatu?" tanya Pak Sam. Sudah enam kali Dia melihat Lorenzo turun naik tapi tidak membawa apapun.


Ck apa yang kulakukan. Sepertinya aku harus menelpon Dokter gadungan itu.


Lorenzo pun mengambil hpnya dan menelpon kontak Daran.


Daran sedang duduk beristirahat mendengar suara dering yang sengaja diberikan keistimewaan dari yang lain sehingga Dia tahu itu telepon dari siapa.


"Apa aku tidak bisa duduk dan istirahat sebentar dengan tenang?" dengan rasa malas dia mengangkat telepon itu.


"Halo?" sapanya.


"Kau sudah gila ya? Lama sekali."


Tuan Muda sial yang menyebalkan ini jam istirahat ingin Daran berbicara seperti itu namun mustahil.


"Aku tidak tahu, aku seperti merasa bosan dan tidak tahu harus melakukan apa."


"Nona sedang di mansion?" tanya Daran memastikan.


"Dia sedang keluar sebentar."


"Nah!" sedikit berteriak membuat Lorenzo langsung menjauhkan hp dari telinganya. "Anda sedang mengalami sindrom, itu tandanya Anda ingin berada di dekat Nona."


Lorenzo mengernyit. "Apa kau bohong?"


"Anda coba saja telepon Nona untuk segera pulang lalu lihat nanti apa yang terjadi dengan Anda," mengangkat bahunya.


Lalu Lorenzo hanya berdehem dan langsung mematikan sambungan telepon.


*D*asar kurang ajar Lorenzo!


"Hmm," Lorenzo memutar-mutar hpnya di tangan, mempertimbangkan saran Daran. Karena sejak tadi Dia tidak bisa fokus bekerja lalu memberitahu Stefan tentang kondisinya sekarang dan Dia langsung mengerti dan mengerjakan semua pekerjaan hari ini.


"Kenapa aku ragu? Aku Lorenzo Elio suaminya," Lorenzo langsung menekan kontak Elisa dan menelponnya.


"Elisa kau di mana? Apa masih lama?" tanya Lorenzo.


"Saya sedang duduk di taman kota, sebentar lagi saya pulang. Ada apa Tuan?"


"Oh begitu tidak apa-apa, segeralah pulang."

__ADS_1


"Ah, iya saya... ini ingin pulang."


"Hmm."


"Kalau begitu saya matikan sambungan dulu ya."


Elisa mematikan sambungan telepon lalu masuk ke dalam mobil menuju mansion.


Lorenzo di ruang kerjanya berdiri di balkon dengan melipat kedua tangannya. Sedikit rapi mungkin membuatku merasa lega.


Lorenzo merapikan beberapa dokumen di atas mejanya dan menaruhnya di sebuah lemari kerja saat membuka lemari pandangannya tertuju pada sebuah foto yang di tempel di dalam lemari. Fotonya dan Celine saat mereka liburan tahun lalu.


Lorenzo mengambil foto itu tanpa ekspresi dan memasukkannya dalam kotak yang berisi kenangan tentang mereka, Lorenzo akan memberikannya kepada Stefan.


Eli hiduplah dengan bahagia.


Setelah menyimpan semuanya di dalam kotak dan menguncinya Lorenzo keluar dari ruang kerja dan memiliki firasat kalau Elisa sebentar lagi pulang lalu Dia menunggu di atas sambil menyandarkan tangannya di railing balkon. Tidak lama setelah itu Pak Sam membuka pintu dan menyambut Elisa, Lorenzo terkesiap dan berdiri di ujung tangga atas.


"Selamat sore Tuan," sapa Elisa.


"Hm iya," bersikap santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal sedari tadi Lorenzo menantikan kedatangan Elisa.


"Anda sudah makan? Sudah minum obat yang diberikan Dokter Daran?" tanya Elisa beruntun. Lorenzo diam karena belum melakukan semua itu.


Elisa menghela napas. "Tunggu sebentar," Elisa mengambil telepon dinding dan meminta Pak Sam untuk mengantarkan makanan dan obat Lorenzo.


"Nona saya membawakan yang Anda minta," ucap Pak Sam dari luar, lalu Elisa mengambilnya dan Pak Sam menunduk dan menutup pintu dari luar.


"Ini Anda makan dulu," ucap Elisa kepada Lorenzo yang sudah duduk di ruang santai.


"Hm," Lorenzo diam hanya menatap makanan itu. "Suapi aku Elisa," lanjutnya.


Apa boleh buat. Lalu Elisa mengambil sesendok demi sesendok menyuapi Lorenzo yang dasarnya memang sedang mengalami sindrom couvade.


Setelah selesai menyuapi Lorenzo dan minum Elisa memberinya obat. "Oke sudah, saya mandi sebentar."


Elisa berdiri dan berjalan tapi.... "Elisa sebentar," Lorenzo berjalan ke arahnya dan berdiri di depan Elisa.


"Hm ada apa Tuan? Eh-" Elisa terkejut ketika Lorenzo langsung memeluknya dan membenamkan wajahnya di leher Elisa. "Tuan ada apa? Apa terjadi sesuatu saat saya pergi?" tanya Elisa lagi.


"Diamlah sebentar seperti ini," balas Lorenzo yang masih membenamkan wajahnya di leher kanan Elisa.


Elisa mengangguk dan membalas pelukan Lorenzo dengan sebelah tangannya menepuk punggung lebar itu.


Ah sial begini saja sudah malu, bagaimana bisa kemarin aku menciumnya beberapa kali. Asal kau tahu saja betapa susahnya menahan sindrom ini.


"Jangan jauh-jauh dariku," lepasnya lalu Elisa mengangguk.


"Baiklah Tuan, saya mandi dulu sebentar," Elisa berjalan menuju kamar mandi.


Ini sungguh menguras emosiku. Aku malas mengakuinya tapi Dokter gadungan itu benar.


Lorenzo yang meraup wajahnya yang tampak merah itu.


Halo haiii selamat membaca hihi, seneng banget deh author adegan tipis-tipis Elisa Lorenzo begini hihi😁😍

__ADS_1


__ADS_2