Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Sweety Strawberry


__ADS_3

Elisa bangun saat sudah sore ia melihat sebuah kertas kecil di dekat hp nya.


Aku pergi dulu, saat kau sudah bangun nanti kau bisa membuka kulkas dan menemukan salad di sana, makanlah.


Tulis Lorenzo.


"Astaga ternyata aku memang tidak salah dengar kan?"


Ting


Sebuah pesan masuk dari Alexa.


"Benarkah? Tapi menurutku wajar saja, karena kau sedang mengandung anaknya? Tapi tidak salah juga sih jika menganggap tuan Lorenzo mulai tertarik kepadamu."


Balas Alexa.


Elisa yang membacanya senyum-senyum tidak karuan. Seketika dia melupakan mantan pacarnya Hans? Entahlah apa itu hanya keputusan sepihak Elisa. Saat itu Elisa hanya mengirimkan sebuah pesan singkat yang mengatakan "Aku akan menikah sebentar lagi, kita putus saja," setelah pesan itu sampai Elisa langsung memblokir kontak itu.


"Apa yang kau bicarakan ini Alexa😠😊."


"Oh iya btw aku sudah mendapat undangan untuk pernikahan mu, dan aku bilang akan datang."


"Baiklah, sampai bertemu ya."


"Tidak kusangka kau akan secepat ini meninggalkan aku Elisa😭😭."


"Huush paling sebentar lagi kau menyusul."


"Buru-buru nikah tidak ada calon suami btw🙆‍♀️."


"Ahahaha iya juga, sudah dulu ya."


"Okkiee," balas Alexa mengakhiri chat mereka.


Elisa pun meletakkan hp nya tersenyum getir melihat catatan kecil yang ditinggalkan Lorenzo. Mengingat rentetan kejadian yang membuatnya harus menikah dengan Lorenzo. Sambil mengelus perutnya dia berkata.


"Tidak sayang ibu tidak menyesal dengan kehadiranmu hanya saja seharusnya kamu bisa hadir dengan cara yang baik. Kalau untuk mu ibu selalu bahagia dan tidak mengeluhkan apapun."


Lorenzo pun pergi dari Elioztan Group menuju apartemen yang ditinggali Elisa.


Elisa yang berada di dapur baru saja memakai baju celemek untuk membuat kue stroberi, ia memeriksa bahan yang bisa ia olah dan tepung menjadi bahan utama di ambilnya karena terlalu tinggi tepung itu sedikit tumpah ke rambut dan baju celemeknya. Setelah memikirkan banyak hal rumit dia ingin memakan makanan manis tapi bunyi bel pintu berbunyi. Elisa berjalan untuk melihat siapa yang datang.


"Ah tuan Lorenzo," lalu ia membuka pintu dan membiarkan Lorenzo masuk.


Lorenzo yang melihat penampilan Elisa memperhatikan dari atas sampai bawah. "Kau mau kemana?" tanya nya.


Elisa yang mengerti langsung menggosok sedikit area depan celemek yang terkena sedikit tepung saat mengambilnya. "Em saya mau membuat kue," ucapnya.

__ADS_1


"Kau duduk lah dan biar aku saja yang membuatnya,"


Elisa mengangguk dengan perasaan ragu. "Tuan bisa membuatnya? Tidak apa-apa biar saya saja yang membuatnya."


"Tuan?" Lorenzo yang mendengar kata raguan seperti itu merasa tertantang. "Kau meremehkan ku?" sambungnya.


"Ma-maaf aku tidak bermaksud-"


"Kemari," potong Lorenzo sambil memainkan tangannya menyuruh Elisa.


Elisa berjalan mendekat ke depan Lorenzo dengan bingung.


"Dasar apa kau tidak bisa memperhatikan diri? Atau memang kau mencari perhatianku?" tanya nya sambil membersihkan rambut Elisa menggunakan sapu tangan dari saku bajunya.


Elisa terkejut dan terdiam kaku, tidak bisa menjawab perkataan Lorenzo.


Setelah Lorenzo membersihkan rambut Elisa dia memberikan sapu tangan itu untuk Elisa simpan.


Tingkahnya memang tidak bisa ditebak.


"Pasangkan celemek itu padaku, aku akan membuat kue nya," Elisa pun mengangguk dan melepaskan celemek darinya.


"Tuan tolong angkat tangan anda sedikit," ucap Elisa lalu dia mengikat celemek itu di badan Lorenzo, celemek itu jadi kelihatan kecil Elisa tersenyum kecil di belakang Lorenzo, dan dia tidak sengaja mencium parfum yang Lorenzo pakai.


"Ayo, kau duduk saja dan menyaksikan ku membuat kue," yap betul tidak salah juga Lorenzo karena ini pembuatan kue eksklusif baginya dan Elisa adalah orang yang pertama dibuatkan oleh Lorenzo.


Seperti membuat kue pada umumnya Lorenzo mengambil bahan-bahan seperti tepung, mentega, telur, gula, cream putih yang sudah jadi dan yang menjadi kuncinya adalah stroberi.


Elisa pun berdiri dan mengambil telur dan gula lalu ia mixer hingga mengembang Lorenzo hanya diam di samping Elisa yang sedang menggunakan mixer untuk mencampur tepung sedikit demi sedikit. "Ehm aku sebenarnya tadi ingin melakukan itu."


Tuan Lorenzo jika anda tidak bisa jujur saja itu lebih baik!


Elisa hanya tersenyum mendengar ucapan Lorenzo yang tidak mau dianggap tidak bisa membuat kue, padahal kenyataannya memang benar. "Apa anda bisa mengambilkan cream itu?" ucap Elisa. Sambil meletakkan hasil adonan kue ke dalam oven.


"Ini," Lorenzo sambil meletakan sebungkus cream sekaligus stroberi dan spuit cream. "Aku akan memotong stroberi nya."


Elisa mengangguk lalu sambil menunggu kue masak dalam oven dia mau membuat sebuah minuman.


"Anda mau minum apa?" tanyanya sambil menoleh ke arah Lorenzo.


"Terserah kau mau membuat apa," lalu Elisa mengambil lemon, jeruk, daun mint dan beberapa stroberi.


Lalu dia membuat jus jeruk, lalu potongan lemon, strobei dan daun mint di masukkannya le dalam jus jeruk, sehingga jadilah infused orange water.


Setelah 25 menit oven pun berbunyi Elisa ingin mengambil sarung tangan oven namun dicegah Lorenzo. "Biar aku saja, panas nanti kau kena," ucapnya sambil memegang tangan Elisa agar dia mengurungkan diri untuk mengambil kue itu.


Terdiam Elisa itu hanya menyingkir dari depan oven. Perempuan mana yang tidak baper kalau ketemu yang act of service?

__ADS_1


Bau kue pun menyeruak keseluruh dapur, Elisa pun memotong horizontal kue menjadi tiga bagian Lorenzo memerhatikan Elisa dengan pekat membuat Elisa sedikit salah tingkah.


"Eee apa anda bisa membantu saya? Tolong letakkan cream di bagian tengah sampai pinggir kue lalu letakkan potongan stroberi ini," masih saja diperhatikan, Lorenzo tidak kunjung menanggapi hingga Elisa memanggil namanya. "Lorenzo?"


"Hem," ia pun menuruti apa yang Elisa katakan, dan plating selesai kue stroberi dan infused orange water siap.


"Nah sudah selesai," ucap Elisa sambil mengelap dahinya yang berkeringat. "Sebentar aku ambilkan piring," Elisa pun memotong kue dan memberikannya kepada Lorenzo.



"Kau duluan saja yang makan. Bukankah kau sangat ingin memakannya tadi?" balas Lorenzo sambil menyerahkan piring berisi kue kepada Elisa.


"Tapi anda juga yang membu-" belum selesai berbicara Lorenzo memejamkan matanya tidak mau mendengar alasan lagi.


Elisa pun memakan kue itu. "Emm enak sekali kue nya, anda harus mencoba ini," tanpa sadar tangan Elisa memberikan Lorenzo kue dari sendok yang Elisa gunakan.


"Hmm enak," Elisa yang tersadar langsung menarik cepat tangannya. Mereka pun duduk di ruang tengah sambil menonton tv.


"Setelah ini kau akan pindah ke mansion," ucap Lorenzo.


"Hari ini?" tanya Elisa.


"Iya karena besok hari pernikahan jadi kita akan pergi dan bersiap-siap dari mansion menuju gedung."


"Baiklah."


Hari sudah mulai gelap Lorenzo dan Elisa pergi menuju mansion. Sesampainya di mansion Elisa terkejut dengan terangnya lampu yang menghiasi taman malam hari. Tentu saja itu berbeda saat ia berkunjung di siang hari tempo lalu.


Sampai di depan mansion Stefan sudah menunggu di depan mobil dan membungkuk.


"Selamat datang Tuan, Nona."


Lorenzo dan Elisa hanya mengangguk. "Ayo kita masuk."


"Selamat datang sayang," sambut Carl Elio dengan ramah. "Pak Sam tolong arahkan Elisa ke kamarnya," tersenyum lebar.


Pak Sam yang merupakan kepala pelayan langsung mengarahkan Elisa ke lantai dua. "Mari Nona ikut dengan saya," Elisa mengangguk.


"Sayang jangan terlalu ramah nanti dia jadi manja," sahut Elena Rafe sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya itu.


Lorenzo dan Stefan langsung berjalan tanpa mempedulikan omongan dari Elena.


"Lorenzo jangan anggap serius perkataan Ibu mu ini," ucap Carl dan Lorenzo menoleh.


"Tuan mengenai acara pernikahan, terlalu banyak wartawan yang ingin datang apa kita tolak saja?" tanya Stefan.


"Tolak semua permintaan selain yang sudah kita undang, aku ingin pernikahan ku tidak dipublikasi."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Halo guysss terima kasih sudah membaca sehat selalu yaa❤❤


__ADS_2