
Elisa bangun saat matahari belum terbit, Dia sadar orang di sebelahnya sudah duluan bangun dan menatapnya.
"Jadi kau mencuri kesempatan ya?" Mengangkat kaki Elisa yang menimpa kaki Lorenzo dengan tangannya. Elisa langsung menarik kakinya.
"Tidak bukan seperti itu saya...tidak melakukannya," Lorenzo tersenyum tipis. Srakk Lorenzo berada di atas Elisa.
"Pagi-pagi kau yang memulainya," Lorenzo mendekat dan berbisik kepada Elisa, Dia terpejam kaku. Elisa tidak mengira bahwa Lorenzo orang yang seperti ini.
Apa dia sudah melakukannya dengan banyak wanita?
"Maaf saya tidak bermaksud...," Elisa yang terpejam membuka matanya. Lorenzo menatapnya dengan lekat.
"Apa Anda bisa bangun dulu? Saya sesak," ucap Elisa. Lorenzo mendekatkan wajahnya dan cup.
Kiss morning.
"Kau melupakan tugas itu," Lorenzo bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi. Elisa mematung.
Setiap pagi aku harus memberikannya kiss morning?
Elisa memegang pelipis kepalanya, bagaimana pria itu bisa melakukan hal itu tanpa perasaan cinta?
Elisa melihat punggung Lorenzo yang berjalan ke ruang ganti dia mengikutinya untuk menjalankan tugas 'sebagai istrinya'
Apa aku beritahu dia saja ya? Aku membuka sebuah toko dan akan bekerja.
Menatap rambut Lorenzo yang sangat lembut itu kelihatannya.
"Tuan," Lorenzo menoleh. "Apa saya boleh kembali bekerja?"
Lorenzo mengernyit. "Apa black card yang kuberikan untukmu tidak cukup?" memeriksa hp nya. "Tapi kau tidak pernah menggunakannya," menunjukkan layar hp dengan tampilan daftar transaksi.
"M..maksud saya bukan begitu Tuan," Elisa kesulitan memilih kata-kata untuk menjelaskannya. "Itu saya ingin berusaha sendiri, saya tidak bermaksud menolak pemberian anda dan-"
"Baiklah, tapi kau harus menjaga Dia," menunjuk perut Elisa. "Untuk urusan lainnya kau tidak perlu pedulikan lakukan apa yang kau suka," berjalan keluar kamar karena pak Sam datang memberitahu bahwa Stefan sudah sampai dan mereka berangkat.
Elisa sudah mandi dan bersiap berangkat ke tokonya, Dia ingin naik angkutan umum saja namun ditolak Lorenzo. Dan akhirnya Elisa pergi bersama bodyguard muda kemarin.
...----------------...
Sesampainya di toko Elisa merapikan kembali barang-barang yang baru dibuat, untuk penjualan pertama menurut Elisa itu sudah lumayan bagus.
Yah karena tempatnya sangat dekat dengan universitas jadi banyak mahasiswa yang membeli bouqet buatan tangan Elisa dan Alexa. Bodyguard yang bertugas menjaga Elisa saja kerepotan. Hal ini membuat Elisa berpikir bahwa dia memerlukan beberapa karyawan. Dia membuka lowongan pekerjaan untuk tokonya. Lalu beberapa hari kemudian ada dua gadis yang mendaftar dan cocok dengan keinginan Elisa.
"Baiklah selamat datang di toko ini Sofia, Rufina. Mungkin ini hanya toko kecil terima kasih untuk kalian yang ingin bekerja di sini," sambut Elisa.
Dua gadis itu menunduk. "Kami yang harusnya berterima kasih karena Nona sudah menerima kami."
"Iya-iya, lalu apa bisa saya mulai menjelaskan tentang toko ini?" tanya Elisa melihat Sofia dan Rufina bergantian.
"Iya Nona maaf kami terlalu lama berkenalan," sahut mereka bersamaan.
"Tidak apa-apa jadi mari ikuti saya," Elisa memimpin mereka dari lantai 1
__ADS_1
"Di lantai satu ini ada beberapa lemari untuk bouqet dan lilin aroma, meja kasirnya di sebelah sana," menunjuk sebuah ruangan yang memiliki pembatas di tengahnya. "Lalu di sana kamar mandi dan itu adalah lemari khusus untuk peralatan dan bahan membuat bouqet dan lilin aroma. Sekaligus peralatan untuk merawat bunga hidup." Menunjuk sebuah ruangan di dekat ruang kasir yang di batasi oleh setengah kaca.
"Dan di sebelah sana adalah ruang khusus untuk membuat bouqet dan lilin aroma, apa kalian sudah pernah membuatnya?" tanya Elisa.
"Nona...saya pernah membuat kedua barang itu saat mengerjakan tugas sekolah, tapi mungkin saya sudah agak lupa bagaimana caranya," balas Rufina.
"Saya belum pernah membuatnya Nona," Sofia.
Elisa mengangguk. "Kalau begitu bagaimana jika saya ajarkan kepada kalian? Kalian bersedia?"
Sofia dan Rufina saling bertatapan dan menganggukan kepala. "Siap Nona!"
Elisa tersenyum, lalu mereka naik ke lantai 2 yang terbagi atas 3 ruangan. Ada ruangan yg besar adalah tempat untuk Elisa bekerja mengelola tokonya. Dan satu ruangan untuk para pegawai beristirahat dan satunya adalah gudang penyimpanan lengkap barang dan alat untuk membuat bouqet dan lilin aroma.
Setelah itu Elisa membimbing mereka agar bisa membuat kedua barang penjualan itu sampai mereka menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk menyocokkan desainnya dengan bouqet sebelumnya.
"Nona," panggil Sofia.
Elisa menoleh. "Iya ada apa Sofi?"
"Nona maafkan saya sebelumnya, saya ingin bertanya apakah Anda belum memiliki nama untuk toko ini?"
Elisa membelalak membuat kedua gadis itu terkejut. "Maafkan saya Nona sudah lancang jangan pecat saya," ucap Sofia. Elisa berdiri tidak mengucapkan satu katapun.
Dia menatap langit-langit toko sambil memegang dagunya. "Sofi," Dia pun menoleh. "Kamu benar, saya belum memberikan nama untuk toko ini. Saya baru sadar, terima kasih ya," Sofia dan Rufina terkejut, mana ada seorang pengusaha sampai lupa memberikan nama kepada tokonya sendiri?
Banyak sekali kejadian aneh belakangan ini, aku jadi lupa hal yang paling penting ini!
"Sofi, Rufi, apa Saya bisa meminta saran kalian?"
"Aku tidak tahu harus memberikan nama apa pada toko ini, apa kalian memiliki saran nama?"
"Nona biasanya nama toko itu bisa di ambil dari nama Nona sendiri atau gabungan dari nama orang terdekat Anda, tapi sepertinya semua hal bisa dijadikan nama toko," ucap Rufina.
"Iya Nona apa yang dikatakan Rufi benar, bahkan ada yang menamakan toko mereka itu dengan nama hewan atau tumbuhan," timpal Sofia.
"Baik saya akan memikirkannya, saya ke atas sebentar ya," Elisa pun menaiki tangga dan duduk di dalam ruangannya.
Elisa's Bouqet?
Ah tidak terlalu umum, Sofi kata gabungan nama orang terdekat bisa digunakan hmm. Elisa berpikir keras tentang itu dan hanya ada satu nama yang muncul di pikirannya.
EL Bouqet Florist.
"Kenapa aku malah menggabungkan namaku dan Dia, eh tapi itu juga huruf awal namaku, oke aku akan memakai nama itu," Elisa pun turun untuk memberitahu Sofi dan Rufi tentang nama baru toko.
"Apa Anda sudah memutuskannya?" tanya Rufina.
Elisa mengangguk. "Bagaimana jika EL Bouqet Florist? Apa bagus?" tanya Elisa.
"Bagus sekali Nona, itu nama yang elegan," sahut Sofi. "Kalau begitu apa Anda mau segera kami pesankan papan nama toko?" lanjutnya.
"Kalian tidak keberatan?" Sofi, Rufina menggeleng. "Baiklah ayo pesan papan nama toko," Elisa mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke udara.
__ADS_1
Sofi dan Rufina pun pergi ke toko kayu untuk menempa papa nama toko dan sekarang Elisa sendirian di toko.
"Aku belum memberitahu Nenek dan Lea tentang ini," Elisa pun membuka hpnya dan memulai video call.
"Halo kak?"
"Hai Lea apa kabar dan Nenek?"
"Baik Kak, Kakak sendiri bagaimana?"
"Kakak sangat baik-baik saja, ada hal yang kakak ingin beritahu," menunjukkan sekeliling di dalam toko yang penuh dengan bunga segar, bouqet bunga dan lilin aroma di rak.
"Wah itu Kakak di mana?"
"Di EL Bouqet Florist hehe, Kakak membuka toko bouqet dan lilin aroma dan kau tahu apa yang paling mengejutkan?"
"Apa Kak?"
"Sebentar," berjalan keluar dan memperlihatkan bangunan besar yang ramai para mahasiswa keluar masuk. "Yapp Universitas impianmu dekat dengan toko Kakak."
"Wah Kak besar sekali, aku sangat ingin ke sana," antusias.
"Berhubung sebentar lagi kamu akan akhir semester kan? Nah rajinlah belajar agar bisa masuk di sana ya, dan kita bisa bertemu setiap saat."
"Siap Kak, aku sekarang sedang belajar di kamar dan lihat Nenek memasak banyak cemilan aku sampai tidak sanggup lagi memakannya," menunjukkan nampan di atas meja.
"Wah sudah lama Kakak tidak makan masakan Nenek, Kakak jadi ingin memakannya."
"Kakak kapan berkunjung? Sekali-kali ajaklah Tuan Lorenzo kemari lagi."
"Iya Kakak akan ke sana, tapi untuk sekarang belum bisa karena Tuan Lorenzo sedang sibuk Kakak tidak bisa mengganggunya sayang."
"Baiklah Kak aku mengerti."
"Titip salam ya untuk Nenek."
"Iya Kak sudah dulu ya aku lanjut belajar dulu."
"Oke dahh," Elisa mematikan sambungan dan merapikan beberapa bouqet yang keluar dari susunan.
...----------------...
Elioztan Group
Lorenzo duduk di kursinya sedang berpikir karena satu pesan yang masuk.
"Renzo apa kabar? sampai bertemu beberapa bulan lagi."
Pesan yang datang dari orang masa lalu Lorenzo, Celine. Dia tidak membalas dan hanya membacanya. Lorenzo masih memiliki sejuta pertanyaan tentang alasan wanita itu meninggalkannya. Namun amarah, gengsi lebih besar daripada itu lalu sekarang dia sudah memiliki istri yang sedang mengandung calon anaknya.
"Tuan, ini telepon dari Killian. Dia ingin berbicara dengan Anda," ucap Stefan lalu Lorenzo berdiri dan berjalan mengambil telepon di tangan Stefan dan memilih untuk bicara di luar kantor.
Di dalam sini panas.
__ADS_1
Hai semua apa kabar? Selamat membaca ya!🥰❤