Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Salju Merah


__ADS_3

Stefan sangat terkejut melihat Tori sudah berlumuran darah, ia langsung mengoyak bagian bawah kemejanya dan mengikatkannya di lengan Tori.


Hari sudah hampir tengah malam, dan tidak ada sinyal di area ini. Stefan mengangkat sebelah badan Tori agar memegang bahunya lalu menyuruhnya untuk naik ke atas motor.


Tori terlihat pucat dan setengah tidak sadar. "Victoria jangan tidur!" Stefan mengikatkan tali di antaranya agar Tori tidak terjatuh. "Pegang aku erat-erat, aku akan membawamu ke rumah sakit."


Stefan mengendarai motornya di tengah-tengah hamparan salju yang hampir menutupi semua jalan. Darah Tori menetes sedikit demi sedikit ke atas tumpukan salju hingga terlihat warna merah segar di atasnya.


Stefan merasakan bahunya berat sebelah dan ternyata Tori sudah tidak sadarkan diri.


"Argh sial! Victoria jangan tidur!" teriaknya di tengah malam membelah setiap jejak salju yang turun.


Hingga ia sampai di sebuah rumah sakit pinggir kota terdekat, Stefan langsung menggendong Tori dan berjalan cepat ke dalam lobi.


"Dokter! Perawat! Siapa pun rawat dia," ucapnya di tengah lobi yang sepi.


Ada seorang perawat lewat dan menghampiri. "Tuan apa yang terjadi?" melihat banyak darah merembes dari ikatan di lengan.


"Bisakah kau bertanya nanti?" lalu perawat itu bejalan cepat dan datanglah seorang dokter dan tiga merawat membawa ranjang pasien, lalu Stefan meletakkan Tori dengan hati-hati


"Lakukan apa saja untuk menyelamatkannya," ucap Stefan.


"Tenangkan diri anda, kami akan mengurusnya," balas dokter itu dan mereka membawa Tori ke ruang UGD.


"Haaah," helaan napas kasar keluar sembari Stefan menyandarkan kepalanya di dinding. " Semoga kau baik-baik saja," melihat banyak bekas darah pekat Tori yang melekat di baju Stefan.


Stefan berjalan ke arah ruang tunggu dan duduk di sana, sambik menenangkan diri dia memberitahukannya pada Lorenzo.


"Tuan, saya sedang ada di rumah sakit pinggir kota. Victoria saat ini sedang di UGD, dia mendapat dua luka tembak masuk di lengan kirinya."


Tulis Stefan di sebuah pesan.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lorenzo.


"Victoria sedang dalam operasi pengangkatan peluru."


"Kau tunggu di sana, tenangkan dirimu. Aku akan ke sana."


"Tidak Tuan, ini sudah malam dan berbahaya untuk anda. Saya tidak ingin ada kejadian buruk lagi Tuan. Saya mohon besok hari saja anda kemari."


"Aku mengerti, usahakan segala cara untuk menyelamatkan asisten Elisa. Gunakan kartu milikku untuk membiayai perawatannya." balas Lorenzo.


"Baik Tuan, terima kasih. Lalu jangan beritahu Nona dulu tentang hal ini Tuan."


"Aku mengerti. Tenangkan dirimu."


"Baik Tuan."


Setelah memberitahu Lorenzo tentang kejadian yang mereka alami, Stefan berjalan menuju mesin minuman di depan rumah sakit dan mengambil sebuah minuman kaleng rasa pisang.

__ADS_1


Lalu ia duduk bersandar kembali di ruang tunggu sembari menunggu operasi yang sedang Tori jalani, karena sudah terlalu lelah tanpa sadar Stefan memejamkan matanya dan ia tertidur.


Hingga saat ia terbangun hari sudah terang.


"Hah, dokter bagaimana kondisi Victoria?" ucapnya reflek saat terbangun.


"Tuan anda baik-baik saja?" tanya sesorang perawat.


Stefan menunjuk ruang UGD. "Victoria, peluru...,"


"Tenangkan diri anda Tuan, operasinya sudah selesai 4 jam yang lalu. Silahkan jika anda ingin menjenguknya, tapi anda harus tetap tenang karena ini di rumah sakit."


Perawat itu mengangguk undur diri, lalu Stefan menarik napasnya panjang dan berjalan ke ruang rawat Tori yang sudah dipindahkan.


Tok tok tok


Stefan mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Lalu ia membuka pintu dan melihat Tori terbaring dengan infus dan nasal kanul yang memberikannya oksigen.


Stefan berjalan mendekati ranjang pasien Tori dan duduk di sampingnya, ia menatap Tori sebentar lalu menundukkan kepalanya.


"Apa benar ini Tuan Stefan yang susah ditebak?"


Stefan langsung mengangkat kepalanya dan melihat Tori yang sudah sadar. Ekspresinya saat ini diluar kontrol kebiasaannya.


"Ada apa dengan wajah anda? Haha."


"Haaa," helaan napas kali ini adalah rasa lega yang Stefan rasakan.


"Saya baik-baik saja, ini hanya luka kecil yang biasa saya dapatkan."


Stefan menaikkan satu alisnya. "Biasa?"


"Anda tahu sendiri kan, saya intel pertahanan negara. Luka tembak seperti ini sudah biasa saya dapatkan, bahkan saya pernah mendapatkan luka tembak keluar di pundak saya. Ya tapi itu sudah lewat beberapa tahun sih."


Stefan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi," memejamkan matanya.


"Ahahaha maafkan saya sudah membuat anda kesulitan, pasti sangat berat membawa saya kemari kan?"


"Ya kau benar, maka dari itu untuk membalasnya kau harus sembuh total terlebih dahulu."


"Iya-iya." Tori tersenyum tipis.


Stefan diam lalu ia melanjutkan perkataannya. "Victoria aku yang harusnya meminta maaf, maafkan aku," menundukkan kepalanya. "Karena sudah lalai dan tidak bisa menjaga keselamatanmu."


"Ini bukan seperti diri anda Tuan, yang terpenting sekarang saya sudah selamat dan tugas kita juga selesai. Apalagi yang harus membuat anda meminta maaf? Saya sama sekali tidak merasa ini salah anda. Ini murni ego saya karena tidak bisa menahan emosi."


"Haah, kau sudah terlihat sekarat seperti ini tapi mulutmu masih saja cerewet."


Tori tersenyum tipis. "Itu adalah peluru yang menancap di bahu saya," menunjuk sebuah piring besi yang ada di atas nakas. Stefan mendekat dan melihat peluru itu bermerek UNI COMPANY yang terletak di bagian utara bumi. Stefan berpikir berapa banyak negara yang sudah melakukan mitra ilegal ini?

__ADS_1


Stefan tidak ingin memikirkan ini dulu, karena tugas utama mereka sudah selesai dan sekarang ia merasa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Tori.


"Apa anda ingin tahu bagaimana saya bisa dikejar para penjaga itu?" tanya Tori.


"Kau bisa mengatakannya nanti Victoria," ucap Stefan setelah mendengus beberapa kali.


"Apa kau sudah makan?" lanjut Stefan.


"Sudah, sebentar lagi perawat akan datang membawa makanan selingan. Anda sendiri? Pasti anda belum makan dari semalam karena mengkhawatirkan saya kan, kan??"


Stefan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi pandangannya tertuju ke jendela luar, melihat salju yang turun.


"Apa Nona mengetahui hal ini?" tanya Tori.


"Tidak, tapi aku memberitahu Tuan Lorenzo. Lalu dia akan kemari."


"Haaa, untunglah. Jangan sampai Nona Elisa tahu."


"Aku pergi dulu," ucap Stefan.


"Ke mana?" tanya Tori.


"Apa kau tidak melihat penampilanku sekarang?" menunjukkan jaket yang hitam yang terkena luka darah dan kemeja dengan bagian bawah yang robek.


Pfft


"Ah iya-iya," menahan tawanya.


Lalu Stefan pergi keluar ruangan dan meninggalkan Tori. Karena sekarang musim dingin Stefan pergi ke sebuah toko pakaian terdekat membeli baju baru untuknya dan dua jaket tebal untuknya dan Tori. Ia menggunakan kamar mandi umum untuk pertama kalinya karena ini sangat mendesak dan jika ia kembali ke apartemen membutuhkan waktu hampir satu jam untuk kembali dan ia tidak mungkin meninggalkan Tori sendirian.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian kasual serta jaket tebal musim dingin yang baru dibelinya, Stefan pergi ke supermarket dan membeli banyak makanan di sana lalu ia kembali ke rumah sakit dengan mengendarai motornya.


"Pakai ini," memberikan paper bag pada Tori.


Lalu Tori mengambilnya. "A-apa ini untukku?" tanyanya.


"Jika kau ingin membeku sekarang tidak usah kau pakai."


"Huh, terima kasih." Tori mengambilnya dari dalam paper bag dan memakainya.


Lalu Stefan memakan-makanan siap saji dari supermarket dan beberapa minuman hangat juga.


"Kukira anda tidak makan hal seperti ini," menunjuk kantong besar yang berisi makanan dari supermarket.


"Victoria, semua orang memiliki hasrat kemampuan bertahan hidup dan kau yang paling mengerti hal itu," mengambil sebuah biskuit coklat dari kantong. "Kau makanlah juga, bisa-bisa kau sekarat lagi menunggu perawat yang sepertinya tidak kunjung datang itu."


"Ternyata mulut anda tajam juga ya, terima kasih akan saya makan."


Setelah itu Stefan mendapatkan sebuah pesan dari Lorenzo karena ia harus menangani urusan perusahaan yang harus ia selesaikan dan ia mengirim sopir untuk membawa mereka pindah ke rumah sakit kota hari itu juga. Stefan segera pergi ke lobi dan mengurus perpindahan Tori ke rumah sakit kota. Tidak lama setelah dua jam menunggu sopir yang dikirim Lorenzo datang lalu mereka pun pergi, sedangkan motor Stefan dikendarai oleh salah satu penjaga yang datang bersama sopir tadi.

__ADS_1


Halo semuaa selamat membaca ya!😍💚


__ADS_2