Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Dibalik Dirinya Yang Kuat


__ADS_3

Matahari sudah menerangi seluruh penjuru mansion Elio. Elisa terbangun dan mendapati dirinya tidur yang kepalanya tersandar di sofa. Ia baru sadar ketika sudah mencuci muka, seperti ada yang kurang di ruangan ini. Ia melihat foto pernikahan dirinya dan Lorenzo, di mana orang yang selalu meminta kepada Elisa dipijat sebelum tidur?


Elisa berjalan menyusuri mansion ternyata Lorenzo tidak ada, tidak bertanya dengan siapapun karena takut membuat Carl dan Elena merasa khawatir. Lalu Elisa menghubungi sekretaris Stefan melalui chat.


"Sekretaris Stefan." Pesan pertamanya.


"Apa Tuan Lorenzo belum pulang?" tanya Elisa, selang beberapa menit muncul notifikasi dari Stefan.


"Tuan sudah pulang ke mansion Nona." Stefan mengetik lagi, tumben pria ini memberikan dua gelembung pesan.


"Ada apa Nona? Mungkin Tuan di ruang kerjanya."


Dengan ketikan kilat Elisa membalas pesan Stefan.


"Tidak apa-apa, sepertinya Tuan sedang olahraga aku tidak menemukannya di ruang kerjanya. Terima kasih sekretaris Stefan."


"Baik Nona."


"Mana mungkin dia olahraga di luar saat jam seperti ini," Elisa menoleh ke jam besar di dinding.


Elisa mulai memeriksa beberapa ruangan yang sering didatangi Lorenzo mulai dari ruang olahraga, perpustakaan, dan ruang kerja pribadinya. Elisa hanya melihat bagian depan saja hingga ia mengetuk kembali pintu. "Permisi Tuan saya izin masuk," karena ruangan itu sangat penting yang berisi dokumen-dokumen perusahaan Elisa tidak pernah memasuki ruangan itu lebih dalam.


Elisa memeriksa ruang tamu di ruang kerja yang digunakan saat ada orang penting Elioztan Group yang datang. Selanjutnya Elisa memeriksa ruangan Lorenzo tapi dia tidak ada. Yang tersisa adalah kamar mandi dan ruang ganti Lorenzo yang khusus untuk perlengkapannya bekerja. Elisa mengetuk pintu kamar dan pintu itu terbuka tanpa orang di dalamnya.


Tinggal ruang ganti.


Mengetuk kembali ruang ganti namun terbuka begitu saja, Elisa mengecek tiap lemari besar yang berisi banyak baju dan perlengkapan lainnya.


Ternyata bajunya yang ada bersama denganku hanya seperempatnya saja?


"Aduh," Elisa hampir terjatuh saat tersandung sesuatu dan melihat ke bawahnya. Betapa terkejutnya Elisa melihat sebuah kaki yang muncul dari dalam lemari. Lalu ia membuka jalan dari gantungan-gantungan baju itu dan menemukan Lorenzo terduduk di dalamnya dengan sebuah buku dan pena si sampingnya yang masih mengenakan kemeja putihnya.


Apa, bagaimana? Arrgh.


Banyak sekali pertanyaan di kepala Elisa hingga wanita itu terdiam sesaat dan mulai menyingkirkan lebar semua gantungan baju yang masih menutupi Lorenzo.


"Tuan," panggilnya sambil menepuk tangan Lorenzo. Tapi ia tidak membuka matanya. Elisa mengambil segelas air dan memercikkan ke wajah Lorenzo tampak sebuah kedutan di matanya.


Lalu ia membuka matanya.

__ADS_1


"Tuan anda baik-baik saja?" tanya Elisa sambil memegang punggung dan sebelah tangan Lorenzo untuk mendudukkannya. Lorenzo terdiam tampak mencerna kejadian yang berlangsung.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Tuan ayo berdiri dulu, lebih baik anda duduk di sofa di kamar saja," Elisa membantu Lorenzo berdiri dan berjalan sambil memegang lengannya, takut Lorenzo akan terjatuh nanti.


"Ini Tuan," Elisa memberikan segelas air putih.


Lalu Lorenzo menghabiskan dalam sekali tegukan dan memberikan gelas kosong itu pada Elisa.


"Haaa," helaan napas terdengar bersamaan saat Lorenzo menyibakkan rambutnya ke belakang hingga dahi putih bersihnya terpampang jelas.


"Tolong ambilkan itu," Lorenzo menunjuk hp miliknya yang tergeletak di atas meja.


"Ini Tuan," menyodorkan ke Lorenzo.


"Beritahu Stefan aku tidak bisa datang ke kantor hari ini," mengubah posisi duduknya hingga merebahkan badannya di sofa.


Elisa kebingungan, bagaimana cara membukanya bukannya ini ada kata sandinya?


"Mm maaf Tuan," Lorenzo membuka kedua matanya. "Silahkan anda buka kata sandi hp nya dulu."


Apa? Hp milik presdir besar tidak memiliki kata sandi? Bagaimana konsepnya, bukannya ada banyak hal penting di sini.


Untuk pertama kalinya Elisa memegang hp Lorenzo yang harganya bisa untuk membeli motor matic keluaran terbaru yang Elisa inginkan pikirnya, lalu ia membuka aplikasi chat miliknya, ada rasa gugup dan terselip rasa ingin tahu juga yang datang secara bersamaan. Elisa ingin tahu aplikasi apa saja yang terunduh di hp suami yang tidak bisa ditebaknya ini.


Elisa menekan tombol power dan tampil layar wallpaper seorang laki-laki yang berdiri di atas gunung. Banyak fitur-fitur yang begitu asing untuknya, tentu karena Elisa tidak pernah menggunakan benda mewah ini. Memperhatikannya sejenak Elisa sadar bahwa ia mengetahui sesuatu hal yang Lorenzo sukai. Tapi sepertinya foto itu sudah lama diambil mengingat Lorenzo sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Elisa pun membuka aplikasi chat, alangkah terkejutnya Elisa melihat preview semua pesan tidak terbaca dari macam-macam brand yang mengajaknya untuk bekerja sama dan adapula yang terlihat seperti ingin meminta Lorenzo menjadi model untuk pameran baju. Dan hal yang paling mengejutkan adalah ada dua orang teratas yang kontaknya disematkan.


Ya betul yang pertama adalah Stefan dan kedua adalah kontak Elisa dengan nama 'Istriku Elisa' tentu saja Elisa terdiam sejenak. Ia berpikir apa yang sedang Lorenzo pikirkan saat mengetik nama itu di kontaknya? Lalu ia cepat-cepat mengirim pesan kepada sekretaris Stefan bahwa Lorenzo tidak bisa datang hari ini. Balasan dari Stefan langsung terlihat tidak selang beberapa detik. 'Baik Tuan' sangat cekatan.


Sekretaris Stefan ini ternyata sangat maniak terhadapnya ya.


Elisa menoleh ke arah Lorenzo. "Tuan sudah, ini hp anda."


"Kau pegang dulu saja aku ingin tidur sebentar," tidak ingin menganggu lebih lama Elisa berdiri dan berbisik.


"Tuan beristirahatlah dengan baik, anda sudah sangat bekerja keras," lalu ia pergi mengambil selimut dan menyelimuti Lorenzo. Dia pun pergi untuk mengunjungi toko dan membantu pekerjaan di sana. Sebelum pergi Elisa menitipkan hp milik Lorenzo kepada Pak Sam.

__ADS_1


"Pak Sam saya ingin ke toko sebentar, ini hp Tuan Lorenzo tolong berikan kepadanya saat dia sudah bangun," ucap Elisa sambil memberikan hp Lorenzo kepada Pak Sam.


"Baik Nona, hati-hati sampai tujuan," balasnya.


Elisa pun pergi bersama sopir menuju toko bouqet miliknya.


...----------------...


Sesampainya di toko Elisa disambut hangat oleh ketiga pegawai tokonya.


"Nona selamat datang, apa kabar?" tanya Livia.


"Saya membuat soup Nona anda ingin mencobanya?" tawar Rufi.


Sofi bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah buku catatan. "Nona lihat ini," Elisa menoleh. "Jajaja, lihat Nona banyak sekali orang-orang yang menggunakan jasa kita untuk membuat bouqet dan lainnya."


Elisa tersenyum senang. "Livia, Sofi, Rufi, terima kasih sudah ingin berjuang dan bekerja di toko kecil seperti ini. Karena kalian sudah bekerja keras aku akan mentraktir kalian makan setelah ini oke?"


"Yess," sorak mereka bertiga bersama.


"Kak Sofi kemarin aku melayani seorang laki-laki dan apa kau tahu? Nama yang terselip di bouqet miliknya adalah 'for my Elisa Serena Isabella' jangan-jangan," menoleh ke arah Elisa.


Sofi menepuk kepala Livia. "Hei ada banyak orang yang memiliki nama seperti itu, tapi jika benar apa salahnya Noma juga belum ada suami kan," jawab Sofia.


Mereka tidak tahu sama sekali bahwa Elisa sudah menikah dengan presdir besar Elioztan Group dan sekarang sudah mengandung bayi di dalam perutnya.


Elisa pun membantu pekerjaan di toko hingga waktunya toko tutup dan itu sekitar pukul 16.00 sore, lalu mereka membersihkan toko dan merapikan semua barang lalu meletakkannya kembali ke tempat asal.


"Baik sesuai janjiku tadi aku akan mentraktir kalian," Elisa melihat satu-persatu dari tiga gadis di depannya. "Kalian ingin makan apa?"


"Aku ingin daging panggang barbeque di lorong belakang Nona," ucap Livia.


Sofi langsung menepuk tangan Livia. "Hush, Nona karena kami yang ditraktir bagiamana jika Nona saja yang menentukan?" Rufi mengangguk.


"Baiklah bagaimana jika kita pergi ke tempat yang dikatakan Livia? Sepertinya enak kan, ayo kita coba bersama," balas Elisa tersenyum.


Livia memasang wajah terharu. "Aa Nona terima kasih," ia pun spontan memeluk Elisa. Setelah siap mereka keluar toko dan berjalan menuju sebuah restoran yang menjual berbagai olahan panggang yang sudah di masak ataupun daging yang dipanggang sendiri di meja pelanggan. Mereka pun berjalan melewati alun-alun saat lampu merah dan menyebrang.


Saat di jalan ada sebuah mobil sport berwarna coral yang berhenti dan membunyikan klakson tepat di samping mereka lalu kacanya terbuka.

__ADS_1


Halo semuaa selamat membaca ya!🌹


__ADS_2