
Sejak pukul tiga pagi Elisa sudah bangun dan melihat make up artist dan penata gaun sudah stand by di ruangan ganti.
Wah ini sih sudah berlebihan kali?
Ia pun mengambil foto pemandangan itu dan mengirimkannya kepada Alexa. Tentu cewek itu belum bangun.
"Nona ayo bangun, pertama-tama anda harus mandi spa dulu," ucap salah satu pelayan.
"Baiklah," Elisa pun mengikuti mereka ke dalam ruang spa mansion, matanya mengerjap berkali-kali memastikan.
Apa aku harus melakukan semua ini?!
Teriak Elisa dalam hati melihat banyak sekali pelayan yang akan mengurusnya mulai dari mandi, spa, kuku, rambut. Belum lagi harus menggunakan beberapa lapis prodak lulur.
Elisa sepertinya sebentar lagi kulitmu akan menjadi tomat.
Setelah selesai acara mandi, para make up artist yang sudah siap sejak tadi mulai melancarkan aksinya. Yap menghiasi wajah Elisa, pihak penata rambut pun tidak kalah juga mulai menata rambut panjang Elisa.
Argh wajahku tidak bisa bergerak.
Setelah semua selesai tinggal gaun putih pilihan Elisa menjalankan tugasnya dan sepatu putih yang menemaninya.
"Nona anda cantik sekali," puji perancang gaun itu.
"Apa Nona mau berfoto bersama kami?" ajak salah satu pegawainya.
"Tentu saja!"
Ckrek ckrek
Pagi ini saja sudah berapa foto yang diambil? bagaimana kalau waktu acara nanti. Ah aku tidak mau membayangkannya.
Sekitar pukul 05.30 Elisa baru keluar dari ruang ganti dan Lorenzo sudah menunggunya di ruang utama. Saat menuruni tangga Lorenzo terpukau dengan Elisa yang begitu cantik dengan balutan putih.
"Ekhm," berdehem untuk menutupi rasa tertariknya itu.
"Sayang kau sangat cantik sekali, coba berdiri di samping Lorenzo. Sini-sini," sahut Carl sambil menyuruh Lorenzo berdiri.
"Nah kan bagus, photographer cepat kemari dan potret mereka!"
"Sebentar, Elisa tangan mu letakkan di sini," ucapnya sambil melingkarkan tangan Elisa ke lengan Lorenzo.
"Tuan sudah saatnya kita pergi," sahut Stefan yang dari tadi bersama Lorenzo.
"Ayo Elisa," ajak Lorenzo lalu mereka berdua naik ke dalam mobil putih dengan Stefan sebagai sopirnya.
Sesampainya di depan gedung sudah banyak awak media yang berebutan stand demi mendapatkan satu potret wajah calon istri presdir Elioztan Group itu. Bahkan ada yang memakai kamera khusus untuk menembus kaca hitam.
Tapi bukanlah sekretaris Stefan yang tidak mempersiapkan segalanya. Tidak ada satu pun potret stasiun televisi yang mendapatkannya karena Lorenzo memerintahkan Stefan untuk memakai kaca yang tidak tembus apa pun.
Memasuki aula utama sudah banyak tamu yang menunggu.
"Yaa para pengantin kita sudah tiba berikan tepuk tangan kalian," ucap seorang mc.
Para tamu pun bertepuk tangan dan hanya terfokus pada dua orang ini selain tidak ada yang diizinkan membawa hp dan barang digital lainnya agar tidak ada yang memotret, Lorenzo dan Elisa pada dasarnya memang menyerap perhatian. Kecuali ada satu juru kamera dari Elioztan Group.
...----------------...
Alexa yang juga ada di tempat matanya melotot pakai otot melihat Elisa.
"Wah Elisa lihat sekarang kau meninggalkan aku sendiri seperti ini? sahabatmu sendiri tapi kau sangat cantik dan bahagia jadi aku memaafkan mu!" sambil mengelap sedikit air mata yang keluar.
Seseorang memperhatikan Alexa di sisi tidak jauh darinya. Alexa menoleh dan ternyata seorang pria, ia tersenyum dan berjalan menuju Alexa.
"Permisi Nona," sapanya.
__ADS_1
"Iya?" kebingungan Alexa namun karena wajah pria itu lumayan melewati standarnya jadi ia agak ramah.
"Apa nona Elisa teman anda?"
"Bagaimana anda bisa tahu?" memiringkan kepalanya kesamping.
"Maaf tadi saya tidak sengaja mendengar anda berbicara," mengulurkan tangannya. "Saya Azka Gerlad."
Menutupi rasa malu Alexa langsung menggenggam tangan Azka. "Saya Alexa Odelia."
...----------------...
"Baik waktu pengucapan janji antara tuan Lorenzo Elio dan nona Elisa Serena Isabella, wow nama yang cantik nona bukan begitu?" ucap mc itu.
Tokoh agama pun mulai. Dan para tamu diam dengan hikmat.
"Lorenzo Elio dan Elisa Serena Isabella apa kalian benar dan sudah menetapkan Istri dan Suami sesuai dengan nama tersebut?"
"Iya benar," ucap mereka berbarengan.
"Saling memiliki, menjaga, menghormati dalam keadaan apapun sekarang dan selamanya hingga maut memisahkan?"
"Iya saya bersedia," ucap Lorenzo namun Elisa masih diam semua orang menunggu jawabannya.
Hemm selamanya ya.
"Iya saya bersedia."
"Baiklah dengan ini kalian saya resmikan mulai sekarang menjadi pasangan suami dan istri."
Tepukan tangan pun bergemuruh ucapan selamat sebelum berjabat tangan saja suda ramai.
"Siapa yang ingin menyumbangkan sebuah pesan untuk pengantin baru kita?" tanya mc itu.
Namun ada satu gadis muda yang menerobos di tengah-tengah dengan gaun sebatas dengkul berwarna merah satin.
"Baik Nona ini silakan."
"Hmm cek cek, sebelumnya perkenalkan saya Clarenza Elio di sini saya ingin menyampaikan pesan untuk kakak ku yang selalu sibuk ini. Kak Lorenzo bukankah aku adik mu? kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini padahal aku akan sangat senang dan bahagia, dan kakak iparku yang cantik kak Elisa. Terima kasih sudah mau menerima kakak ku yang dingin seperti patung itu," Lorenzo melirik dengan menghela napas berbeda dengan Elisa yang tersenyum saat Clarenza memeluknya. "Sekian itu saja pesan ku terima kasih."
Sepertinya masih banyak orang yang belum aku ketahui, memang ya dunia ini banyak jenis orang.
"Baik untuk pesan pertama sangat berkesan lanjut siapa lagi yang ingin menyampaikan pesan kepada pengantin kita?"
Tiga orang laki-laki mengangkat tangan di tengah-tengah kerumunan. Daran, Azka, Felix cocok. Cocok membuat kepala Lorenzo dan Stefan memutar-mutar.
"Baik seperti yang kita lihat, yaaa akhirnya teman kita Lorenzo akhirnya melepas masa lajangnya. Kalian tahu kan dia tidak berniat khianati kita?" tanya Daran, yang hanya berani berbicara seperti itu saat banyak orang namun seperti tikus yang sembunyi dari singa saat berhadapan dengan Lorenzo dan Stefan.
Para tamu pun tertawa mendengar jenaka Daran.
"Oh iya yang pasti dia tidak akan nongkrong lagi kan dengan kita?" Azka dengan memajukan jempol menunjuk Lorenzo.
"Ada istri cantik di kamar kita sih lewat aja," sahut Felix sehingga membuat aula menjadi ramai.
"Oke-oke cukup saatnya pesan terakhir dari teman lajang seperjuangan, Semoga selalu bahagia Lorenzo dan Elisa selalu ada satu sama lain," ucap Azka.
"Dan tentunya sehat, kurangilah batu es yang dingin Lorenzo hemm?," Lirik Felix ke arah Lorenzo.
"Dan tentunya cepat berikan kami keponakan hehe," sahut Daran.
Sudah kuduga mereka pasti akan membuat riuh seperti ini. Batin Stefan.
Lalu para tamu bertepuk tangan dan mereka pun turun dari panggung mini khusus untuk menyampaikan pesan kepada para pengantin.
"Baik sepertinya sudah waktunya kita menyantap hidangan kita, silahkan para tamu."
__ADS_1
Sebagian para tamu ada yang menyantap makanan dan sebagiannya membentuk sebuah relasi di sela-sela obrolan mereka karena tentu yang di undang semua adalah orang penting dari setiap perusahaan.
"Elisa apa kau mau makan dulu?" bisik Lorenzo kepada Elisa yang berkeringat padahal ruangan full ac.
Lorenzo pun mengangguk ke arah Stefan dan membawakan makanan untuk Elisa.
"Makanlah," entah mengapa tangan Elisa sangat linglung.
"Tanganku tidak bisa." Lorenzo melihat Elisa terlihat lemas walau dalam balutan gaun dam make up itu tampak jelas. Lorenzo mengambil piring dari Stefan dan menyuapinya.
"Ini." Sesuap makanan masuk ke dalam mulut Elisa dan membuat riuh para tamu.
"Tenang-tenang semua, kita tahu hari ini adalah hari spesial untuk mereka jadi kita biarkan saja mereka melakukan hal manis di depan kita. Maaf untuk yang jomblo," sahut mc itu.
...----------------...
"Dasar pembawa acara itu benar-benar," ucap Alexa sambil duduk di depan meja bulat yang penuh dengan kue.
"Nona apa kami boleh bergabung?" tanya Azka yang menarik sebuah kursi di samping Alexa bersama Felix dan Daran.
"Oh emm boleh," menggeser sedikit kursinya membuat jarak dengan Azka yang duduk di sampingnya. "Kalian bertiga semua teman tuan Lorenzo?" tanya Alexa.
"Yaa begitulah walau sikapnya seperti itu, kami tetap saja bertahan manjadi temannya. Miris banget kalau sampai dia gak ada teman, lalu perkenalkan saya Daran nona. Ini kartu nama saya," ucapnya dengan memberikan kartu nama dokternya.
Elisa membaca dengan teliti dan menaikkan satu alisnya. "Anda seorang dokter juga?" tanya Alexa.
"Iya, eh tunggu juga? Apa anda juga seorang dokter," tanya balik Daran.
Alexa tersenyum. "Iya saya juga dokter sama seperti anda."
"Kebetulan sekali nona Alexa, saya bisa datang kepada anda saja jika sakit bukan?" balas Felix.
"Dasar modus," senggol Azka.
"Eh yang udah ada pacar diam ya. Oh iya tumben mana pacar mu Ka?" tanya Felix.
"Dia kemarin menghubungiku katanya sedang di luar kota dan sedang tidak bisa kembali," Azka murung.
Yah sudah ada pacar ternyata sayang bangett padahal ganteng gitu!
Alexa pun tersenyum tipis.
...----------------...
"Tuan sepertinya nona sudah lelah," bisik Stefan ke Lorenzo lalu ia mengangguk.
"Nona ayo kita masuk ke dalam ruangan dulu," ucap Stefan kepada Elisa dan mengarahkannya ke ruangan VVIP.
Akhirnya ada waktu untukku menyendiri.
Elisa duduk di depan sebuah kipas besar walau ruangan sudah full ac ia masih merasa kepanasan.
"Kau sakit?" tanya Lorenzo yang juga duduk di sebelah Elisa.
Astaga mengejutkan saja.
"Tidak aku hanya kepanasan saja anda tidak perlu cemas."
Lorenzo mendekat dan menatapnya lekat. "Hem ada apa Tuan?" tanya Elisa.
"Aku tidak mau mendengar kau memanggilku seperti itu. Harusnya kau sudah tahu itu," jawab Lorenzo datar dan memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku," lalu seseorang datang dengan heboh.
"Apa-apaan ini!?" Lorenzo dan Elisa bahkan Stefan yang di luar masuk ke dalam ruangan pribadi itu.
__ADS_1
Halo semua selamat membaca ya, author bakal usahain up satu bab per hari support terus dan jangan lupa lika dan komen ya❤