Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Malam Pertama Lagi?


__ADS_3

Sesampainya di hotel mereka disambut banyak pelayan. "Selamat datang Tuan dan Nona."


Elisa mengangguk dan mengikuti Lorenzo. Begitu juga sekretaris Stefan yang mengikuti mereka di belakang.


Setelah sampai di kamar, tidak bukan kamar melainkan ruangan yang sangat luas yang sepertinya sangat tidak sesuai jika di bilang kamar.


"Selamat menikmati waktu anda Tuan, Nona," ucap Stefan menundukkan kepala saat Elisa dan Lorenzo sudah di depan pintu.


Elisa menoleh ke arah Stefan dan sekeliling tidak ada siapa pun kecuali mereka.


Apa? kau mau pergi? jadi aku sekamar dengan tuan Lorenzo. Kukira akan pisah kamar seperti di film-film. Elisa sepertinya ini tidak akan mudah.


Dan tinggal Lorenzo dan Elisa. Hening tercipta. Lorenzo lupa sekarang dia sudah beristri, Elisa yang masih memakai gaun tidak memiliki seorang yang akan membantu melepaskannya seperti saat memakainya.


"Tuan...," Lorenzo yang sedang membuka jas menoleh. "Apa saya bisa meminta tolong beberapa pegawai untuk membantu saya melepas gaun ini?" tanya Elisa.


Lorenzo diam sejenak, selama ini dia tidak pernah mengizinkan sembarang pelayan memasuki ruangannya kecuali paman Sam dan Stefan. Tapi kali ini berbeda di ruangan ini bukan hanya ada dia tapi juga Elisa.


Ayolah jangan diam seperti itu aku sudah sangat gerah tuan Lorenzo. Pikir Elisa.


"Karena Stefan sudah pulang dan pak Sam juga tidak ada, biar aku saja yang membantu mu."


Jdarr bunyi petir di kepala Elisa, Lorenzo? membantu Elisa melepas gaun? Elisa saja merasa gugup setengah mati hanya berdua dengannya, sekarang dia mau membantunya? Tidak tahu lagi kondisi jantung Elisa sekarang.


"Tidak perlu tuan saya akan mencobanya sendiri permisi," Elisa berjalan cepat ke dalam ruang ganti. Mata Lorenzo mengekori Elisa hingga masuk ke dalam ruang ganti.


Apa maksudnya coba, jantungku tidak sekuat itu. Ini yang pertama bagiku ya ampun. Aku belum siap memperlihatkan lagi diriku!


Elisa pun membuka satu-persatu hiasan yang ada di rambut dan melepas perhiasan yang ia pakai barulah tantangan terakhir yaitu kancing gaun yang letaknya di belakang punggung Elisa, 30 menit berlalu Elisa tidak kunjung keluar.


"Ke mana dia? Apa belum selesai juga," ucap Lorenzo yang baru saja keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menuju ruang ganti.


"Elisa kau masih di dalam?" sambil mengetuk pintu.


"I-iya aku sedang berusaha melepas 13 kancing ini," ucap Elisa ngos-ngosan.


"Cepat aku juga ingin berganti pakaian," balas Lorenzo yang hanya mengenakan handuk putih yang mengekspos bagian atas tubuhnya.


"Kenapa ini susah sekali sih, demi ketenangan hidupku aku tidak akan memakai baju dengan kancing di belakang lagi!" teriaknya yang baru bisa melepaskan 2 kancing dari atas.


"Memangnya tanpa seseorang dia bisa memasang baju sendiri apa, kan dia Tuan Muda? Pasti dia tidak memperbolehkan orang lain masuk kecuali sekretaris Stefan dan kepala pelayan aku yakin sekali," oceh Elisa.


Lorenzo sudah menunggu sejak tadi. "Elisa aku masuk."


"J-jangan!" Elisa langsung berbalik dan bersandar di lemari kaca.


"Apa kau masih belum selesai melepas 13 kancing itu? Sini biar ku bantu," Lorenzo berjalan mendekati Elisa. Elisa hanya menelan saliva nya melihat penampilan Lorenzo saat ini.


Apa yang kau pikirkan Elisa! Hentikan.

__ADS_1


"T-tapi...," Elisa belum siap memperlihatkan tubuh belakangnya itu.


"Aku tahu, tapi percuma saja aku sudah melihatnya di pantulan cermin," ucap Lorenzo menunjuk Elisa.


Sialan. Elisa mengumpat dalam hati untuk ketiga kalinya setelah kejadian ketika Alexa mengerjainya.


Elisa tersenyum tipis dengan wajah merah padam.


"Kemari, lalu sempat-sempatnya kau menghitung jumlah kancing itu dasar," Elisa berjalan pelan ke arah Lorenzo menahan malunya.


Lorenzo menyingkirkan rambut Elisa yang menutupi punggungnya. Memang kapan terakhir kali Elisa merasa deg-degan setengah mati seperti ini?


Sejak kapan suara kancing di lepas sebesar ini? Hening diam Elisa menundukkan pandangannya ke ujung kaki.


"Aku tidak terbiasa jika ada orang lain masuk ruanganku selain Stefan dan pak Sam jadi tolong dimengerti," ucap Lorenzo dengan pandangan fokus ke punggung Elisa.


Elisa yang hampir saja terjatuh berulang kali menegakkan kaki, apa membuka kancing selama ini? Atau hanya perasaanya saja?


"Tegakkan kaki mu," Lorenzo memegang lengan Elisa dan menahannya di depan lemari. "Pegangan di situ."


Hah bagaimana ini degup jantungku cepat sekali, bagaimana bisa saat itu aku tidak langsung sadar saja.


"Sudah," ucap Lorenzo. Elisa seketika membalikkan badannya well badan six pack Lorenzo jadi pemandangan pertama yang dilihat Elisa.


Elisa menutup matanya dan berjalan mundur menuju pintu. "Terima kasih Tuan," hilang saat pintu tertutup.


"Hah kenapa dia jadi lucu begitu sih," ucap Lorenzo lalu memakai baju tidurnya.


"Elisa bodoh kenapa kau tidak terpikirkan kondisi tadi saat memilih gaun ini," sambil melepaskan gaun yang sudah bisa dibuka. "Mulai sekarang ingat jangan lagi memakai baju yang berkancing belakang," tunjuk dirinya di depan cermin.


Elisa pun mandi dan memakai perlengkapan mandi yang sudah di sediakan. Setelah keluar ia mengintip dari pintu menyusuri ruangan takut Lorenzo melihatnya lagi, ya dia menggunakan handuk selutut karena lupa membawa bathrobe dari ruang ganti tadi.


"Oke dia tidak ada," Elisa pun berjalan pelan menuju ruang ganti hingga bunyi suara menghentikannya.


"Kenapa kau berjalan seperti pencuri?"


Elisa menoleh Lorenzo yang duduk di ranjang dan sedang membaca buku, Elisa sangat ingin menghilangkan diri sekarang juga.


"Tidak ehm a-aku hanya berlatih saja kaki ku sangat keram iya keram," sambil melurus-luruskan kakinya dan berjalan cepat masuk ke ruang ganti saat dia membuka lemari.


"Astaga!" dia berteriak dan Lorenzo dengan cepat berjalan masuk ke ruang ganti. "Ada apa?"


"I-ini," Lorenzo mendekat dan melihat pakaian lingerie memenuhi lemari baju Elisa.


"Stefan yang mengurus ini aku tidak tahu, jika kau tidak mau memakainya kau bisa memakai baju ku saja,"


Lorenzo keluar tanpa ia sadari rona merah mewarnai wajah tampannya itu, walau begitu tetap saja Lorenzo adalah pria yang baru saja menikah. Dasar Stefan lihat saja kau.


Elisa mengambil baju tidur putih yang menurutnya berbahan dingin dan nyaman. Lalu ia keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju Lorenzo lalu ia duduk di kursi depan ranjang.

__ADS_1


"Kenapa duduk di situ?" tanya Lorenzo yang masih setia membaca buku.


"Ehm itu...," jawab Elisa ragu.


"Kau bisa tidur di manapun tapi kusaranakan tidur di sini," ucapnya lalu menunjuk bagian kasur di sebelahnya.


Elisa pun berdiri dan sebelum ia naik ke atas kasur yang sama dengan Lorenzo ia menoleh ke arahnya lagi untuk memastikan bahwa dia benar-benar diizinkan tidur satu ranjang dengannya.


Oke Elisa sudah naik tapi dia duduk bersandar di kepala ranjang karena Lorenzo belum tidur.


"Kau belum mau tidur?" tanya Lorenzo lalu menutup bukunya.


"Ehm belum," jawab Elisa lalu Lorenzo mendekatkan diri kepadanya dan memegang dagu Elisa.


Elisa memejamkan mata.


Apa ini aku belum siap untuk malam pertama, eh lagi! Kenapa dia susah ditebak begini sih.


"Hei hentikan pikiran kotor mu aku tidak akan mencium mu." Elisa membuka matanya dan melihat Lorenzo tersenyum puas sudah mengerjainya.


"Kalau dipikir-pikir tubuhmu kecil sekali, mulai besok kau harus banyak makan," balas Lorenzo.


"Anda jangan bicara seperti itu begini-begini saya kuat," sahut Elisa kesal.


"Apa katamu?" Lorenzo menoleh seperti mau memakan orang saja.


"Hm aku tidak mengatakan apa-apa," setelah perbincangan singkat yang membuat Elisa kesal itu akhirnya ia tidur membelakangi Lorenzo.


Pukul menunjukkan waktu hampir tengah malam, mungkin saran Lorenzo menyuruh Elisa tidur di atas kasur yang sama dengannya bukanlah main-main. Elisa kedinginan selimut tebal yang digunakannya masih bisa membuatnya kedinginan lalu ia menggeser tubuhnya ke tengah dan berhenti saat ada bantal panjang menurutnya yang ternyata adalah Lorenzo ia merasa nyaman lalu tertidur.


Setelah beberapa jam tertidur Lorenzo merasakan pergerakan di lengannya saat dia membuka mata, Elisa yang berhadapan dengannya mengambil sebagian selimut Lorenzo. "Dasar wanita bertubuh kecil lihatlah besok pagi."


Pagi harinya Elisa membuka mata dan di depannya ada tubuh Lorenzo. Ia mendongak dan melihat seseorang yang menatapnya, karena ia tidak percaya dan menganggap hanya mimpi, tangannya memegang pipi Lorenzo.


"Hmm kenapa ini tidak tembus sih," ucapnya.


"Sepertinya kau sangat menyukai wajahku ya?" sahut Lorenzo.


"Aaaaa!" teriak Elisa dan mendorong kuat dada Lorenzo hingga ia terdorong kebelakang.


"Aduh," rintih Lorenzo. "Sepertinya ucapan bahwa kau kuat itu tidak main-main ya?" mengelus-elus dadanya.


Elisa pun bangun dan duduk menghadap Lorenzo. "Ma-maaf tuan, aku tidak sengaja. Mana yang aku dorong tadi?" mengelus-elus dada Lorenzo menggunakan tangan lalu dengan rambutnya. "Apa masih sakit?" tanya Elisa dengan raut wajah khawatir.


"Hemm sepertinya sakitnya naik ke kepala," sahut Lorenzo yang hanya ingin mengerjai Elisa tapi berujung menyadari bahwa pijatan Elisa sangat nyaman dan enak.


Pijatannya lumayan hmm, oke kuputuskan malam nanti aku akan menyuruhnya memijatku.


Elisa pun masih saja memijat Lorenzo karena rasa bersalah tanpa sadar bahwa dia sedang dikerjai Lorenzo.

__ADS_1


Halo semua selamat membaca ya! nantikan kisah-kisah selanjutnya❤🤍


__ADS_2