
Sore hari matahari hampir terbenam Alexa berjalan lesu menuju parkiran mobilnya.
"Memang para Dokter seharusnya diberikan jaminan kesehatan jiwa," berjalan cepat menuju mobilnya. Di dalam mobil dia melihat pemberitahuan tentang sebuah kafe langganannya saat me time sedang ada diskon.
"Wah harus cepat ke sana," Alexa langsung tancap gas dan menuju kafe yang sebenarnya untuk anak remaja sekolahan.
Sampainya di sana Alexa menjadi pusat perhatian para siswa-siswi dan mahasiswa yang sedang datang untuk belajar, pacaran atau hanya nongkrong dan bersenda gurau dengan sesama. Tentu menjadi hal yang tidak lazim melihat seorang wanita yang masih mengenakan jas putih dan kalung bet Dokter keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat pemesanan.
"Satu parfait, satu makanan rebus pedas dan dessert, lalu ini," memberikan black card miliknya. Sang kasir yang seorang perempuan pun sepertinya menatap Alexa dengan binar.
"Apa ada ruang yang bisa saya booking untuk saya sendiri sekarang? tanya Alexa.
Wah enak ya jadi independent women, Dokter, cantik, mandiri, kaya pula. Batin kasir perempuan itu.
"Maaf Kak semua ruang sudah penuh dan yang tersisa tinggal tempat di outdoor."
"Begitu, baiklah terima kasih. Tolong pesanannya ya," tersenyum, lalu Alexa berjalan menuju sepasang kursi dan meja yang tempatnya berada di samping ruang karaoke yang penuh dengan mahasiswa yang sepertinya baru pulang dari universitas.
Anak-anak jaman sekarang berbeda ya, aku dulu setelah selesai kuliah langsung kerja part time, ngerjain tugas kuliah, bantu Ibu beres-beres rumah. Mana ada langsung hangout begini uang saja cuma cukup buat tugas kuliah.
"Haaa," menghela napas panjang. "Aku di sini untuk makan diskonan bukan membanding-bandingkan diriku di masa lalu dengan mereka, lagipula sudah tahun berapa ini."
Seorang pegawai datang dan membawakan nampan yang berisi pesanan Alexa. "Kak ini pesanannya, silahkan dinikmati," mengangguk ramah.
"Terima kasih," balas alexa.
"Baiklah selamat makan!" Alexa mulai memakan rebusan pedas yang berisi berbagai macam campuran toping mulai dari sosis, daging, sayur, jamur dan lainnya. Sebagian para remaja itu memperhatikan Alexa tentunya karena Dia sangat mencolok dan menarik perhatian.
"Hei suatu saat aku ingin menjadi seperti Kakak itu," ucap salah satu gadis kepada temannya menunjuk ke Alexa yang sedang lahap-lahapnya makan.
"Apa Dia tidak malu datang ke kafe yang jelas-jelas untuk anak remaja sekolahan?" ada juga yang berkata seperti ini entah rasa iri atau apa mereka merasakan aura wanita mandiri keluar darinya.
"Seperti biasa enak pedas dan manis," Alexa menoleh ke tatapan yang melihatnya. Mereka ini kenapa? Memangnya aku semengerikan itu sampai sinis.
"Hei lihat Kakak itu kuyakin kau tidak bisa mendapatkan nomornya," ucap salah satu pemuda yang sedang memegang mic kepada temannnya.
"Lihat saja," lalu pemuda lainnya berjalan keluar dan menghampiri Alexa.
"Hai Kak," sapanya Alexa mendongak.
"Ya, ada apa?"
"Kakak suka sendirian?" Alexa mengangguk. "Wah Kakak tipeku banget, boleh tahu nama akun media sosial Kakak cantik?"
Alexa tersenyum. "Kemarikan hp mu," pemuda itu langsung menoleh ke arah temannya yang ada di dalam ruangan karaoke dengan senyum bangga. Bukan menekan kontak Alexa malah menekan tombol kamera.
"Ayo kita berfoto sebentar," pemuda itu mendekat dan Alexa meletakkan tangannya di atas kepala pemuda itu lalu menepuk-nepuknya.
"Adik, Kakak ini sedang sibuk terima kasih ya. Fotonya disimpan saja," Alexa berjalan menuju mobilnya meninggalkan pemuda itu dengan wajah merah.
Sekeluamya dari kafe. Alexa mengendarai mobil tanpa tujuan karena merasa jenuh.
"Miris banget ke mana-mana selalu sendiri huhu, sepertinya lingkungan di sini sudah tercemar, banyak anak-anak yang pacaran. Aku saja masih single hah."
Padahal banyak laki-laki yang mengajaknya kencan, tapi ditolak semua. Sekarang dia sendiri malah mengeluh.
"Mampir ke house park mungkin bagus juga hehe."
Alexa pun pergi mengarahkan setirnya menuju house park yang suasananya cocok untuk orang dewasa berkepala dua.
Alexa pun mencari tepat duduk outdoor yang sepi penuh dengan tumbuhan hijau. "Nona anda mau pesan apa?" tanya salah satu pegawai.
Oh jas ku. Batinnya sambil melepas jas putihnya.
__ADS_1
"Tiramisu, Steak Fiorentina untuk minumnya tolong mojito saja, masing-masing satu porsi ya."
"Iya, kalau begitu tunggu sebentar ya Nona akan segera kami siapkan."
Begitulah Alexa jika sedang sendiri dan bosan dia pasti pergi keluar dan makan tidak kenyang-kenyang. Apalagi dia sedang mengambil cuti tiga hari kedepan.
"Nona ini pesanan anda." ucap pelayan itu sambil meletakan nampan yang berisi menu yang sudah dipesan oleh Alexa tadi."
"Terima kasih."
"Mari kita makan Steak dulu dulu—"
Hap
Tidak sampai 15 menit Alexa memakan Steak itu, dia pun melanjutkan makan Tiramisu.
Tidak jauh dari arahnya duduk dia melihat laki-laki yang berjalan sempoyongan. Setengah mabuk.
Dia pun mengambil tempat duduk di depan Alexa.
"Hah! Cuaca hari ini panas sekali ya," ucap laki-laki itu, Alexa hampir tersedak. Bagaimana tidak laki-laki yang baru datang apalagi dengan kondisi setengah mabuk berbicara dengan volume yang sedikit besar.
"Apa sih," Alexa pun menggeser duduknya ke sebelah kiri.
Glek glek glek
Bunyi apa itu. Alexa pun menoleh seketika dia membelalak.
"Minumanku! Huhu," Dia pun langsung mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan laki-laki itu.
"Ah segar akhirnya sadar lagi," ucap laki-laki itu santai dengan rambut berantakan menutupi wajahnya.
"Apa yang anda lakukan? Saya bahkan belum meminumnya sama sekali."
"Ah siapa Anda?" tanya laki-laki itu.
"Maaf-maaf, apa yang saya minum tadi? Biar saya pesankan lagi," lalu Dia memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama untuk mengganti milik Alexa.
Sesampainya pesanan, lalu diletakkannya di depan Alexa.
"Nona sekali lagi saya minta maaf karena sudah meminum milik anda dan ini..." melihat ke arah minuman tadi lalu menyibak rambutnya.
"Iya saya maafkan, tapi kenapa anda bisa seperti... Tuan Azka!?" Alexa setengah berteriak.
"Oh tadi saya sedikit mabuk, alasannya cukup menggelikan haha." Azka terdiam.
"Hmm?" memajukan wajahnya memerhatikan wajahnya. "Nona Alexa! Haha kita bertemu lagi," tersenyum tanpa dosa setelah apa yang dia lakukan tadi.
"Saya habis putus dengan pacar saya, dia ketahuan sedang kencan dengan laki-laki Iain."
"Kan, memang benar kalau pacaran itu tidak baik ckck haha."
"Apa anda tidak pernah memiliki pacar?"
"Hah bagaimana ya, saya memang tidak memiliki pacar tapi saya sering sekali mendapatkan ajakan kencan namun selalu saya tolak."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ya.. saat itu saya hanya merasa lebih nyaman sendiri dulu, akh maaf padahal kita bertemu dengan situasi seperti ini saya minta maaf."
"Haa saya juga."
"Maaf tuan saya harus pulang."
__ADS_1
"lya, tunggu sebentar Nona. Saya Azka Gerald." ucapnya sambil menjulurkan tangan. "Ini perkenalan kita yang kedua yang pertama kita bertemu saat pernikahan Lorenzo bukan?"
"Alexa Odelia." Alexa pun menyambut jabatan tangan itu. "Iya benar sudah sebulan lebih?" Azka mengangguk.
"Baiklah saya pergi dulu Tuan, oh iya saya memesan satu makanan lagi dan belum datang Anda bisa menunggunya di sini jika Anda mau."
Azka pun mengangguk. "lya terima kasih dan hati-hati."
Alexa pun membalas senyuman dan berbalik arah menuju pintu keluar.
"Wangi." Alexa sambil berjalan menuju pintu keluar yang tidak sengaja mencium tangan kanan yang digunakannya untuk berjabat tangan dengan Azka tadi.
"Eh bukannya ini milik...," melihat sekeliling tapi Alexa sudah pergi. "Sudahlah kami pasti bertemu lagi," ucap Azka sambil menopang dagunya.
...----------------...
Keesokan harinya Alexa sudah siap dengan seragamnya namun jasnya tidak ada.
"Arggh bagaimana ini, jas ku tidak ada tinggal lima belas menit Iagi acaranya dimulai," ucapnya sambil melihat jam di tangannya.
"Baiklah tidak apa-apa Alexa tidak apa, orang-orang akan tetap mengenalimu sebagai dokter bukan?
"Persetan dengan id card!" Alexa harus menghadiri acara yang diadakan di rumah sakit hari ini untuk merayakan hari sehat sedunia sebelum cuti, Alexa tidak bisa terlambat untuk ini karena banyak orang besar yang diundang untuk menghadiri acara ini. Apa jadinya jika mereka melihat salah satu Dokter datang terlambat dari mereka?
Dia pun mengendarai mobilnya dan menuju ke rumah sakit kota. Sesampainya di sana dia berjalan menuju gerbang pemeriksaan yang diharuskan menunjukkan kartu identitas kedokterannya karena acara ini banyak mengundang beberapa tokoh ternama yang bisa dibilang pertemuan eksklusif.
"Nona anda tidak bisa masuk."
"APA? Maaf Pak saya Dokter di sini, sudah lima tahun saya bekerja di sini, masa anda tidak mengenali saya," menunjukkan wajahnya. "Jas seragam saya tertinggal di kafe dan tanda pengenal saya ada di dalam sakunya, saya mohon."
"Maaf Nona anda harus menunjukkan tanda pengenal milik Anda terlebih dahulu, tidak peduli berapa lama Anda bekerja. Jika tidak ada Anda tidak bisa masuk." Balas penjaga gerbang dengan datar, membuat Alexa kesal dan menendang gerbang yang tebuat dari besi itu.
Jas putih menyebalkan andai saja aku meletakkannya di tas pasti tidak akan terlambat dan berdebat di sini.
Dari kejauhan seseorang melihat wanita yang sedang berdebat dengan penjaga gerbang, lalu menghampirinya.
"Selamat datang tuan Azka Gerald silakan masuk." Ucap penjaga itu setelah melihat id card yang diberikan oleh Azka.
"Pak kenapa dengan wanita itu?"
"Jadi begini tuan dia mengaku seorang dokter namun tidak memiliki id card." Balas penjaga itu.
Azka pun turun dari mobilnya dan menyuruh supir untuk memasuki halaman parkir terlebih dulu, dilihatnya seorang wanita memakai sepatu putih dengan celana baggy hitam dan kemeja berwarna abu tua dengan sebuah bandana tipis membalut kerah leherya tengah duduk berjongkok sambil menungkupkan kepalanya di atas dengkul.
"Permisi nona?" sapanya.
Alexa pun menoleh seketika matanya membulat, dia pun langsung berdiri.
"Anda! Tuan mabuk?" Histeris Alexa mendapati seseorang yang pernah meminum mojitonya hingga habis dalam keadaan mabuk.
"I-iya saya, nona saya Azka bukan tuan mabuk," Balasnya malu. "By the way, kenapa anda di sini Nona Alexa? Tidak masuk?" sambungnya.
"Bagaimana saya bisa masuk? Apa anda tahu jas dan id card saya tertinggal di kafe waktu itu, dan saya tidak sempat mencarinya." Alexa dengan ekspresi sedih.
"Oh begitu, ayo Nona ikut saya."
"Tapi saya tidak bisa masuk Tuan."
"Tenang saja aku sudah bicara dengannya," balas Azka sambil melirik ke arah penjaga gerbang.
"Oh begitu, baiklah," Alexa pun mengikuti Azka yang berjalan menuju sebuah parkiran VIP.
Saat Azka melakukan sesi tanya jawab dengan penjaga, dia sudah mengenal Alexa dari model rambut kuncir kuda dan gaya berpakaian Alexa sehingga dia bilang bahwa Alexa adalah sahabatnya dan penjaga pun mengizinkannya masuk walau tanpa id card.
__ADS_1
Aku harus berterima kasih dengan benar kepadanya.
Halo halo semuaa selamat membaca yaa terima kasihh🥰💖