Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Laki-Laki Minoritas


__ADS_3

Setelah menyelesaikan rapat mereka semua pun keluar ruangan.


"Terima kasih untuk hari ini Tuan saya izin pulang duluan, ada beberapa pekerjaan yang belum saya selesaikan." Killian menunduk hormat di hadapan Daran,Louis, Azka dan Felix.


"Ya Tuan Killian sama-sama semoga Anda sampai dengan selamat," lalu Daran tersenyum dan menjabat tangan Killian, bergiliran dengan yang lain. Hingga tinggal laki-laki single yang memiliki waktu luang.


"Jadi apa sekarang?" Louis menoleh kanan-kirinya.


"Akhirnya muncul juga," Felix berdehem.


Azka dan Daran hanya tersenyum sambil mengeluarkan sedikit tawa.


"Apa lagi yang harus kita lakukan? Apa kalian ada jadwal hari ini?" tanya Louis.


"Rumah sakit sudah tutup sore ini, janji jadwalku juga dimulai besok," sahut Daran.


"Lalu kalian?" Louis menoleh ke arah Azka dan Felix.


"Aku juga tidak ada, Azka kau bagaimana?" Felix menyenggol lengan Azka.


Azka diam sejenak. "Hmm jadi kau ingin ke mana?" menoleh ke arah Louis.


"Oke karena kita semua tidak ada jadwal hari ini, bagaimana kalau kita nongkrong sebentar?"


Mereka semua mengangguk. "Lagi pula apa yang akan aku lakukan jika pulang ke apartemen," sahut Azka.


"Naik mobil ku saja aku yang akan menyetir," ajak Louis lalu mereka berjalan menuju parkiran dan memasuki sebuah mobil hitam asal Arab itu.


Di dalam mobil Azka duduk di samping Louis, Felix dan Daran duduk berdua di kursi penumpang.


"Hei kalian benar-benar ingin nongkrong dengan baju jas seperti ini?" ucap Felix.


"Apa boleh buat, jarak rumah kita berjauhan. Lagi pula baju ini oke-oke saja," sahut Daran.


"Jadi sekarang ke mana tujuan kita Louis?" tanya Azka.


"Hmm terserah kalian."


Felix tersentak dan langsung setengah duduk dan memajukan badannya ke samping Louis. "Jadi kau mengajak kami tadi tapi tidak tahu ingin ke mana?"


"Lix santai," merentangkan tangan kanannya ke depan dada Felix lalu Daran menyuruhnya untuk kembali duduk. "Sekarang aku ingin sekali pergi ke suatu rumah kafe besar yang baru dibuka, kalian ingin ke sana? Kudengar tempatnya sangat worth it untuk nongkrong habis bekerja seperti kita."


"Tunjukkan jalannya," sahut Louis lalu mereka mendengarkan musik yang diputar dan sesekali bernyanyi.


Sesampainya di sana Louis memarkirkan mobil hitamnya yang mengeluarkan aura mewah yang menonjol sehingga banyak orang langsung melihat ke arah mereka saat ada empat orang pemuda yang masih memakai seragam bekerja keluar dari mobil, dan tentu saja yang pertama mereka lihat adalah wajah-wajah tampan itu.


"Sst apa kita tidak terlalu aneh memakai baju ini?" tanya Felix.


"Bagaimana jika ada seseorang yang akan merekrutku menjadi model?" ucap Louis sambil menyibakkan rambutnya.


Azka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya ini.


"Hei kalian ingin duduk di mana? Sepertinya sudah penuh," tanya Daran.


Azka memutar mata dan melihat sebuah ruangan kosong dan mendatanginya. "Ayo kita ke sana."


Rumah kafe besar itu didominasi oleh pemuda-pemudi yang habis bekerja, pelajar sekolah dan mahasiswa-mahasiswi yang pulang dari kampus. Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat adu gaya namun bagi empat orang Elioztan Group tadi mereka hanya ingin nongkrong santai sambil berbicara ringan terlepas dari beratnya pekerjaan mereka.


"Permisi Nona apakah ruangan ini sudah ada yang memakainya?" tanya Azka.


Dua orang pegawai perempuan itu terdiam dan saling melihat satu sama lain. Bagaimana mereka tidak salah tingkah dikelilingi laki-laki yang tingginya 180an dan sekali lagi penampilan mereka yang dibilang pelanggan yang sangat 'minoritas' itu.

__ADS_1


Temannya menyenggol bahu teman satunya. "Ah maaf, ruangan di sebelah sana belum ada yang memakainya Kak."


"Kami ingin memakainya apa bisa?"


"Bisa Kak, di sana adalah ruangan VIP kafe kami dan tersedia tempat untuk karouke juga lalu ada sofa, AC, PS 4 dan konsol game."


Azka menyerahkan sebuah black card tanpa basa-basi. Pegawai itu mengambilnya dan terkejut saat mendengar Felix berbicara.


"Hei apa maksudmu, aku saja yang membayarnya," dan menyodorkan sebuah black card miliknya juga. "Kau hanya perlu memberikanku skin terbaru haha."


Azka meliriknya. "Dasar tidak usah aku saja."


Pegawai yang memegang kedua black card tadi bingung melihat pertikaian kecil mereka.


"Anu maaf Kak," Felix dan Azka langsung menoleh. "Jadi ini bagaimana?" menyodorkan kembali kedua kartu milik mereka.


"Hmm pakai yang ini," Louis memecah Azka dan Felix dari tengah dan mengambil kedua kartu milik mereka dan mengembalikannya.


"Nanti kalian traktir aku yang lain saja," lalu ia pergi duluan setelah selesai melakukan pembayaran.


"Ck kan dia lagi," melempar tatapan malas ke Azka.


"Sudah kalian pergi duluan saja aku akan mengambil buku menunya," ucap Daran. Lalu Azka dan Felix mengangguk dan pergi.


"Nona maafkan teman-teman saya, mereka memang agak aneh," ucap Daran sambil tersenyum. Memang pria satu ini sangat pintar tebar pesona.


"Iya iya tidak apa-apa Kak, silahkan ini buku menunya. Kakak bisa memesan di loket sebelah sana," sambil mengarahkan kedua tangannya ke arah sebuah tempat pemesanan yang di sekitarnya ada banyak orang yang memilih tempat outdoor untuk menikmati menu di sana, selain teduh di situ juga gratis tidak seperti ruangan VIP yang mereka gunakan.


"Baik terima kasih Nona," Daran mengangguk lalu pergi membawa sebuah buku menu tadi.


Kedua pegawai tadi langsung histeris berteriak kecil. "Apa kau dengar? Dia memanggilku Nona pasti mereka bukan pria biasa kan?"


"Betul aku sangat setuju lihat saja pakaian mereka yang bermerek semua dan aku hampir mengetahui semua jenisnya karena ada di keranjang belanja ku yang tidak pernah aku check out karena harganya melebihi dompet ku huhu."


Sampainya di dalam ruangan dan membawa buku menu Daran disambut dengan lagu galau yang dinyanyikan Azka dan Louis.


"Hish apa yang kalian galau kan?" tanya Daran sambil meletakkan buku menu. "Berhenti sebentar ayo kita pesan dulu."


Mereka pun langsung duduk di depan meja, perut yang sudah lapar memang tidak bisa bohong. Mereka berempat tidak segan-segan memilih beberapa makanan berat dan minuman segar, tidak ada alkohol karena mereka sudah mulai menyadari untuk mulai menjaga kesehatan.


Lalu Louis berdiri dan keluar untuk mengantar menu pesanan ke loket, beberapa perkumpulan mahasiswa-mahasiswi memperhatikan Louis.


"Lihat Kakak itu tampan sekali?" menepuk tangan temannya.


"Karisma miliknya sangat besar aku melihatnya," jawab teman di sampingnya.


"Circle yang sulit dimasuki," ucap teman laki-lakinya.


Mereka terus memperhatikan Louis hingga masuk keruangan VIP mereka.


"Aku heran, apa aku sangat tampan ya? Dari tadi sepertinya orang-orang memperhatikan ku," ucap Louis lalu duduk lagi.


Daran menatap sinis Louis. "Ya itu hanya perasaanmu saja jangan berlebihan."


"Aku ingat Nona pegawai yang memanggil dengan sebutan Kakak? Haha aku ingin tertawa tadi tapi sepertinya harus menjaga image jadi aku menahannya."


"Mungkin sepertinya kita terlihat seperti anak muda," sahut Azka tersenyum.


"Aku ingin kembali di masa-masa sekolah menengah," Louis menyandarkan badannya di sofa.


"Hei ayo kita lanjutkan bernyanyi sebelum makanannya datang," ajak Felix.

__ADS_1


"Oke aku akan memilih lagunya kalian pasti mengetahuinya."


"Sudah kuduga," ucap Daran saat mendengar intro musik yang sering diputarnya saat galau.


Lalu Azka dan Felix bernyanyi, Daran juga mengikuti mereka namun dia duduk di samping Louis yang sedang melakukan siaran langsung di instagram yang memiliki ribuan pengikut.


Selang beberapa puluh menit pesanan mereka datang dan mereka duduk lalu menyantapnya.


"Hmm lumayan enak," ucap Azka.


"Betul kan, aku tahu tempat ini dari sponsor di rumah sakit."


"Oh ya kalian ingin pulang jam berapa?" tanya Louis.


Mereka bertiga menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahu. "Oke jadi sampai jam berapa pun ya, baiklah berhubung kita sulit sekali untuk bertemu bagaiman jika kita bercerita sedikit?" tawar Louis.


"Aku menolak bercerita duluan," Azka mengangkat tangan.


"Ahaa aku tahu seseorang yang galau memang sebisa mungkin menyembunyikan ceritanya," sahut Daran lalu ia mengambil mic meletakkannya di tengah-tengah meja. "Aku akan memutar mic ini jika ia berhenti tepat di depanmu maka kau harus bercerita tentang apapun bagaimana?"


Felix mengangguk. "Cukup adil."


"Lanjutkan," Louis menimpali.


"Oke aku mulai," lalu Daran memutar mic itu dan tepat berhenti.


"Sial, apa harus aku bercerita di awal permainan kalian?" protes Felix. "Apa yang harus aku ceritakan."


"Terserah, ingin kau menceritakan tentang keluargamu, masa sekolah menengah atau kuliah mu dulu." Louis tersenyum.


"Ini akam sedikit panjang jadi dengarkan aku tidak akan mengulang lagi," ucap Felix lalu Azka dan Daran penasaran tentang pewaris pemilik pelabuhan satu ini memajukan makanan mereka dan memperhatikan Felix dengan teliti.


"Tidak perlu seperti itu juga, biasa saja." Felix berhenti sebentar menyantap makanannya yang sebentar lagi habis. "Pertama-tama keluargaku pasti kalian ingin tahu kenapa aku jarang pulang dan selalu menginap di rumahnya," menunjuk Azka.


Azka mengangguk. "Hmm betul sekali."


"Jadi sebelum menjadi pemilik pelabuhan semua keluargaku pindah ke Amerika dan meninggalkanku sendirian di sini, saat itu aku masih kuliah semester kedua yang di mana itu adalah masa-masa mudaku untuk belajar. Tapi aku harus bekerja keras untuk mengontrol pelabuhan alih-alih orang tuaku memberikan tugas itu kepadaku saat mereka di Amerika."


"Kau? Saat semester kedua?" tanya Louis.


"Ya, dan waktu itu juga aku hanya mendapatkan sedikit teman karena tidak mengikuti berbagai kegiatan yang ada. Lalu saat semester ke tiga aku bertemu dengan anak ini dan dengan oke oke saja dia menjadi akrab denganku dan mengajak ke berbagai acara setelah kampus selesai dasar," menunjuk Azka.


"Bukankah kita tidak boleh membeda-bedakan teman ya?" jawab Azka lalu menyeruput minumannya.


"Aku tidak menyangka Lix aku speechless," Daran menutup mulutnya.


"Tidak usah berlebihan, dan sekian cerita dariku."


"Hah apa? pendek sekali," protes Louis.


"Hei aku bukan story telling lagipula tidak seru jika aku menceritakan semuanya sekaligus, nongkrong part 2 akan aku sambung ceritanya." Felix pun menyambung memakan makanannya.


Lalu Daran kembali memutar mic dan berhenti di depan Louis.


"Ayo ayo cepat ceritakan otak Elioztan Group," balas Felix sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Biasanya orang yang ingin mendengar cerita orang lain memiliki banyak rahasia dan aku ingin mendengarnya."


"Felix jangan dendam kepadaku ya, aku ini baik." Louis menghentikan makannya dan mulai bercerita awal pertemuannya dengan Lorenzo waktu mereka kuliah di luar negeri hingga saat Lorenzo mengajaknya untuk bekerja sama dan lainnya hingga giliran Azka dan Daran. Tidak terasa sudah hampir enam jam mereka duduk dan bercerita di sana, ya namanya juga sudah memesan ruangan VIP dan membayarnya jadi terserah mereka ingin pulang jam berapa.


Pukul 21.45 mereka bergegas pulang karena malam ini sepertinya akan turun hujan, akan sangat rugi bagi mereka jika tidak cepat pulang dan rebahan di kasur saat hujan.


Ternyata mereka sama saya Author ya wkwk.

__ADS_1


Haii semua selamat membaca ya! Enjoy❤❤


__ADS_2