Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Aku Keracunan, Peluk Aku


__ADS_3

Elisa sepertinya ingin memasak sebuah makanan khas negara sakura yang baru saja lewat di beranda sosial medianya. Lalu dia membeli semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat itu. Dimulai dari menggoreng telur, sosis, menumis sayuran dan terakhir adalah plating makanan dengan tomat, wortel dan sayur hingga berbentuk sebuah kucing mirip harimau karena didominasi warna orange wortel. Karena tidak akan sempat jika menanak nasi Elisa menggunakan onigiri dan nugget dari supermarket, tidak lupa dengan saus dan mayones. Ia memasukkannya dalam kotak bento hitam. Dan membawanya di dalam tas bento.


"Sofia, Rufina, Livia saya pergi dulu ya ada urusan yang harus saya lakukan. Maaf saya tidak bisa berlama-lama," ucap Elisa berdiri sambil membawa tas bento.


"Ah iya Nona tidak apa-apa," sahut Rufi sambik menoleh Elisa yang ada di belakangnya.


"Saya akan bekerja dengan giat Nona!" sahut Livia.


"Hati-hati Nona," Sofia mengangguk.


"Baiklah sempai jumpa," Elisa melambaikan tangannya dan keluar bertemu dengan Pak sopir.


"Pak tolong antar saya ke Elioztan Group," ucapnya.


Pak sopir pun mengangguk. "Baik Nona," lalu mereka pergi menuju Elioztan Group.


Sesampainya di sana Elisa masuk dari pintu depan dan dihadapkan dengan resepsionis yang sepertinya memperhatikannya tajam dari atas bawah.


"Ada keperluan apa?" tanyanya.


"Saya ingin bertemu Tuan Lorenzo," aku tidak bisa menyebut namanya sembarangan.


"Apa anda sudah membuat janji?" dengan wajah datar.


Elisa tidak membuat janji tapi dia sudah berkata dengan Lorenzo bahwa akan datang.


"Saya belum membuat janji..., tapi saya harus bertemu dan memberikan ini kepadanya," menunjukkan tas bento di depan resepsionis itu.


Resepsionis itu tersenyum tipis. "Nona kami saja yang bekerja di sini tidak pernah bertemu dengan Tuan Muda," menunjuk sekeliling tempatnya bekerja di lantai bawah. "Bahkan diterima di posisi paling bawah itu sudah suatu kehormatan yang besar, jadi karena itu anda silahkan pulang. Lalu untuk tas itu," menunjuk tas bento yang dibawa Elisa. "Serahkan kepada saya, saya akan mengantarnya kepada Tuan."


"Ah baiklah ini, terima kasih," Elisa berbalik dan berjalan melewati pintu otomatis, resepsionis mengernyit menatap punggung Elisa.


Tidak apa-apa kan aku tidak memberikannya langsung, aku kemari hanya untuk memberikan bento itu karena Dia bilang belum makan tadi, jadi tidak penting mau aku atau orang lain yang memberikannya.


Elisa berjalan menuju parkiran Pak sopir tadi. Resepsionis tadi dengan gesit memberikan tas bento dan sudah sampai di lantai paling atas menggunakan lift, saat dia keluar Stefan bertemu dengannya karena ingin menemui Lorenzo.


"Ada apa?" Stefan menatap tajam resepsionis itu, karena yang ada di lantai paling atas ini hanya ada beberapa orang termasuk dirinya dan Lorenzo.


"Maaf Tuan, saya ingin memberikan ini kepada Tuan Muda," menyerahkan tas bento.


"Ini siapa yang memberi ini? Kau tahu Tuan tidak makan sembarangan pemberian orang lain."


"Maaf Tuan, tadi ada seorang wanita berambut pendek melewati bahu yang memberikannya," Stefan mengambil tas bento itu lalu berbalik. "Turunlah, aku akan memberikannya kepada Tuan," resepsionis itu mengangguk, habis sudah kesempatan bertemu Tuan Muda, karena sekretaris Stefan selalu saja menghalangi siapapun orang yang tidak termasuk daftar penting menurutnya.


Lalu Stefan pergi menuju ruangan Lorenzo. "Tuan ini saya," lalu Ia membuka pintu.


"Apa yang kau bawa?" tanya Lorenzo.


"Seorang resepsionis membawanya dari lantai bawah, Dia bilang ini dari seorang wanita berambut pendek lewat bahu," memberikan kepada Lorenzo.


"Pendek selewat bahu...," Lorenzo baru ingat bahwa dia pernah mengejek rambut Elisa yang pendek seperti itu.


"Stefan cari wanita yang memberikan ini lalu bawa dia ke sini, mungkin belum terlalu jauh."


Stefan heran. "Haruskah saya memanggil keamanan untuk menangkapnya?" tanyanya.


"Bodoh, itu Elisa cepat cari dia," Stefan terkejut tidak menyadari hal ini. Sejak kapan Nona Muda itu berambut pendek? Dia sama sekali tidak pernah berani melempar pandangannya kepada Elisa.


"Baik Tuan," Stefan berjalan cepat menuju lift, sampainya di lantai bawah dengan langkah lebar menuju keluar. Resepsionis yang tadi mengantarkan tas bento heran dengan Stefan yang biasanya tenang dan tidak pernah tergesa-gesa.


Stefan sudah di luar tapi tidak melihat Nona Mudanya itu. Ia berjalan menyusuri sepanjang jalan taman lalu melihat sebuah mobil yang selalu ada di mansion Dia mendatangi mobil itu dan melihat Elisa di seberang pintu mobil.


"Nona," sapanya.


Elisa terkejut kenapa sekretaris Stefan tahu dis di sini.

__ADS_1


"Eh, iya sekretaris Stefan ada apa?"


" Mari ikut saya," ajaknya.


Elisa menganggukan kepala kepada Pak sopir lalu beliau turun dari mobil dan duduk di dekat gazebo.


"Kita mau ke mana sekretaris Stefan?" tanya Elisa di belakang Stefan.


"Tuan menyuruh saya mencari Anda."


"Tapi saya belum membuat janji dengan Tuan Lorenzo, bukankah saya jadi tidak bisa menemuinya sekarang?"


Stefan berhenti. "Siapa yang mengatakan itu Nona?"


Elisa diam dan melirik seorang resepsionis tadi, Stefan berjalan dan berdiri dihadapannya.


"Apa kau menyuruhnya pergi?" dengan wajah datar Stefan bertanya sambil mengarahkan kepalanya ke arah Elisa.


"I-iya Tuan, karena dia belum membuat janji dengan Tuan Muda."


"Kau harus memanggilnya Nona. Bersikaplah sopan untuk kedepannya jika kau seperti ini aku akan memecatmu."


Resepsionis itu keluar dari mejanya dan duduk berlutut di hadapan Stefan. "Tuan maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya jangan pecat saya, saya baru diterima bekerja di sini," ucapnya hampir meneteskan air mata dengan wajah berubah pias.


"Bukan kepadaku, kau harus meminta maaf kepada Nona."


Dia langsung berdiri dan berlutut di hadapan Elisa. "Nona, maafkan saya, saya sudah tidak sopan dengan anda," Elisa memegang bahunya untuk berdiri.


"Tidak apa-apa, ini juga tugasmu. Sekretaris Stefan tidak akan memecatmu," resepsionis itu mengangguk lalu Elisa pergi bersama Stefan ke lift dan menuju lantai atas.


"Silahkan masuk Nona," Stefan membukakan pintu ruangan Lorenzo dan Elisa melihatnya sedang duduk di ruang istirahatnya.


"Selamat sore Tuan," ucap Elisa menundukkan kepalanya.


Elisa mengangguk. "Iya Tuan."


"Bukakan untukku."


Elisa mengeluarkan sekotak bento berwarna hitam dan membukanya.


"Ini Tuan," menyodorkan bento serta sendok, garpu dan sumpit.


Lorenzo mengernyit. "Apa ini?" menunjuk bentuk di dalam bento itu.


"Itu bentuk kucing Tuan, saya membuatnya karena makanan ini sering sekali lewat di beranda sosial saya."


"Aku tidak menyuruhmu membawakannya," menatap Elisa.


"Maafkan saya, saya hanya khawatir anda belum makan tadi. Saya akan membawanya pulang," ucapnya sambil menutup bento itu lagi dan ingin memasukkannya ke dalam tas.


"Berikan padaku," menjulurkan tangannya yang besar cukup memegang bento yang lebih kecil dari luas telapak tangannya. "Jika aku keracunan kau harus tanggung jawab," mengambil sepotong sosis dan sayur lalu dimakannya.


Beberapa menit berlalu sejak Lorenzo mengatakan itu bento yang tadi sudah habis. Dan meletakkan kotak bento kosong di depan Elisa lalu minum air mineral yang diberikan Elisa tadi.


"Hmm, aku harus memprosesnya dulu."


"Argh," setengah berteriak.


"Tuan ada apa? Anda baik-baik saja?" Elisa berdiri di belakang dan mengelus punggung Lorenzo.


"Elisa..., sepertinya aku keracunan," Elisa tahu dia sedang dibohongi tapi daripada Dia dihukum lebih baik mengikuti skenario yang dibuat suaminya ini.


"Maafkan saya Tuan."


"Aku keracunan, Elisa peluk aku uhuk uhuk."

__ADS_1


Haa! Aku tidak tahu apa yang dipikirkan pria ini. Sangat tidak logis dan tidak jelas. Aku ingin sekali mencubit lambungnya itu.


Mau tidak mau Elisa memeluknya dari belakang, sebelah tangannya melingkar di bahu Lorenzo dan sebelahnya masih mengelus punggungnya.


Tuan anda ternyata penuh drama ya.


Kau mudah sekali dipermainkan. Lorenzo tersenyum.


Suami istri yang sama-sama mengejek dalam hati tapi sangat tidak bisa jujur dan mudah ditebak ini.


"Apa anda masih keracunan Tuan?" Elisa masih memeluk Lorenzo.


"Masih sedikit lagi."


Kepala Elisa berada di bahu kanan Lorenzo hingga kepala mereka saling bersandaran, Elisa mencium aroma parfum yang sangat langkah dan harum seperti ini.


Oh aroma rambutnya.


Elisa refleks membalikkan kepalanya ke arah rambut Lorenzo dan menciumnya.


"Hei aku keracunan dan kau mengambil kesempatan mencium kepalaku?"


Elisa tergelonjat mendengar suara Lorenzo.


"Berdiri di sini," tunjuk Lorenzo di depannya, Elisa berjalan canggung karena tadi dia melakukan hal bodoh mencium rambut Lorenzo.


Lorenzo mendongak dan menarik lengan Elisa sehingga jarak mereka hanya dipisahkan kaki mereka yang saling bersentuhan.


"T-tuan ada apa?" Elisa meraba-raba wajahnya jika ada sesuatu yang aneh.


Lorenzo mengangkat pinggang Elisa dan membuatnya duduk di pangkuannya. Elisa memasang wajah terkejut karena Lorenzo menatapnya. Dia memegang lengan sofa ingin beranjak berdiri tapi Lorenzo menahan pinggang Elisa dan memegang kaki bagian atas Elisa.


"Mau ke mana kau?" menatap wajah Elisa yang menunduk tidak berani melihat wajah Lorenzo.


Elisa menelan salivanya bukan takut, dia hanya tidak ingin jika perasaan cinta akan tumbuh bersamanya ketika melihat sisi lain pria ini.


"Ternyata kau memang sangat kurus ya," memegang dagu Elisa. "Lihat aku Elisa," tatapnya lekat melihat Elisa menaikan pandangannya.


Lorenzo memegang pinggang Elisa dan memperpendek jarak mereka, sebelah tangannya mulai meraih leher Elisa dan ya. Lorenzo memulai ciuman lembut kepada Elisa, Dia hanya terpejam dan kedua tangannya memegang bahu Lorenzo. Ciumannya berpindah ke leher Elisa.


Geli.


Lorenzo menjelajahi leher, bibir dan menggigit telinga Elisa.


"Aw," Lorenzo menghentikan aksinya dan tersenyum menatap Elisa.


"Jika kau tidak ingin menderita sendiri lakukan juga kepadaku," Lorenzo mulai mencium Elisa lagi dengan waktu lama membuat Elisa terengah-engah. "Aku sudah bilang kepadamu untuk belajar bukan?"


Dia ini!


Kesal karena di permainkan terus Elisa mencium kasar Lorenzo dengan menarik dasi dan jasnya tapi laki-laki itu tidak membalas dan hanya diam menikmatinya. Hingga dia melepaskannya sendiri karena kehabisan napas.


"Haah haah haah," napas Elisa berkejaran.


"Aku akan mengajarimu lagi dengan baik," Lorenzo ingin melakukan serangannya lagi tapi kepala Elisa jatuh ke bahunya.


"Cukup Tuan saya tidak sanggup," menyembunyikan wajahnya di bahu Lorenzo dan tangannya melingkar di kepalanya.


"Heh, jangan sok berani menyerangku jika kau saja seperti itu," sebelah tangan Lorenzo memeluk punggung Elisa dan sebelahnya memegang pinggangnya.


"Kau sangat menyukai aromaku ya? Dasar, kau memang wanita aneh," Elisa diam tidak menjawab dan semakin membenamkan wajahnya di bahu Lorenzo.


Bagaimana aku bisa lepas dari ini. Elisa menyesali tindakannya ini yang membuatnya berada di pelukan erat Lorenzo yang tidak berujung. Tidak tahu bagaimana hal itu berakhir sepertinya Elisa harus melepaskan pelukan itu duluan.


Halo semuanyaa hehehe selamat membaca ya! terima kasih❤💖

__ADS_1


__ADS_2