
Menaiki mobil yang sama bukan berarti selalu ada obrolan, tidak ada suara di dalamnya.
Tidak tahu apa yang sedang ada di pikiran Lorenzo, yang pasti ada sejuta pertanyaan di benak Elisa tentang pria dingin tapi agak perhatian di sampingnya ini. Entah apa yang akan terjadi dengannya setelah menikah nanti.
Sampailah suara dari perut Elisa berbunyi.
Krukk
Elisa menoleh ke arah Lorenzo. "Aduh anakku kamu lapar? bisa-bisanya kamu mencari perhatian dari Ayahmu," batinnya sambil tersenyum tipis menahan malu.
"Kau belum makan?" ucapnya sambil fokus menyetir tidak menoleh ke arah Elisa.
"Aku sudah makan tadi tapi sepertinya...."
"Kita akan makan dulu," walau begitu Lorenzo mengerti kalau Elisa sedang mengandung dan itu wajar saja.
Mereka pun mampir ke sebuah restoran sederhana.
"Kau mau pesan apa?" tanya Lorenzo.
Elisa kebingungan karena menu yang ada di buku bukanlah makanan yang familiar terhadapnya.
"Aku tidak tahu, makanan ini semuanya asing bagiku."
Lorenzo menghela napas lalu ia memberikan sebuah kertas dan menulis makanan khusus untuk wanita yang sedang mengandung dan memberikan sebuah cek.
Lalu tidak lama setelah itu makanan untuk Elisa datang tapi Lorenzo tidak makan karena dia hanya memesan untuk Elisa.
" Tuan tidak makan?" tanya Elisa.
"Kau makan saja soup itu aku sudah makan tadi."
"Baiklah kalau begitu saya makan."
Setelah makan Elisa pun berjalan menuju kasir lalu Lorenzo memegang lengannya. "Mau kemana?"
"Saya mau membayarnya," jawab Elisa polos, Lorenzo hanya menghela napas sabar.
"Aku sudah membayarnya ayo kita pergi."
Mereka pun menaiki mobil saat di pertengahan jalan Lorenzo memecah keheningan.
"Elisa," yang dipanggil pun langsung menoleh.
"Iya tuan?"
"Aku sudah pernah bilang kan, Lorenzo. Namaku Lorenzo Elio bukan tuan. Bagaimana tanggapan orang lain jika calon istriku memanggil aku dengan sebutan tuan?"
Elisa pun terdiam. "Aku bukan marah, aku hanya mempertegas posisi mu sekarang," lanjut Lorenzo.
"Baiklah aku mengerti Lo..renzo," masih berkata lirih Elisa tentu belum terbiasa dengannya apalagi mengingat Lorenzo saat pertama kali bertemu.
Karena hari sudah larut pukul sudah hampir menunjukkan tengah malam Elisa tidak bisa menahan kantuk lalu ia tertidur. Lorenzo tidak menyadarinya namun saat kepala Elisa terbentur kaca saat ada sebuah tanjakan barulah dia menoleh.
"Dasar kau sama sekali tidak memperhatikan diri sama sekali ya," bisik Lorenzo kepada Elisa yang sudah tertidur lalu ia memberhentikan sebentar mobil dan merubah posisi kursi Elisa menjadi telentang dan sebuah bantal sehingga dia bisa tidur.
Setelah sampai di sebuah apartemen Lorenzo turun dari mobil dan membukakan pintu Elisa tapi Elisa baru saja sadar dan duduk.
"Kita sudah sampai ayo," ajak Lorenzo.
__ADS_1
"Ini di mana?" tanya Elisa.
"Ini apartemen milikku kau tinggal di sini dulu sebelum kita menikah, pernikahan kita akan berlangsung tiga hari lagi. Istirahatlah besok aku akan kemari menjemputmu."
"Kita mau kemana besok?" tanya Elisa sambil mengelilingi luasnya apartemen dengan kedua matanya.
"Kau akan fitting gaun besok, baiklah aku pulang dulu. Lalu kau bisa memakai baju di lemari, aku sudah siapkan. Password apartemennya 1307 dan kau bisa menggunakan semua yang ada di sini," jelasnya lalu dia berjalan keluar diiringi Elisa.
"Lorenzo," panggil Elisa lalu Lorenzo menoleh. "Terima kasih," Lorenzo tidak menjawab dan hanya mengangguk. Begini-begini Lorenzo adalah laki-laki yang menjaga rasa hormat kepada perempuan setidaknya dia bertanggung jawab atas Elisa.
Besok pagi sesuai dengan perkataan Lorenzo dia akan menjemput Elisa, tapi sepertinya Elisa belum bangun juga karena dia kekurangan tidur.
Lorenzo mengerti bahwa wanita hamil akan kelelahan jika kurang tidur lalu dia hanya duduk di kursi samping Elisa sambil memperhatikan wajah wanita yang akan jadi istri dan ibu dari anaknya itu.
"Apa benar dia waitress itu?" pikir Lorenzo namun tidak lama berselang Elisa terbangun dan matanya melotot pakai otot hampir saja dia terpental jatuh di sisi ranjang lain karena terkejut.
"Ada apa? Apa wajahku aneh?" tanya Lorenzo.
"M-maaf aku terlambat bangun...," Elisa bingung kenapa Lorenzo bisa masuk tapi beberapa saat kemudian dia baru ingat kalau Lorenzo lah yang memberi tahunya password apartemen ini. Dia pun menepuk dahinya pelan.
"Aku tunggu di depan."
Elisa pun mengangguk lalu ia segera mandi dan memakai sebuah dress berlengan pendek selutut. Dia pun berjalan dan Lorenzo sudah siap untuk berangkat. "Ayo," ajak Lorenzo.
Mereka pun berkendara menyusuri keramaian kota Roma dan sampailah ke sebuah butik yang sudah di booking oleh Stefan.
...----------------...
"Selamat datang Tuan, Nona," sapa seorang perancang yang membuat gaun Elisa.
"Tunjukkan gaun kepadanya," seorang perancang itu pun mengangguk dan mengajak Elisa untuk fitting gaun pernikahannya.
"Sepertinya gaun yang ini bagus," pilihan Elisa jatuh pada gaun A line dress setengah lengan bermotif bunga 3D berwarna putih.
Elisa pun mencoba memakai gaun dan sepatu itu. "Nona ayo kita ke tempat tuan Lorenzo dan meminta sarannya," menggandeng tangan Elisa.
"Tapi aku...."
Nyonya perancang saya ini malu apa anda tidak peka?
Elisa menyerah dan mengikuti perancang itu.
"Permisi tuan," ucap perancang itu. "Bagaimana apakah gaun ini cocok untuknya? Nona sendiri yang memilihnya."
Lorenzo yang duduk dengan tangan menopang layang dagu menilai dari atas sampai bawah, Elisa yang gugup setengah mati diam tidak bergerak selama beberapa menit.
"Hemm," well sepertinya tuan Lorenzo ini memiliki bakat membuat orang kesal lihat responnya. Membuat orang ingin mencubit mulutnya. Elisa tersenyum paksa.
Setelah fitting Lorenzo mengajak Elisa untuk mengunjungi kedua orang tuanya.
...----------------...
"Elisa kita akan kerumah orang tuaku."
"A-apa? Sekarang?" Elisa shock tentu saja.
"Tenang lah mereka tidak akan melakukan apa-apa kau cukup ikuti saja aku," Elisa mengangguk lalu mereka sampailah di sebuah mansion besar.
"Lorenzo? kenapa kembali lagi apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Elena yang sedang duduk santai bersama suaminya Carl.
__ADS_1
"Ayah, Ibu aku ingin mengenalkan calon istriku pada kalian," Elisa pun muncul dari belakang Lorenzo. Elena langsung menatap tajam Elisa dari atas sampai bawah tapi tidak dengan suaminya yang berdiri antusias.
"Calon menantu? akhirnya aku bisa cepat menggendong cucu," ucap Carl.
"Perkenalkan saya Elisa Serena Isabella, Tuan Nyonya," ucap Elisa sambil menundukkan kepala.
"Lorenzo mungkin kau harus berpikir lagi?" tanya Elena ragu.
"Ibu lupa dengan apa yang aku katakan satu kali untuk kehidupan ku?" Elena terdiam.
"Begitu saja kami pergi dulu dan kami akan menikah dua hari lagi kalian harus datang," Lorenzo pun beranjak pergi karena tidak enak Elisa membungkukkan badan "Permisi."
Setelah itu Lorenzo mengajak Elisa untuk bertemu dengan kedua teman Lorenzo.
"Dia siapa?" tanya Azka saat mereka sudah sampai di sebuah kafe.
"Dia Elisa calon istriku. Dan kalian harus memperlakukannya seperti layaknya istriku. Ingat jangan kurang ajar."
"Lorenzo apa kau bermimpi? kau ingin menikah, cepat sekali." Jawab Felix, sebenarnya Lorenzo tidak menceritakan insiden itu kepada mereka. Hanya Stefan, dan orang terdekat Elisa saja yang tahu hal itu. Karena Lorenzo tahu jika banyak orang yang tahu maka itu akan menyebabkan Elisa merasa tidak nyaman.
"Ehm nona saya Azka Gerald salam kenal," ucap Azka sambil mengulurkan tangan untuk jabat tangan namun urung karena tatapan tajam Lorenzo.
"Saya Felix White," ucapnya santai, tentu Felix lupa dengan kejadian itu karena sudah seminggu lebih dan lagipula saat itu dia tidak sadar.
"Ayo pergi Elisa," setelah berkenalan singkat itu Lorenzo dan Elisa pun pulang ke apartemen.
Benar ya sepertinya Tuan Lorenzo ini bukan hanya memiliki bakat membuat orang lain kesal tetapi juga merasa tidak enak ya!
Sesampainya di apartemen Lorenzo duduk di ruang tengah dan menonton film tanpa sadar dia tertidur di sofa. Tentu di balik kesehariannya menemani Elisa dia mengorbankan tidur malamnya untuk menyelesaikan tugas kantor yang tidak bisa di kerjakan oleh Stefan.
Elisa mendekat.
Kalau dilihat seperti ini aku bisa berjam-jam duduk memperhatikannya, tapi tidak saat dia sudah bangun memperlihatkan wajah dan tatapan matanya yang datar itu.
"Pasti dia kelelahan, apa dia sudah makan?" Elisa pun menuju dapur dan memasak menggunakan bahan yang ada di dalam kulkas.
Dilihatnya di dalam kulkas ada wortel, kentang, daging sapi, bermacam-macam jamur, sayuran dan masih banyak lagi diapun menentukan dua menu yang akan dimasak yaitu Risotto dan sebuah Soup jamur daging.
Setelah hampir satu jam lebih dia menyiapkan bahan, memasak dan membersihkan dapur lagi Lorenzo pun terbangun karena mencium aroma masakkan Elisa.
"Lorenzo sudah bangun? Maaf aku menggunakan dapur seenaknya," ucap Elisa saat Lorenzo sudah selesai mencuci muka.
"Daripada itu, apa aku boleh duduk?" ucapnya sambil melihat masakan yang sudah siap. Elisa pun langsung memberikan dua menu itu kepada Lorenzo.
"Lorenzo ini.. aku memasak ini jika kamu belum makan dan tidak keberatan, kamu makan ini saja dulu."
"Iya," Lorenzo pun makan dengan lahap. "Apa ini kau sendiri yang memasaknya?" menoleh sebentar ke arah Elisa yang juga ingin mengambil piring.
"Iya ada apa? Apa tidak enak?" tanya Elisa khawatir.
"Enak," ini pertama kalinya Lorenzo makan masakan orang lain selain koki yang ada di mansion. Setelah makan mereka pun duduk di depan tv digital.
"Lorenzo apa kamu tidak masalah menemaniku terus? bukankah kamu harus bekerja?" tanya Elisa ragu.
"Tidak apa-apa aku bisa ambil cuti sampai kapanpun," hei cuti apanya dia bekerja di malam hari, dan bilang bisa ambil cuti kapan saja? Dasar Lorenzo ini.
"Lebih baik besok kita ke dokter kandungan terlebih dahulu bagaimana? Untuk memastikan kesehatan kau nanti."
Elisa sempat senang tapi dia berpikir mungkin beberapa hari ini Lorenzo perhatian bukan padanya tapi pada calon anak yang di kandungannya yah itu tidak salah juga sebenarnya karena itu juga anak Elisa pikirnya positif.
__ADS_1
"Baiklah," lalu mereka pun menonton film dalam diam dan hanya sesekali berbicara.
Halo pembaca tersayang selamat membaca ikuti terus kelanjutannya yaa dearr❤❤