Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Gara-Gara Suara Perut


__ADS_3

Elisa terdiam saat masuk ke ruang gym yang dipenuhi alat olahraga yang sangat lengkap dan berkilau, sepertinya selalu dibersihkan.


"Duduk di sana," Lorenzo menunjuk sofa yang ada di pojok dekat dengan lemari yang berisi alat olahraga kecil. Lalu Dia memulai dengan pemanasan dan mulai mengambil alat-alat sedang terlebih dahulu sebelum menggunakan alat yang berbobot berat.


Sebenarnya, Dia memang suka olahraga atau aku yang tidak menyadarinya. Jika kupikir lagi perutnya memang sixpack, ternyata itu hasil olahraganya. Batin Elisa sambil meletakkan kepalanya di atas lipatan tangan di atas meja.


Apa dia tidak lelah ya habis bekerja, malamnya dia olahraga. Kini Lorenzo sedang melakukan pull up. Elisa keluar dan berjalan menuju dapur.


"Pak Koki apa Lorenzo memiliki sesuatu yang harus diminum saat sedang olahraga?" tanyanya kepada salah satu koki yang sedang memasak untuk makan malam.


"Ada Nona, Tuan Muda biasanya minum minuman protein atau biasanya langsung dimakan," balasnya sambil membolak-balik wajan.


"Baik terima kasih, saya akan membuatnya," Elisa berjalan menuju lemari yang ditujukan tadi.


Koki itu berhenti sebentar memasak. "Nona mau membuatkannya langsung?" tanyanya heran.


"Memang kenapa Pak?" Elisa bingung.


Koki itu menggeleng. "Saya hanya heran kenapa Nona Muda repot-repot kemari dan membuatnya sendiri."


Ahh begitu.


"Tidak apa-apa Pak, ruang gym dan dapur juga tidak terlalu jauh saya juga membuatnya untuk suami saya," balas Elisa tersenyum.


Tidak jauh apanya Elisa jaraknya hampir 30 meter begitu.


"Baik Nona kalau begitu, jika ada yang Anda butuhkan panggil saya saja," sahut Koki itu menundukkan kepala.


Di dalam lemari Elisa menemukan sebuah toples yang berisi bubuk coklat dan putih, Elisa memilih untuk membuat minumannya dari bubuk coklat, setelah membuatnya Elisa juga membawa beberapa sendok bubuk di dalam toples kecil.


"Pak saya permisi dulu ya," ucap Elisa kepada Koki sambil mengangguk.


"Baik Nona hati-hati," balasnya tersenyum.


Elisa sudah membawakan nampan yang berisi minuman protein serta bubuknya lalu diletakkannya di atas meja.


Lorenzo yang sedang duduk berjalan menuju Elisa.


"Koki yang menyuruhmu?" tanyanya sedikit intimidasi. Karena takut terjadi kesalahpahaman kepada Koki Elisa langsung menjelaskan.


"B-bukan Tuan, saya yang inisiatif ke dapur dan bertanya kepada Pak Koki apa ada yang Anda minum saat olahraga," Lorenzo tersenyum.


"Ooh jadi itu caramu meminta maaf kepadaku untuk sore tadi karena lupa aku akan kembali?" Elisa tidak menjawab.


Lalu Lorenzo mengambil minuman itu dan memakan bubuknya sekalian. Karena badannya sangat berkeringat Ia membuka bajunya. Sekali lagi Elisa memejamkan matanya.


"Hei," panggil Lorenzo. Elisa menoleh membuka sedikit matanya. "Ambil handuk dan lap keringatku."


Apa! Anda tidak punya tangan? Keringat saja harus aku yang mengelapnya?


Elisa mengambil handuk dengan ragu. Lalu Dia memejamkan matanya sebelum mengelap keringat suaminya itu.

__ADS_1


"Maaf Tuan saya izin mengelap keringat Anda," Lalu Elisa mulai mengelap dari punggung Lorenzo, tangannya dan tempat yang paling membuat Elisa selalu menelan saliva adalah bagian depan Lorenzo, dada dan perutnya adalah hal yang sangat Elisa takutkan saat menyentuhnya. Sedikit demi sedikit dia mengelapnya, sepertinya dia mendengar suara seringai dari atas kepalanya. Dan yang terakhir adalah wajahnya, tinggi Elisa hanya sebatas bahu Lorenzo, wanita itu tergolong tinggi tapi karena di hadapannya adalah seorang Lorenzo Dia jadi seperti anak tangga nomor 2 dari bawah sedangkan Lorenzo nomor 7.


Elisa jadi harus mendongak untuk mengelap keringat di wajah tampan itu, Lorenzo jadi menundukkan kepalanya sehingga mereka saling bertatapan.


Lorenzo tersenyum dan kesekian kalinya membuat Elisa merinding lagi. "Kau menyukai wajahku ya, tapi sepertinya kau lebih menyukai tubuhku," ucapnya.


"Apa yang Anda bicarakan," Elisa menurunkan tangannya saat sudah selesai dan dia berbalik.


Krukk. Krukk


Suara perut Elisa.


Bisa-bisanya pada timing ini? Sayang bukankah kita sudah makan sebelum pulang tadi? Sekarang lapar lagi, oke Ibu anggap ini hukuman karena sudah lupa waktu tadi.


Lorenzo mendekat dan berbisik. "Sepertinya kau memang bersenang-senang sampai lupa diriku dan makan ya!" Elisa seketika mundur beberapa langkah. "Apa kau mau dihukum?"


"Tidak Tuan maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Elisa hampir menangis. Lorenzo tidak enak hati.


Padahal aku tidak melakukan apa-apa kenapa Dia seperti itu?


Lorenzo baru ingat bahwa Elisa sedang hamil. "Hemm sudah jangan menangis, ayo ikut denganku."


Elisa mengusap wajahnya yang tadi mengeluarkan ekspresi sedih dan langsung berubah menjadi lega dan berjalan mengikuti Lorenzo yang hanya membalutkan handuk di badan atasnya.


Saat mereka berdua lewat Elena dan Carl sudah duduk duluan di meja makan sambil menunggu makan malam. Yang ditemani pak Sam yang duduk sambil membaca buku pojok baca mini.


"Lorenzo kenapa kamu berpenampilan seperti itu?" tanya Elena.


"Dasar anak itu," sahut Elena.


"Biarkan saja sayang mereka juga sudah menikah, masa lalu Lorenzo sudah berlalu jadi mari kita dukung hubungan baru mereka. Agar kita bisa cepat melihat penghuni baru keluarga ini, dan kita akan menjadi Kakek dan Nenek," ucap Carl sambil memegang punggung tangan istrinya itu.


Di dalam kamar Elisa berdiri menunggu Lorenzo yang sedang mandi dan turun untuk segera makan malam.


Setelah selesai mengganti baju Lorenzo mendekati Elisa.


"Jangan lupa hukumamu," lalu Dia berjalan mendahului Elisa yang masih mematung, lalu segera tersadar dan berjalan cepat. Dilihatnya pak Sam sudah menunggu di ujung tangga.


"Selamat malam Tuan Muda dan Nona Muda," Elisa tersenyum. "Selamat malam pak Sam," seperti biasa Lorenzo hanya menganggukan kepalanya sedikit.


"Selamat malam Ayah, Ibu," sapa Elisa lalu mereka bersama menyantap makanannya.


"Lorenzo Ayah dan Ibu sudah selesai, apa kalian masih ingin makan?" tanya Carl yang sudah berdiri.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Elisa," jawabnya.


"Jangan terlalu lama, tidur itu sangat penting," Ibunya menimpali.


Lorenzo mengangguk, lalu tinggalah mereka berdua di meja makan. Lorenzo yang sudah selesai makan menoleh ke arah Elisa sambil menopang dagunya.


"Kau harus makan banyak, itu hukumanku karena kau lupa makan, jangan sampai hal itu terjadi lagi."

__ADS_1


Apa maksudnya, aku sudah makan kok memang perutku saja yang ingin berbunyi dan kumohon jangan menatapku seperti itu!


Elisa meneruskan makannya dengan tatapan panjang dari Lorenzo yang tidak kunjung teralihkan hingga dia menghabiskan tiga porsi hidangan makan malam tadi.


"Tuan Saya sudah tidak sanggup makan lagi," meletakkan sendoknya.


"Hmm, hukumanmu belum selesai jadi kau harus menemaniku ke perpustakaan. Aku ingin baca buku," berdiri lalu berjalan beriringan dengan Elisa. Dan naik ke lantai 2 yang sebenarnya satu lantai dengan kamar mereka.


Dia ingin membaca apa padahal buku yang kemarin saja sepertinya belum selesai dibaca.


"Aku bingung melihat semua buku ini, coba kau pilihkan untukku," Lorenzo duduk menghadap terbalik di sebuah kursi kayu dan memperhatikan Elisa yang sangat lucu baginya saat ini.


"Buku mana ya...hmm. Tidak, tidak mungkin aku memberikan buku yang sama seperti Ayah waktu itu,"


Nah.


Elisa melihat sebuah buku yang sedikit keluar dari barisan dan mengambilnya.


"Ini Tuan," Lorenzo mengernyit melihat judulnya.


"108 cara menjadi Ayah dan Suami yang baik," ucapnya sambil mendongak ke arah Elisa. Elisa gelagapan dan membaca judulnya, tersenyum pelik. Apalagi Lorenzo jadi diam. Elisa mengembalikan bukunya dan bertekuk lutut di hadapan Lorenzo.


"Tuan maafkan saya, saya tidak membaca judul bukunya. Maafkan saya, maaf,maaf," Lorenzo meliriknya dan langsung berdiri meninggalkannya dan masuk ke kamarnya.


Pak Sam datang. "Ada apa Nona?"


"Pak Sam saya tidak sengaja memberikan buku ini, lalu Dia pergi begitu saja apa yang harus saya lakukan?" panik.


Apa tidak panik Elisa ini, mulai lupa jam pulang Lorenzo, perut berbunyi dan sekarang soal buku. Total kesalahannya adalah 3 bukan tapi 4 dia belum memberitahu Lorenzo jika Dia sudah membeli sebuah toko untuk memulai usaha baru.


Jika Elisa memberitahunya Lorenzo bisa dengan mudah membuatnya menjadi toko terkenal tapi Elisa tidak mau itu. Dia ingin toko itu berkembang di bawah usahanya sendiri.


"Nona sebaiknya Anda segera menyusul Tuan," pak Sam mengangguk.


"Tapi Pak saya sudah...," Elisa menundukkan kepalanya.


"Tuan Muda tidak pernah melakukan kekerasan pada wanita, jadi Anda bisa yakin dengan perkataan saya itu," Elisa mendongak dan Ia melihat pak Sam tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan memasuki mansion.


"Saya percaya jika Anda mengatakannya, terima kasih pak Sam saya pergi dulu," Elisa mengangguk lalu berjalan cepat ke kamarnya.


Saat ada di depan pintu dia ragu untuk masuk suasana yang dipastikan canggung itu sudah menunggunya di balik pintu ini.


Sudahlah Elisa jika tidak masuk memang besoknya kau tidak akan bertemu lagi dengannya?


Elisa membuka handle pintu dan melihat Lorenzo sudah tidur dibalik selimut lalu Ia berjalan menuju ranjang. Dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara akhirnya Elisa berhasil tiduran di atas ranjang. Masalahnya orang di sebelahnya ini pasti tidak akan diam begini saja. Elisa mencoba memejamkan matanya dan grebb tangan besar dan kaki panjang menimpa kaki Elisa, badannya pun menempel lekat dengan tubuhnya, memeluk Elisa seperti bantal guling.


Elisa menggerakkan badannya. "Tuan tolong lepaskan saya," berusaha keras mendorong kaki panjang itu tapi tidak bergerak sedikitpun, Elisa menyerah dan Ia mencoba tidur dalam dekapan Lorenzo. Tidak lama setelah itu suara napas panjang terdengar, Elisa sudah tertidur. Ada senyum penuh kemenangan di sampingnya.


"Ini hukumanmu."


Halo haiii selamat membaca yaa😙❤

__ADS_1


__ADS_2