
Pagi Ini Elisa merasa ada sesuatu yang mengganjal, biasanya orang di sebelahnya ini selalu bangun pagi dan melakukan aktivitas lebih cepat dari orang lain tapi sekarang Dia masih tidur dan tidak ingin bangun.
Elisa menghela napas dan mandi duluan lalu setelah berganti pakaian Ia mencoba membangunkan Lorenzo lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Tuan bangun ini sudah pagi," menepuk pelan lengan Lorenzo.
"Hmm aku masih mengantuk," berbalik menghadap sisi Elisa.
"Anda harus bekerja bagaimana jika sekretaris Stefan sudah datang?"
"Biarkan saja," dengan mudah Lorenzo membuat Elisa berada di pelukannya.
"Tuan saya juga harus bekerja," Elisa mencoba melepaskan pelukan erat dari tangan besar Lorenzo. Yah apa yang diharapkan, lalu Elisa mengetik pesan di sebuah grub yang beranggotakan dirinya, Sofia dan Rufina.
"Maaf sepertinya Saya akan terlambat hari ini, maafkan Saya tolong tokonya."
"Baik Nona siap akan saya laksanakan," balas Rufina.
"Iya Nona serahkan saja pada kami," Sofia.
Elisa langsung meletakkan hp nya di sebelahnya karena sudah menahan tangannya dari Lorenzo dan itu tentunya pegal.
Elisa terdiam untuk beberapa waktu dengan memandangi wajah tampan laki-laki di hadapannya ini.
Dia memang pria yang bertanggung jawab dan sangat baik, apa aku pantas untuk hidup bersamanya? Apa aku boleh berharap sedikit tentang perasaannya? Kami tidak pernah berbicara tentang masalah pribadi kami, tapi tidak tahu mengapa seperti ada sesuatu yang menghubungkan kami. Mengelus perutnya. Mungkin salah satu alasannya adalah kamu sayang tapi Ibu yakin cinta yang murni tidak pernah hilang, dan ada sesuatu yang lain tapi Ibu tidak tahu. Walau Ayahmu sangat baik kepada Ibu, Ibu harus berusaha sendiri untuk masa depan nantinya. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Lama Elisa berpikir tentang Lorenzo, sudah pukul 8 tapi Lorenzo belum bangun sehingga Pak Sam mengetuk pintu.
"Tuan Muda, sekretaris Stefan sudah datang," sambil mengetuk pintu.
"Pak Sam masuk saja saya tidak bisa membuka pintu," percuma suara Elisa tidak terdengar sekalipun dia berteriak. Elisa pelan-pelan melepaskan tangan Lorenzo ketika berhasil dia langsung membuka pintu dan memberitahu Pak Sam situasi yang terjadi.
Pak Sam tersenyum. "Baik Nona saya akan ke bawah dan menyuruh sekretaris Stefan pergi ke kantor duluan."
"Tapi bagaimana dengan Dia...," menoleh ke arah Lorenzo yang sedang tidur.
"Anda hanya perlu menemani Tuan Muda," menunduk sebentar lalu berjalan menuju Stefan.
...----------------...
"Sekretaris Stefan, Tuan Muda masih tidur sepertinya harus pergi duluan ke kantor," ucapnya.
Stefan mendongak melihat pintu kamar yang masih tertutup, lalu mengangkat kedua bahunya. "Tidak biasanya Tuan seperti ini. Sepertinya hari ini saya akan bekerja dua kali lipat," bohong walau Lorenzo datang Stefan juga biasanya bekerja bagai kuda apalagi sekarang Lorenzo sudah pasti menurutnya tidak akan datang.
Stefan pun pergi sendiri menuju Elioztan Group. Kembali lagi dengan Lorenzo dan Elisa.
Elisa memegang dahi Lorenzo tapi tidak ada tanda-tanda demam. Tapi Dia terus saja mengigau 'Kue Stroberi' beberapa kali.
__ADS_1
"Tuan ayo bangun ini sudah pagi, Anda sudah terlambat," menggoyangkan tubuh Lorenzo.
Elisa terkesiap saat Lorenzo membuka matanya lalu diam sejenak. Dia menoleh ke arah Elisa. Dan menunjuk bibirnya.
Apa? Apa maksudnya haus? Elisa mengambil air lalu memberikannya kepada Lorenzo.
"Bukan, apa kau lupa?" tanyanya.
Elisa menelan saliva dengan kasar, bagaimanapun ini sangat canggung dia tidak memiliki pengalaman berciuman sebelumnya, apa lagi dia yang harus memulainya. Elisa berjalan ke samping Lorenzo, lalu dengan ragu dan tangan gemetar Dia memegang rahang dan pipi Lorenzo. Dia mendekatkan wajahnya dan dia mencium sebentar bibir Lorenzo. Namun laki-laki itu sepertinya tidak cukup sebatas itu saja. Dia menarik tangan Elisa hingga Dia terduduk di atas paha Lorenzo. Lalu Lorenzo mulai melahap bibir Elisa dengan cepat, Elisa terengah-engah dengan tempo yang cepat seperti itu.
"Hmm rasa mint?" mengelap bibir Elisa. "Aku jadi ingin meminum minuman segar, katakan itu pada Pak Sam," dasar Lorenzo setelah itu dia dengan santainya memegang pinggul Elisa lalu mengangkatnya hingga berdiri.
Aaaaa aku ingin berteriak sekarang juga! Ini sangat memalukan bagaimana bisa Dia seperti ini!
Elisa tetap berjalan menuju telepon rumah dengan wajah memerah yang langsung mengarah ke sambungan telepon dinding di dapur.
"Pak Sam tolong bawakan minuman segar untuk Lorenzo," ucapnya lalu diiyakan oleh pak Sam. Tidak lama setelah itu Pak Sam datang dengan para pelayan membawakan jus jeruk lemon peras dengan daun mint.
"Tuan ini minuman yang Anda inginkan," ucap Pak Sam lalu Lorenzo mengambil dan meminumnya.
"Ini tidak sama," melirik Elisa. "Elisa kemari," disertai isyarat tangan. Elisa berjalan mendekati Lorenzo yang sedang bersandar di kepala tempat tidur. Lorenzo memegang leher Elisa dan menciumnya lagi di depan pelayan terutama Pak Sam. "Harusnya rasanya harus seperti ini," memegang bibir Elisa. Elisa terperanjat.
Tuan Lorenzo saya mohon! Tidak apa-apa Anda mempermalukan saya di depan Anda tapi, Pak Sam dan para pelayan melihat. Ini sangat memalukan! Elisa langsung berbalik untuk menutupi rasa malunya.
Mata para pelayan membelalak terlihat dari ujung mata Elisa, mereka siap menjadi penyiar tentang hal ini di rumah belakang tempat para pelayan tinggal. Pak Sam melirik mereka, dan langsung mengendalikan ekspresi mereka.
"Tidak ku sangka Tuan Muda benar-benar mencintai Istrinya, ternyata Dia memang sudah putus hubungan dengan nona Celine," batin salah satu pelayan.
"Pak Sam ambilkan aku kue, dan semua makanan manis yang terkenal di dunia sekarang," Dia mengangguk lalu izin keluar kamar. Elisa yang berbalik syok.
Dia masih mengigau? Mana bisa semua makanan itu langsung datang kemari. Menoleh Lorenzo yang bersandar dengan menekuk kaki panjangnya. Tapi kan Dia presdir? Atau memang ada keajaiban seperti makanan langsung tersedia seperti di film-film fantasi?"
Lalu benar saja para koki di dapur sangat sibuk membuat menu makanan manis yang diminta Lorenzo, Ibu dan Ayahnya sampai heran kenapa dapur sangat sibuk seperti ini?
"Pak Sam ada apa ini?" tanya Elena yang datang bersama suaminya yang baru masuk dari taman.
"Kepala Koki sedang mengarahkan Koki lainnya untuk membuat menu makanan manis dari Tuan Muda," menunduk hormat.
"Makanan manis? Bukankah Dia tidak suka itu. Kenapa mendadak suka seperti ini, apa Dia baik-baik saja?"
"Iya Nyonya, Tuan Muda baik-baik saja."
"Aku tidak percaya sebelum melihatnya sendiri," Elena menepuk bahu Carl lalu berjalan menuju lift agar cepat sampai ke kamar Lorenzo.
"Hmm Pak Sam aku memikirkan sesuatu," sahut Carl. "Apa ada kejadian lain saat kau di sana?" tanyanya.
Pak Sam tahu kejadian tadi akan membuat Elisa malu jadi dia memilih untuk menutup mulutnya. "Tidak ada Tuan Besar, tadi saya membawakan minuman segar yang Tuan Muda minta tapi itu tidak sesuai dengan rasa yang Dia minta."
__ADS_1
Carl mengangguk lalu Ia juga berjalan menuju kamar Lorenzo dan diikuti Pak Sam.
...----------------...
Di kamar Elisa duduk di samping Lorenzo yang sedang bersandar sambil membaca buku yang diambilkan Elisa tadi. Lalu Elena mengetok pintu dan Elisa membukanya.
"Lorenzo apa kamu sakit?" tanyanya mendekati putra tunggalnya itu.
"Tidak Ibu, ada apa?"
Elena menjulurkan tangannya ke dahi Lorenzo untuk mengecek suhu anaknya. "Tidak panas, lalu kenapa kau mendadak ingin makanan manis? Apa kau tahu dapur seheboh apa sekarang?"
"Aku hanya ingin memakannya sekarang," menoleh ke arah Elena.
Lalu Ayahnya datang. "Elisa kenapa Lorenzo tidak bekerja hari ini?" tanya Carl. "Ini hal yang sangat jarang terjadi kau tahu, Dia tidak akan membolos untuk alasan apapun," menepuk sebelah tangan Elisa.
"Ayah itu... tadi Lorenzo hmm," tidak enak membicarakan keburukan suami di depan mertuanya menurut Elisa.
Lorenzo menyahut. "Aku terlambat bangun Ayah, apa jawaban itu sudah cukup? Dan rasanya hari ini aku sangat malas untuk pergi ke kantor."
Ayah melipat kedua tangannya di depan dada. "Oke, ternyata kau bisa seperti ini juga ya."
"Sudah. Pak Sam tolong hubungi Dokternya untuk memeriksa Lorenzo. Aku tahu Dia sedang sakit cepat."
Pak Sam mengangguk dan segera menelpon Dokter Daran.
"Ibu aku baik-baik saja tidak usah berlebihan," berdiri mengambil minum di dekat Elisa. Lalu berbisik kepadanya. "Aku ingin mencicipi rasa mint yang manis itu lagi setelah semua ini," Elisa bergidik mendengarnya.
Tidak lama akhirnya Dokter Daran dan asisten perempuannya datang.
"Cepat periksa Dia," ucap Elena.
Dasar Lorenzo sampai membuat satu mansion heboh seperti ini.
Lalu Daran memeriksa Lorenzo yang menatapnya tajam.
Aku juga tidak sudi memeriksamu tahu!
"Bisa jelaskan apa yang terjadi padanya," menoleh ke arah Elisa. Dia pun mengangguk.
"Apa saya boleh menjelaskan pada asisten Anda saja?" tanya Elisa.
"Silahkan," sambil mengisyaratkan tangan mempersilahkan asistennya untuk bicara dengan Elisa.
Lalu Elisa menjelaskan kejadian dari saat dia bangun tidur hingga sekarang. Ayah dan Ibu merasa heran kenapa mereka tidak diberitahu. Asisten Daran mengangguk mengerti sambil menyungging sedikit senyum saat Elisa bercerita. Lalu Ia memberitahu Daran secara garis besarnya.
"Baiklah Tuan dan Nyonya besar, jadi Tuan Lorenzo ini sedang mengalami gejala Sindrom Couvade," ucapnya.
__ADS_1
"Sindrom Couvade?" tanya Ibu dan Ayah secara bersamaan, Elisa seketika membelalak.
Hai haii semuaa terima kasih sudah membaca❤enjoy