
Tori menuju hotel dengan menaiki bus dan berjalan sekitar tiga puluh meter dari halte untuk sampai ke sana. Sialnya kenapa tadi dia tidak ikut bersama Tuan anti sosial itu, pikirnya. Padahal ia tidak tahu jika Stefan memakai motor balap yang hanya bisa dinaiki satu orang saja.
Sampainya di hotel tepatnya di depan meja resepsionis. "Selamat datang Nona, ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang wanita yang mengenakan seragam rapi.
"Ini," Tori menyodorkan kartu VIP milik Stefan ke depan resepsionis itu. "Saya disuruh Tuan Stefan kemari dan memberikan ini."
Resepsionis wanita itu menatap lama kartu itu lalu kembali menatap Tori. "Ah, iya baik. Silahkan menuju lift sebelah sana Nona," tersenyum sambil mengarahkan tangannya.
"Baik terima kasih," balas Tori.
"Jika anda butuh bantuan silahkan hubungi saya melalui telepon dinding di sana Nona," menunduk.
Tori mengangguk sambil mengacungkan jempol. "Oke."
Dia pun berjalan menuju lift dan ketika keluar dari sana Tori hanya melihat satu pintu.
Hah apa benar ini hotel? Kenapa hanya satu ruangan.
Tori berdiri agak lama memperhatikan ruangan itu, dan melihat sebuah telepon dinding di dekat pintu luarnya, lalu ia teringat perkataan resepsionis tadi yang menyuruhnya menggunakan itu saat butuh bantuan.
"Halo di sini resepsionis."
Suara resepsionis tadi.
"Halo, ini saya yang tadi. Saya ingin bertanya kenapa hanya ada satu pintu di sini? Apa saya boleh masuk?"
"Iya Nona, itu lantai pribadi milik Tuan Stefan. Anda bisa masuk."
"Apa? Satu lantai ini miliknya?"
"Iya Nona."
Tori kehabisan kata-kata, melihat ruangan seluas ini hanya untuk satu orang? Dia bisa bermain bola kaki di dalam sini.
"Oh hmm begitu, ekhm baiklah terima kasih ya."
"Baik Nona sama-sama."
"Hah dasar Tuan anti sosial. Terlalu banyak hal tentangmu yang kutahu membuat kepalaku memutar-mutar," Tori membuka handle pintu berwarna perak dan membuka pintu. Saat masuk Tori mematung.
Dalam ruangan itu sudah seperti satu buah apartemen yang memiliki ruangan yang berbeda-beda.
"Sungguh," Tori mulai mengecek tiap ruangan dan menemukan kamar tidur. Ia merasa was-was mungkin di kamar ini ada kamera pengawas? Dia pun ingat ada satu lagi kartu yang berisikan kontak Stefan.
"Aku harus menghubunginya," lalu Tori langsung menelpon kontak itu.
"Halo?" "Ini saya Tori." "Oh wanita penguntit."
"Anda! Sudah saya ingin bertanya, apakah di hotel anda ada cctv? Tidak apakah di kamar tidurnya ada cctv? Saya sudah sampai di hotel yang tertera di kartu anda."
"Tidak ada," jawabnya singkat. "Tidak ada maksudnya di ruangan yang mana Tuan?" "Tidak ada cctv di sana, aku sibuk."
Stefan langsung mematikan sambungannya.
"Haa dasar." Tori mengecek lagi setiap sudut di hotel untuk memastikan lagi bahwa memang tidak ada cctv di sana.
Lalu ia pergi ke kamar mandi dan mengambil baju ganti miliknya di dalam tas. Setelah mandi dan berganti baju, Tori merebahkan badanya di atas kasur yang sangat empuk menurutnya karena beberapa waktu lalu Tori tidur di perpustakaan.
"Sebentar," ia teringat sesuatu. "Dia mengatakan aku bekerja rangkap tadi, apa aku tidak salah dengar dengan masalah ZLaurent? Jangan bilang jika dia orang yang selama ini aku temui diam-diam di desa itu."
__ADS_1
Tori meremas rambutnya dengan kedua tangannya. "Arghh, Jenderal anda tidak seharusnya mengorbankan saya untuk ini!"
"Oke tenang, aku bisa menghubungi senior untuk memastikan ini."
Tori pun menelpon senior yang menjadi komandan untuk tim korps yang menaunginyan, namun panggilan itu ditolak dan sebuah pesan masuk.
"Victoria Zarlene, selama satu tahun jangan hubungi siapapun yang berkaitan dengan agen. Jaga integritas milikmu."
Tori tidak bisa bertanya apa-apa lagi karena kontaknya sudah diblokir oleh seniornya sendiri.
"Yah, berarti memang benar," karena sudah malam Tori merasa ngantuk, untuk sekian lama tidur di atas kasur empuk tidak butuh waktu lama untuknya terlelap tidur.
...----------------...
Tidak terasa malam begitu singkat, Tori memicingkan matanya saat matahari menembus gorden abu yang menyebabkan pandangannya langsung fokus pada cahaya.
Tori langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu ingin ke dapur untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa dimakannya, sebelum ke dapur Tori harus melewati ruang depan. Saat ia berjalan seketika dis berhenti, melihat suatu sosok di ujung matanya lalu ia perlahan menoleh.
"Anda?!" Tori terkejut saat Stefan sudah duduk di ruang depan. "Apa yang anda lakukan?"
Stefan berdiri. "Tidak usah heboh cepat bersiap," lalu Stefan berjalan keluar hotel. "Temui aku di parkiran atas."
Tori berdiri bengong dengan kejadian singkat ini, tidak ingin memikirkan lebih lanjut akhirnya Tori ke kamar mandi dan segera memakai setelan seragam yang diletakkan Stefan di atas meja tadi. Lalu ia berjalan menuju lift parkiran atas.
Sesampainya di sana Tori melihat sekelilingnya mencari sosok Stefan yang sudah rapi pagi-pagi hari ini. Lalu sebuah bunyi klakson dari mobil yang melaju di belakangnya dan berhenti.
"Masuk," ucap Stefan saat jendela mobil terbuka. Tori membuka pintu mobil penumpang. "Aku bukan sopirmu."
Tori melirik dan duduk di samping Stefan.
"Kita akan ke mana?" tanya Tori.
"Menemui Nona," hening sejenak. "Aku tahu aku tidak perlu mengatakan seperti 'sedikit yang kau tahu itu lebih baik' mengingat kau seorang intel jadi aku tidak perlu memberitahumu."
"Nona Elisa, ingat namanya dan dia sedang mengandung. Tuan Lorenzo adalah Tuan muda dan suami Nona kau harus menghormatinya. Tuan Besar Carl dan Nyonya Elena kedua orang tua Tuan Lorenzo. Ingat itu dan bersikaplah sopan."
Tori menganggukkan kepalanya. "Baik akan saya ingat."
...----------------...
Sesampainya di mansion Tori sangat terpukau melihat yah dari halaman depan gerbang sampai pintu depan sepertinya itu bisa menjadi rute lari untuknya.
"Ikut aku," titah Stefan. Tori pun berjalan mengikutinya dari belakang untuk menemui Lorenzo dan Elisa.
"Pak Sam di mana Tuan dan Nona Muda?" tanya Stefan pada Pak Sam yang sedang memindahkan bunga baru ke dalam vas.
"Tuan di ruang kerjanya, dan Nona sedang di kamar Nyonya," ucapnya sambil memerhatikan Tori.
"Maaf sebelumnya perkenalkan saya Victoria Zarlene, saya asisten pribadi baru Nona Muda," ucapnya sambil menundukkan badan. Pak Sam hanya mengangguk.
Lalu Stefan berjalan menuju lantai atas dan diikuti Tori, sampainya depan pintu Stefan mengetuk pintu.
"Tuan ini saya."
"Masuk," sahut Lorenzo.
"Bersikaplah sopan," ucapnya pada Tori. Lalu membuka pintu dan terlihat Lorenzo sedang duduk di kursi meja kerjanya.
"Tuan ini asisten pribadi Nona yang anda minta," ucapnya sambil menundukkan kepala. Tatapan Lorenzo berpindah dari Stefan ke Tori, rasa gugup sempat menghampirinya.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan," menundukkan kepala. "Saya Victoria Zarlene yang akan menjadi asisten pribadi Nona."
"Hmm, lakukan tugasmu dengan baik," ucap Lorenzo.
"Baik Tuan, saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik," Lorenzo mengangguk.
"Buktikan ucapanmu," balas Lorenzo.
"Baik Tuan."
"Tuan kami izin menemui Nona Muda dulu."
"Setelah bertemu Elisa kau datanglah kemari ada hal yang ingin kubicarakan."
"Baik Tuan, permisi."
Stefan dan Tori sama-sama menundukkan kepala dan keluar dari ruangan.
Kukira bekerja di sini akan berbeda, ternyata sama saja dengan di markas. Aku jadi sangat ingin bertemu Nona Muda itu, apakah dia orang sombong seperti yang di film-film? Aku juga ingin tahu bagaimana dia bisa datang dan bertahan di tempat dingin ini.
...----------------...
"Tuan sekarang kita ke mana?" tanya Tori.
"Ke kamar Nyonya, menemui Nona Muda."
"Baik."
Belum sampai kamar Elena, Elisa sudah berjalan keluar sehingga mereka bertemu di koridor mansion.
"Selamat pagi Nona," ucap Stefan menunduk.
"Iya selamat pagi sekretaris Stefan, dan...," Elisa menatap Tori.
"Salam kenal Nona saya Victoria Zarlene, asisten pribadi baru anda," balas Tori.
"Iya salam kenal saya Elisa."
Wah suara Nona ini sangat halus, dan sepertinya orangnya lembut.
"Nona, Victoria mulai sekarang adalah asisten pribadi anda. Jadi dia akan menemani anda ke mana pun anda pergi."
"Baik terima kasih sekretaris Stefan."
"Kalau begitu saya permisi Nona," ucapnya menundukkan kepala lalu berjalan pergi meninggalkan Elisa dan Tori untuk menemui Lorenzo.
"Hmm jadi... selamat datang Victoria, terima kasih sudah bersedia menjadi asistenku."
"Ah iya Nona saya juga, apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Tori.
"Sebelum itu, aku harus memanggilmu apa? Kamu pasti punya nama panggilan yang nyaman kan," tanya Elisa.
"Nona bisa memanggil saya Tori."
"Baik Tori, sekarang kita pergi ke rumah temanku untuk menjemput adikku, kamu bisa mengendari mobil? Jika tidak kita akan pergi dengan sopir."
Nona saya pembalap handal tenang saja.
"Saya bisa mengendarai mobil Nona. Ini surat izin mengemudi milik saya," menunjukkan sebuah kartu dari tasnya.
__ADS_1
"Ah iya, aku percaya. Ayo kita pergi," ajak Elisa lalu mereka menuju parkiran dan menaiki sebuah mobil putih yang bisa memuat 8 orang di dalamnya dan pergi menuju rumah Alexa yang bisa memakan waktu satu jam perjalanan.
Haloo semuaa selamat membaca ya!😍