Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 10. Kembali Pulang


__ADS_3

Setelah memastikan jika Airin sudah tidak ada di bandara terdekat. Keano langsung memacu mobilnya menuju kota B.


Meski tahu akan memakan waktu yang lama, dia tetap memilih untuk memanfaatkan mobilnya, mengingat tiket pesawat hari ini sudah terjual habis.


Perasaannya kini campur aduk, sebab akan menemui wanita yang masih terpatri di dalam hati. Membuatnya hanya berfokus ke jalanan. Hingga tak menyadari seseorang sedang membuntutinya dari belakang.


"Kita ketemu lagi, Keano ... " gumam Celia tersenyum miring, sambil terus memperhatikan Ferrari berwarna merah di depannya.


Meski satu tahun lalu pria itu memutuskan untuk menceraikannya, tak membuat cinta Celia berkurang sedikit pun. Malah ia menjadi lebih terobsesi agar pria itu kembali menjadi miliknya.


Celia sudah sering mengamati gerak-gerik Keano, setelah pria itu menjatuhkan talak padanya.


Celia menduga, penyebab Keano menceraikannya adalah mantan sahabat, sekaligus mantan kekasih pria itu. Yang hingga kini masih menjadi saingan terberat untuk mendapatkan cintanya.


Dibesarkan dalam keluarga yang bergelimang harta, membuat Celia menjadi pribadi yang ambisius dan arogan. Ia cenderung menghalalkan segala cara agar mendapatkan apa yang diinginkan.


Termasuk merebut kekasih dari sahabatnya sendiri. Celia masih ingat betapa terluka hatinya saat mendengar Keano, siswa paling pemes di SMA waktu itu, berusaha mendekati sahabatnya, Airin.


Padahal Celia sudah berusaha menarik perhatian Keano dari awal masuk SMA. Namun lelaki itu malah tak memperhatikan Celia sama sekali.


Rasa iri Celia semakin menjadi saat tahu Airin sudah berpacaran dengan Keano. Sudah berbagai cara ia lakoni agar kedua sejoli itu berpisah, namun usahanya selalu gagal.


Entah Keano yang terlalu mencintai Airin ataupun sebaliknya. Bahkan saat Celia sengaja menjelekkan Airin di depan Keano, lelaki itu hanya menanggapi dengan wajah datar.


Sialan. Jika saja Keano bukan lelaki pujaan hatinya, mungkin saja kukunya yang tajam sudah menancap di wajah lelaki itu.


Hingga suatu hari, Celia mendengar jika perusahaan milik ayah Keano sedang terpuruk dan meminta bantuan pada perusahaan ayahnya, ia dengan sangat memaksa, merengek agar dinikahkan dengan Keano sebagai persyaratan kerja sama.


Ayah Celia yang memang selalu memanjakan putrinya pun langsung menyetujui.


Celia memang sudah memiliki tubuh Keano sepenuhnya, namun tidak dengan hatinya. Tapi dia tak peduli, yang penting sekarang Celia merasa menang.


Namun kemenangan itu tak berlangsung lama. Tak mendapatkan keturunan selama 5 tahun membuat Keano akhirnya menalak dirinya.


Awalnya Keano meminta ijin untuk berpoligami saja dengan Airin, namun Celia menolaknya mentah-mentah.


"Airin. Airin. Airin. Hanya wanita itu yang selalu ada di hatimu." Celia menatap tajam mobil di depan sambil mengeratkan tangannya pada setir mobil.


"Aku yakin, kau mau menemui pelakor itu, Ke. Pertemuan di reuni tadi adalah perpisahan untuk kalian, tidak lebih. Aku tak akan membiarkan kalian bersatu," tekad Celia.


Kota B


Airin baru tersadar dompetnya tidak ada di tempat saat akan membayar taksi. Sempat merutuki keteledorannya, ketika di bandara tadi tidak mengecek barangnya terlebih dahulu.


Setelah membayar dengan uang yang ada di kantong, Airin lalu berjalan menuju rumah berlantai dua yang berada tepat di samping rumahnya.


Tok Tok


Airin mengetuk pintu rumah tetangganya. Tak lama pintu terbuka, menampilkan seorang gadis yang langsung tersenyum manis melihat kedatangannya.


"Wah, Kak Airin sudah sampai? Seseorang sudah menunggumu," sambut gadis itu, mempersilahkan Airin untuk masuk.


"Aku tahu. Aku sudah ditelpon tadi," sahut Airin, memasuki rumah yang terasa familiar untuknya.


Saat sampai di ruang tamu, seorang pria yang sedang duduk di atas sofa menyambutnya dengan seutas senyuman. Airin membalas dengan senyum hangat, lalu mendudukkan diri di samping pria itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" Pria itu bertanya.


"Lumayan."


"Lumayan menyenangkan?"


"Lumayan buruk," ralat Airin dengan wajah cemberut.


Pria yang umurnya dua tahun di atasnya itu tertawa pelan.


"Apa karena bertemu dengan dia, hingga menganggapnya buruk?"


Airin mengangguk lemah.


Pria di samping ikut mengangguk tanda mengerti.


"Mas Rain?" panggil Airin, membuat pria itu menoleh.


"Hmm?"


"Bagaimana dengan Zia? Maaf, sudah merepotkan kalian."


"Tidak masalah. Kami tidak merasa direpotkan. Malah kami senang Zia ada di sini. Iya, kan, Nis?" Rain beralih tatap ke arah Nisa, adiknya yang sedang bermain ponsel tak jauh dari mereka duduk.


"Bener banget, Kak." Nisa mengacungkan jempol tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya.


Airin tertawa kecil.


"Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama," ujar Rain, membuat senyum di bibir Airin memudar.


"Mata tidak bisa bohong, Rin. Meski bibir berkata tidak. Tapi, sorot matamu mengatakan kalau kamu masih menyimpan rasa yang sama," tebak Rain.


"Haha. Jangan ngawur. Dia sudah menyakitiku sangat dalam. Mana bisa aku masih menyimpan rasa padanya. Rasa itu sudah lama mati sejak dia memutuskan untuk menikah dengan orang lain."


"Oh, maaf. Aku lupa kalau dia sudah berkeluarga. Jadi, sudah berapa biji anaknya?"


"BUNDAA.... " pekik girang dari seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul dari salah satu bilik, berhasil mengalihkan perhatian keduanya.


Airin berdiri untuk menyambut gadis kecil berusia 5 tahun itu dengan pelukan hangat.


Gadis kecil pemilik bola mata bening itu mengecup pipi Airin berulang kali, seperti menyalurkan rasa rindunya.


"Zia kangen, Bunda," rengek Zia dengan mata sedikit sayu namun bening, khas orang baru bangun tidur.


"Bunda juga kangen, Zia."


"Zia pinter, kan, Bun? Sekarang sudah bisa telepon Bunda sendiri."


"Ah, masa? Tadi Zia sendiri yang telepon Bunda? Memangnya Om Rain kemana?"


"Om Rain pergi kerja. Tapi ponselnya ditinggal di rumah, katanya biar Zia bisa hubungi Bunda."


"Anak pintar. Tumben Zia tidur siang? Padahal kalau di rumah susah kalau Bunda yang suruh." Airin mengelus lembut pucuk kepala Zia.


"Tadi malam Zia susah tidur," keluhannya.

__ADS_1


"Loh, kenapa?" Kali ini Rain yang bertanya.


"Habisnya Kak Nisa berisik. Masa malam-malam telponan sambil jingkrak-jingkrak," Zia merengut sesekali melirik Nisa yang duduk di ujung.


"Nisa!" sungut Rain.


Semua pandangan kini mengarah ke Nisa.


"Ups... Nisa ke kamar dulu, Kak. Mau belajar," ujar Nisa yang langsung berlari ke kamarnya, sebelum kakaknya memulai pidato yang akan membuat telinganya pegal.


"Jangan pacaran terus Nisa. Nanti kalau nilaimu turun, Kakak potong uang jajan kamu!" seru Rain menahan kesal.


"Kalau begitu kami pamit dulu, ya? Aku lelah, mau istirahat," pamit Airin mulai tidak enak ketika merasakan percikan api mulai tercetus dari kakak beradik itu.


Tatapan garang Rain berubah lembut saat menoleh ke arah Airin. Pemandangan itu diam-diam disaksikan oleh Nisa yang mengintip dari balik pintu kamar.


"Biar aku antar," tawar Rain.


"Tidak perlu, Mas. Aku pulang sendiri saja. Lagian rumah kita bersebelahan. Masa pakai acara antar-antar segala," tolak Airin yang tidak enak terus merepotkan Rain.


"Santai saja. Zia, ayo Om gendong." Rain beralih ke Zia, sambil merentangkan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh mungilnya.


"Yeayy!" pekik Zia girang sembari menghamburkan diri ke pelukan Rain.


Airin tersenyum gemas melihat keakraban mereka. Diam-diam hatinya berdesir.


Sepertinya Zia mendambakan kehadiran seorang ayah di sampingnya. Anak itu akan sangat bersemangat jika berdekatan dengan Rain.


Pria itu menggendong Zia menuju ke rumah sebelah. Airin mengekor di belakang Rain dengan senyum mengembang.


Memperhatikan punggung tegap pria yang sudah banyak membantunya selama ini. Teringat olehnya saat takdir mempertemukan kembali dengan Rain. Lelaki dengan payung berwarna biru di tengah hujan kala itu.


Seketika hatinya menghangat. Airin benar-benar merasa nyaman dengan kebersamaannya sekarang. Merasa sudah menemukan rumahnya, dan pulang ke tempat yang tepat.


Apalagi memperhatikan gadis kecil dalam gendongan yang sedang tertawa lepas tanpa beban, karena candaan Rain.


Zianne Kainav Narendra, atau yang akrab disapa Zia. Janin yang dulu hampir dilenyapkan Airin, kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik nan imut.


"Rin?"


"E-eh? Iya, apa?" Airin tersentak saat Rain menoleh ke belakang. Bisa malu dia, jika Rain tahu diam-diam Airin mengaguminya.


"Sudah makan belum?"


"Belum, eh, sudah."


"Sudah apa belum?" tanya Rain gemas sendiri.


"Sudah, tadi siang," ralat Airin.


"Ini sudah menjelang sore lho. Makan bareng, yuk?"


"Zia ikut boleh, ya?" tanya Zia antusias, dengan mata bening penuh harap.


Rain yang menatapnya tersenyum gemas.

__ADS_1


"Tentu boleh, sayang," sahutnya.


__ADS_2