
Dua sosok tinggi besar sedari tadi berdiri di ujung rooftop yang jauh dari penerangan. Mereka menghampiri Airin setelah mendapat perintah dari bosnya.
Dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan, keduanya memangkas jarak sedikit demi sedikit. Ketika jarak mereka sudah dekat, salah satu pria yang membawa sebuah balok kayu yang kini sudah membidik targetnya.
Dilayangkan balok itu di udara. Bersiap mendarat di kepala wanita yang sedang sibuk dengan ponsel sambil berdiri memunggunginya.
Bugh!
"Akh!"
Dug!
Balok kayu terlempar begitu saja dari tangan pria itu.
Airin menyeringai melihat pria berbadan sedikit tambun yang membawa balok kayu tadi kesakitan memegangi perutnya.
Sebelum balok kayu mendarat, Airin sudah lebih dulu melihat pergerakan orang di belakangnya. Karena bayangan mereka nampak tercetak jelas di lantai beton berkat sinar bulan.
Dengan gesit Airin segera menendang perut orang yang akan menyerangnya sembari memutar tubuh.
Satu orang lagi.
Airin mengambil balok kayu yang tergeletak di atas lantai. Lalu segera memukulkan pada satu orang yang masih berdiri.
"Halo? Rin?" Suara dari ponsel Airin yang tadi sempat tergeletak di lantai, kini sudah ada digenggaman.
"Mas? Tolong!" jerit Airin berharap Rain mendengar suaranya dari seberang sana. Sangat sulit menempelkan benda itu ke telinga di saat by one seperti ini.
"Kamu dimana?"
Krak!
Secepat kilat pria berbadan kekar yang menjadi lawan Airin menepis ponsel itu hingga terjatuh dan hancur berkeping-keping beradu dengan lantai beton.
"Yah, ponselku?!" Airin menatap nanar ponselnya.
"Kalian ini siapa? Kenapa tiba-tiba ada di sini dan menyerangku?"
"Kami di sini untuk membunuhmu."
__ADS_1
'Rival sialan! Dia menipuku!' gerutu Airin dalam hati.
Brugh!
"Awhh!" pekik kesakitan Airin saat tubuhnya terhempas karena tendangan pria kekar suruhan Rival itu. Gila! Sama wanita tidak tanggung-tanggung. 'Kan sakit.
"Menyusahkan," gumamnya, melirik rekannya yang masih berusaha berdiri. Sebenarnya pria kekar itu kesal mendapat pekerjaan bersama temannya yang berbadan tambun.
"Kau urus anak kecil itu saja. Wanita ini biar jadi bagianku," titah pria berbadan kekar.
Mau menolak pun enggan. Malah akan memakan banyak waktu karena mereka akan berdebat lebih dulu. Pria tambun itu hanya menurut sambil mendengus kasar. Dia paham jika temannya berniat mengambil keuntungan dari wanita itu.
Si pria kekar mendekati Airin yang masih terkapar di atas lantai beton. Bagian belakangnya terasa sakit, menyebabkan Airin tak bisa banyak bergerak untuk saat ini.
Grep!
Pria kekar itu mencengkram rahang Airin dengan kencang. Mau mengaduh kesakitan pun percuma. Airin tak sanggup.
Tangannya terjulur berusaha melepas tangan besar itu dari wajahnya.
"Le ... pas .... " rintih Airin sambil mengumpulkan tenaga saat wajah pria itu semakin dekat dengan wajahnya.
Dugh!
"Arghh!"
Ini kedua kalinya Airin menendang inti tubuh laki-laki. Pria kekar itu berdiri sambil memegangi bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Terlihat rekannya malah tertawa dengan puas.
Airin segera mengajak tubuhnya untuk menggelinding ke samping, menghindari pria yang ia yakin akan segera menerkamnya sebagai bentuk balas dendam atas perbuatannya barusan.
"Don, bantu aku menangkapnya," ujar si pria kekar pada pria tambun itu.
"Haha. Apakah itu menyakitkan, Lex?" ejek pria tambun yang bernama Doni pada temannya yang bertubuh kekar bernama Alex itu.
"Lakukan saja, atau kau mau bos menghukum kita karena terlalu lama mengurus target kali ini," sungut Alex.
"Ya, ya, ya .... " Doni memutar bola matanya, malas.
Dengan terseok-seok, Airin kini telah mencapai pintu keluar dan sedang berusaha membukanya saat Doni sudah berlari ke arah dirinya berdiri.
__ADS_1
"Sial. Ini terkunci." Airin celingukan mencari jalan keluar lain.
Bukan hanya Doni, Alex pun kini sudah mengarahkan langkah menuju pintu meski dengan tertatih.
"Aku harus bagaimana?" lirih Airin.
Menyandarkan punggungnya pada pintu besi, sembari menengadahkan kepala hingga sinar bulan mampu menerangi setiap lekuk wajahnya yang ayu, meski penuh dengan peluh dingin keluar dari pori-pori di dahinya.
Ekor mata Airin tak sengaja melihat Zia yang masih terkulai lemah, wajahnya terlihat mulai pucat.
Pasti Zia kedinginan, pikirnya.
Dirinya saja yang sudah mengenakan mantel tebal masih bisa merasakan hawa dingin yang menusuk. Apalagi hari sudah semakin malam. Tentu suhu akan semakin dingin.
Grep!
"Akh!" pekik Airin.
Dia hanya pasrah saat Doni langsung mencekik lehernya. Sedangkan Alex masih tertatih menuju ke arah mereka.
Netra Airin mulai berkabut. Setetes benda bening keluar dari ujung matanya, dengan manik mata yang masih memandang ke arah Zia.
'Andai aku bisa memberikan mantelku pada Zia. Kasihan dia kedinginan,' lirih Airin dalam hati. Masih bisa memikirkan keselamatan anak perempuannya di saat dirinya sendiri dalam keadaan terpojok.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide gila dalam otaknya.
Mungkin bisa dicoba. Ini demi Zia. Aku tak boleh berakhir di sini. Huft ....
"T-tolong lepaskan kami. Aku ingin mengajak kalian bernego," pinta Airin yang mulai merasakan kesulitan bernafas.
"Nego seperti apa?" sahut Alex yang baru sampai di belakang Doni.
"Aku... Bersedia melayani kalian. Asal lepaskan anakku."
Kedua pria itu terkejut, kemudian saling memandang. Seringai mulai tercetak pada masing-masing bibir mereka.
"Sampai kami puas?"
Airin mengangguk lemah. Berharap ide sinting itu bisa menyelamatkan Zia.
__ADS_1
"Deal."