
"Make up-ku bisa luntur. Aku dandan selama dua jam tahu!"
Keano terkekeh mendengar ucapan Airin. Sejak kapan wanita di depannya peduli dengan sapuan make up?
Bahkan make up pada wajahnya sekarang sangat tipis dan terkesan natural. Terkena air satu galon pun tidak akan napak jika riasannya berantakan.
Set.
Keano mencolek pipi Airin dengan telunjuk besarnya, lalu memperhatikan jarinya dengan seksama.
"Make up kamu waterproof, ya?" tebaknya yang membuat Airin kelimpungan.
Sejak kapan Keano tahu make up waterproof dan tidak?
"I-itu tidak penting. Sekarang katakan hal apa yang ingin kau bicarakan. Aku tidak punya banyak waktu untuk pembicaraan remeh seperti ini," sanggah Airin, mengalihkan pembicaraan.
"Oh, sampai lupa. Hai, Airin. Apa kabar? Lama tak jumpa," balas Keano sambil mengulurkan tangannya.
"Baik," balas Airin cuek, menganggurkan uluran tangan itu.
Keano menatap tangannya yang berjabat dengan udara, lalu menatap Airin bergantian, seperti memberi isyarat.
Akhirnya Airin menyambutnya dengan tatapan jengah. Lalu segera menarik tangan kembali, sebelum percikan-percikan setan yang halus dan samar kembali hadir di hatinya.
"Kemana saja kau selama ini? Kenapa tiba-tiba menghilang?"
"Bukan urusanmu!" ketus Airin.
"Apa kau masih marah denganku?"
Pertanyaan tak tahu diri itu meluncur dengan bebas dari mulut Keano.
Kilatan kebencian memancar dari netra Airin yang menatap tajam.
"Dengan semua perbuatanmu padaku, kau masih menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya? Hebat-hebat. Itu hati apa batu?" sarkas Airin sambil menunjuk-nunjuk dada Keano.
"Well, itu sudah lama terjadi Airin. Sejak kapan kau jadi pendendam?"
'Pendendam, hah?! Sudah jelas kau yang mengajariku jadi pendendam!' batin Airin.
"Sudahlah. Kita tidak ada urusan lagi. Sebaiknya aku pergi. Percuma jika kau mau menjelaskan apapun padaku, tapi hatimu tetap saja batu. Tak kan ada yang berubah."
"Tunggu!" Keano meraih tangan Airin yang hendak pergi.
"Aku terpaksa menerima perjodohan itu, Rin. Saat itu perusahaan ayahku sedang kolaps. Jadi—"
"Jadi kau lebih memilih menyelamatkan perusahaan ayahmu daripada hubungan kita?" sela Airin.
"B-bukan seperti itu. Tolong mengertilah. Aku—"
__ADS_1
"Cukup! Penjelasanmu hanya akan menyakiti hatiku lebih dalam," potong Airin yang sudah berusaha menahan tangis.
Wanita itu lantas menepis tangan Keano, berlalu dari sana sebelum cairan bening tampak di hadapan pria itu, yang hanya akan membuatnya terlihat rapuh.
"Maaf, " lirih Keano sambil memandangi punggung Airin yang napak bergetar sebelum akhirnya hilang di balik hujan yang kian lebat.
Sepertinya Airin salah sudah langkah, ketika memilih datang ke acara reuni ini. Pertemuannya dengan Keano malah membuka luka lama yang sudah ia obati sendiri dengan plester waktu.
Nyatanya, plester mana yang mampu mengobati luka? Ia hanya bisa menutupi, bukan menyembuhkan.
"Setidaknya ucapakan kata maaf, Ke. Bukannya membela dirimu sendiri," lirih Airin.
'Apakah dipikiran laki-laki hanya ada harta yang paling penting?' batinnya sambil mendengus kesal.
'Apakah jika Keano bertemu dengan benih yang sudah dilahirkannya ke dunia, dia akan tetap memilih harta dan kekayaan?' pertanyaan itu tiba-tiba melintas di kepala Airin.
Namun ia segera menepisnya, karena Airin tidak berniat mempertemukan sang buah hati dengan pria berhati batu itu, yang malah akan mengusik kehidupan mereka yang sudah tertata dengan rapi lima tahun belakangan ini.
"Aku pulang duluan, Ris," pamit Airin saat Risa menghampirinya.
"Acaranya kan belum selesai? Dan kita belum ngobrol banyak, Airin. Lagian hujannya juga semakin deras," cegah Risa.
"Maaf, aku sibuk. Lain kali saja kita lanjut ghibahnya. Bye, see you, " Airin langsung cipika-cipiki dengan Risa lalu pergi begitu saja tanpa pamit dengan teman-teman yang lain.
Tentu saja yang ia hindari adalah Keano. Melihat pria itu lama-lama membuat hatinya semakin sakit.
Airin memesan mobil dari aplikasi di ponselnya. Tak lama sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan gedung SMA. Airin pun segera berlari mendekat, saat memastikan jika mobil itu adalah pesanannya.
"KEANO LEPAS! BAJUKU BASAH KENA HUJAN!" teriak Airin, lepas kendali saking emosinya.
"Aku antar pulang," balas Keano dengan tenang, namun terdengar menuntut.
"Aku bisa pulang sendiri!" tolak Airin, masih berusaha melepaskan diri.
"Ayo, aku antar pulang."
"Tidak mau. Rumahku jauh."
"Aku memaksa."
"Bodo amat!"
Tarik menarik pun terjadi diantara mereka, membuat pengemudi mobil silver kebingungan. Terlebih ketika penumpangnya sudah diseret paksa ke arah mobil lain, sang driver pun hanya pasrah menunggu, tanpa mau ikut campur.
'Ashh! Kutil anoa ini minta disleding rupanya,' dengus Airin dalam kalbu.
Dugh!
"Akh!"
__ADS_1
Tendangan keras mendarat di betis Keano, membuat pria itu meringis kesakitan. Namun tetap mencengkeram tangan Airin dengan kencang.
Dugh!
Tendangan ke dua menyasar di tulang kering dengan lumayan mantap.
Lagi-lagi pria itu tetap kekeh untuk membawa Airin ke arah mobilnya yang sudah terparkir tak jauh dari sana.
"KEANO!!" bentak Airin yang berusaha dengan keras menolak paksaan pria pemilik Ferrari 599 GTO, yang sudah membuka pintu mobil untuknya.
"Masuk!" titah Keano sambil mendorong badan Airin agar memasuki mobil.
Tanpa usaha yang keras, badan Airin yang basah kuyup sudah duduk manis di kursi depan.
Keano yang tak kalah basah kuyupnya pun sudah duduk di kursi kemudi, lalu bergegas tancap gas, menjauh dari area sekolah yang dahulu menyimpan banyak kenangan indah diantara mereka.
"Kau banyak berubah, ya," simpul Keano, berusaha memecah keheningan yang terasa mencekam karena ekspresi horor kental melekat di wajah Airin.
Aneh, bukannya seram, tapi hal itu malah terlihat imut di mata Keano. Membuat lelaki itu ingin mencubit pipi wanita di sampingnya dengan gemas.
Jika saja mereka masih menjadi sepasang kekasih, mungkin bisa saja Keano langsung melucuti pakaian basah pada wanita itu, seperti yang pernah ia lakukan dulu.
Keano segera menggeleng sebelum bisikan setan menguasai, dan membuatnya menerkam wanita yang duduk dengan tangan terlipat sambil memanyunkan bibir itu.
'She's so cute,' batin Keano mulai meronta-ronta.
"Apakah aku sudah menculik istri seseorang?"
Pertanyaan itu sukses membuat Airin menoleh.
"Turunkan aku!" tegas Airin.
"Kau mau hujan-hujanan lagi?"
Wanita itu menggeleng.
"Aku mau pulang sendiri. Dan tolong jangan ganggu aku lagi. Aku sudah punya kehidupanku sendiri."
"Kau sudah menikah?"
Tersirat rasa kecewa dalam nada, sekaligus raut wajah Keano yang terlihat lebih maskulin karena sedikit basah.
"Bukan urusanmu. Lebih baik kau urus saja istri tercintamu, dan turunkan aku di sini. Please, aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian."
"Istri tercinta? Maksudmu Celia?"
"Siapa lagi," Airin memutar bola matanya.
"Kami sudah bercerai. Satu tahun yang lalu."
__ADS_1
Airin mematung di tempat. Pantas saja Celia tidak menghadiri acara reuni sekolah tadi.