
Rain PoV
Namaku Rainand Arsenio. Lahir dari sebuah keluarga yang terpandang dan bisa dibilang memiliki segalanya. Namun, entah ini anugerah atau musibah.
Karena kekayaan keluargaku didapatkan dari hasil pekerjaan gelap. Dan terpandang, juga dalam artian terpandang sebagai keluarga mafia untuk beberapa kalangan. Pekerjaan ini sudah turun temurun dari kakekku yang juga seorang mafia.
Sudah banyak nyawa melayang di tangan keluarga kami. Sebenarnya aku tak peduli. Aku hanya seorang anak yang dibesarkan dalam didikan keluarga yang keras untuk memenuhi permintaan klien. Tapi bukan berarti aku juga seorang mafia. Karena aku menolak takdirku sendiri. Meski ayah memaksaku berulangkali untuk ikut latihan, aku tetap menolak.
Hingga suatu hari, dan mungkin itu yang pertama kalinya. Ayah gagal dalam misi. Dimana misinya untuk membunuh seorang gadis kecil. Perintah itu atas suruhan bibi, atau lebih tepatnya adik dari ibu si gadis kecil itu.
Ayah dan kelompoknya menyabotase mobil yang dipakai keluarga gadis kecil itu. Di dalamnya ada pria paruh baya, istri, serta gadis kecil itu sendiri.
Saat itu, entah ada angin apa, aku ikut ayah bekerja bersama beberapa rekannya. Kami mengamati laju target dari jarak aman. Sesuai dugaan, tentu saja kecelakaan tak dapat terhindarkan. Kami kira ketiga penumpang akan mati di tempat. Namun kami salah. Meski gadis kecil itu terluka parah. Dia masih selamat.
Karena kegagalannya, ayah tak mendapatkan bayaran. Klien ayah sempat marah dan memaksa untuk menyelesaikan misinya atau identitas ayah sebagai mafia akan dibongkar di hadapan polisi.
Bukannya ayah orang yang lemah dan bisa digertak, tapi tekad ayah untuk menyelesaikan setiap misi, membuatnya menuruti permintaan klien tersebut. Itulah awal aku direkrut menjadi bagian dari kelompok ayah.
Dan misi pertamaku hanyalah untuk mengamati gadis kecil yang selamat dari maut tersebut, sebab memang aku juga masih bocah waktu itu. Gadis kecil itu bernama Airin Kaila Nanda.
Aku diam-diam terus mengamati gadis penyuka hujan itu. Selalu bersembunyi di sekitarnya kemanapun dia pergi. Baruku tahu ternyata kita terpaut usia 2 tahun saat dia menjadi salah satu siswa baru di SMA Gemilang ketika aku sudah kelas 12.
Di depan semua orang, aku selalu menyamar menjadi lelaki berpenampilan layaknya kutu buku, bingkai kaca mata tebal selalu bertengger di pangkal hidungku. Menghindari segala bentuk keramaian, agar identitas tak terbongkar.
Tempat favoritku adalah perpustakaan, di sudut paling ujung dekat dengan jendela. Sebab di sanalah aku dapat mengamati Airin tanpa diketahui orang lain. Aku pun mengganti nama panggilan menjadi Arsen.
Brugh!
"Maaf, aku tak sengaja," ujarku seraya menunduk, saat tak sengaja menabrak bahu seseorang.
"Hey, cupu. Kalau jalan hati-hati, dong. Seragamku jadi kotor nih. "
Ku dongakkan kepala ketika dorongan keras dari tangannya membuatku tersungkur di lantai. Gelak tawa mulai mendominasi lorong kelas. Meski aku cupu, tapi tak seorangpun di sekolah ini yang semena-mena padaku, sebab aku ditunjuk sebagai salah satu anggota OSIS.
Sialan betul dia. Ternyata orang itu adalah adik kelas yang terkenal akan prestasinya. Tapi untuk attitude, dia nol. Dialah Keano Kaivan Narendra. Aku mencari tahu info tentangnya, karena dia juga suka memperhatikan Airin dari jauh.
Tanganku terkepal menahan emosi. Kalau saja tidak karena perintah ayah, sudah kubuat babak belur wajah sombongnya itu.
Syutt! Krakk!!
Sontak kacamataku diambilnya tanpa permisi, lalu diinjak hingga hancur berkeping-keping. Padahal itu kacamata pemberian ayah.
Bugh!
Terlanjur emosi aku langsung berdiri lalu melayangkan bogem mentahku ke arah wajahnya.
"Arghhh!" pekik Keano. Sebenarnya aku hanya reflek, dan itu tentu tidak sakit. Dia mungkin hanya kaget.
__ADS_1
Tentu ekspresi terkejut ditunjukkan semua orang yang melihat aksi nekatku. Arsen yang mereka kenal adalah laki-laki cupu, pendiam, dan lemah yang menghindari segala bentuk keributan.
Sadar menjadi bahan tontonan, aku segera berlari menjauh dari sana. Tentu Keano dan kedua temannya tak membiarkanku lolos begitu saja.
Aku terus berlari menjauh. Sialnya salah satu dari mereka berhasil menarik kerah belakangku hingga membuatku terpelanting dan jatuh di tanah. Dimana saat ini kami sudah berada di halaman belakang sekolah.
Kejadian selanjutnya, ya, kalian tahu sendiri. Mereka bertiga mengeroyokku, menghujani beberapa pukulan hingga tendangan. Beragam umpatan tak luput dari mulut mereka.
Aku memilih bertahan. Bukannya aku lemah. Hanya ingin menjaga identitas yang selama ini kusembunyikan. Beberapa bulan lagi adalah kelulusan. Aku harus bertahan hingga saat itu tiba.
Setelah mereka puas melihat tubuhku tergeletak tak berdaya dengan penuh luka lebam, mereka pun pergi meninggalkanku begitu saja.
Kelopak mataku sudah hampir tertutup saat setetes air segar mengenai wajahku. Perih. Tapi setidaknya ini lebih baik.
"Astaga! Kak, kau baik-baik saja?"
Deg.
Airin?
Suara yang begitu aku kenal seketika menyatukan kepingan kesadaranku kembali. Raut khawatir dapat terlihat jelas dari wajahnya yang cantik berbinar. Sangat kontras dengan langit mendung di atas sana.
"Bertahanlah. Jangan pingsan dulu. Kalau Kakak pingsan, aku jadi susah untuk membawamu ke ruang kesehatan," racaunya, membuat ujung bibirku sedikit terangkat.
Tangannya terjulur, membantuku berdiri. Aku pun ikut mengerahkan kekuatan tubuhku yang tersisa. Sebenarnya aku mampu untuk berjalan sendiri. Tapi, biarlah. Kapan lagi aku bisa sedekat ini dengan targetku.
"Eh, Kak! Jangan pingsan dulu. Please. Kamu berat," keluhnya dengan ekspresi cemas yang terlihat cute.
'Duh, Dek. Aku tak kuat untuk tidak mengerjaimu,' batinku, jahil. Gemas dengan setiap ekspresinya itu.
Setelah perjuangan yang menyenangkan—setidaknya bagiku, tapi tidak untuk Airin yang tampak lelah—akhirnya kami sampai juga di ruang kesehatan.
Karena kebetulan tidak ada siapa-siapa di sana dengan telaten dia merawat seluruh luka yang dibuat Keano dan dua temannya tadi pada wajah dan lenganku.
Untuk bagian dalam yang sebenarnya lebih sakit, tentu aku tak menunjukkannya. Bisa-bisa hilang kontrol aku nanti. Terlebih kami hanya berdua saja di sini.
Aku masih laki-laki normal yang apabila dihadapkan dengan gadis secantik Airin akan membuat kejantananku goyah juga.
"Akhh. Pelan-pelan," erangku, merasakan sakit teramat sangat pada luka menganga di pelipis yang sedang diobati oleh Airin.
"M-maaf," sahutnya, sedikit sungkan.
"Namamu siapa?" tanyaku, memecah kecanggungan diantara kami. Tersadar, sebenarnya kami belum pernah berkenalan. Basa-basi juga agar dia tidak menaruh curiga padaku.
"Airin. Kakak siapa?"
"Arsen. Kenapa kau menolongku? Padahal kita belum saling mengenal."
__ADS_1
"Tentu saja. Kondisi Kak Arsen sangat parah. Mana bisa aku membiarkanmu tergeletak di sana begitu saja? Apalagi hujan sudah mulai turun. Nanti Kak Arsen tambah sakit."
"Bukannya kau suka hujan?"
"Eh? Darimana Kak Arsen tahu?"
"T-tidak. Lupakan." Hampir saja aku kelepasan.
Setelah itu tak ada percakapan apapun di antara kami. Takut mulutku tidak bisa diajak kompromi. Seakan netra bening yang terlihat polos itu mampu membuatku tersihir.
"Jangan berkelahi lagi. Lihat. Lukamu sangat parah," cicitnya kemudian.
Seketika hatiku menghangat. Baru kali ini ada orang yang begitu peduli dengan kondisiku.
Dan mulai saat itu, baru tersadar jika aku menaruh rasa yang tak seharusnya kumiliki pada Airin. Aku terjebak dalam permainanku. Dimana aku malah mencintai targetku sendiri.
Mulai detik itu pula, aku bertekad untuk tetap menjadi pria bayangan untuk gadis pecinta hujan itu, namun beralih tugas sebagai pelindungnya. Persetan dengan tugas dari ayah. Aku memiliki pilihanku sendiri. Dan aku lebih nyaman menjadi diriku sendiri.
Setiap apa yang terjadi pada Airin, aku mengetahuinya. Tentang Rival, bibi Maya, juga Keano yang akhirnya menjadi kekasihnya.
Saat itu aku harus rela mengubur perasaan cintaku padanya. Sakit memang, patah hati sebelum memiliki ternyata jauh lebih sakit. Namun, aku arus sadar jika keberadaanku hanya bayangan untuknya.
Pun ketika dia menangis di bawah guyuran air hujan kala itu. Hatiku jauh berkali lipat lebih sakit saat melihatnya bersedih. Tak tahan hanya berdiam diri, aku pun menghampirinya.
Toh, dia tidak akan mengenaliku. Aku sudah menjadi diriku sendiri sekarang. Tak perlu bersembunyi lagi.
"Sudah sebesar ini masih saja suka bermain air hujan," tuturku padanya.
"Pergilah!" ketusnya.
Sebenarnya aku sedikit terkejut, kenapa dia jadi wanita jutek seperti ini?
"Meneduhlah, atau kau akan sakit." Aku tak menyerah.
"Bukan urusanmu. Lagi pula aku juga tidak mengenalmu."
"Kalau begitu mari kita berkenalan. Aku Rainand Arsenio, panggil saja Rain."
"Aku tidak bertanya."
"Ambillah. Kembalikan saja jika suatu saat kita bertemu lagi," paksaku. Lalu mengalihkan payung yang kugunakan ke dalam genggamannya.
Aku segera berlari menjauh. Ku yakin dia akan menolak. Hatiku pun sudah ketar-ketir dibuatnya. Karena ini pertama kalinya aku melihatnya berpenampilan seanggun ini. Dia cantik.
"Hey! Aku tidak tahu siapa kau. Bahkan aku tak tahu dimana alamatmu. Bagaimana caraku mengembalikannya?! Ish!" Teriakan itu masih bisa terdengar, namun aku mengabaikannya.
Airin ...
__ADS_1
Aku akan terus menjadi payungmu. Meski kau lebih memilih untuk berpayung pada hujan. Aku akan menjadi tempatmu meneduh, meski atapku sudah hancur sekalipun.