Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 51. Aku Pulang Malam Ini


__ADS_3

Zia sudah berada di dalam kamar bersama Airin, yang dengan sabar berusaha membujuknya agar bersedia tidur di kamar, dengan bantuan Rain tentunya. Sedangkan pria itu sudah lebih dulu pamit, sebab sadar jika malam sudah terlalu larut untuk bertamu. Airin sudah tak tahan dengan kantuknya, namun Zia masih setia terjaga.


"Zia belum mengantuk?" tanya Airin. Mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil gadis yang membelakanginya itu.


"Sudah."


"Kenapa tidak terpejam?"


"Nanti kalau ayah datang pas Zia tidur, bagaimana?"


Airin mendengus kasar. "Mungkin ayah tidak pulang malam ini. Kalaupun pulang, besok pagi Zia akan menjumpainya di kamar ini."


"Zia ingin tidur dengan ayah."


"Tapi sudah ada Bunda di sini."


"Zia maunya ayah."


Sudah kesekian kalinya Airin membuang kasar nafasnya. "Terserah. Bunda mau tidur."


Belum lima menit Airin menutup mata, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ranjang. Wanita itu reflek bangkit dari tidurnya untuk melihat pemilik langkah kaki tersebut. Zia yang tersentak dengan gerakan tiba-tiba Airin, kini ikut bangkit dengan wajah bantalnya yang sembab.


"K-Keano ... Kau datang?" lirih Airin tak percaya. Gelora amarah dalam dirinya perlahan padam seolah tersiram oleh senyum maut pria yang berjalan ke arahnya.


"Ayah!" teriak Zia, sontak melompat dari ranjang dan berlari menerjang tubuh Keano.


"Ayah pulang. Maaf, Ayah terlambat." Keano meraih Zia dalam gendongan. Melanjutkan langkah menuju ranjang dimana Airin masih terpaku di tempatnya.


Keano menurunkan Zia di atas ranjang. Ekor matanya tak bisa lepas dari kemolekan tubuh Airin berbalut baju tidur yang sedikit tebal dengan jarak lumayan dekat.


"A-Ayah harus ke kamar mandi dulu." Keano menyapu setiap sudut kamar. Mencari bilik kamar mandi sekaligus berusaha mengalihkan atensi dari Airin yang tengah melayangkan tatapan horor padanya.


Setelah menemukan bilik yang dia cari, Keano pun bergegas memasukinya. Di sana dia membasuh wajahnya dengan air, berharap hal itu berhasil menetralkan kerja jantung yang bekerja terlampau keras.


"Sabar, Ke. Kau harus bisa menahan diri meski itu sulit. Fighting!" monolog Keano seraya memandangi pantulan wajah lelahnya di depan cermin.


Setelah melakukan beberapa peregangan badan, Keano keluar dari kamar mandi dengan senyum manisnya. Dirinya sudah disambut oleh senyum ceria Zia dan tatapan salting dari Airin di atas ranjang sana.

__ADS_1


"Apakah kita tidur bertiga di ranjang ini?" tanya Keano memastikan. Sebab Airin masih setia dengan posisi rebahannya.


"Zia tidak mengijinkanku untuk pindah ke kamar sebelah. Lagi pula kamar itu belum dibersihkan," adu Airin.


"Kemari, Ayah. Ranjangnya masih muat kok." Zia menggeser posisi menjadi lebih dekat dengan Airin, sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.


Glek.


'Semoga aku bisa menahan diri,' harap Keano dalam hati. Tak sengaja melihat gunung kembar Airin yang sedikit menyembul dari bajunya yang tak terkancing di bagian atas.


"Selamat malam, Bunda, Ayah," ucap Zia menoleh pada kedua orang dewasa itu bergantian.


"Selamat malam, Zia," sahut keduanya. Airin mengecup lembut kening Zia sebelum menyamankan posisinya kembali.


Namun Zia tak kunjung memejamkan mata. Dilemparkannya pandangan pada Airin dan Keano secara bergantian seolah menunggu sesuatu.


Airin dan Keano saling bertukar pandang, paham apa yang diinginkan oleh Zia.


"Selamat malam ... Sayang," ucap Keano menatap Airin penuh arti. Membuat aliran darah pada wanita yang dia tatap mengalir lebih deras dari sebelumnya.


Airin membuang muka dari netra monolid itu, menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. "Selamat malam."


Zia yang memang sudah mengantuk sedari tadi segera memejamkan mata. Tak memerlukan waktu lama baginya untuk meraih alam mimpi.


Setiap denting jarum jam terdengar bagai menyiksa batin Keano. Netranya belum bisa terpejam sama sekali. Iseng dia melirik ke arah Airin yang sudah memejamkan mata di seberang sana.


"Aku tahu kau belum tidur," sindirnya. Meletakkan punggung pada kepala ranjang.


Airin membuka mata sambil berdecak. "Kenapa kau terlambat? Tidak kasihan dengan Zia yang menunggumu sampai selarut ini?"


"Maaf. Sebenarnya aku sudah duduk di ruang tamu sebelum Rain pulang tadi. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan debaran jantung yang berulah, karena aku terlalu excited di hari pertama bersanding dengan putriku di ranjang ini." Keano membelai pelan rambut Zia.


"Maaf juga sudah berniat menonjok wajahmu tadi."


Keano tersenyum. "Lakukan jika kau ingin. Aku tidak akan menghindar."


"Aku tidak akan menahan diri."

__ADS_1


"Bukankah kita sudah semakin dekat dengan impian kita?" Keano menerawang ke langit-langit kamar.


Airin tersenyum getir.


"Seperti ini saja dulu. Aku belum ada niat serius denganmu. Hatiku masih ragu. Kalau bukan karena Zia, aku pasti sudah menendangmu keluar dari sini. Asal jangan ambil Zia dari sisiku," sungutnya.


"Aku akan menunjukkan keseriusanku. Mana tega aku memisahkan seorang ibu dari anaknya. Jika aku menginginkan anaknya, begitu pula dengan ibunya. Satu paket." Keano menyeringai sembari memainkan alisnya.


"Bagaimana dengan Celia?"


"Aku sudah mengurusnya. Sebentar lagi fakta akan terkuak."


Airin mengerutkan dahi memandang senyuman yang sulit diartikan terpahat di wajah tampan pria itu.


"Umm, aku akan pindah ke sofa depan." Airin menyibakkan selimut, satu kakinya sudah ia turunkan di atas lantai.


"Biar aku saja." Keano mengajukan diri.


"Aku tidak mau merusak momen penting ayah dan anak. Ini pengalaman pertamamu, bukan?"


"Aku tidak mau ibu dari anakku menderita nyeri tulang belakang karena tidur di sofa semalaman." Keano bangkit dari ranjang setelah mendaratkan kecupan di dahi Zia yang tertidur lelap.


Melihat kepergian Keano dari kamar, Airin merasa sedikit lega.


"Tunggu, Ke," cegahnya.


Keano berbalik seraya menaikkan alisnya.


Airin menyerahkan selimut tebal dan bantal untuk Keano. "Have a nice dream."


Keano tersenyum cerah menanggapi perhatian Airin.


"I love you," bisiknya di telinga Airin seraya mengambil selimut dan bantal dari tangan wanita itu. Kemudian melenggang keluar disertai senyum jahil yang terukir di bibirnya.


Seluruh sendi Airin menegang karena bisikan dan deru nafas hangat menerpa telinganya.


"Brengsek," umpat Airin. Sadar Keano berhasil menggodanya.

__ADS_1


Sedangkan di sebuah kamar, seorang pria yang tidur seorang diri sedang didera insomnia akut karena overthinking yang berlarut. Membayangkan seorang pria dan wanita yang tidak terikat dengan hubungan sah berada dalam satu atap.


Apapun bisa terjadi, bukan? Pikirnya kalut.


__ADS_2