
"Bagaimana?" tanya Keano yang baru saja sampai di ruangan Rain yang terletak di sudut kafe tanpa basa-basi.
"Kau tidak ingin duduk santai sambil menikmati kopi dulu?" tawar Rain.
"Katakan saja sampai mana pekerjaanmu."
Sebetulnya Rain sedikit tidak suka dengan pria yang kurang sopan itu. Tapi demi kebahagiaan wanita yang dicintainya, dia rela terjun lebih dalam pada permasalahan yang dihadapi Keano.
"Baiklah jika itu maumu. Jangan salahkan aku kalau kau mati kehausan di sini," dengus Rain setengah kesal.
"Haha. Kelakar yang bagus. Cepatlah, aku sudah tidak sabar sampai mana kehebatan anak buahmu."
Rain melayangkan tatapan tajam. Seandainya saja jika pria di depannya itu bukan ayah dari Zia, dia mungkin sudah menguliti Keano dengan pisau lipat super tajam yang selalu ada dalam saku celananya. Lalu menjadikan daging Keano menjadi santapan piranha di markas anak buahnya.
"Orangku sudah menemukan pria yang kau temui di rumah sakit waktu itu. Dia mengaku bertemu dengan Celia di sebuah klub malam. Dan dia tidak sendiri."
Rain mengambil nafas sejak lalu melanjutkan. "Oleh karena itu anak buahku mengunjungi tempat tersebut dan terpaksa meretas CCTV di sana. Sebab manager mereka tidak mengijinkan kami untuk memperlihatkannya pada kami karena privasi."
"Lalu?"
"Banyak adegan yang kami dapatkan dari CCTV itu. Termasuk adegan syur di dalam salah satu kamar yang tak jauh dari sana."
"Adegan syur?"
"Gangbang."
"What?!" Keano melebarkan mata. Tubuhnya menegang mendengar ucapan terakhir yang meluncur dari bibir Rain.
"Untuk lebih jelasnya, silahkan melihat foto dan video yang aku kirim melalui chat." Rain mengotak-atik ponselnya.
__ADS_1
Getaran pada ponsel Keano yang tersimpan di saku celananya membuat debaran jantung pria itu makin berulah.
Netra monolidnya tak lepas dari layar ponsel. Awalnya dia masih bisa menahan diri melihat foto wanita yang dikenalnya sedang dikerumuni gerombolan pria. Namun yang membuat kepalanya mendidih saat layar ponsel itu menampilkan suatu adegan menegangkan.
Bahkan tak henti-hentinya dia menelan saliva dan mengumpat, melihat setiap pergerakan para pemain ahli di sana. Giginya bergemeretak mendengar desah menggoda dan wajah keenakan dari satu-satunya pemeran wanita dalam film itu.
Brak!
Keano melempar asal ponselnya di atas meja dengan layar menyala—masih menampilkan adegan tak senonoh yang terus berlanjut.
"Ular piton sialan! Dasar ja lang!" sarkasnya dengan wajah merah padam.
"Hal itu belum membuktikan jika janin dalam kandungannya bukan benihmu," tukas Rain.
"Apa kau buta? Lihat perbuatannya itu."
"Tapi bukti pada video ini sudah jelas."
"Bahkan kau juga pernah menyentuhnya sebelum adegan dalam video ini terjadi." Rain menaikkan nada suaranya.
Keano terdiam. Menyadari kebodohannya yang sudah terperangkap dalam permainan licik Celia. Rain pun menahan gejolak hati yang ingin egois menjauhkan Airin dari pria di hadapannya.
Menurutnya Keano bukan pria yang baik untuk Airin. Tetapi pengakuan yang didengar malam itu memupuskan seluruh harapan dalam diri Rain. Kenyataan bahwa Airin masih menaruh hati pada pria brengsek itu meyakinkan Rain untuk mundur teratur dengan sportif.
Setidaknya, sebrengsek apapun Keano, Rain akan terus memantau pergerakan pria itu hingga tiba masanya untuk mematahkan tulang-tulangnya satu persatu.
"Bagaimana caramu mendapatkan sempel dari DNA janin Celia?" tanya Keano setelah pergulatan batin dalam diri mereda.
"Itu hal mudah." Rain menampilkan smirk yang jarang ditunjukkannya pada orang lain.
__ADS_1
"Dengan tes amniosentesis," sambung Rain.
"Aku tahu. Tapi bagaimana caramu melakukannya bahkan wanita itu selalu menolak jika aku membahas tes DNA padanya."
"Bius total."
Keano melongo. Bahkan pria seperti Rain dengan teganya melakukan bius total pada ibu hamil.
"Bagaimana keadaan Celia sekarang?" tanya Keano khawatir. Meski dia membenci wanita licik itu, mengingat Celia tengah hamil, rasa simpati masih melekat dalam dirinya.
"Masih dalam pengaruh bius. Tapi tenanglah. Dia ada di tangan ahli. Aku mengerahkan dokter spesialis dan perawat yang tidak kaleng-kaleng."
Keano mangut-mangut. Setidaknya dia tidak merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Celia dan janinnya. Dia percaya pada Rain.
"Apa kau menculiknya?" tanya Keano lagi.
"Orangku sudah ahli dalam hal itu," balas Rain dengan santai.
"Terima kasih. Aku sudah mempercayakan tugas ini pada orang yang tepat. Kalau begitu aku permisi." Keano beranjak dari bangku usai berjabat tangan dengan Rain.
Informasi dan bantuan dari Rain bisa membuatnya tidur nyenyak malam ini.
"Sama-sama. Jangan lupakan janjimu. Bantuanku tidak gratis." Rain menatap Keano dengan serius.
"Karena kau bekerja dengan baik, maka aku akan berusaha sebaik mungkin. Sampai jumpa," pamit Keano.
"Aku harap begitu," gumam Rain, memandangi tubuh Keano yang perlahan tak terlihat karena terhalangi pintu ruangan yang tertutup.
"Bukannya aku menyerah, Airin. Aku hanya berhenti mengharapkan cintamu, namun hatiku masih untukmu. Akan terus seperti itu." Rain masih menatap nanar daun pintu yang sudah tertutup sepenuhnya itu.
__ADS_1