Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 20. Kenangan saat Hujan


__ADS_3

"Zia, ayo buruan. Sudah gerimis ini."


Keano mempercepat langkahnya menuju mobil yang ia parkir di pinggir taman.


Menoleh ke belakang untuk memastikan Zia mengikutinya. Ia menghela nafas saat melihat Zia malah menghentikan laju sepedanya, lalu menengadah ke atas.


Mulut mungilnya terbuka lebar, seolah ingin memakan air hujan yang jatuh menyentuh wajah. Keano sedikit menarik ujung bibirnya, namun tak bertahan lama. Karena gerimis itu perlahan semakin deras.


Keano segera menghampiri Zia.


"Ayo, Zia," ajaknya sambil menarik tangan gadis kecil itu.


"Zia suka hujan, Om. Boleh ya, Zia main hujan-hujanan sebentar," pinta Zia, menatap Keano penuh harap, dengan mata bulatnya yang bening.


'Argh. Kenapa dia sangat imut?!' batin Keano, sampai gemas dibuatnya.


"Baiklah," sahut Keano yang mendapat pelukan dari Zia.


Mau tak mau Keano hanya mengiyakannya meski sebenarnya tak setuju. Siapa tahu ia akan menanggung kemarahan orang tua Zia, karena membiarkan anak kecil itu bermain air hujan.


Siapa suruh mereka melalaikan tugas untuk menjaga anaknya?


Keano memasukkan sepeda super mini Zia ke dalam bagasi mobil. Untung saja ukurannya yang amat mungil bisa muat di sana. Tak lupa juga untuk mengambil payung yang selalu disediakan di dalam mobil, lalu segera menggunakannya untuk menghalau air hujan yang sudah membuat sebagian tubuh dan bajunya menjadi basah.


Dari tempatnya berdiri ia melihat Zia sedang menari-nari di bawah guyuran air hujan. Senyuman manis terus merekah dari bibir mungilnya yang sesekali bergerak-gerak. Sepertinya Zia sedang bernyanyi.


Tiba-tiba Keano teringat dengan seseorang. Seorang gadis yang sangat menyukai hujan.


Hingga muncullah kenangan kala itu....


...*...


Keano memandangi wajah Airin yang sudah basah terkena bulir-bulir derai hujan. Tak kalah basah kuyupnya dengan penampilannya sekarang.


Saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah lapangan basket. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat lalu. Membuat dua sejoli itu bebas bermain air hujan tanpa memperdulikan tatapan jengah dari para guru.


"Airin... " panggil Keano, masih memperhatikan Airin dengan lekat.


"Ya?"


"Apa impianmu di masa depan?"


Airin mengerutkan dahinya. Memandangi netra monolid Keano sejenak, senyumnya pun merekah, dan tiba-tiba pipinya yang putih bersemu merah.


"Menikah denganmu."

__ADS_1


Jawaban yang cukup membuat Keano tersentak. Ia tak menyangka Airin akan mengatakan hal itu.


"Apa kau melamarku?" goda Keano.


"Aku tidak mengajakmu menikah. Hal itu yang terlintas dibenakku saat ditanya tentang masa depan."


"Baiklah, akan kubantu mewujudkan impianmu itu."


Cup.


Keano mengecup bibir Airin sekilas. Yang dihadiahi dengan pukulan di dada oleh gadis yang sedang menahan malu itu.


Bagaimana tidak?


Tingkah mereka berdua disaksikan oleh murid-murid yang belum pulang dan masih berada di aula sekolah. Di antara mereka ada Celia yang memandang dengan tatapan horor. Seolah siapa saja yang menjadi sasarannya akan dimakan bulat-bulat.


"Cie... Cie...." Para siswa di pinggir lapangan mulai menyoraki ke-uwuan mereka.


"Dunia serasa milik berdua, yang lainnya cuma nyewa," celetuk salah satu dari mereka.


...*...


Keano tersenyum geli mengingat kenangan beberapa tahun silam. Hingga ia melupakan Zia yang sudah terlalu lama bermain hujan.


Terlalu hanyut dengan kenangan masa lalu hingga membiarkan Zia bermandikan lumpur di sana.


"Tik... Tik... Tik... Waktu berdetik. Tak mungkin bisa kuhentikan—Eh, salah lirik .... "


Keano hampir tertawa keras mendengar kelucuan Zia.


"Tik... Tik... Tik... Bunyi hujan di atas genting—"


"Zia. Sudah yuk? Nanti sakit lho." Keano segera menjeda nyanyian Zia.


"Lagi seru nih, Om. Main yuk? Temenin Zia."


Keano berdecak kecil.


"Sudah dong. Nanti kamu sakit. Om, tidak suka hujan."


"Kenapa?"


"Dulu suka. Tapi sekarang tidak."


"Kenapa sekarang tidak?"

__ADS_1


"Karena, hujan mengingatkan, Om sama... Ai—Karena Om sudah dewasa. Itu saja." Keano langsung meralat ucapannya.


Merasa tak perlu menceritakan masa lalunya pada Zia. Dia yakin gadis kecil itu tak akan paham, dan akan terus bertanya sampai dia puas dengan jawaban yang dilontarkan Keano.


Zia menatap Keano, seolah meminta jawaban lebih.


"Memang kalau sudah dewasa tidak boleh main hujan, ya?"


Nah kan, anak ini.


Keano memejamkan matanya sejenak sambil mengatur nafas. Kemudian menjawab, "Karena hujan bisa buat Om sakit, Zia."


Zia mangut-mangut.


"Iya deh. Zia udahan."


Zia pun bangkit, mendekati Keano dengan tubuh berlumpurnya. Membuat pria itu memutar bola matanya–jengah–sambil mendengus kasar.


'Kalau saja dia tidak imut, mungkin sudah kutinggalkan saja di taman,' pikir Keano, memperhatikan baju Zia yang benar-benar kotor.


.


.


.


"Berhenti, Om!" pekik Zia.


...***...


Celia terbangun dari tidurnya dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Area sensitifnya terasa sangat sakit. Ia tak pernah merasa sesakit ini jika melakukannya dengan pria lain selain Keano.


"Brengsek!" umpatnya.


Berusaha beranjak dari ranjang, namun gagal. Ingin sekali ia menghubungi Keano untuk membantunya pulang ke hotel. Namun segera diurungkan, karena mengingat sikap ketus mantan suaminya itu.


Tiba-tiba pandangannya mulai buram, tertutup air bening yang sudah turun dari pelupuk mata.


"Kenapa aku harus menangis? Bukankah aku sudah sering melakukan hal ini? Tapi ini sakit .... " racau Celia sambil menggigit bibir bawahnya.


Pandangannya turun memperhatikan tubuhnya yang sudah seperti macan tutul. Lalu kembali merebahkan tubuh polos tanpa sehelai benang itu. Kepalanya kembali berdenyut, tatkala mengingat sikap Keano padanya.


Diacuhkan Keano ternyata lebih sakit daripada dilecehkan oleh segerombolan pria tak dikenal.


Ditariknya selimut tebal yang berada di bawah ranjang, kemudian menenggelamkan diri di dalamnya. Menangis sesenggukan, sebelum akhirnya kembali terlelap.

__ADS_1


__ADS_2