Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 26. Drama Queen


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan hampir dini hari. Namun suasana di sebuah bar nampak masih ramai dengan orang-orang yang sedang menikmati berbagai minuman, bercanda ria, melenggak-lenggok mengikuti irama musik, atau bergumul di sebuah ruangan privat.


"Akh! Sakit. Orang-orang sialan. Beraninya main keroyokan. Apakah Airin sengaja membayar mereka untuk menyerangku?!" geram seorang lelaki yang sedang duduk di salah satu kursi bar, tangannya menyentuh beberapa luka lebam di wajah.


Meski luka itu sudah terlihat samar, tapi nyerinya masih terasa.


Tempo hari beberapa orang tak dikenal mengeroyoknya hingga babak belur. Rival berinisiatif untuk berpura-pura pingsan saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Di saat itu pula, ia mendengar salah satu dari oknum pengeroyok itu menelpon dan menyebutkan nama Zia.


Juga sebelum mereka meninggalkan dirinya yang sedang terkapar, mereka mengancam untuk tidak mendekati Airin.


"Tidak-tidak. Aku kenal betul siapa Airin, dia tidak akan berbuat hal sepicik ini. Bahkan orang-orang itu mengatakan soal Zia. Siapa Zia sebenarnya? Sepertinya ada hubungannya dengan Airin. Aku harus mencari tahu."


Rival mengakhiri argumennya dengan meneguk segelas wiski sampai habis. Berharap minuman itu bisa menghilangkan rasa sakit yang dirasakan di beberapa bagian tubuhnya.


Sebelum akal sehatnya terbang ke awang-awang, ekor mata Rival sempat melihat dua orang yang ia kenal.


"Airin ... Dan... Keano?"


Memicingkan matanya agar dapat melihat dua orang yang sedang berjalan menuju pintu keluar bar tersebut dengan lebih jelas.


"Ternyata Airin masih berhubungan dengan pria itu. Lalu siapa pria yang tiba-tiba datang dan menyerangku waktu di rumhanya?"


"Airin bermain-main dengan dua pria sekaligus rupanya. Hmm, menarik," gumam Rival.


Sepasang matanya tak lepas menatap Airin yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Wanita itu nampak tak memperhatikan sekitar, karena tengah membatu Keano yang nampak sudah teler keluar dari bar dengan mulut komat-kamit tak jelas.


Tentu saja Rival mengenal Keano. Diam-diam ia sering mengamati sepupunya, Airin, waktu masih tinggal satu rumah dulu, sering diantar pulang oleh teman satu sekolah yang ternyata adalah Keano, pacarnya.


...——————————...


Tiga puluh menit sebelumnya....


Drrtt ... Drrtt ....


Telepon Airin berbunyi beberapa kali. Sempat diabaikan, tapi naasnya ponsel itu tetap saja berdering tak kenal lelah.


"Halo?" Akhirnya Airin mengangkatnya dengan mata yang masih terpejam.


Pasalnya ini sudah tengah malam. Siapa orang iseng yang menghubunginya di saat jam tidur seperti ini?


"Maaf saya menggangu. Tapi pemilik ponsel ini sedang mabuk berat, dan dia terus menyebutkan nama Airin. Apakah itu benar anda?"


"I-iya .... " Mata Airin langsung terbuka dengan sempurna. Segera melihat nama pemilik nomor yang sedang menghubunginya.


'Keano?!' batinnya, terkejut.


"Bisakah anda kemari, Nyonya?" Suara dari seberang sana yang sempat Airin abaikan untuk mengumpulkan nyawa sejenak.


"Halo? Bagaimana, Nyonya?"


"Ah, i-iya. Dimana?"


Plak!


Airin menepuk dahinya sendiri, menyadari akan kesalahannya barusan. Untuk apa ia masih peduli dengan Keano? Kenapa tidak membiarkannya tergolek di sana saja?


"Dasar bodoh. Kenapa aku harus peduli padanya? Arghh!"

__ADS_1


Terus merutuki kebodohannya di sepanjang jalan, saat sudah meluncur ke tempat yang disebutkan oleh si penelpon. Setelah mengirim pesan singkat jika ia menitipkan Zia pada Rain tentunya. Berharap pria itu membaca pesannya.


Keano sialan, selalu saja menyusahkan.


Kekesalannya hampir mencapai puncak saat ia harus membawa Keano yang hampir teler keluar dari bar itu. Aroma minuman beralkohol mendominasi indera penciumannya, membuat kepalanya semakin pusing saja.


Airin terus menggerutu tak jelas pada Keano, meski pria itu tak mengerti apa yang diucapkannya.


...——————————...


Brugh!


"Astaga... Huh! Badannya berat sekali. Apa dia kebanyakan dosa?" sungut Airin, setelah mendorong tubuh Keano ke atas ranjang.


Kini mereka sudah sampai di apartemen Keano.


"Tugasku sudah selesai. Mobilmu sudah ada di basement, seorang bartender yang membawanya kemari. Kau harus berterima kasih padanya, karena mau saja direpotkan olehmu. Aku pulang," pamit Airin, tak lupa dengan ocehan panjang kali lebarnya, kemudian berbalik.


Grep!


Tiba-tiba Keano mencekal tangan Airin yang hendak pergi.


"Ke, lepaskan. Aku harus pulang. Zia sendirian di rumah." Airin melepas paksa genggaman tangan Keano.


"Jangan tinggalkan aku ... Aku tak bisa hidup tanpamu .... " racau Keano.


"Ke, please ... Lepas!"


Set!


Brugh!


"Keano! Sadarlah!" Airin terus memberontak melepaskan diri.


Namun gagal. Pria itu malah semakin mempererat pelukannya. Hingga Airin lelah dan akhirnya pasrah. Alhasil–dengan sangat terpaksa–malam ini Airin terlelap dalam pelukan Keano.


Ting... Tong...


Suara bel memaksa Airin terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Enghh ... Sudah pagi, ya?" lenguh Airin, hendak merentangkan tubuhnya. Namun terasa sulit.


"Astaga!" Terlonjak kaget saat sadar ia masih ada dalam pelukan pria yang kini sudah tidur disampingnya dengan raut wajah seperti malaikat itu.


'Malaikat apanya? Malaikat maut lebih tepatnya. Sadarlah Airin!' akal sehatnya mencoba mengingatkan.


Lagi-lagi netra Airin dipaksa untuk memperhatikan wajah itu dengan lekat. Wajah tampan yang terlihat tenang dengan seringai tipis di bibirnya. Wajah yang dulu selalu ingin ia lihat.


"Lagi terpesona ya?"


Deg.


Seringai tipis itu kini sudah digantikan dengan senyuman menyebalkan.


"Jangan ge-er," ketus Airin, langsung beranjak dari posisinya.


Airin duduk di ujung ranjang dengan membelakangi Keano, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Akhh! Kepalaku rasanya mau pecah," keluh Keano yang sudah duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

__ADS_1


"Aku tadi mendengar bunyi bel," ujar Airin, berusaha bersikap biasa.


"Pasti layanan kamar, biar aku periksa."


Brugh!


Mendengar suara dentuman benda jatuh, Airin menoleh.


" Keano?!"


Dilihatnya pria itu sudah terduduk di atas lantai. Ia pun segera menghampiri.


"Tiduran dulu saja, biar aku yang bukakan pintu," tawar Airin, entah mengapa ia merasa khawatir melihat Keano tak berdaya seperti ini.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Tapi, nanti bantuin aku kalau mau ke kamar mandi, ya?" goda Keano mengerlingkan matanya. Segera berdiri, lalu meninggalkan Airin yang menatapnya horor.


'Cute banget sih, jadi pengen makan itu bibir.' Akal jahil Keano mulai berulah.


Ceklek.


Celia?!


Keano terkejut melihat siapa tamunya pagi ini.


"Ke, bolehkah aku pamit? Aku harus—"


Airin yang tiba-tiba datang menggantungkan ucapan saat netranya bertatapan dengan tamu Keano, yang tak lain adalah mantan sahabatnya, Celia.


"Kau!"


Keano seperti berada di tengah kubu peperangan. Merasakan situasi yang begitu mencekam, hingga mampu membuat bulu kuduknya berdiri.


Untuk menetralisir segala kekacauan yang bisa saja terjadi, Keano langsung menarik Celia ke dalam apartemen, setelah mampu mencerna keadaan dengan akal sehatnya.


Airin yang berniat untuk segera pulang, karena tiba-tiba merasakan aura negatif, malah ditahan oleh Celia. Ada hal penting yang perlu mereka bicarakan, katanya.


Keano duduk dengan canggung di antara dua wanita yang sama-sama menunjukkan ekspresi siap berperang.


Celia mengeluarkan sebuah amplop, lalu memberikannya pada Keano tanpa berkata-kata lagi. Pria itu pun langsung mengetahui isi surat tersebut. Ia membukanya dengan tangan bergetar.


Airin mengerutkan dahi memperhatikan dua orang di hadapannya.


"Benarkan. Aku tidak berbohong. Aku hamil anak kamu, Keano," ujar Celia membanggakan diri, sambil melirik Airin.


Deg.


Airin mematung di tempat mendengar penuturan Celia.


Apa ini? Inikah hal penting yang ingin dibicarakan oleh Celia? Tapi, bukankah mereka sudah bercerai?


"Apa kau yakin, ada kehidupan di perutmu itu?" Keano memicingkan matanya, memperhatikan wanita dengan tatapan angkuh itu.


Celia meraih tangan Keano yang bergetar, membimbingnya agar menyentuh perutnya yang masih datar.


Airin yang sudah tak sanggup berlama-lama melihat dua orang penghianat itu, sontak berdiri.


"Baiklah, seperti ini urusan kalian, dan tidak ada hubungannya denganku. Aku pergi."


Airin segera melangkah menuju pintu, beberapa tetes air mata sudah mulai membasahi pipi.

__ADS_1


"Aku hamil anak Keano. Jadi jangan dekati ayah dari calon anakku lagi, dasar ja-lang!"


__ADS_2