
"Om itu ... Ayah Zia."
Sontak ketiga gadis itu terkejut berjamaah.
Keano yang tak memperdulikannya segera menggendong Zia menuju mobil. Sedangkan Gendis dan Cilla masih dalam mode terkejut, tak bergeser dari tempatnya berpijak sama sekali.
"Om?" tanya Zia saat Keano sudah akan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ya?"
"Apakah benar, Om Keano ayah Zia?" Zia menatap Keano dengan mata membulat sempurna, yang menunjukkan sorot penuh tanya.
"Um... Itu—Om .... " Keano bingung menjelaskan. Harus mulai dari mana dia?
Kejadian ini diluar planningnya. Tadi dia hanya terbawa emosi sehingga frontal saja mengatakan hal itu.
Apakah Zia akan menerimanya sebagai ayah dengan suka rela? Ataukah Zia akan marah? Karena setelah sekian lamanya ia baru menampakkan diri.
Berbagai pertanyaan mengenai tanggapan Zia, terus berkecamuk dalam kepala Keano. Ragu untuk mengungkapkan identitasnya saat ini. Keano resah, dia sendiri belum siap menerima respon Zia. Apalagi Airin.
Takut gadis kecil itu akan hancur. Benar kata Airin, belum saatnya menjelaskannya pada Zia saat ini.
"Ehem!" Suara deheman seseorang yang sangat Keano kenal, bersumber dari belakang punggungnya.
Membuat ayah dan anak itu menoleh bersamaan dengan tatapan polos.
"Bunda!" pekik Zia girang, sudah menghambur dalam pelukan Airin.
"Hai, Bunda—eh, maksudku Airin," sapa Keano tersenyum kikuk, sambil mengusap tengkuknya.
Gestur ini sangat Airin hafal. Keano pasti habis melakukan kesalahan. Membuatnya langsung melayangkan tatapan horor pada pria itu.
"Kenapa kau ada di sini?!" ketus Airin, menahan kesal.
"Soalnya ada kamu—eh bukan. Tadi aku sedang jalan-jalan, dan tidak sengaja lewat sini. Lalu melihat Zia masih ada di sekolah. Jadi .... " Keano mengendikkan kepalanya pada Zia, meminta pembelaan.
__ADS_1
Seolah tak paham, Zia hanya memperhatikan dua orang dewasa itu dengan tatapan polosnya.
Yang satu sudah meletakkan tangannya di depan dada, sambil menatap garang seperti monster. Persisi posisi yang ditunjukkan ketika sedang marah padanya karena tidak menurut.
Sedangkan yang satu lagi tetap mempertahankan tatapan polosnya, ditambah dengan cengiran kaku yang membuatnya terlihat lucu.
Airin menghela nafas kasar, sambil menutup matanya sejenak. Menahan umpatan untuk Keano agar tidak lolos begitu saja dari mulutnya, karena ada Zia di dekatnya.
"Zia ayo pulang."
Menarik Zia menjauh dari sana. Airin segera mengajaknya pulang. Daripada akal sehatnya lenyap karena kutil anoa menyebalkan itu.
Sepasang netra tajam memperhatikan keluarga kecil itu dari kejauhan.
Rival mengintai dengan mempertimbangkan jarak aman dari dalam mobilnya. Menyeringai tipis saat menyimpulkan bahwa ada hubungan khusus diantara Airin, Keano, dan Zia.
"Mari kita buktikan," gumamnya.
Airin sadar, Keano adalah tipe orang yang tidak suka diatur. Prinsipnya aturan dibuat untuk dilanggar. Kata jangan, akan membuatnya semakin penasaran. Keano akan tetap melakukan apa yang dia mau.
Mendengar nada ketus dari Airin, Zia menunduk dalam sambil memainkan seatbelt-nya.
Sejenak Airin merasa bersalah. Hatinya mulai melunak. Dielusnya pucuk kepala Zia dengan lembut.
"Maaf, Bunda tidak bermaksud marah sama Zia."
Zia mendongak perlahan. Kini netra beningnya menatap Airin dengan ragu-ragu.
"Bukankah om Keano teman, Bunda? Bunda juga mengenalnya, bukan? Terus kenapa Bunda tetap menyebutnya orang asing?"
'Bagaimana cara menjelaskannya? Zia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban yang masuk akal. Apakah dia harus mengatakan, " Iya, om Keano adalah teman Bunda, dan kami punya masa lalu dulu. Tapi, dia sudah menyakiti Bunda, jadi jangan dekati om Keano lagi, oke?" Tidak-tidak. Hal itu akan membuat Zia semakin penasaran. Bisa saja Zia salah paham dengan kata menyakiti.' Airin bermonolog dalam hati, memilah kata yang tepat agar Zia paham.
Tidak mungkin Airin mengajarkan Zia untuk membenci seseorang. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Zia tentu belum paham dengan permasalahan kedua orang tuanya.
Intinya, Keano adalah bencana yang harus dihindari. Dan Zia harus terhindar dari bencana itu. Khawatir jika Zia akan sama hancurnya seperti Airin jika terus berada dekat dengan Keano. Lambat laun masalah yang mereka sembunyikan akan terbuka juga dihadapan anak sekecil Zia.
__ADS_1
Oh, tidak boleh.
"Pokoknya Zia jangan dekat-dekat dengan om Keano," final Airin yang pikirannya sudah buntu. Alasan logis pun gagal ia utarakan ketika sudah menyangkut tentang Keano.
"Tapi kenapa, Bunda? Om Keano baik kok."
"Om Keano tidak sebaik yang Zia kira."
Zia mengerutkan dahinya.
"Om Keano orang jahat?"
Aduh! Salah ngomong sepertinya.
"Bagaimana, ya? Om Keano memang teman Bunda. Tapi itu sudah lama. Lama sekali. Hingga sekarang Bunda menganggapnya orang asing. Karena kami lama tak berjumpa."
Zia mangut-mangut.
Fiuh, sepertinya Zia paham. Pada akhirnya kau hanya akan menjadi orang asing yang tahu semua rahasiaku, Ke. Miris.
"Apa dulu om Keano sudah jahatin Bunda, sehingga kalian berpisah dan tidak berteman lagi?"
"Eh? I-itu ... Itu urusan Bunda sama om Keano, Zia belum mengerti," sanggah Airin.
"Bunda bilang om Keano teman Bunda. Tapi kenapa om Keano tadi bilang kalau dia ayah Zia?"
"What?!"
Citt!
Airin menginjak rem mendadak. Tubuhnya dan Zia sedikit terlempar ke depan karenanya. Untung saja seatbelt terpasang dengan baik, sehingga menghindari benturan kepala dengan kaca mobil.
"Zia jangan bercanda!"
"Tapi Zia serius, Bunda."
__ADS_1
Keano sialan! Dia bukan hanya mengabaikan ucapanku untuk tidak mendekati Zia, tapi dia juga sudah membocorkan kode nuklir sembarangan. Awas saja. Bersiaplah menghadapi ledakanku, Ke!