Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 55. Cinta itu Menyakitkan


__ADS_3

"Dasar buaya cap kadal. Kutil anoa menyebalkan!" berang Airin sembari memukul setir mobilnya dengan emosi meluap-luap.


Beberapa air bening bahkan sudah mengantri di kantung mata. Dia mengira ciuman tadi pagi adalah awal dari masa depannya. Namun pemandangan di depan sana memupuskan harapan Airin pada pria begajulan itu.


"Kau benar-benar bodoh, Rin. Masih saja menaruh harapan lebih pada pria seperti itu." Senyum tipis Airin berubah menjadi tawa ringan.


Menertawakan diri sendiri sebab terlena dengan segala keromantisan yang ditujukan pria itu padanya. Dengan perasaan hancur Airin memacu mobil menjauh dari area panas itu sebelum dadanya bertambah sesak.


"Aku memang harus membencinya. Dan aku masih berusaha untuk itu. Tapi kenapa hati ini tak mau menuruti perintahku?!" geram Airin pada diri sendiri.


Airin mengirim pesan pada Rain, memintanya untuk menjemput Zia tanpa memberitahu alasan yang jelas. Sebenarnya dia berniat mendinginkan suasana hati yang panas karena insiden tadi pagi. Namun malah pemandangan membagongkan yang dia temui.


Setelah mendapat jawaban dari Rain. Airin memacu laju mobilnya lebih kencang dengan tujuan yang ia sendiri pun tak tahu kemana kemauan hatinya bermuara.


...----------------...


Setelah menebus obat dan mendapat beberapa wejangan dari dokter, Keano segera melintasi jalanan dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai tujuan.


Usai mengantar Celia kembali ke hotel, Keano segera melesat menuju kediaman Airin. Dia cukup bersyukur dengan keadaan Celia dan janinnya yang ternyata baik-baik saja. Hanya terjadi sedikit rasa trauma karena suntikan jarum saat pengambilan cairan amnion.


Beruntungnya lagi, saat pemeriksaan berlangsung Celia malah tertidur karena kekenyangan menikmati beberapa jenis es krim yang dia pesan.


"Nomor Airin tidak aktif," keluhannya saat sudah dekat dengan rumah yang ia tuju.


Saat di tengah jalan, Keano tak sengaja berpapasan dengan mobil milik Rain. Dilihatnya Zia juga berada di dalam. Lalu kemana Airin?


Diliputi perasaan berkecamuk, pria itu memilih membuntuti mobil Rain dari belakang. Pemilik McLaren abu-abu menyadari Ferrari merah di belakang tengah mengikutinya. Namun dengan santai nan estetik Rain melajukan mobil hingga sampailah ia di rumah tujuan.


"Eh, Ayah?" Mata Zia berbinar mengetahui mobil Keano terparkir di belakang. Gadis itu bergegas keluar dari McLaren abu-abu yang ditumpanginya.

__ADS_1


Brugh!


Zia menubrukkan diri pada tubuh Keano, saat pria bernetra mirip dengannya itu baru saja keluar dari mobilnya.


"Ayah sudah pulang? Apa pekerjaan Ayah sudah selesai?" tanya Zia sembari menengadah memperhatikan wajah kusut Keano.


"Um ... Sudah. Bagaimana sekolahnya? Seru?" Keano mengalihkan pertanyaan Zia.


Zia mengangguk pelan, namun sorot matanya terlihat ragu.


"Kenapa Om Rain yang jemput? Bunda kemana?" tanya Keano kemudian.


"Airin ada perlu." Suara berat itu datang dari punggung Zia.


Sepasang netra tajam dan teduh dari masing-masing pria itu saling beradu. Membuat Zia terlihat bingung dengan arti tatapan keduanya. Kepalanya menoleh bergantian selama beberapa saat.


"Zia lapar."


Adapun Rain memiliki akses masuk ke rumah Airin segera membuka pintu depan lalu masuk ke dalam rumah. Tanpa memperdulikan Keano, dia mengajak Zia menuju ke dapur.


"Zia, ganti baju dulu sama Ayah," titah Rain pada Zia yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Siap, Om." Zia menarik tangan Keano saat pria itu baru saja sampai di dapur.


Rain melirik wajah terkejut Keano sejenak lalu melanjutkan kesibukannya. Membuatkan masakan dengan bahan yang masih tersedia di kulkas, dengan cekatan dan terlatih Rain bergelut dengan beberapa peralatan di dapur.


Tak lama kemudian, tiga piring nasi goreng omelette keju pun tersaji di atas meja makan.


"Mari makan," ajak Rain setelah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Mendengar makanan telah matang, Zia dan Keano muncul lalu bergabung di meja makan. Zia yang memang sudah lapar segera makan dengan lahapnya setelah berganti baju ditemani sang ayah. Sedangkan Keano masih terdiam memandangi piring di depannya.


"Kau tidak lapar?" tanya Rain pada Keano.


Zia menoleh ke arah pria itu. "Ayah tidak suka masakan Om Rain? Ini enak lho."


"Oh, iya. Ini Ayah makan," sahut Keano seraya menyendokkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya. "Benar, ini enak."


Zia tersenyum cerah melihatnya. Kemudian kembali fokus pada hidangan di depan.


"Setelah ini kita bicara," putus Rain, memahami kecemasan yang terpahat di wajah Keano.


Selesai makan, Keano bermain-main sebentar dengan Zia, lalu menemani gadis kecil itu untuk tidur siang atas anjuran Rain. Merasa Zia sudah terlelap, Keano kembali ke dapur untuk menemui Rain yang masih berada di sana.


Terlihat Rain duduk di kursi dapur, pandangannya menghadap ke arah jendela yang menghubungkan dengan halaman belakang. Sedangkan tangannya sibuk bermain gadget, hingga tak menyadari kehadiran Keano yang sudah mendudukkan diri di samping tempat duduknya.


"Kau mengetahui keberadaan Airin? Apa dia menghindariku?" tanya Keano tanpa bertele-tele.


Rain melirik dengan tajam. "Apa kau merasa sudah menyakitinya?"


"Tidak. Hanya terjadi insiden kecil tadi pagi. Tapi aku tak mengira dia akan semarah ini padaku." Keano melempar pandang ke halaman luar.


"Meragukan."


"Kau meragukanku? Aku tak berbuat macam-macam pada Airin," sungut Keano, menatap Rain dengan sengit.


"Ada yang terjadi dengannya. Aku yakin itu. Airin tak akan membiarkan Zia dijemput orang lain jika dia tidak benar-benar sibuk." Sorot netra Rain tak kalah sengitnya dengan Keano.


"Kami hanya berciuman, tidak lebih." Pengakuan Keano menerbitkan rasa perih dalam hati Rain.

__ADS_1


Pria itu tercengang untuk beberapa saat kemudian berujar, "Airin ada di danau dekat perbatasan kota. Bujuk dia pulang."


__ADS_2