
Ceklek
Dua insan yang sedang berada di ruang tamu itu terperanjat saat pintu tiba-tiba terbuka. Menampilkan dua manusia berbeda generasi tengah menatap mereka dengan tatapan polos.
Yang satu menatap dengan tatapan yang memang benar-benar polos, dan yang satu lagi pura-pura polos. Berusaha acuh dengan apa yang hendak mereka perbuat.
Keano segera beringsut menjauhkan bibirnya dari pipi wanita di sampingnya. Sedangkan Airin buru-buru menghapus jejak air mata yang masih tertinggal pada kedua netranya.
"Zia. Sudah Om katakan berapa kali. Ucapkan salam dulu sebelum masuk rumah," tegur Rain pada gadis kecil di sampingnya.
"Maaf, Om. Zia lupa." Zia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah seraya mengerjap-ngerjapkan netra bulatnya.
Tangan Rain reflek mengacak-acak surai gadis kecil tersebut sembari tersenyum hangat.
Diam-diam dia bersyukur kedua insan di ruang tamu itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Jika Zia sampai melihat mereka dalam keadaan yang tak diinginkan, entah apa yang bisa Rain jelaskan pada Zia nanti.
"Emm ... Hai," sapa Keano pada Rain dan Zia yang masih berdiri di ambang pintu, dengan tangan melambai kaku.
"K-kalian sudah pulang?" Airin berdiri dari duduknya.
"Sudah, Bunda. Umm, Ayah."
Deg.
Airin dan Keano termangu di tempat mendengar jawaban dari Zia. Mereka sempat saling melempar pandang sebelum kembali menatap ke arah Zia. Gadis kecil itu sontak menghambur dalam pelukan Airin yang masih terpaku di tempat. Keano pun mendekat, lalu berlutut menyamakan tingginya dengan Zia.
"Maafkan Zia, ya, Ayah .... " Zia menoleh ke arah Keano.
Perasaan haru tak dapat dibendung lagi. Seolah hari ini adalah hari pertama Keano menjadi seorang ayah seutuhnya. Diraihnya tubuh Zia ke dalam dekapan hangat.
Menyalurkan segala rasa yang selama ini dia idamkan sejak lama. Memiliki seorang anak. Bahagia yang tak dapat diutarakan lagi, sebab menyadari fakta jika anak itu berasal dari rahim wanita yang namanya selalu ia sebut dalam doa.
Rain ikut tersentuh melihat keluarga bahagia di hadapannya. Tak terasa setitik air bening sudah mengantri di pelupuk mata. Entah itu air mata haru atau kesedihan. Yang jelas ia merasakan sesak dalam dadanya.
"A-aku pamit." Tak sanggup menahan desakan rasa perih dalam hati, Rain memilih untuk undur diri.
"Rain, tunggu."
Deep voice itu menghentikan pijakan Rain yang sudah mundur satu langkah. Menengadah, memperlihatkan wajah dengan hias senyum tipis agar terlihat baik-baik saja, tatapan Rain tertuju pada netra monolid di depan sana.
"Mari kita bicara," lanjut Keano sebelum Rain sempat membalas panggilannya.
__ADS_1
Anggukan pelan menerbitkan senyum penuh arti di bibir Keano. "Ayah ada perlu dengan Om Rain. Zia sama Bunda dulu, ya?"
Setelah mendapat lampu hijau dari dua wanita di depannya, Keano pun melerai pelukan Zia. Lalu beranjak mendekati Rain yang sudah menunggu di depan pintu masuk.
'Semoga mereka tidak melakukan hal bodoh.' Dalam hati, Airin harap-harap cemas. Dia paham jika di masa lalu Keano tak pernah akur dengan Rain.
......................
Ferrari merah itu melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota yang lumayan ramai. Tak memakan waktu lama, kuda besi itu pun berhenti di parkiran salah satu kafe bergaya rustic modern.
Dua pria bertubuh atletis keluar dari dalamnya. Raut mereka sama-sama terlihat dingin dan tak ada seutas senyum pun terbit dari wajah mereka. Tak ada pula yang memulai percakapan, hingga bokong keduanya berakhir pada salah satu bangku di ujung kafe.
"Kenapa kau membawaku kemari?" Suara pertama kali datang dari Rain yang masih memasang raut dinginnya.
"Jelas ada yang ingin aku bicarakan, dan aku tak ingin orang lain mendengarnya." Keano memandang Rain dengan tatap serius.
"Katakan."
"Sebelumnya aku perlu berterima kasih karena sudah membuat Zia menerimaku sebagai ayahnya. Entah apa yang kau bicarakan pada Zia, aku sangat berterima kasih."
"Sama-sama. Apa cuma itu?"
"Sebenarnya iya." Keano mengusap tengkuknya. Terlihat jelas jika dia sedang gugup.
"Aku ingin kita berdamai. Kau tahu, mungkin kita tidak perlu menjadi musuh hanya karena merebutkan hati seorang wanita."
Rain tersenyum simpul. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuh."
"M-maksudku. Yah, aku .... "
Rain menaikkan alisnya. Menunggu kalimat yang akan terlontar dari bibir pria di seberangnya.
Keano nampak mengambil nafas berat sebelum berucap. "Aku minta maaf."
Rain masih terlihat menunggu Keano melanjutkan kalimatnya dengan wajah bak rentenir ketika menagih hutang.
"Oke, oke. Aku minta maaf atas segala perbuatanku di masa lalu." Keano memutar bola matanya jengah.
"Dan?" Rain masih menagih kelanjutan kalimatnya.
"Apa lagi? Aku sudah mengakui semua dosaku padamu."
__ADS_1
"Tentang Airin." Rain memberi clue.
"Oh. Itu ... Aku juga minta maaf sudah melakukan hal di luar batas hingga dia menderita seperti sekarang ini. Aku tahu semua masalah yang dia hadapi sekarang ini berasal dariku." Keano menunduk penuh sesal.
"Apa kau sudah minta maaf langsung pada Airin?"
"Sudah aku lakukan berkali-kali."
Rain tersenyum. Menjulurkan tangan agar mencapai bahu Keano lalu menepuknya pelan. "Semoga berhasil. Dia masih mengharapkanmu."
Keano terperangah. Menatap Rain dengan tatapan tak percaya.
"Benarkah itu?" tanya Keano memastikan.
"Aku serius."
"Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga mencintai Airin?"
"Aku tidak bisa memaksakan perasaan wanita yang aku cintai. Setiap orang mempunyai pilihan masing-masing."
"Tapi aku merasa jika Airin ada rasa padamu."
Jujurly, Rain terkejut. 'Apa itu benar?'
Tapi bukankah harapan yang terlalu besar pada seseorang hanya akan menghancurkan diri sendiri jika kenyataan tidak sesuai ekspektasi?
Maka Rain menganggap ucapan Keano hanya sebagai angin lalu.
"Tapi aku ada masalah lain." Keano mulai terbuka pada Rain.
"Apa itu?"
"Celia. Aku masih ragu dia hamil anakku atau tidak."
"Aku bisa membantumu."
Keano menatap Rain dengan binar tak percaya. Ingin tak percaya, tapi dia anak mafia. Tentu hanya mendapatkan informasi terkait Celia adalah hal mudah baginya. Hal ini malah sangat menguntungkan bagi Keano, tapi rugi untuk Rain.
"Tapi ada syaratnya," sambungnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Jaga Airin untukku. Jika kau menyakitinya hingga membuatnya patah hati lagi, maka aku tak akan segan untuk mematahkan setiap sendi dalam tubuhmu," balas Rain dengan mata mengancam.