
Pagi-pagi sekali Keano sudah dipusingkan dengan ponselnya yang terus saja berdering. Dia sangat lelah pagi ini.
Kemarin, dia seharian penuh bersedia menuruti semua keinginan Celia. Dengan syarat, wanita itu bersedia pergi dari apartemennya. Bukannya mendapatkan ketenangan, hidupnya malah terasa seperti diteror.
Sebenarnya Keano merasa tidak enak pada Airin. Raut kecewa yang ditunjukkan kemarin membuatnya terus memikirkan wanita itu hingga susah tidur. Alhasil, dia baru bisa tidur nyenyak saat dini hari. Baru kali ini Keano merasa lelah hayati dan rohani.
Drrtt... Drrttt....
"Halo, Airin?" Sekenanya Keano menyapa saat mengangkat panggilan yang terus mengusik mimpinya itu.
"Ini aku, Celia." Terdengar nada jengah dari seberang sana.
"Oh, ada apa?" tanya Keano acuh, matanya masih setia terpejam.
Seolah tak merelakan jam berharga untuk mengistirahatkan otak dan tubuh terganggu dengan sang penelpon.
"Antar aku ke rumah sakit. Perutku sakit sekali. Sepertinya keram."
"Kompres saja."
"Tapi ini sakit, No. Kau tidak khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak kita?"
"Tapi aku mengantuk—"
Keano buru-buru membuka matanya lebar-lebar. Berusaha mengusir rasa kantuk yang masih bersemayam pada diri. Mendengar kata 'anak kita' membuat perasaan bersalahnya kembali timbul.
Dulu ketika Airin mengandung anaknya, dia malah melewatkan berbagai momen penting saat menjadi calon ayah. Apakah sekarang ia tega melakukannya lagi?
"Aku segera ke sana. Bersiaplah."
"Baik. Hati-hati di jalan, Nono."
Pip.
Rumah sakit Husada
Dan di sinilah kini keduanya berada. Celia sedang mengisi formulir pendaftaran saat ekor mata Keano tak sengaja menangkap siluet seseorang yang tidak asing.
Seperti memiliki magnet, bayangan orang yang berdiri tak jauh darinya itu sontak menarik perhatian Keano. Netra keduanya pun bertemu.
"Airin .... " lirih Keano.
Aku tak pernah bisa tidak melihat ke arahmu.
Setelah mengucapkan kalimat itu dalam hati, magnet dalam diri Keano seolah tertarik mendekati kutubnya. Dirinya merasa sedang menjadi kutub negatif sedangkan Airin adalah kutub positifnya.
Nampak wanita yang didekati Keano terlihat panik dan hendak melancarkan jurus seribu kaki untuk menghindari dirinya.
Grep!
"Rin, tunggu!"
__ADS_1
"Lepas, Ke. Aku harus ke kantin."
"Baiklah, kau ini perhatian sekali. Aku belum sempat minum kopi pagi ini. Mari kita ke kantin."
Tanpa menunggu persetujuan, Keano menarik tangan Airin seenaknya. Terlupa dengan tujuan awal dia datang ke rumah sakit ini.
Di sisi lain, Celia yang sudah menyelesaikan pendaftaran kini celingukan mencari keberadaan Keano yang tiba-tiba raib entah kemana.
"Baiklah. Kenapa kau ada di sini? Apa kau sengaja mengikutiku?" tanya Keano, sudah mendudukkan diri di salah satu kursi kantin.
Airin yang memang sedang menunggu kopi pesanannya terpaksa duduk di seberang Keano.
"Jangan kepedean."
"Lalu?"
"Lalu?!" Hampir saja Airin kembali mengeluarkan taring.
Namun secepat kilat ditahannya. Untuk apa ia marah? Hubungannya dengan Keano hanya sebatas orang asing yang tak sengaja bertemu.
Memberitahukan kondisi Zia saat ini pun rasanya enggan. Kemarin saja Keano seperti tidak khawatir mendengar Zia hilang. Jika benar pria itu peduli, bukankah seharusnya dia sudah membantu mencari Zia?
Ayah tidak ada hati. Mungkin saja hatinya sudah berubah wujud menjadi emot batu.
"Tidak ada urusannya denganmu," geram Airin kemudian.
Mereka pun saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga pesanan mereka kini telah sampai di atas meja. Airin yang urusannya di sana sudah selesai pun berdiri. Hendak kembali ke kamar Zia.
Sebenarnya hal itu yang membuat Keano kepikiran dari tadi. Mau menanyakan langsung, tapi ada rasa bersalah yang mengurungkannya.
"Baik."
"Sudah ketemu? Berarti Zia tidak hilang. Kau hanya lalai menjaganya."
Ucapan Keano barusan membuat Airin meradang.
"Apa yang kau tahu soal menjaga anak, hah?!" Airin melayangkan tatapan kebencian pada pria yang duduk santai di seberang meja.
Tangannya sudah gatal. Ingin sekali dia melempar dua cup kopi panas ke wajah tampan pria batu itu.
"Oke. Aku minta maaf sebelumnya. Namun hal itu terjadi sebab aku tak menyadarinya. Tapi bukankah itu juga salahmu? Karena kau tidak mau memberitahuku sejak awal."
Gigi Airin mulai bergemerutuk, hatinya benar-benar dongkol.
Kapan kutil anoa itu mau menyadari kesalahannya? Jika saja dia tidak memutuskan untuk menikahi Celia. Ah, sudahlah. Semuanya sudah terjadi.
"Kenapa kau itu sangat menyebalkan?!" gerutu Airin.
"Mari kita bergantian merawat Zia."
"A-apa?"
__ADS_1
"Zia juga anakku 'kan? Berarti aku juga berhak atas dirinya."
Airin menggeleng.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan Zia pada ayah brengsek sepertimu."
"Airin. Kau—" Keano terperanjat dengan penuturan Airin tadi. Baru kali ini wanita itu memakinya.
Oke, dia memang brengsek. Tapi mendengar kata itu keluar dari bibir seksi Airin sungguh menyakiti telinga sekaligus hatinya.
"M-maaf. Aku harus segera pergi." Airin berbalik untuk melanjutkan langkahnya.
"Apa kau berubah seperti ini karena pria manipulatif itu?"
Lagi-lagi Airin terpaksa menghentikan langkah kaki. Lalu menatap Keano sengit.
"Maksudmu Mas Rain?"
Keano mengangguk. Bibirnya membentuk sebuah seringai.
"Nampaknya kau belum tahu siapa dia sebenarnya."
"A-apa maksudmu?"
Keano semakin bersemangat mengetahui Airin nampak tertarik dengan ucapannya.
"Pria itu—oh, maksudku, Rain. Dia sebenarnya—"
"Airin! Kenapa kau lama sekali? Apa orang itu mengganggumu lagi?"
Suara dari punggung Airin membuatnya terkejut. Beda halnya dengan Keano yang langsung memasang wajah tak bersahabat, melihat kehadiran Rain yang sudah diketahuinya sejak awal.
"Oh, i-itu .... "
"Kita kembali ke kamar rawat sekarang. Aku sudah lama mengunggumu. Aku haus." Rain menarik Airin yang masih terkejut sekaligus penasaran pergi dari sana.
"Arsen!" Teriakan Keano menghentikan langkah Rain.
Hal ini membuat Airin semakin heran. Sebenarnya ada hubungan apa antara Rain dan Keano?
"Ada apa, Mas?" tanya Airin yang bisa melihat dengan jelas ekspresi tercengang Rain dari tempatnya berpijak.
'Ada yang tidak beres,' batinnya.
Rain tersenyum. "Tidak ada apa-apa." Lalu melanjutkan langkahnya kembali. Membimbing Airin pergi menjauh dari Keano.
Tadi Keano sempat melihat keberadaan Rain yang menuju ke arahnya melalui jendela kantin. Saat pria itu sudah menyembul dari arah pintu, Keano sengaja mengalihkan perhatian Airin yang hendak pergi, agar menghadap ke arahnya.
Dia sengaja menyinggung kebenaran tentang Rain— yang sudah diketahuinya—di hadapan Airin, hingga membuat sasarannya terlihat panik.
"Sudah kuduga. Kaulah orangnya," gumam Keano dengan ekspresi yang sulit diartikan.
__ADS_1