Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 53. Morning Kiss


__ADS_3

"Bunda!" jerit Zia berlari ke arah dapur mencari bundanya.


Pagi-pagi buta, Airin yang sedang menyiapkan sarapan sontak terkejut, lalu menghampiri Zia yang sudah sampai di ambang pintu.


"Kenapa teriak-teriak , Zia?" tanya Airin heran.


"Ayah kemana, Bun? Apa sudah berangkat kerja? Kenapa tidak pamitan sama Zia dulu?" cicit Zia sudah bercucuran air mata.


Airin baru teringat jika semalam Keano tidur di sofa ruang tamu.


"Astaga!" pekiknya.


"Kenapa, Bunda?"


"Keano—oh, maksud Bunda, Ayah ada di ruang tamu."


Zia buru-buru melesat menuju ruang tamu, memastikan jika bundanya tidak berbohong. Dan benar saja, seorang pria tertidur di sana dengan posisi alakadarnya. Tubuhnya hampir saja terjatuh dari sofa, sebelah tangannya sudah menyentuh lantai, juga selimut dan bantal berserakan tak tentu arah.


Gadis itu memandangi Keano dengan tatapan penuh tanya. Lalu membangunkan ayahnya.


"Ayah, bangun. Kenapa Ayah tidur di sini?" Zia menggoyangkan badan Keano yang tak berkutik sama sekali.


"Ayah .... "


Airin menghampiri keduanya dengan geram. Kutil anoa satu ini tiba-tiba berubah wujud menjadi kerbau Afrika kalau tidur. Susah sekali bangunnya.


"Ke, bangun. Sudah pagi," panggil Airin sedikit menaikan nada suaranya tanpa berniat menyentuh Keano.


"Kenapa Ayah tidur di sini, Bun?" Pertanyaan Zia membuat Airin terkaget.

__ADS_1


Memutar otak untuk mendapatkan alasan yang tepat, Airin pun menjawab. "Umm ... Ayah tidur sambil berjalan, mungkin."


Zia mengerutkan kening tak paham. "Membawa serta bantal dan selimutnya juga?"


Airin kelabakan dengan pertanyaan barusan. Sedangkan Keano yang sebenarnya sudah terbangun hampir saja tertawa keras namun ditahan.


"Sepertinya begitu. Ke, bangun dong." Airin menjawab sekenanya, kemudian kembali beralih pada Keano yang masih pura-pura tidur.


"Ke!" Ditariknya tangan Keano agar terbangun. Tetapi niat jahil pria itu terlintas dalam otak.


Ditariknya kembali tangan Airin dengan keras. Karena mendapat serangan tiba-tiba tanpa persiapan, tubuh Airin pun limbung hingga membuatnya mendarat di atas tubuh kekar Keano.


"Kyaa!"


Brugh.


"Urghh, badan kamu makin berat. Selamat pagi, Sayang," bisik Keano dengan mata terpejam.


"Jangan bercanda, Ke!" Airin memukul dada Keano seraya berusaha bangkit.


Kedua tangan Keano yang sudah terpasang di pinggang itu menyulitkan pergerakan Airin. Zia hanya tertawa senang menyaksikan tingkah dua orang di depan yang menurutnya lucu. Zia yang ingin ikut dalam keseruan akhirnya mendekati mereka dan berusaha menaiki punggung Airin.


"Zia, jangan. Nanti kamu jatuh!" cegah Airin.


Tentu dia cemas, ukuran sofa yang hanya selebar tubuh Keano itu digunakan untuk tumpang tindih tiga orang. Yang benar saja.


Keano malah ikut tertawa mengetahui tingkah Zia. Hsl itu membuat tubuh Airin makin menempel pada tubuhnya.Keano mulai berani membuka mata. Dan benar saja, apa yang dia takutkan terjadi juga.


Wajah Airin kini sudah satu inci di depan wajahnya. Hembusan nafas menggoda pada pipi itu meruntuhkan pertahanannya. Bibir Keano sontak meraup bibir ranum yang sedikit terbuka itu. Tangannya terjulur meraih tubuh mungil Zia di atas Airin, lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Otomatis tubuh Airin makin menekan tubuhnya yang sudah menginginkan sentuhan lebih. Apalagi dua benda kenyal yang bergesekan dengan dada bidangnya itu benar-benar mampu membuat Keano tak bisa menahan gejolak kejantanannya.


Ciuman semakin diperdalam seiring meningkatkannya hormon dalam tubuh. Permainan lidahnya yang lihai membuat wanita di atas tubuhnya tak sanggup mempertahankan diri. Dengan reflek karena dorong hasrat yang entah datang dari mana, Airin pun membuka mulut. Mempersilahkan lidah lawannya menelusuri kenikmatan lebih yang dia inginkan.


Pertukaran saliva tak berlangsung lama, sebab Keano tak ingin rudal itu meluncur terlalu dini. Maka dia harus bersabar. Diurainya penyatuan bibir dengan paksa.Setelah melayangkan seringai nakalnya pada Airin, dia pun bangkit dengan tetap mempertahankan dua orang itu dalam dekapannya.


Kini dirinya sudah duduk dengan tegak di atas sofa. Begini pula Zia dan Airin yang mendarat dengan selamat di sisi yang lain.


"Selamat pagi, Ayah." Zia yang semula berada di balik badan bundanya, tiba-tiba saja menyelinap ke depan tubuh Airin untuk meminta pelukan pada tubuh kelar Keano.


Membuat wanita itu memundurkan tubuhnya memberi ruang pada Zia. Sekaligus menciptakan jarak aman dengan Keano. Berpikir jika pria itu adalah ancaman besar baginya.


"Pagi, putri Ayah." Keano menyambut pelukan Zia dengan hati berbunga. Mendapat morning kiss dan pelukan hangat bagai membangkitkan semangat 45 dalam jiwa.


Sengaja diliriknya Airin yang duduk di ujung sofa dengan kikuk. Wajahnya bahkan sudah semerah kepiting rebus.


'Kenapa dia begitu imut?' gerutunya dalam hati.


Tak terasa kekehan pelan meluncur dari bibirnya.


"Kenapa Ayah tertawa?" Zia mengurai pelukan sembari mendongak.


"Ayah hanya senang mendapat asupan pagi ini," sahutnya, melirik Airin yang sudah melayangkan tatapan membunuh padanya.


Kekehan itu semakin menjadi ketika melihat ekspresi Airin yang menurutnya menggemaskan. Zia pun ikut terkekeh mengikuti ayahnya.


Merasa tersudutkan, Airin memilih menghindar dari sana. "Bunda lanjut masak dulu."


Dengan wajah merah menahan malu, wanita itu bergegas meninggalkan ayah dan anak yang masih tertawa bersama tersebut.Airin semakin kesal saja saat tawa mereka terdengar semakin keras mengiringi kepergiannya.

__ADS_1


"Dasar bodoh!" rutuk Airin pada diri sendiri.


__ADS_2