Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 56. Goodbye, Keano


__ADS_3

Setelah mendapat info lokasi dari Rain, Keano buru-buru menyusul ke tempat Airin berada. Perjalanan yang cukup jauh tak begitu terasa saat Keano terus menghawatirkan keadaan Airin di sepanjang jalan.


Hingga matahari mulai condong ke arah barat. Bumi yang semula terang perlahan menggelap seiring dengan bergantinya tugas matahari di atas sana.


Keano menghentikan laju mobilnya ketika tak sengaja melintasi mobil putih yang dia kenal terparkir di pinggir jalan. Memastikan jika KIA Picanto itu milik Airin, pria tersebut bersegera mencari keberadaan empunya mobil.


"Rin," panggilnya pada seorang wanita bersurai cokelat yang dibiarkan tergerai bebas duduk seorang diri di tepi danau.


Wanita itu tak bergeming. Keano mendekat lalu ikut duduk di sampingnya.


"Akhirnya kau datang juga," sambutnya, membuat Keano terkaget.


"Kau menungguku?" tanya Keano. Menyaksikan dengan seksama wajah ayu yang tersorot cahaya bulan itu dari samping.


Airin tak kunjung mengeluarkan untaian katanya. Hanya ada hembus nafas berat yang keluar dari bibir mungil nan lembab itu.


"Maaf," ucap Keano memecah keheningan.


"Kau hanya datang untuk meminta maaf dan menginginkanku kembali tanpa memperdulikan hatiku," racau Airin membangkitkan rasa bersalah lebih dalam pada diri Keano.


"Tapi aku—"


"Aku sudah berusaha melupakanmu. Kau pikir waktu enam tahun itu mudah? Susah, Ke! Perlu banyak perjuangan untuk melupakan segala hal tentangmu. Malah sekarang kau seenaknya datang untuk memintaku kembali," sela Airin, suaranya terdengar sengau.

__ADS_1


"Aku tak meminta kita balikan seperti dulu. Aku ingin melamarmu. Agar kita bisa hidup bersama dan bersatu dengan keluarga kecil yang kita miliki."


"Stop, Ke. Kau akan menyakitiku." Airin menutup telinganya. Berharap tak mendengar harapan manis dari bibir pria itu lagi.


Airin mengambil nafas berat, berusaha menahan air mata agar tak turun dari tempatnya bersemayam.


"Mari kita hidup dengan saling melupakan," putusnya kemudian.


"Apa yang kau katakan? Tinggal selangkah lagi kita bisa mewujudkan mimpi di masa lalu," protes Keano.


"Aku sudah melupakan mimpiku. Sekarang aku sudah mempunyai impian baru. Dan itu tidak denganmu," tekan Airin.


"K-kau serius? " Keano menggelengkan kepala dengan netra terus menatap lekat Airin.


"Ya."


"Aku sengaja mengatakan itu agar kau terluka. Seperti hatiku yang sering kau buat terluka."


"Aku minta maaf. Tapi aku mencintaimu, Rin."


"Aku akan melupakan apa yang kau katakan hari ini. Dan mulai melupakan masa lalu kita. Kembalilah dan tinggalkan kota ini atau aku yang akan pergi dari pandanganmu."


"Arghh! Kau ini kenapa, Rin?" gusar Keano mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Airin terdiam. Menunduk dalam menyembunyikan netranya yang telah memerah.


"Kemarin kau masih baik-baik saja. Masih menaruh perhatian padaku. Kenapa sekarang kau mengusirku? Apa kau tak memperdulikan perasaan Zia, anak kita? Kami baru saja bertemu. Belum pernah merasakan liburan bersama. Bahkan aku tidak tahu rasanya mendekap tubuh mungil itu saat dia tertidur lelap."


Keano menghentikan kicauan sejenak. Menormalkan debaran jantung yang kian bertalu. Hampir saja setitik air bening itu hadir pada pelupuk mata. Diraih jemari Airin dengan kedua tangan kekarnya. Hingga wajah sembab wanita itu terlihat jelas di hadapannya.


Dia pun melanjutkan,"Berilah aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku padamu. Aku berjanji tidak akan membiarkan air mata ini berlinang membasahi pipimu lagi."


Diusapnya jejak air mata yang terus mengalir membentuk sungai kecil di sana. Airin segera menepis tangan Keano kemudian beranjak begitu saja sebelum hatinya kembali terjebak pada rasa yang sama di masa lalu.


"Sampai jumpa. Jangan mendekatiku lagi," final Airin. Mulai menjauh dari Keano dengan langkah lebar.


"Hey! Kau serius? Bagaimana bisa kau melakukan hal ini padaku?!" teriak Keano masih mempertahankan posisinya.


Bingung dengan apa yang terjadi pada wanita itu. Tiba-tiba saja dia perhatian dan terlihat manis, lalu dengan cepat pula dia berubah bak monster tak berperasaan.


"Akh! Wanita itu benar-benar ... Menggemaskan!" geram Keano memandang punggung Airin yang perlahan menghilang di telan kegelapan malam.


Keano masih di sana. Menenggelamkan wajahnya di antara lutut seorang diri.


"Ayolah, Ke. Kenapa kau secengeng ini? Kejar dia sampai dapat apapun yang terjadi," monolog Keano, mulai mengangkat wajahnya kembali.


Dia pun bangkit lalu berlari ke arah Airin pergi. Berharap wanita itu belum pergi terlalu jauh.

__ADS_1


__ADS_2