
Tes ....
Setetes air dari langit menyentuh pucuk kepala Airin. Wanita itu menghentikan langkah, lalu menengadah. Merasakan beberapa tetes dari mereka yang mulai berjatuhan dengan bebasnya. Kedua tangan itu terbuka seolah ingin memeluk rinai hujan yang kian deras.
Airin teringat masa dimana dia memutuskan untuk pergi. Di masa itu hujan juga sedang turun. Membasahi dirinya hingga terserang flu.
Benar juga, bersama Keano itu sama halnya seperti bermain hujan. Awalnya dia bahagia, lalu kemudian dia jatuh sakit. Sakit sekali sampai hati mati rasa dengan semua perhatian yang diberikan.
Dalam kegelapan dan tabir hujan yang menghalangi pandangan, sebuah siluet seorang wanita yang tengah menari di bawah guyuran hujan memunculkan seringai tipis di wajah pria yang berjarak beberapa meter di belakang wanita itu.
Keano bergegas menghampiri wanita yang dia yakin adalah Airin. Namun kilat yang menari-nari di atas kepalanya tiba-tiba saja menggelegar. Mengeluarkan suara keras disertai pijar cahaya yang cukup membuat mata silau.
Keano menutup netranya sejenak karena terkejut. Dan saat kedua monolid eyes-nya terbuka, sosok wanita di depan sudah raib. Seolah menghilang bersama petir yang bersembunyi di balik awan.
"Airin!" pekik Keano. Menghampiri tempat Airin berpijak tadi.
"Airin! Aku tahu kau masih di sekitar sini. Jangan menghindariku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Airin!" Keano meletakkan kedua telapak tangannya di sekitar mulut. Berharap hujan tak mengaburkan teriakannya.
"Aku mencintaimu, Airin! Berilah aku kesempatan. Kumohon. AIRIN! KAU DENGAR TIDAK?!" teriak Keano lagi, semakin mengeraskan nada suara hingga membuat tenggorokannya sedikit kering.
Kepalanya diedarkan untuk menyapu setiap sudut tempat yang masih terjangkau pengelihatan. Namun sosok yang dia cari tak jumpa jua. Di tengah keputusasaan, Keano berlutut.
"Arghh!" raungnya.
Menyalurkan kekesalan pada dirinya sendiri, karena tak mampu mengembalikan kepercayaan wanita yang masih setia menginap dalam hatinya hingga saat ini.
Airin yang sebenarnya bersembunyi di balik pohon tak jauh dari Keano berada, tengah menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Tak ingin isak tangis terdengar sampai di telinga pria itu. Menahan deburan gemuruh hati yang memintanya untuk kembali.
Ia melawan kata hatinya sendiri. Sadar Keano sudah memiliki Celia dan calon anak mereka. Kata rujuk masih bisa mereka raih jika Airin menghindari Keano. Biarlah Keano bahagia dengan keluarga kecilnya. Airin memilih mundur untuk mencari kebahagiaannya sendiri, ditemani dengan putri kecilnya.
Diam-diam Airin pun menyingkir dari sana dengan sangat hati-hati. Suara air hujan yang terjatuh di atas tanah berumput, berhasil menyamarkan langkah kaki hingga sampailah dia di dalam mobil kesayangannya.
Airin segera memacu kencang benda berwarna putih itu, menghindari pria yang ingin dia lupakan.
"Mungkin aku perlu mengucapkan selamat tinggal juga pada kota ini," monolognya disela lelehan air mata yang tercurah.
Sedangkan pria yang masih berlutut di sana, masih berharap bertemu sosok yang dia cari. Netranya juga sedang menitikkan air mata di tengah guyuran hujan.
"Sudah ditampar keras oleh kenyataan, tapi aku masih saja memeluk erat sebuah harapan," lirihnya dengan suara yang hampir menghilang.
Brugh!
...----------------...
"Apa?! Kau yakin berniat meninggalkan kota ini?" Rain terkesiap mendengar keinginan yang Airin lontarkan.
__ADS_1
Wanita itu juga sudah menyiapkan dua koper besar yang telah dimasukkan dalam bagasi mobil.
"Aku harus bekerja untuk menghidupi segala kehidupanku, Mas."
"Tapi di sini 'kan bisa. Kau tega meninggalkanku juga?"
Airin menunduk. Memperhatikan kakinya yang dibungkus heels buccheri warna cream bergerak dengan gelisah. "Aku harus menghindari orang itu."
Sadar siapa orang yang dimaksud, Rain mendengus berat. Hatinya kepalang dongkol. Kenapa orang itu selalu berulah? Tangan Rain sudah mengepal kuat. Ingin rasanya memukul wajah Keano hingga babak belur.
Sebuah genggaman hangat tiba-tiba terasa pada kepalan tangan Rain.
"Aku harap tidak ada perkelahian di antara kalian," pinta Airin. Menatap netra Rain dengan penuh harap seraya semakin mengeratkan genggaman jemarinya.
'Hal yang paling tak berguna adalah mencampuri urusan cinta orang lain. Harusnya aku tidak membantu si brengsek itu,' rutuk Rain dalam hati.
"Mas?" Airin masih mengamati wajah Rain yang semerah kepiting rebus.
"Baiklah. Aku tidak akan membuat perhitungan dengan orang itu demi dirimu," jawab Rain. Yang sontak mendapat sebuah pelukan singkat dari Airin.
"Tapi ada satu syarat," sambung Rain.
"Apa itu?" Airin melerai pelukan.
Airin masih nampak berpikir dengan tawaran Rain. Banyak yang harus dia pertimbangkan saat ingin memulai hidup dari awal lagi. Lingkungan baru dengan orang-orang yang baru pula.
"Bagaimana?" tanya Rain terdengar tidak sabar.
"Aku .... "
"Kau tak perlu khawatir dengan tempat tinggal lagi. Kenalanku—"
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu apa?"
Airin melipat bibirnya sebelum berucap, "Aku tidak enak jika terus merepotkanmu."
"Hahaha." Rain tertawa renyah. Mencetak semburat merah muda di kedua pipi Airin.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Airin dengan ekspresi yang benar-benar lucu.
Rain menghentikan tawanya melihat wanita itu mulai kikuk. "Aku menyukaimu, Rin. Tentu aku tak akan merasa kerepotan jika hanya memberi bantuan. Membantumu sudah seperti kesukaan bagiku. Bahkan tanganku masih terbuka lebar untukmu jika kau nanti memutuskan untuk kembali."
Airin semakin dalam menundukkan kelapa.
__ADS_1
"Maaf, aku—"
Grep.
"Sstt ... Tak perlu dijawab. Karena aku sudah tahu bagaimana hatimu. Semoga sukses di sana. Aku akan menghubungi seseorang untuk mengantarmu menemui kenalanku," sela Rain merengkuh Airin ke dalam pelukan. Paham dengan ekspresi bersalah yang Airin tunjukkan.
"Terima kasih."
"Tak perlu berterima kasih. Jagalah diri dan juga Zia baik-baik." Rain mengelus pelan surai Airin.
"Bunda .... " Zia datang dari dalam rumah dengan seragam sekolahnya.
Pelukan keduanya segera berakhir mendengar teriakan Zia yang baru datang.
Airin memang belum memberitahu putrinya jika dia berniat pergi dan membawa serta Zia pagi ini. Saat sampai di tempat tujuan nanti Airin akan menjelaskan semuanya pada Zia. Berharap putrinya mengerti dan tidak menyalahkan keputusan sepihak ini.
"Aku titip rumah ya, Mas," bisik Airin.
"Tunggu sebentar, orangku sebentar lagi datang untuk menemani perjalananmu. Aku tak ingin kau kelelahan sebelum sampai di sana," tahan Rain.
"Tapi, Mas—"
"Nah itu dia."
Seseorang datang dengan mengendarai motor sport, dan berhenti tepat di depan rumah Rain. Kemudian dia mendekati tiga kepala yang telah menoleh ke arahnya.
"Selamat pagi Pak Rain, Bu Airin." Lelaki dengan seragam sopir itu menoleh ke arah dua orang dewasa di sana secara bergantian.
"Pagi Zia." Lelaki itu sedikit membungkukkan badan, lalu tersenyum simpul mengarah pada gadis kecil itu.
Merasa tidak kenal, Zia beringsut ketakutan di belakang Airin.
"Saya siap bertugas, Pak," bisik orang itu di telinga Rain. Tak ingin menunggu sapaannya dijawab.
"Saya percayakan semuanya padamu," balas Rain melirik dengan tajam.
"Saya tidak akan mengecewakan Anda." Lelaki itu menunduk tipis lalu memasuki mobil Airin.
"Dia siapa, Mas?" tanya Airin terlihat bingung.
"Dia sopirmu mulai saat ini. Namanya Don."
"Tapi, Mas. Ini berlebihan—"
Rain menempelkan telunjuknya di bibir Airin. Membuat wanita itu menghentikan ucapan dengan terkejut.
__ADS_1