Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 60. Alter Ego


__ADS_3

"Arghh! Tunggu, Rain. Aku akan menjelaskan semuanya."


Bugh!


"Aaarghh!"


Menyaksikan lawannya pingsan dengan dua pukulan benda tumpul pada masing-masing kaki dan tangan, Rain menghentikan aksinya. Meski belum puas, setidaknya hal itu bisa sedikit meringankan rasa kesalnya pada pria tersebut.


"Lemah," cibirnya meninggalkan tempat itu dengan tatapan dingin.


"Awasi dia. Kalau sudah sadar hubungi aku," ujar Rain pada dua anak buah yang berjaga di depan pintu ruang bawah tanah.


"Baik," jawab keduanya seraya menundukkan kepala.


Keduanya kembali menengadah saat merasa Rain sudah menjauh.


"Dia malah lebih sadis daripada ayahnya." Salah satu pria itu membuka mulut.


"Benar. Bos Rain pandai menyembunyikan sifat aslinya dari siapapun," sahut pria yang berada di sisi kiri dari pintu.


"Dengar-dengar bos Rain punya alter ego."


"Benarkah?"


"Rumornya sih begitu." Pria yang membuka percakapan mengendikkan bahunya.


"Apa bos tahu kalau pria di dalam sedang demam?"


"Sudah ada yang memberitahu bos Rain tadi."


"Sudah tahu lagi sakit, masih saja disiksa. Tidak ada ampun memang."


"Tapi baguslah. Kita juga butuh pemimpin yang tegas."


"Yang penting tidak ada penghianat di antara kita. Bisa habis di tangan bos Rain."


"Ngeri sih."


Mereka mengakhiri pembicara dengan wajah bergidik ngeri. Salah satu di antaranya sempat melihat kondisi Keano yang menyedihkan.


"Kasihan," gumamnya. Lalu kembali fokus menjalankan tugas.


...----------------...


"Loh, Bun? Apa kita salah jalan? Arah ke sekolah Zia 'kan bukan lewat sini?" tanya Zia, menyadari mobilnya mengambil arah berbeda dari yang biasa dilalui saat berangkat ke sekolah.


"Paman Sopir tidak tahu arah ke sekolah Zia, ya?" Zia berdiri, lalu mendekati sang sopir. Sembari menanyakan hal yang mengganggu pikirannya pada Don.

__ADS_1


"Tidak, Nona. Jalan yang saya ambil sudah benar. Betulkan, Bu Airin?" Don mengalihkan pertanyaan pada Airin.


"Ah, iya. Zia kemari. Bunda mau bicara sesuatu." Airin menepuk tempat duduk yang sempat ditinggalkan Zia tadi.


Zia menurut dengan raut wajah bingung. Namun bibir mungilnya tetap terkatup, menunggu penjelasan lebih lanjut dari bundanya.


"Maaf, Bunda baru bilang hal ini ke Zia. Tapi Bunda rasa Zia berhak tahu. Sebenarnya kita tidak akan ke sekolah Zia. Kita mau pindah rumah," jelas Airin dengan hati-hati.


"Pindah rumah? Kenapa Bunda? Bunda tidak suka tinggal di deket rumah om Rain?" Zia mengedip-ngedipkan mata bulatnya penuh tanya.


Airin tersenyum tipis. "Bukan begitu. Bunda ada pekerjaan di kota lain. Tempatnya lumayan jauh, jadi kita harus pindah."


"Bukannya Bunda bekerja di kafe om Rain?"


"Bunda sudah tidak bekerja di sana lagi, Zia."


"Kenapa? Bunda marahan sama om Rain, ya?" tebak Zia, yang lagi-lagi mengundang tawa renyah dari Airin.


"Bukan begitu juga. Cuma—umm .... " Airin terdengar kesulitan mencari alasan. Tentu dia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya berhenti dari Rain Caffe.


"Bu Airin ingin mencari uang yang lebih banyak untuk kebutuhan Nona Zia," sahut Don yang menyimak obrolan ibu dan anak itu.


"Nah benar tuh." Airin mengiyakan ucapan Don.


"Oh begitu. Iya deh, tidak masalah pindah rumah. Yang penting Zia sama Bunda terus." Zia sontak memeluk Airin dari samping.


Don mengangguk sambil tersenyum menanggapi wanita yang sekarang menjadi majikannya itu.


"Lalu ayah bagaimana, Bun? Apa ikut pindah bersama kita?" Zia mendongak di sela pelukan.


...----------------...


"Urghhh .... " Keano mulai bangun dari pingsannya. Entah ini sudah yang keberapa kalinya dia pingsan lalu siuman.


Yang dia tahu, tangan kanan dan kaki kanannya terasa sakit hingga sulit untuk digerakkan.


"Argh! Ini sakit," keluhanya berusaha bangkit meski sulit.


Kepala yang terus berdeyut, ditambah tangan dan kaki terasa seperti mau patah membuatnya hampir putus asa.


"Arghh! Rain sialan!" geramnya dengan suara keras.


Dua penjaga di depan pintu yang mendengar raungan itu segera menghubungi bos mereka. Sebenarnya ada rasa iba melihat kondisi tahanan mereka, namun rasa takut pada bos mereka lebih besar. Sehingga memupuskan segala rasa toleransi keduanya.


Tak lama Rain muncul dari tangga, menuju pintu masuk dengan mengajak dua penjaga di sana, sembari meraih tongkat baseball di ujung ruangan, yang tadi sempat dia gunakan pada Keano.


Rain menghampiri Keano yang menggeliat berusaha bangkit. Suara tongkat yang diseret mengalihkan kegiatannya.

__ADS_1


"Rain brengsek! Lepaskan aku sekarang juga. Kau ini gila atau apa, huh?! Aku saja tak tahu kesalahan fatal apa yang sudah kuperbuat hingga kau tega melakukan ini padaku!" sarkas Keano. Melihat kehadiran Rain memacu emosinya kembali meledak.


"Bawa dia ke ruanganku," titah Rain pada kedua anak buahnya. Tak mau repot menanggapi segala umpatan Keano padanya.


Melangkah lebih dulu menuju pintu keluar lalu menuju ruangan pribadinya yang berada di lantai dua. Dengan sedikit tertatih Keano mengikuti langkah Rain dibantu oleh dua penjaga yang untungnya bertubuh kekar itu.


"Hei, kau mau membawaku kemana?" tanya Keano yang tak mendapatkan jawaban dari orang yang ditanyainya.


"Aku tahu kau tidak tuli. Rain, jawab aku!" Keano terus berusaha mendapatkan jawaban dari pria yang berjalan di depan itu.


"Tolong tenang. Atau kau ingin bos kami memperlakukanmu lebih buruk dari ini jika moodnya bertambah buruk," bisik salah satu anak buah Rain yang memapah tubuh Keano.


"Aku tidak takut," balas Keano menatap tajam punggung Rain.


"Terserah." Pria di sebelah Keano mendengus kesal menimpali sikap keras kepala pria pemilik monolid eyes itu.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Keano mencoba mencari tahu informasi dari anak buah Rain.


"Ruang kerja bos Rain."


"Untuk apa kalian membawaku kesana?"


"Untuk siksaan yang lebih pedih," sahut salah satu anak buah Rain yang membuat Keano menelan salivanya dengan susah payah.


'Benarkah Rain sekejam itu?' batin Keano bertanya-tanya.


Rain saja sudah membuat kaki dan tangannya memar hingga sulit digerakkan, tapi dia sudah menyiapkan siksaan macam apalagi yang lebih pedih dari itu?


"Bantu aku keluar dari sini. Aku bersedia membayar kalian berapapun. 5x lipat pun tak masalah," tawar Keano yang sudah putus asa.


Berharap dua pria di samping kanan dan kiri itu tergiur dengan tawarannya. Mereka terlihat saling pandang. Namun sejurus kemudian mereka menggeleng dengan kompak.


"Kenapa apa itu kurang? Bagaimana kalau 8 kali lipat?"


Sempat terkejut dengan tawaran fantastis itu, tapi akhirnya keduanya kembali menggeleng.


"Kami tidak bisa," sahut salah satu dari mereka.


"Kenapa?" tanya Keano mulai resah.


"Karena—"


"Sudah cukup ngobrolnya. Cepat bawa orang itu ke ruanganku atau kalian berdua juga akan bernasib sama seperti dia," ancam Rain. Entah sejak kapan dia sudah menoleh ke belakang.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Rain segera masuk ke ruangan di depannya. Diikuti ketiga pria yang terlihat ketakutan.


"Mampus. Tamat riwayatku," gumam Keano pasrah.

__ADS_1


__ADS_2