Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 62. Tempat Tinggal Baru


__ADS_3

KIA Picanto yang dikemudikan Don berhenti di sebuah mansion mewah. Setelah gerbang depan terbuka, lelaki itu lantas memasukkan mobil ke dalam garasi sesuai perintah pemilik mansion.


"Bu Airin. Kita sudah sampai." Don menoleh ke belakang. Dimana Airin dan Zia sedang tertidur dengan pulasnya


"Bu Ai—"


Tok Tok


Don menghentikannya panggilannya saat seseorang mengetuk kaca mobil. Dia menoleh, lalu segera membuka pintu ketika tahu siapa orang yang berdiri di sana.


"Selamat malam, Tuan Felix," sapa Don menunduk hormat.


"Malam." Pria di depan menatap Don datar. Namun tatapan itu cukup membuat perasaan seperti terintimidasi.


"Maaf, saya bangunkan Bu Airin dulu." Don menunduk tak berani menatap mata tajam itu.


"Tidak perlu," sahut Felix, lantas beringsut untuk membuka pintu belakang.


Klik.


Manik cokelat mudanya langsung menangkap penampakan wajah seorang wanita yang terlihat teduh, ketika baru saja membuka pintu. Menimbulkan perasaan aneh yang menjalar di hatinya.


"Wow." Terdengar gumaman singkat yang tak sengaja meluncur dari bibir.


Felix menjulurkan kedua tangan guna meraih tubuh Airin ke dalam gendongannya.


"Tuan, biar saya—"


"Kau urus anak kecil itu saja. Bawa dia ke kamar tamu," sela Felix memberi perintah pada Don saat dia sudah membawa tubuh wanita itu menjauh dari mobil.


"Baik, Tuan." Don hanya bisa menurut. Selagi majikan barunya aman maka dia masih bisa tenang.


"Enghh ... Mas Rain. Sudah dibilangin berapa kali aku bisa jalan sendiri ... Nghhh .... " racau Airin yang malah menyamankan diri di pelukan Felix.


"Wanita yang menarik. Pantas saja Rain menyuruhku untuk menjaganya." Felix menyeringai tipis sambil terus berjalan menuju kamar tamu.


Don terus membuntuti Felix dari belakang dengan Zia dalam gendongannya.


Sebenarnya Felix berencana ingin menyambut sekertaris barunya yang telah tiba, namun malah wanita itu tidur dengan pulas, yang menurutnya sayang untuk dibangunkan.


"Don, buka." panggil Felix memberi isyarat dengan dagunya agar lelaki itu membukakan pintu kamar yang masih tertutup.

__ADS_1


"Siap, Tuan." Don berjalan mendahului Felix.


Ceklek.


Setelah pintu terbuka lebar, kedua lelaki itu masuk dan merebahkan bawaan mereka di atas ranjang.


"Kamarmu ada di paviliun sebelah timur, selamat beristirahat," ujar Felix dengan tatapan tak ingin dibantah. Maka setelah mengangguk hormat Don segera undur diri dari sana.


Usai Don meninggalkan ruangan itu, Felix tak kunjung pergi. Dia masih betah berlama-lama memandangi wajah Airin yang tengah terlelap.


Pantas Rain sempat memperingatkannya untuk tidak menikung. Sepertinya Felix tak bisa menjamin. Wanita itu ternyata di luar ekspektasinya.


Namun pemandangan indah itu tak berlangsung lama, karena Airin mulai gusar dalam tidurnya. Menggeliat sekejap, sebelum akhirnya kesadaran kembali menguasai pikiran.


Mata Airin terbelalak saat menjumpai tatapan tajam dengan wajah asing tengah mengawasi dan berada tepat di samping tubuhnya.


"Kyaaa!" jerit histeris Airin yang memekakkan telinga sontak terdengar. Terkejut luar biasa ketika sadar dia berada di ruangan asing bersama pria asing pula.


Felix menutup telinga sembari menatap heran wanita yang kini sudah mendudukkan diri dengan raut panik itu. Don baru sampai di lorong, dan tentu mendengar teriakan majikan barunya. Ia pun buru-buru kembali menghampiri kamar Airin dengan langkah lebar.


"Bu Airin! Anda baik-baik saja?" panik Don, menerobos masuk tampa permisi.


"Don?!" Airin sontak beranjak dari ranjang, melewati Felix begitu saja, lalu mendekati Don yang masih berdiri di dekat pintu.


Don bergidik ngeri saat sempat menangkap sekilas raut wajah Felix melalui sudut matanya. Kemudian ia beralih pada Airin yang kini berdiri ketakutan di balik punggungnya.


"Maaf, Bu. Jika yang Ibu maksud itu pria yang berdiri di sana, maka Ibu pasti salah kira. Karena pria di sana adalah Pak Felix, atasan Ibu mulai sekarang," jelas Don dengan lugas.


"Hah?!" Mata Airin terbuka sempurna, memperhatikan pria yang menurutnya berwajah mesum di seberang sana.


Pipinya tiba-tiba memerah karena malu. Bergegas ia berpindah dari punggung Don, kemudian mendekati Felix yang sudah melipat tangan di depan dada seraya menatapnya sinis.


Enak saja wanita itu menyebutnya om-om mesum. Meski kenyataan wajah Felix memang terlihat seperti itu, akan tetapi sifatnya tidak seperti itu.


"M-maaf saya sudah lancang mengira anda akan berbuat yang tidak-tidak." Airin menunduk dalam saat telah sampai di depan Felix. Perasaan bersalah membuatnya terlihat kikuk.


"Nama saya Airin." Tak lupa Airin juga memperkenalkan diri, namun belum berani mengangkat wajahnya yang tertunduk meski sekedar melihat ekspresi Felix.


"Angkat kepalamu jika sedang berbicara dengan seseorang, terlebih itu atasanmu." Suara Felix terdengar ketus.


"M-maaf .... " lirih Airin mengangkat kepala takut-takut dengan wajah yang sudah memerah.

__ADS_1


Hal itu mampu membangkitkan seulas senyum tipis di bibir Felix, ketika menyaksikan ekspresi lucu yang ditunjukkan Airin.


"Karena kau sekertaris baru, maka aku akan memaafkanmu. Lain kali kalau mau meledek orang lain lihat-lihat dulu apa pangkat orang itu," ketus Felix tanpa beban. Namun membuat mental Airin sedikit goyah.


"Kau mengerti?" imbuh Felix sedikit kesal karena tak mendapat jawaban.


"I-iya, Pak."


"Tatap orang yang kau ajak bicara!"


Airin mendongak cepat. "Baik."


"Bagus. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini."


"Eh?" Airin terbelalak.


Rain memang bilang Felix akan memberinya tempat tinggal, mamun bukan seperti ini juga. Yang ia kira bosnya itu akan menyewakan apartemen atau sekedar rumah kontrakan. Airin termangu saat tahu ia akan tinggal bersama Felix.


Mansion itu memang terlihat luas dengan beberapa kamar. Namun tinggal satu atap dengan pria asing bukan pilihan yang bagus.


"T-tapi, Pak—"


"Aku tak suka dibantah," sela Felix dengan tatapan dingin.


Felix sedikit memangkas jarak di antara mereka, lalu melempar seringai kecil sebelum melewati Airin menuju pintu keluar.


"Kembalilah ke tempatmu," titah Felix pada Don, tanpa menghentikan langkahnya keluar kamar.


"Baik. Selamat malam, Tuan." Don bergegas keluar, menutup pintu kamar Airin dan mengangguk sekilas padanya, sebelum beranjak menuju paviliun.


Setelah kepergian dua laki-laki itu, kepala Airin celingukan karena teringat pada ponselnya yang entah ada dimana.


"Loh? Barang bawaanku kemana, ya?" gumamnya bingung.


Sempat merutuki diri kenapa dia bisa-bisanya tertidur pulas saat sudah sampai tadi. Airin pun baru bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa ada di kamar itu. Membayangkan Don atau Felix yang menggendongnya ke kamar itu membuat perut Airin terasa mulas.


Usai memastikan Zia masih terlelap, Airin melenggang menuju pintu keluar. Lalu berjalan menuju lorong yang terasa asing.


"Sepi sekali," gumam Airin dengan sepasang manik menyapu setiap inci tempat yang dia pijak.


Di ujung lorong yang bercabang, Airin mendengar suara seseorang dari dalam kamar dengan pintu sedikit terbuka. Ia yakin itu suara Felix.

__ADS_1


"Kebetulan sekali aku menemukan kamarnya." Airin bergegas mendekati pintu.


"Kita eksekusi target malam ini." Suara Felix terdengar jelas dari posisi Airin berdiri.


__ADS_2