
Cuaca malam ini nampak mendung. Tak ada satu bintang pun yang nampak berpijar. Hawa dingin mulai mendominasi tatkala guntur menampakkan wujudnya. Karena ulahnya, langit nan gelap sekilas terlihat terang. Lalu redup bersamaan dengan kilatan cahaya yang menghilang.
Tak lama hujan mulai turun. Membasahi setiap benda yang dapat dijangkaunya. Nampak seorang pria berdiri di balkon apartemen, sambil mengamati jatuhnya bulir hujan yang semakin deras.
Dengan kepala menengadah, netra monolid-nya menerawang, menyibak air hujan yang sejalan dengan arah pandang. Memperhatikan langit malam yang semakin pekat. Sepekat kopi hitam dalam cangkir di genggaman tangan kanannya.
"Huh!" kesalnya, saat merasakan kepala yang terus berdenyut.
Banyak hal yang Keano pikirkan. Hingga bingung, mau mulai menyelesaikan masalahnya dari mana. Seakan ujian silih berganti menghadang jalan kehidupannya.
Mengingat sampai saat ini, Celia belum juga menjawab ketersediaannya guna melakukan tes DNA. Dia berdalih jika kandungan yang masih kecil, hal itu akan membahayakan janin dalam perutnya.
Sampai saat itu tiba, masih berkemungkinan yang ada dalam kandungan Celia adalah benih Keano juga.
"Apakah aku tak pantas untuk bahagia?" lirihnya, menatap sendu langit malam, bagai menumpahkan emosinya lewat air bening.
"Jika boleh berharap, aku ingin bersanding dengan wanita yang aku cintai. Berkumpul dengan keluarga kecil yang kumiliki saat ini."
Keano jadi teringat betapa senang hatinya saat akhirnya bisa bertemu dengan Airin kembali di acara reuni sekolah, setelah sekian lama terpisah. Dilanjutkan dengan, pertama kali pertemuannya dengan Zia yang ternyata adalah putrinya, hingga mengantarkan gadis kecil itu kembali pulang ke rumahnya.
"Ini bukan kebetulan. Seperti skenario yang menuntun kembali pada takdirku."
"Dan Arsen .... " Raut wajahnya berubah keruh saat menggumamkan nama itu.
Flashback.
Keano baru saja pulang dari rumah Airin. Setelah sebelumnya mengantar, Zia. Gadis kecil pemilik nama yang hampir mirip dengan namanya. Bahkan gadis cilik itu menggunakan nama keluarga Narendra di belakang namanya.
Keano mulai berpikir kritis, menjumpai berbagai kebetulan di depan matanya. Juga dengan sosok pria yang bersama Airin tadi. Wajahnya sungguh tidak asing di ingatan Keano. Dia mulai menduga-duga, hingga menelisik setiap wajah orang di masa lalunya.
"Ah!" pekiknya saat wajah seseorang melintas dalam ingatan.
"Aku ingat seseorang, tapi aku harus memastikannya dulu," tekadnya.
Keano menelusuri kontak yang ada dalam gawainya, lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo? Rendi?"
"Ya, Bro? Tumben telpon duluan. Ada apa?" suara Rendi dari seberang sana.
"Tolong kirim foto buku tahunan milik kakakmu."
"Buat apa?"
"Aku penasaran dengan seseorang. Sudah kirimkan saja. Kakakmu 'kan alumni SMA kita. Aku yakin pernah bertemu dengan orang itu saat MOS. Sepertinya dia anggota OSIS kala itu, kalau aku tak salah ingat."
"Oh, baiklah. Segera meluncur. Betewe, selamat berjuang mendapatkan Aimon kembali. Kalau sudah resmi jangan lupa makan-makannya ya, Bro?"
"Aimon siapa?"
"Airin montok, Broh. Hahaha."
"Otakmu somplak! Jaga itu mulut. Aku saja belum yakin jika Airin mau kembali padaku. Tapi, bukan Keano namanya kalau menyerah begitu saja. Tekadku untuk bersanding dengannya masih menggebu, sama seperti dulu."
"Nah, gitu dong, Bro. Pepet terus, jangan kasih kendor. Goodluck."
"Hati-hati mati muda. Kalau itu terjadi, Airin buat aku, ya? Hahaha."
"Sialan! Anj—"
Pip.
Belum sempat Keano mengeluarkan kata-kata motivasinya, Rendi sudah memutuskan sambungan sepihak. Membuat Keano terus merutuki sahabat karibnya.
Keano bersyukur memiliki sahabat seperti Rendi yang selalu ada di saat dia butuh. Satu-satunya orang yang paham dengan hatinya selama ini. Orang yang selalu memberinya nasihat bijak saat hidup tidak mendukung keputusannya. Meski sifat Rendi kadang tak beres.
Kling!
Suara notifikasi chat disambut sumringah oleh Keano. Sejurus kemudian dia sudah fokus mengamati foto deretan siswa yang baru saja dikirim oleh Rendi. Menelisik setiap wajah dan nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Ah! Ini dia. Tak salah lagi. Rainand Arsenio, atau yang biasa dipanggil Arsen saat dia kecil. Keluarga Arsenio, ya? Identitasmu sudah terbongkar. Cepat atau lambat Airin harus tahu siapa kau sebenernya." Keano menyeringai penuh arti sambil memandangi foto Rain saat SMA dengan tatapan sengit.
__ADS_1
Flashback end.
Iris mata Keano masih setia memandangi hujan yang entah kapan akan berhenti. Senada dengan kenangan tentang Airin yang terlintas dalam ingatannya.
Keano sadar dia tak bisa menghentikan ingatannya yang mengalir. Maka ia hanya bisa menikmati setiap potong kisah saat Airin masih menjadi miliknya. Perjalanan cinta yang sulit untuk dilupakan.
Keano tersenyum geli mengingat betapa bucinnya dia dulu. Sebelum takdir akhirnya menjatuhkannya pada jurang patah hati yang teramat dalam. Yang sukses membuatnya menyesal hingga sampai saat ini.
Bahkan jika takdir mematahkan hatinya kembali, Keano akan tetap bersyukur pernah singgah di hati wanita pujaannya.
Di lain tempat ....
Di saat yang sama, seorang wanita sedang mengamati hujan dari balik jendela kamarnya.
Jujur, dia rindu hujan. Meski tak dipungkiri dia tetap membencinya. Memori akan hujan seperti terus mencokol dalam ingatan, walau sekuat apapun dia berusaha melupakannya.
Jemarinya ditempelkan pada kaca jendela yang mengembun. Seketika rasa dingin dari luar, menjalar dari telapak tangan menuju hatinya.
"Ada yang dingin, tapi bukan hujan," gumamnya, tersenyum getir.
Airin membuka jendela. Tangannya terjulur untuk merasakan tetes air hujan yang selama ini sengaja ia hindari. Takut belum bisa berdamai dengan masa lalu saat merasakan air hujan menyentuh kulit putihnya.
Dan ketakutannya terbukti. Air hujan selalu mampu membuka serpihan kisah masa lalu yang ditutupnya rapat-rapat dalam hati.
Tak lama Airin bergumam dengan lirih, "Aku masih ingat semua kenangan tentang kita, termasuk caramu melukaiku."
Pandangan matanya mulai buram. Air bening sudah mengantri di pelupuk mata. Airin membiarkannya mengalir begitu saja, sambil tetap menampung air hujan pada telapak tangannya.
"Kata orang, saat merasa ragu kita harus mengikuti kata hati. Dan aku pun melakukannya. Tapi kenapa hatiku terasa sakit?"
Tak lama hujan pun mulai mereda. Menyisakan gerimis kecil dan kilatan cahaya yang sesekali nampak dalam kelamnya langit. Tangan Airin masih setia terjulur. Ujung jarinya mulai keriput kedinginan, namun sama sekali tak ia hiraukan.
Dua insan yang berada di ruangan yang berbeda, namun di bawah langit hujan yang sama, menengadah ke arah langit nan gelap tanpa gemerlap bintang.
"Hujan mulai reda. Namun genangannya masih tersisa. Sama seperti cinta. Dia sudah bukan milik kita, namun kenangannya masih tersisa .... " lirih keduanya.
__ADS_1