
"Urghh .... " erang Keano mulai terbangun dari tidurnya.
"A-aku dimana?" Kedua netra monolidnya mengedar ke setiap sudut ruangan yang terasa asing.
"Kau sudah sadar?" Seorang gadis berseragam sekolah lengkap dengan tas yang menggantung di punggung, berjalan mendekati Keano.
"Arghh ... Kepalaku." Keano memegangi kepalanya yang berdenyut saat berniat bangkit dari brankar.
"Jangan banyak bergerak. Om perlu beristirahat. Karena Om sedang demam," ujarnya membuat Keano mengerutkan dahi.
"Siapa kau?"
"Oh iya. Namaku Kihana. Tadi pagi aku menemukan Om tergeletak di tengah jalan dekat sungai. Karena khawatir aku bawa Om kesini," jelas gadis yang mengaku bernama Kihana itu.
"Sungai? Astaga! Airin!" Keano langsung bangkit hingga terduduk begitu mengingat kejadian tadi malam.
Tangannya yang satu sontak melepas paksa infus yang terpasang di tangan yang lainnya. Kemudian berjalan tertatih menuju pintu keluar.
"Tunggu, Om. Kondisi Om—" Kihana segera mengejar Keano.
"Pergilah! Terima kasih sudah membantuku. Tapi aku harus pergi." Keano menepis tangan Kihana yang terjulur untuk membantunya.
"Tapi—"
"Ini. Jangan ikuti aku," final Keano sembari menyerahkan beberapa lembar uang pada gadis itu. Lalu pergi begitu saja dari sana dengan terseok-seok.
"Orang aneh. Untung ganteng. Tajir pula." Kihana tersenyum cerah seraya mengibas-ngibaskan lembaran uang yang diterima dari Keano tadi.
Keano berjalan dengan susah payah, berpegang erat pada setiap benda yang ditemui. Rasa pusing yang kian menjadi, membuatnya sedikit kesusahan untuk menuju taman, tempatnya terakhir bertemu Airin tadi malam. Ia menanyakan letak taman itu pada setiap orang yang ditemuinya di jalan. Karena memang Keano sedang buta arah saat ini.
Ponselnya mati kehabisan daya. Bodohnya dia tidak mengeceknya saat di rumah sakit tadi. Jadi dia bisa meminjam charger pada gadis bernama Kihana itu.
Lalu bagaimana dia bisa pulang kalau tak tahu jalan? GPS pun tak ada.
"Arghh!" kesalnya mengacak-acak rambut.
Tidak peduli dengan berapa orang yang berlalu lalang akan menganggapnya gila. Di tengah keputusasaan, sebuah benda merah mengkilat berhasil memunculkan senyumnya kembali.
Segera Keano menuju ke arah Ferrari kesayangannya yang masih terparkir dengan indah di tempat yang tidak berubah dari posisi tadi malam.
"Untung saja kau tidak meninggalkanku, Sayang," girang Keano mengecup pelan body mobilnya, sebelum membuka pintu.
Yang mana mobil itu tak dia kunci dari semalam. Sebuah keajaiban memang jika tak ada satu maling pun yang mau menggondol mobilnya yang mencolok itu.
"Rejeki tidak akan kemana," monolog Keano sembari menyalakan mesin.
Tak lupa ia juga mencharger ponselnya yang sudah sedingin udara pagi itu. Keano juga menyalakan radio mobilnya dan kebetulan mengalun sebuah lagu berjudul Love Scenario milik iKON yang saat itu sedang booming.
__ADS_1
Baru beberapa meter Keano meninggalkan tempat semula, sebuah mobil Van tiba-tiba menghadang laju Ferrari-nya. Pria itu sontak menginjak rem mendadak.
"Brengsek! Hei! Keluar kalian!" makinya membuka pintu mobil dengan tersungut-sungut.
Tak memperdulikan kondisinya sendiri, Keano yang memang temperamen sontak menghampiri mobil di depan.
Akan tetapi bukannya mendapatkan kata maaf, tubuh Keano malah langsung dibekuk oleh beberapa orang dan dimasukkan paksa ke dalam Van hitam tersebut.
"A-apa yang—akh!" Keano seketika pingsan saat mendapat pukulan telak pada tenguknya. Ditambah dengan kondisi tubuh yang tidak fit, memudahkan orang-orang itu melumpuhkan target mereka.
"Orang yang Anda inginkan sudah apa pada kami," ujar salah seorang dari mereka saat menelpon bos mereka.
"Bagus."
Tutt ... Tutt ....
Panggilan dimatikan sepihak. Tak membuat sang penelpon terkejut. Hal yang sudah biasa dia terima.
"Jalan. Kita kembali ke markas sekarang," titahnya pada sang sopir yang dibalas dengan anggukan paham.
Van hitam melaju ke arah pinggiran kota. Menuju sebuah villa yang cukup memakan waktu untuk sampai di sana dari jarak mereka berada sebelumnya.
Sebuah villa megah yang jauh dari keramaian sudah terlihat di depan mata. Gerbang dibuka dari dalam saat klakson dibunyikan. Van itu pun auto masuk ke halaman depan lalu diparkir dengan cantik di dalam garasi.
Beberapa orang yang berada di dalam Van keluar seraya membawa tubuh Keano yang lemas tak berdaya. Mereka membawanya ke sebuah ruangan gelap sesuai dengan perintah.
Beberapa jam telah berlalu ....
"Urghh .... " erang Keano merasakan tangannya luar biasa pegal.
Netra monolid-nya terbuka sempurna segera, setelah menyadari dirinya berada di tempat asing. Gelap dan pengap. Gudang. Tempat itu yang terlintas dalam pikiran Keano.
"A-apa aku diculik?" Keano bertanya-tanya dalam hati.
Tali yang mengikat kedua tangan menyusahkan pergerakannya. Berusaha beranjak dari posisi meringkuknya. Namun gagal. Merasakan tubuh yang masih sangat lemah.
Sepertinya demam yang diderita semakin tinggi. Karena tiba-tiba kepalanya mulai seperti berputar-putar. Di saat kondisi yang tak menentu, sebuah siluet tertangkap netranya, sedang menuju ke tempat dia berada.
"T-tolong .... " rintihnya susah payah. Merasakan tenggorokan yang begitu kering. Mengingat sejak kemarin siang dia belum makan dan minum.
Terlalu kalut memikirkan Airin yang tiba-tiba bersikap aneh. Sepertinya wanita itu membuat selera makannya berkurang. Pasalnya bukan lapar yang Keano rasakan, tapi sesak dalam dada yang membuatnya kian tersiksa.
Keano memicingkan mata guna melihat si pemilik siluet yang malah berhenti di depan sana. Tanpa mau peduli dengan keadaan Keano yang terlihat menyedihkan.
"Hey, kau! Tolong aku. Kumohon. Aku sudah tidak kuat," pekik Keano pada orang itu, sambil berusaha bangkit.
Orang di sana tetap tak bergeming. Memperhatikan usaha Keano dalam diam. Keano sempat kesal juga dibuatnya.
__ADS_1
"Jika aku bisa lepas dari sini, kupastikan kalau bogemku ini akan mendarat di wajahmu. Hei, jangan diam saja di sana!" ancam Keano, berharap orang itu takut dan mau membantunya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Puaskah sudah menyakitinya lagi?"
Deg.
'Suara itu .... ' batin Keano gusar, mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kau tahu. Membangun kepercayaan orang yang sudah pernah kamu kecewakan itu susah. Tapi kau dengan mudahnya menghancurkan perasaannya." Orang di sana berbicara dengan suara berat.
Dia melanjutkan. "Aku sudah membantumu tapi kau mengkhianati janji dengan santainya. Bahkan sebelum bantuanku membuahkan hasil."
Keano terdiam. Mencoba mencerna apa yang dimaksud orang di sana, sekaligus mencerna keadaan di luar ekspektasinya ini.
Sebenarnya orang itu teman atau malah musuh? Keano sempat mempertanyakannya dalam hati. Tak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi dia pun bertanya, "Kau ini sebenarnya kenapa? Kenapa kau menculikku? Apa salahku?"
"Salahmu, ya? Apa kau tak mengingat apapun?"
"Okay, aku salah. Tapi tidak seperti buronan juga kau memperlakukanku. Sekarang lepaskan aku, kita bicara baik-baik." Keano mencoba bernego dengan orang itu.
"Setelah aku bermain-main sebentar."
Keano terkejut dengan jawaban itu. Dia yakin orang di hadapannya sedang menyeringai licik.
"T-tunggu apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Keano mulai ngeri saat orang itu semakin memangkas jarak di antara mereka.
"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu."
"Kau tak akan bisa."
"Kenapa tidak?"
"Tidak bisakah kita bicara baik-baik?"
"Kita sudah pernah membicarakan hal ini."
"Tapi aku tidak melakukan apapun. Bahkan aku sudah membujuknya untuk pulang."
Tak ada jawaban.
Bugh!
"Arghh! Tunggu, Rain. Aku akan menjelaskan semuanya."
Bugh!
"Aaarghh!"
__ADS_1