Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 45. Mundur Teratur


__ADS_3

"Tak usah khawatir, aku selalu menyediakan bahu yang kuat untuk menahan kesedihanmu. Bersandarlah," ucap Rain di sela pelukan.


Lama mereka mempertahankan posisi itu, hingga setetes air dari langit menyentuh pucuk kepala mereka. Rain menengadah. Menatap heran pada langit kelam yang semakin pekat.


Padahal beberapa menit sebelumnya, terlihat langit malam begitu cerah dengan berhias bintang di permukaannya. Lalu kemana mereka pergi? Kenapa mendung begitu cepat mengambil alih?


Bahkan kini kilat bagai menari-nari di atas sana. Membuat tetesan kecil perlahan menjadi guyuran. Airin masih tak bergeming. Seolah ia terpaku saat air hujan mulai membasahi tubuhnya. Rain paham. Airin merindukan hujan.


"Bahkan saat hujan kita tak memiliki rasa yang sama. Akan tetapi kita mengharap teduh yang sama. Saat kita berpelukan seperti ini kita menyalurkan rasa sakit yang sama," ungkap Rain dengan suara serak. Memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.


Airin termangu mendengarnya. Baru tersadar jika ungkapan perasaannya untuk Keano sudah menyakiti hati Rain.


"A-aku minta maaf. Bukan maksudku untuk—" Airin mendongak.


"Tidak ada yang salah di sini. Cinta tak bisa dipaksakan. Kalau kau masih mencintainya, maka kejarlah cintamu," sela Rain.


"Apakah aku harus melakukannya?"


"Kau tahu, jika hubunganmu dengannya sedang bermasalah maka selesaikan masalahnya. Bukan menyelesaikan hubunganmu dengannya."


Airin diam tak menanggapi. Mencerna setiap kalimat yang dikatakan pria itu.


"Selama segala sesuatu itu membuatmu bahagia, aku akan selalu mendukungmu. Karena Zia pun juga akan bahagia sama sepertimu." Sebenarnya berat bagi Rain untuk mengucapkannya.


Tapi dia harus membuat dirinya sadar, jika Airin tidak memilih hatinya untuk berlabuh. Maka semua terserah kemana hati itu akan berhenti.


Benar apa kata Nisa dulu.'Jangan menaruh harapan lebih pada orang yang belum selesai dengan masa lalunya.' Rain mendengus lirih mengingat perkataan itu.


Pria itu menunduk. Menatap wajah sendu Airin seraya sedikit melerai pelukan, agar dapat memusatkan arah pandangannya pada iris coklat yang juga mengarah tepat ke dalam netranya itu. Diam-diam Rain tersenyum getir.


Beruntung hujan deras tiba-tiba mengguyur. Setidaknya linang air mata Rain benar-benar bisa tersamarkan karenanya. Air mata yang sedari tadi tak dapat ia bendung. Sarana yang tepat untuk menyalurkan rasa sakit dalam hati.


Cup.

__ADS_1


Kecupan Rain mendarat dengan indah pada bibir ranum yang basah di hadapannya. Awalnya Airin terkejut dengan perlakuan tiba-tiba itu, namun matanya perlahan terpejam jua. Keduanya tampak menikmati sensasi kehangatan yang mulai tersalurkan. Seolah dua insan itu menikmati segala rasa yang tercipta.


Entah kenapa Rain merasa ciuman itu akan menjadi perpisahan untuk mereka. Ciuman pertama dan terakhir yang akan terus ia kenang dalam perjalanan cintanya.


'Sedikit iri dengan orang yang berhasil mengambil hatimu tanpa harus berjuang sekeras aku,' batin Rain di sela ciuman yang semakin dalam.


Flashback.


"Kak Arsen."


Arsen aka Rain menoleh ke belakang. Tersenyum simpul melihat gadis di ujung koridor yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Astaga!" pekik Airin berlari menghampiri Rain yang wajahnya sudah babak belur. Ditambah dengan ujung bibirnya yang berdarah.


"Sudah dibilangin jangan suka berkelahi. Masih saja ngeyel," dengus Airin kesal pada Rain saat sudah ada di hadapannya.


Airin menarik Rain ke sebuah bangku tak jauh dari sana. Yang ditarik pun hanya pasrah saja. Diraihnya sapu tangan dari saku untuk menyeka luka yang masih meninggalkan jejak darah segar di sana.


"Akh!" Rain merasakan nyeri saat permukaan sapu tangan mengenai luka di ujung bibirnya.


Rain yang melihatnya sebenarnya ingin tertawa. Bagaimana tidak? Yang sakit siapa, yang meringis kesakitan siapa.


"Sebenarnya Kak Arsen berantem sama siapa, sih?" tanya Airin penasaran sambil tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Manusia pokoknya."


"Ish. Masa iya setan?"


"Iya. Dia jelmaan dari setan."


"Ada-ada saja." Airin mencibir.


"Arghh! Pelan-pelan, dong, Rin!" pekik Rain, hendak menyentuh nyeri pada ujung bibir yang ditimbulkan oleh gesekan dari sapu tangan.

__ADS_1


Namun tangan Rain malah tak sengaja bersentuhan dengan jemari Airin. Tatapan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Keduanya sama-sama mematung.


Hingga suara tetes hujan yang mengguyur bumi kala itu mengalihkan atensi Airin.


"Eh, hujan?" Airin berpaling dengan kikuk. Membuang pandang ke arah halaman di samping mereka.


Segera dilepas tangan yang masih berada digenggaman Rain tadi. Hingga sapu tangan yang dia pegang kini sudah beralih ke tangan Rain. Airin berdiri, kemudian berlari menerjang hujan hingga ia sampai di tengah halaman sekolah.


"Airin! Apa yang kau—" Teriakan Rain berhenti di tenggorokan saat melihat gadis itu menari di tengah guyuran hujan dengan riang.


Senyum bahagia terus mengembang darinya membuat Rain otomatis ikut tersenyum. Lambaian tangan Airin dibalasnya dengan gelengan. Rain lebih menikmati pemandangan dari tempatnya berpijak.


Netranya tak lepas dari Airin yang bergerak lincah di sana. Seakan gadis itu adalah dunianya. Ciptaan Tuhan paling indah yang pernah Rain temui. Jika boleh egois, ingin sekali dia meminta Tuhan untuk menjodohkannya dengan gadis penyuka hujan itu.


Bila itu cuma mimpi ingin sekali Rain tak pernah bangun untuk melanjutkan mimpinya asal bersama Airin. Sayangnya semua itu hanya angan yang berbalut kenangan. Mimpi yang ketika terbangun semuanya akan lenyap oleh kenyataan.


Flashback end.


...----------------...


Tok Tok


Ceklek


Terlihat seorang pria dengan tubuh atletis berdiri di balik pintu yang baru saja dibuka. Sambil menyunggingkan senyum mautnya kepada sang pemilik rumah. Buket bunga, boneka Stitch, juga beberapa kantung tas belanjaan memenuhi kedua tangannya. Hingga membuat pria itu kewalahan sendiri.


"Seharusnya tak perlu membawa apa-apa. Aku butuhnya cuma kamu," tegur Airin. Yang hanya dibalas cengiran oleh pria itu. Wajahnya mengisyaratkan jika ia kerepotan jika terus dibiarkan berdiri di sana.


Airin mendengus pelan. "Masuklah."


Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Mengabaikan tatapan jengah dari nyonya rumah tersebut.


"Dimana Zia?" tanya Keano. Sudah mendudukkan diri di sofa serta meletakkan semua buah tangannya di atas meja.

__ADS_1


"Di kamarnya. Selesaikanlah kekacauan yang sudah kau buat. Jelaskan pada Zia dengan bahasa yang mudah dimengerti," jelas Airin. Entah kenapa hatinya jadi gugup. Tak sanggup membayangkan seperti apa reaksi Zia jika bertemu dengan Keano nanti.Jika pria itu tahu. Zia saat ini sedang merajuk karena kejadian kemarin.


__ADS_2