
"Hey!"
"Zia."
Zia menoleh ke luar gerbang.
"Sini."
Zia menggeleng. " Maaf, Zia tidak boleh berbicara dengan orang asing."
"Om bukan orang asing, dari mana Om tahu namamu kalau Om ini adalah orang asing?"
"Om orang jahat. Zia pernah lihat, Om jahatin bunda."
"Waktu itu Om hanya bercanda."
"Benarkah?" Zia menatap wajah lelaki di hadapannya. Mencari kebenaran atas ucapan tadi.
"Tentu. Ikutlah dengan Om. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan."
Zia bimbang.
"Tapi—"
"Kemarilah. Airin di rumah sakit, makanya dia menyuruh Om untuk menjemputmu."
"Apa? Bunda kenapa?" Zia semakin mendekati gerbang sekolah bercat hijau itu. Jiwa ingin tahunya mulai meronta-ronta.
Bunda, ya? Menarik.
"Ayo pulang sama Om."
"Bunda kenapa, Om?" Zia mulai khawatir.
"Ikut Om dulu, nanti Zia juga tahu."
Zia mulai berpikir keras.
Mendengar jika bundanya di rumah sakit, dengan rasa kepo yang menggebu-gebu akhirnya Zia memilih ikut saja.
...----------------...
Airin berjalan tergesa di lorong apartemen. Tanduk bahkan taringnya sudah dipersiapkan untuk mengoyak daging seseorang.
Ting Tong.
Ceklek.
Brak!!
Airin segera mendobrak pintu yang baru bergerak sedikit itu hingga terbuka sepenuhnya.
"Mana Zia?" tanya Airin pada pemilik apartemen tanpa basa-basi.
Airin mendapat kabar dari Rain, jika Zia sudah tidak ada di sekolah ketika menjemputnya tadi, padahal jam sekolah baru saja berakhir. Bahkan wali kelas Zia juga tidak tahu-menahu jika Zia sudah pulang duluan.
Maka Keano lah tersangka utama yang Airin curigai.
Keano mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Zia? Tapi aku tidak—"
Plak!
Tanpa aba-aba Airin langsung mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Keano. Pria itu tersentak juga bingung.
Apa salahnya? Mana sakit pula.
"Minggir! Zia?" Airin masuk begitu saja, menyingkirkan badan Keano yang menghalangi jalan.
"Zia? Kamu dimana, Nak?" Hampir saja Airin mengobrak-abrik tempat itu karena kalut bercampur emosi.
Mengabaikan pipinya yang terasa perih, Keano mendekati Airin untuk meminta penjelasan. Tangan Keano dengan sigap segera menghentikan ulah Airin yang membuatnya geleng-geleng kepala. Namun wanita itu segera menepisnya.
"Kamu ini kenapa, sih?!" tanya Keano, sedikit membentak.
"Beri tahu aku dimana kau sembunyikan Zia, dasar brengsek!"
Bugh!
Lagi-lagi Airin yang sudah hilang kendali kembali menyerang perut Keano dengan tinjunya. Sudah lama ia ingin menjadikan pria itu samsak latihannya.
"Argh!" erang Keano reflek memegangi perutnya yang nyeri.
Sejak kapan Airin jadi brutal begini?
"Dimana Zia?!" Airin napak tak sabar.
Hampir saja Airin kembali melayangkan kepalan tangannya ke arah perut, dengan sigap Keano segera mencegahnya. Wajah murka sekaligus khawatir Airin semakin membuat Keano semakin bingung.
Kenapa Airin mencari Zia di sini? Kenapa juga dia marah-marah seperti itu? Seperti ada yang tidak beres.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang anak kita, Ke! Aku tahu kau yang menyembunyikannya."
"Hey, jangan asal tuduh tanpa adanya bukti."
Deg.
Benar juga. Pikiran Airin kacau. Gagasan buruk mulai menguasai benaknya.
"Lalu dimana anak kita, Ke?" Nada suara Airin melemah.
"Kalau begitu mari kita—"
"Anak? Anak siapa?" Celia muncul tiba-tiba bagai hantu dari salah satu bilik kamar. Terlihat dengan jelas dia baru saja bangun tidur.
Netra Airin melebar sempurna.
"Celia?!" Keano yang tersentak langsung menoleh pada ke arah wanita yang masih mengenakan piyama tidur itu. Padahal hari sudah mulai siang.
Airin beralih menatap Keano dengan sorot kecewa. Entah mengapa kakinya tiba-tiba gatal untuk menendang sesuatu di bawah sana.
Dugh!
"Aargghhh! S-sial. Kau ini kenapa? Ini menyakitkan. Sangat," erang Keano merasakan sakit yang teramat sangat pada inti tubuhnya.
Celia ikut meringis memperhatikan raut wajah menyedihkan Keano.
"Rasakan itu!" sarkas Airin tak peduli.
__ADS_1
Lebih sakit hatiku karena perbuatanmu, Ke. Sungguh.
Sadar seseorang yang dicarinya tidak ada di tempat ini, Airin pun keluar dari apartemen dengan langkah lebar.
"Airin tunggu!"
"Nono!" Celia mencekal tangan Keano sebelum sempat mengejar Airin.
"Apa sih, Cel?"
"Jelaskan padaku anak siapa yang kalian maksud," tuntut Celia.
"Tidak ada urusannya denganmu." Keano menghempaskan tangan Celia begitu saja. Lalu berjalan tertatih, berniat mengejar Airin.
"Tapi, No. Bukankah kita akan segera rujuk? Segala urusanmu adalah urusanku juga. Hey, jangan pergi begitu saja saat aku bicara. Keano!! Kebiasaan. Padahal otongnya sedang sakit. Dasar keras kepala." Celia menghentakkan kakinya, sembari memandang kepergian Keano dengan kesal.
"Kalau dari kalian tidak ada yang mau menjawabnya, aku bisa mencari tahunya sendiri," tekad Celia.
Airin buru-buru menghampiri McLaren yang terparkir di depan gedung apartemen.
"Bagaimana?" tanya Rain begitu melihat Airin memasuki mobil.
Air mata yang mulai menetes di pipi Airin sudah memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Mari kita cari lagi. Aku akan menghubungi teman-teman sekolahnya. Kita akan segera menemukan Zia," hibur Rain.
Airin hanya bisa menangis untuk menetralkan suasana hatinya. Menangis karena hilangnya Zia atau melihat kelakuan Keano, entahlah. Semenjak pria itu kembali hadir dalam kehidupannya, air mata terus saja menghiasi kedua pipi putih Airin.
Rain mengarahkan laju mobil kembali ke sekolah. Berpikir, siapa tahu Zia masih ada di sekitar sana, atau sekedar menemukan petunjuk tentang keberadaan Zia. Petunjuk sekecil apapun sangat berguna saat ini.
Laju mobil yang sedikit dipercepat, membuat keduanya cepat sampai di depan sekolah Zia. Atensi Rain mendarat pada seorang anak laki-laki yang baru saja keluar dari halaman sekolah.
"Niel, tunggu!" Rain yang sudah keluar dari McLaren-nya berlari menghampiri anak tersebut.
Anak lelaki yang merupakan ketua kelas Zia itu menoleh. Tentu saja ia langsung mengenali Rain. Pria dewasa itu sering dijumpainya saat sepulang sekolah untuk menjemput Zia.
"Loh, Om Rain kok masih ada di sini? Bukannya Zia sudah pulang?" tanya Niel saat Rain ada di dekatnya.
"Pulang?" Rain terkejut. Dia yakin betul jika Zia belum sampai di rumah. Jika benar, pasti Nisa sudah mengabarinya.
"Mas Rain? Bagaimana? Zia sudah ketemu?" berondong Airin yang baru sampai.
Niel yang merasakan ada yang tidak beres pun kembali mengingat-ingat kejadian sebelum jam pulang sekolah tadi.
Zia keluar dari kelas sesaat sebelum bel berbunyi, entah apa yang terjadi pada anak itu. Yang pasti Gendis dan Cilla terus saja mengganggunya saat di kelas.
Niel yang berjiwa pemimpin pun tak tega membiarkan Zia berkeliaran sendirian di luar kelas. Ia bermaksud menyusul untuk membawa Zia kembali ke masuk kelas.
Baru saja Niel menginjakkan kakinya di halaman, manik matanya sempat melihat Zia memasuki mobil berwarna hitam yang tidak ia kenal. Sang pengemudi yang sempat menunjukkan diri pun terlihat asing baginya.
"Zia tadi sudah pulang Om, Tante."
Suara Niel membuat dua orang dewasa itu saling pandang.
"Niel sempat lihat Zia pulang sama siapa?" tanya Airin, hatinya bertambah gelisah.
"Tadi Zia pulang sama om-om. Tapi wajahnya terlihat asing. Aku tidak mengenalnya."
Deg.
__ADS_1