Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 31. Dalam Bahaya


__ADS_3

Airin serta Rain kembali saling melempar pandang. Hingga ponsel Airin yang berdering memutus kontak mata di antara mereka.


Mengerutkan dahi saat melihat nomor baru yang tertera pada layar ponsel, Airin pun sedikit enggan menerimanya.


Pasti nomor salah sambung lagi.


"Ya, halo?" Karena pikiran yang gundah, bahkan Airin lupa untuk mengucap salam.


"Kau pasti sedang mencari Zia 'kan?"


Deg.


Suara ini ... Bagaimana orang ini bisa tahu soal Zia?


"R-Rival?"


"Zia ada bersamaku."


Deg.


"Kau?! Jangan macam-macam dengan Zia. Ku mohon .... " Airin menahan tangisnya agar tidak pecah. Karena ini bukan saat yang tepat untuk mengeluarkan air mata.


Rain dan Niel menajamkan pendengaran mereka saat nama Zia disebut.


"Aku tidak akan macam-macam, asal .... "


"Asal apa?"


"Tandatangani surat itu."


Airin diam, berpikir sejenak.


"Baiklah, biar aku beri pilihan. Kali ini aku tidak akan memintamu untuk pura-pura mati. Asal kau mau menandatangani surat penyerahan harta warisan saja. Itu sudah cukup." Suara Rival kembali terdengar.


'Yaelah, pilihan apanya. Itu sama saja, Buambang. Ujung-ujungnya minta jatah warisan juga.' batin Airin, kesal.


"Bagaimana?" Rival terdengar tidak sabar.


"Baiklah."


Airin menyetujui tanpa berpikir dua kali. Nyawa Zia lebih berharga dari apapun.


"Bagus. Jangan coba-coba menghubungi polisi atau meminta bantuan orang lain. Aku ingin kau datang sendiri nanti malam. Bye."


"Tunggu—"


Pip.


Rival memutus sambungan sepihak, sebelum Airin sempat bertanya dimana Zia sekarang.


'Maaf, ayah, ibu. Airin tidak bisa menjaga rumah pemberian kalian.' Airin sedikit menyesali keputusannya.


Namun kehilangan Zia akan lebih membuatnya menyesal berkali-kali lipat.


"Siapa?" Rain bertanya saat Airin sudah menjauhkan ponsel dari telinganya.


"B-bukan siapa-siapa," elak Airin. Dia tidak bisa mengambil resiko jika memberi tahu Rain.


Beralih pada Niel yang menatapnya penuh selidik, Airin berujar, " Niel, terima kasih atas informasinya. Om dan Tante pergi dulu. Kamu cepat pulang, ya? Hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Baik, Tante. Tapi Zia bagaimana?"


"Zia pasti baik-baik saja. Ayo pulang, Mas." Airin langsung berbalik.


Tatapan heran menghujam ke arahnya dari dua laki-laki berbeda usia itu.


Raut wajah Airin yang seketika berubah setelah menerima telepon tentu membuat Rain langsung tahu jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu.


Tak ada niatan juga untuk bertanya. Rain paham jika Airin diam, dia pasti belum siap untuk bercerita. Maka Rain akan menunggu hingga Airin siap untuk membagi beban pikirannya.


...————...


Pukul 9 malam.


KIA Picanto Airin melesat membelah angin malam yang terasa semakin dingin. Dengan lokasi tujuan sesuai permintaan Rival, Airin segera meluncur meski waktu yang diminta masih selisih satu jam.


Jangan tanyakan soal Rain. Tentu saja ia tak tahu-menahu dengan aksi nekat Airin ini. Selain tak ingin menyeret Rain ke dalam masalahnya, syarat dari Rival juga mengharuskan dia datang sendirian tanpa bantuan siapapun.


Lebih cepat lebih baik. Airin sudah tidak bisa menunggu lama lagi. Terlalu khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya.


Apakah dia baik-baik saja? Sudahkah Zia makan? Apa Rival memperlakukannya dengan baik? Bagaimana jika Rival tidak sabar menghadapi Zia?


Segala pertanyaan terus berkecamuk di dalam pikiran. Sebenarnya Airin sudah tersiksa menunggu waktu yang dijanjikan Rival. Seolah waktu itu adalah belati tajam yang bisa membunuhnya kapan saja.


Airin menghentikan mobil di depan sebuah gedung tua. Jika tidak dalam kondisi terdesak seperti saat ini, amit-amit dia mau melangkahkan kaki mendekati gedung usang itu.


Bahkan baginya sekarang, ancaman Rival lebih seram daripada makhluk astral yang mungkin mendiami tempat tersebut.


Meraih ponsel yang bersemayam dalam kantung mantel tebalnya, Airin berniat mengirim chat pada Rival.


Drrtt....


Masuk. Rooftop.


Mengambil nafas untuk mengumpulkan keberanian, sebelum memasuki gedung tua yang nampak angker itu. Dengan penerangan yang minim, Airin pun menyalakan senter pada ponsel untuk membantu menerangi jalan.


"Bismillah .... " lirih Airin sebelum mengambil langkah pertama.


Airin terus merapalkan doa saat menapaki kaki di gedung terbengkalai itu.


'Lagian, Rival aneh-aneh saja. Minta ketemuan di tempat seperti ini. Harusnya di gedung mewah berbintang sepuluh, sambil menikmati hidangan mahal. Minum bersama. Lalu memesan kamar—eh, kok sampai kamar? Ayolah, Rin. Hilangkan pikiran kotor itu dari otakmu. Fokus ke Zia.' Airin menggelengkan kepala saat pikiran gila mulai menyerang.


Setelah selesai mengeluarkan setiap doa yang ia hafal, Airin merutuki saudara sepupunya. Dilanjutkan dengan mengabsen nama-nama makanan juga binatang.


Terus berusaha agar pikirannya tidak kosong. Bahkan tak ayal Airin menyanyikan lagu Korea yang ia hafal sambil menari-nari tidak jelas.


Biarlah dia terlihat seperti orang tidak waras. Jika sampai kesurupan di tempat ini, semakin repot saja urusannya.


Ceklek.


Kriieett...


Suara pintu rooftop yang terbuat dari besi itu terdengar nyaring, karena engselnya yang sudah berkarat.


Fiuh.


Akhirnya Airin sampai juga di rooftop yang terletak di lantai tiga, meski dengan jantung yang bertalu-talu tak karuan, keringat dingin juga sudah bercucuran dari dahinya. Jangan tanyakan kakinya yang sudah merinding disko.


Menajamkan pandangan ketika dia melihat sosok tak asing berada beberapa meter di depannya.

__ADS_1


"Zia!" pekiknya, berlari mendekati sosok anak kecil yang nampak terkulai terikat pada kursi.


Tidak ada lampu ataupun penerangan lain. Airin hanya mengandalkan senter ponsel dan sinar bulan yang sepertinya berpihak padanya.


"Akhirnya kau datang juga." Suara berat lelaki tak menyurutkan niat Airin untuk mendekat.


"Lepaskan Zia!"


Meski kegelapan menyelimuti pandangan, Airin yakin sosok yang berdiri di samping Zia adalah Rival.


"Apa kau sendirian?" Rival memastikannya.


"Kau tak melihatnya, huh?!"


"Baiklah. Kemari dan matikan senter itu."


"Apa?!"


"Aku tak akan mengulangi perkataanku."


Apa dia gila? Tapi ini gelap.


Airin menurut, namun benaknya terus mengumpati Rival. Karena seenaknya saja memerintah. Kalau tidak karena Zia, Airin tak sudi menuruti lelaki licik itu.


"Zia!" Airin segera memeluk Zia setelah mematikan senter dan mengikis jarak di antara mereka.


Mendengar hembusan nafas teratur Zia, Airin yakin jika anak perempuannya tengah tertidur. Atau mungkin sengaja dibuat tidur. Entahlah.


"Tandatangani surat ini." Rival menyerahkan selembar berkas pada Airin, tak memperdulikan wanita itu sedang melepas rindunya.


Sehari tidak mendengar ocehan Zia membuat hari Airin serasa hampa.


"Aku yakin matamu tidak rabun." Ejekan Rival membuat Airin segera menyabar bolpoin lalu menorehkan tandatangan asal di atas berkas itu, dengan beralaskan paha Zia di hadapannya.


"Sudah. Kau puas? Zia, kau baik, Nak?" Tangan Airin berusaha membuka ikatan pada tubuh mungil Zia.


Setelah mengambil berkas dari tangan Airin, Rival pergi dari sana. Airin yang terlalu khawatir tak merasakan kejanggalan sikap Rival.


Blam!


Pintu rooftop dibanting dengan keras. Membuat Airin terperanjat dari posisinya.


"Rival?"


Airin celingukan mencari saudara sepupunya yang seperti hilang di telan kegelapan.


Sunyi.


"Rival! Jangan ingkar janji. Aku sudah mengikuti semua maumu. Akh, sial!" teriak Airin yang sudah berdiri sambil menyapu keadaan sekitar dengan netra yang dipertajam.


"Oh, ayolah. Apakah aku harus membawa Zia, sepaket dengan kursi ini? Talinya sulit sekali dibuka. Aku tak memiliki senjata sama sekali. Bodohnya aku kemari dengan tangan kosong."


"Rival brengsek! Aku hubungi mas Rain saja.Persetan dengan perjanjian. Toh, aku sudah memberikan tandatanganku." Airin tersenyum miris. Mengingat betapa cerobohnya dia. Juga sekarang ia sudah menyerahkan harta peninggalan mendiang orang tuanya begitu saja.


Sedangkan Rival sudah mengunci akses satu-satunya untuk keluar dari rooftop.


"Habisi mereka."


Pip.

__ADS_1


Rival mematikan sambungan teleponnya setelah berbicara dengan seseorang.


"Selamat tinggal Airin."


__ADS_2