Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 27. Bisakah Aku Berdamai dengan Masa Lalu?


__ADS_3

Airin POV


"Aku hamil anak Keano. Jadi jangan dekati ayah dari calon anakku lagi, dasar ja-lang!" teriakan Celia membuatku geram.


Seenaknya saja itu mulut kalau bicara.


Menghapus jejak air mata di pipi, lalu berbalik dengan memasang wajah acuh.


Kenapa juga harus bersedih?


Aku sudah tak ada hubungan apa-apa dengan Keano. Mau dia menghamili mantan istrinya, atau wanita manapun tak ada urusannya denganku.


Mungkin ini saatnya aku harus betul-betul berdamai dengan masa lalu?


Jujur saja, selama ini hatiku sulit untuk berdamai meski sudah berusaha. Hatiku tetap saja getir jika mengingat masa lalu, bahkan terselip sedikit rasa bersalah. Seolah rasa bersalah itu selalu bergentayangan dalam pikiranku.


Mungkin karena aku menyembunyikan keberadaan seorang anak dari ayah kandungnya.


Tapi sekarang aku sudah melakukan hal yang benar. Sudah jujur pada Keano. Sehingga tak perlu merasa bersalah karena tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi.


Keano sudah tahu jika Zia adalah anaknya, darah dagingnya. Cukup sampai di situ. Tidak lebih.


Aku menghampiri Celia yang sudah berdiri menatapku dengan sinis. Tatapanku pun tak kalah sinisnya dengan wanita bertubuh ramping itu.


"Jaga ucapanmu!" ketusku, masih menahan tangan agar tidak melayang ke pipi mulus mantan sahabatku.


"Lalu disebut apa wanita yang berada di dalam apartemen pria lain. Huh? Aku yakin kau bermalam di sini dan melakukan pekerjaan layaknya ja lang, tidur satu ranjang dengan pria lain agar dibayar."


Aku diam, menahan amarah. Mengatur nafas agar tetap tenang.


"Kenapa diam? Aku benarkan? Ternyata Airin yang sok polos itu adalah seorang yang rela ngangkang—"


Plak!


Tanganku yang sudah gatal akhirnya tak sanggup kutahan. Jemariku yang lentik itu kini sudah mendarat mulus pipi Celia, dengan meninggalkan jejak telapak tangan yang memerah di sana.


Ya, ampun. Sepertinya aku menamparnya terlalu keras. Pasti sakit.


Kulirik sekilas Keano yang ternganga melihat perbuatanku. Sepertinya dia terkejut melihat sisi lain dari diriku.


Ya, aku bukan Airin yang ia kenal. Dulu aku memang gadis polos, lemah, penurut, yang selalu mampu menahan emosi dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.


Dan keadaanlah yang sudah memaksaku untuk menjadi wanita yang lebih tangguh. Berani untuk membalas orang yang mengusik kehidupanku.


Serasa mendapat tontonan gratis, Keano tak berniat melerai kami. Baguslah. Tak kan ada pengganggu di antara aku dan Celia. Ekspresi terkejut dengan wajah merah padam wanita itu menjadi hiburan tersendiri bagiku.

__ADS_1


"Kau mengatai orang lain dengan sebutan ja lang? Sedangkan kau sendiri hamil dari mantan suamimu. Ingat. MANTAN. Siapa di sini yang lebih pantas disebut ja lang?" sarkasku.


Celia napak ingin membalas perbuatanku. Tangan itu sudah melayang di udara. Secepat kilat kutahan sebelum menyentuh pipiku.


Hup!


Dia melotot, aku pun juga.


"Ingat, Rin. Keano baru melayangkan talak 2 padaku. Jadi, kami bisa kapan saja rujuk kembali. Dan aku sedang mengandung anaknya sekarang. Jadi, Keano tidak bisa mengurus perceraian begitu saja."


Aku terhenyak sesaat.


Kurang asem! Jadi selama ini Keano sudah membohongiku? Dia bilang sudah bercerai, aku kira memang sudah sah cerai.


Bodoh!


Apa yang aku harapkan dari pria seperti dia? Aku jadi menyesal sudah memberitahukan tentang Zia padanya. Huh!


Sudahlah, semua sudah terlanjur. Lagipula cepat atau lambat rahasia itu akan terungkap juga.


Mengatur nafas agar netral kembali. Aku menatap Celia lekat. Sebenarnya tak sudi menatap rubah betina itu, bikin sakit mata saja. Tapi, kalau aku terus menghindar, dia akan terus menganggapku remeh.


Huftt ... Ambil nafas ... Keluarkan ... Ambil nafas dari hidung ... Keluarkan dari bawah .... Huh, lega.


"Dengar, Cel. Aku tak peduli, kau tahu? Mau kamu hamil dari Keano atau pria lain, aku tak peduli. Tidak ada manfaatnya juga buat aku .... "


" ... Tapi lain kali kalau mau mencari suami itu lihat-lihat dulu. Mencari pasangan memang hak segala bangsa, tapi tidak merampas hak milik bangsa lain juga kali. Dan aku tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu. Jadi, ambil saja bekasku. Tapi, asal kau tahu. Berjuang sendirian itu sakit. Selamat menikmati," lanjutku.


Setelah merampungkan ocehan, aku menghempaskan tangan Celia yang terasa sedikit bergetar. Lalu segera pergi dari sana. Karena aku sudah muak melihat dua manusia yang dulu pernah menghunuskan samurai pada hatiku secara bersamaan.


Meski tak menampik kenyataan jika, Keano tidak mencintai Celia. Tapi, hati seseorang siapa tahu. Begajulan kelas kakap seperti dia susah untuk dipercaya. Aku jadi berpikir jika air matanya saat mengetahui kenyataan tentang Zia adalah air mata anoa.


Uh, bodoh sekali. Saat itu aku malah terlena dalam pelukannya.


Huftt, dadaku sesak. Mencoba mengatur nafas, agar tidak berhenti mendadak.


Melihat kebersamaan Keano dan Celia, membuat ingatan tentang penghianatan mereka yang masih melekat jelas di otakku kembali muncul. Rasa sakit dan kecewa itu sulit sekali aku hilangkan.


Air mataku kembali turun. Sebenarnya aku tak pantas untuk menangis. Tapi kenapa hatiku rasanya sakit. Jika ditahan lebih lama lagi dadaku semakin sesak saja.


Masih samar terdengar teriakan Celia saat aku sudah ada di lorong apartemen.


"Keano! Mau kemana? Aku hamil anak kamu loh. Pipi aku sakit nih kena tampar. Bantu obatin kek. Huh, Keano!"


Dasar manja.

__ADS_1


Sialnya, pria batu itu ternyata malah terus mengikutiku dari belakang.


"Airin!"


Mengabaikan panggilannya, dan mengambil langkah selebar mungkin. Jika saja aku punya sayap, ingin rasanya terbang hingga menembus cakrawala. Membiarkan tubuhku melayang, terombang-ambing di udara.


Sejenak rasa kebebasan itu mengingatkanku pada sensasi ketika—


"Airin, tunggu!"


Ah, apa sih, kutil anoa itu?! Menggangu orang lagi menghalu saja!


Semakin bodoh amat saat Keano sudah menyamai langkahku yang mana kini telah sampai di basement. Karena aku sedang berusaha setengah mati menghentikan tangisku agar tak terlihat olehnya.


Brugh!


"Awhh," rintihku, saat tiba-tiba dia mendorong tubuhku hingga punggung ini menabrak tembok.


"Maaf, tapi tolong dengarkan aku dulu."


"Apa sih, Ke?!"


Bukannya menjawab, Keano malah melepas kemeja yang dikenakannya. Menampilkan kaos putih tipis yang masih melekat pada tubuh kekarnya. Lalu dia lebih mendekat pada tubuhku.


Aku terpaku. Posisi ini mengingatkan kembali saat kejadian di UKS sekolah dulu. Hari dimana kisah kami dimulai.


Stop!


Semuanya sudah berakhir, Rin. Sadarlah. Lupakan hal-hal manis berbau Keano dari otakmu. Semakin diingat, semakin enggan kau lepas.


"Menyingkirlah dariku!" sentakku, mendorong badan Keano menjauh.


Kemeja crocodile lengan panjang berwarna abu-abu dengan kombinasi hitam kini sudah terpasang epic di pinggangku.


Apa maksudnya ini?


Apa dia berniat romantis-romantisan dengan menutup piyama tidur yang aku kenakan?


Jika dilihat-lihat memang pakaianku sedikit kurang pantas. Bahannya terlalu tipis. Siapa suruh dia menahanku semalaman?


Mana hari sudah terang benderang seperti ini, tentu sinar matahari mampu membuat piyamaku tembus pandang.


Aku segera melepas kemeja yang diikatkan dengan seenaknya itu.


"Eh, jangan, Rin!"

__ADS_1


"Kenapa? Kau mau merayuku? Basi, Ke! Aku tak butuh bantuanmu."


__ADS_2