Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 42. Danau


__ADS_3

"Loh? Bunda sakit?" Zia yang baru saja mengganti baju seragamnya dengan baju santai terheran mendapati Airin tengah menyamankan badannya di atas ranjang.


Heran saja, biasanya setelah menjemput, Airin akan langsung menitipkannya pada Nisa lalu kembali ke kafe.


Airin bangkit dari posisi rebahannya seraya menjawab." Bunda libur, Sayang."


Alasan yang konkret agar Zia tak menanyainya lebih dalam kenapa Airin tak bekerja hari ini. Besok-besok entah apa alasannya pada Zia agar gadis kecil itu tak menaruh curiga padanya.


Belum saatnya Zia tahu bila dia sudah tak bekerja lagi di Rain Cafe. Dan Zia tak perlu tahu akan hal itu. Airin berniat mencari pekerjaan lain dalam waktu dekat ini. Setelah hatinya mulai membaik tentunya.


"Yeay, Bunda libur. Kita ke rumah om Keano yuk, Bun," ajak Zia tersenyum penuh arti. Mata bulatnya menatap Airin antusias.


What?! Kok tiba-tiba bahas pria batu itu?


"Bunda tidak tahu alamat om Keano, Zia." Lagi-lagi Airin harus berbohong pada Zia.


"Yah, padahal Zia kangen sama om Keano." Wajah Zia berubah murung.


"Maaf, ya. Kita ke taman bermain saja, gimana? Di sana Zia bisa main sepuasnya," bujuk Airin yang melihat bibir Zia sudah mulai melengkung.


Zia menggeleng kuat.


'Huftt ... Berat nih,' keluh Airin dalam hati.


"Zia maunya ketemu sama om Keano. Bunda punya nomor ponselnya 'kan?" Bibir melengkung itu kini menyungging sebuah senyum.


Aduh, mau alasan apalagi ini? Kalau berbohong pun Zia tak akan percaya.


"Punya 'kan, Bun?" desak Zia. Airin semakin panas dingin dibuatnya.


"Iya, punya."


"Asik. Zia mau telepon om Keano suruh main ke sini lagi. Boleh 'kan, Bunda?"


"Jangan!" tolak Airin cepat.


"Kenapa, Bunda?" Zia nampak tersentak dengan penolakan itu.


"Maksud Bunda ... Jangan ... Jangan di sini, kita ketemuan di danau dekat tanam saja."


'Duh, bodoh! Mikir apa sih aku ini.' Airin merutuki dirinya sendiri, mencetuskan sebuah ide gila itu tanpa dipikir berulang kali.

__ADS_1


Setidaknya pilihan itu sudah tepat. Mengundang Keano ke rumah adalah ide buruk. Tak masalah jika hanya bertemu di luar apartemen. Sebab Airin khawatir jika Celia ada di apartemen Keano. Celia tidak boleh bertemu dengan Zia dulu. Setidaknya hal itu akan aman bagi putri semata wayangnya.


"Danau? Zia mau, Bun. Zia siap-siap dulu, ya? Bunda jangan lupa telpon om Keano, oke?" Tanpa menunggu jawaban, Zia langsung melenggang pergi menuju lemari kecil di pojok kamar.


"Zia—" Airin geleng-geleng melihat Zia yang begitu bersemangat ketika akan bertemu dengan Keano.


...----------------...


Airin duduk di salah satu bangku yang menghadap ke danau. Sedangkan Zia sudah menghambur dengan teman seusianya di taman bermain yang terletak tepat di belakang Airin duduk.


Sesekali ia menoleh ke belakang, dilihatnya Zia yang sedang asyik bermain. Lalu kembali melemparkan pandangan ke arah tenangnya permukaan danau di depannya.


Dirinya mendengus lirih, tatkala teringat nada suara Keano yang terdengar begitu senang saat menelponnya tadi. Apalagi ketika Airin mengutarakan maksud untuk mengajaknya bertemu.


"Hai, sudah lama menunggu?" Seorang pria langsung mengambil tempat di samping Airin saat baru saja datang.


Tak ada balasan. Yang ada hanya tatapan jengah yang dilayangkan pada pria itu. Airin bersyukur Keano tak bersikap frontal seperti pertemuannya di kafe waktu itu. Dan seperti biasa, kata maaf selalu luput dari pria yang sedang melayangkan senyuman maut pada mangsanya.


"Om Keano!" seru Zia dari belakang.


Keano berdiri, berbalik ke sumber suara. Dia pun berlutut sambil merentangkan tangan. Zia yang melihatnya sontak menerjang tubuh pria dewasa itu, lalu mengubur wajahnya dalam pelukan.


Melihat interaksi ayah dan anak tersebut, hati Airin tersentuh. Hampir saja air matanya berulah. Sebelum itu terjadi, Airin segera mengambil tindakan dengan menengadahkan wajahnya menghadap langit.


Dilerainya pelukan, tak lupa untuk memberikan kecupan pada puncak kepala gadis kecil itu. Kemudian memberi isyarat pada Zia agar kembali bermain bersama teman-temannya. Gadis itu tersenyum cerah, mengecup lembut pipi Keano, sebelum kembali berbaur di taman bermain.


Senyum Keano merekah sempurna. Lalu beranjak untuk duduk di sebelah Airin lagi.


"Menangislah, utarakan apa yang ada dalam hatimu." Suara deep Keano menyadarkan Airin jika pria itu kini sudah ada di dekatnya.


Netra Airin sudah memerah, bertemu dengan monolid eyes yang memandang teduh ke arahnya.


Airin terkesiap beberapa saat. Tatapan yang sudah bertahun-tahun lamanya dia rindukan, dari seorang yang berhasil mengukir luka dengan sempurna, kembali bisa dilihatnya tepat di depan mata.


Jemari hangat milik pria itu tiba-tiba saja sudah menghapus jejak air bening, yang entah sejak kapan, turun dari kantung mata Airin.


"Kau bisa membohongi semua orang. Bahkan kau bisa membohongi dirimu sendiri. Tapi kau tak bisa membohongiku! Jangan bersikap sok kuat di hadapanku, padahal hatimu sedang lemah," tutur Keano, membuat tangis Airin semakin deras.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" rengeknya, terbawa suasana.


"Apa kau ingin aku mencari tahu tentang Arsen?"

__ADS_1


"Arsen? Arsen siapa yang kau maksud? Apakah kakak kelas kita saat SMA?" Airin mulai menghentikan tangisnya. Tertarik dengan topik pembicaraan Keano.


"Kau belum menyadarinya juga?"


Airin menggeleng dengan wajah yang sembab dipenuhi air mata. Hal itu malah terlihat lucu di mata Keano. Seperti melihat anak kecil yang permennya direbut paksa, lalu merengek dengan tangis untuk memintanya kembali.


Sedang menangis saja secantik ini apa lagi kalau sedang—ah, mikir apa sih aku ini?!


Keano menggeleng saat pikiran gilanya mulai beraksi.


"Arsen adalah Rain. Kakak kelas cupu dengan kacamata tebalnya dan juga Rain adalah orang yang sama," jelasnya kemudian.


"Tak bisa dipercaya. Bagaimana bisa? Mereka seperti dua orang yang berbeda," gumam Airin takjub.


Ternyata selama ini Rain sudah banyak membohonginya, pun dengan identitas asli pria tersebut.


"Apakah aku perlu mengorek informasi lebih darinya?" tawar Keano.


Airin terdiam. Sedang bergumul dengan pikirannya yang bercabang. Apakah benar Rain berniat jahat padanya? Jika Rain adalah Arsen hal itu sangat tidak mungkin. Menurutnya, Rain maupun Arsen merupakan pria paling baik yang pernah ditemuinya.


"Tidak. Aku tidak berniat tahu lebih dalam tentangnya. Semakin aku mencari tahu, maka aku akan semakin tersakiti. Tak beda jauh denganmu," final Airin dengan sindiran telak untuk Keano.


Yang disindir pun tersenyum kecut menanggapinya.


"Bukankah aku sudah minta maaf?" bela Keano.


"Kau pikir maaf saja sudah cukup untuk menebus semua dosamu?!"


"Aku tahu. Perbuatanku tak pantas dimaafkan. Tapi, bisakah aku memperbaikinya? Kita ulangi semuanya dari awal. Bagaimana?"


Airin yang sudah menghentikan tangisnya sejak beberapa menit lalu tersenyum remeh.


"Lalu Celia? Dia hamil anakmu. Kau ingat?"


Keano termangu. Pertanyaan Airin barusan terdengar ambigu di telinganya.


Apakah baru saja Airin sudah memberinya kesempatan?


"Jika aku bisa membuktikan jika Celia tidak hamil anakku, apa kau bersedia menerimaku kembali?" tanya Keano dengan mimik serius, menatap lurus ke dalam netra Airin.


"A-apa maksudmu?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, pria itu malah tersenyum penuh arti.


"Hey, Tante. Kenapa Tante mengintip Bunda dan Om Keano dari balik pohon ini?" Suara cempreng Zia mengalihkan atensi Keano dan Airin. Keduanya sontak menoleh ke arah belakang.


__ADS_2