Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 34. Look At Me


__ADS_3

"Bunda .... "


Suara lirih Zia bagai masuk ke dalam alam bawah sadar Airin. Membuka kedua kelopak matanya dengan lamat. Saat setengah terbangun, dirasakan bahunya yang sebelah kanan lumayan berat.


Seberkas sinar cahaya matahari yang langsung memenuhi pandangan, segera mengembalikannya pada kesadaran. Beberapa perawat yang lalu lalang memandangi keduanya sekilas, sebelum melanjutkan aktivitas mereka.


Sudah pagi, ya?


Airin menoleh. Dilihatnya, seonggok rambut lengkap dengan kepala dan sang empunya tubuh, tengah menyender nyaman di bahunya.


"Mas.... " lirih Airin mencoba membangunkan pria di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan bahu.


"Mas Rain bangun. Aku mau lihat Zia dulu. Sepertinya dia tadi memanggilku."


"Enghhh.... Lima menit lagi, Sayang."


Deg.


Apa tadi Rain memanggilnya sayang?


Airin jadi merasa bersalah. Dirinya sadar jika pria yang selalu menjadi malaikat pelindungnya itu menaruh rasa padanya. Namun karena sakit hatinya di masa lalu seakan menjadi penghalang untuk membuka hati pada pria manapun.


Bahkan pria sebaik Rain pun ditolak saat beberapa kali mengajukan lamaran padanya. Bukan apa-apa. Tapi Airin hanya merasa tidak pantas untuk bosnya itu.


Dia tampan, mapan, sukses dan perjaka. Sedangkan Airin? Hidupnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rain. Dan Rain pantas mendapat wanita yang lebih baik darinya.


Setidaknya Rain berhak bersanding dengan gadis lajang, bukan wanita yang beranak satu namun belum menikah seperti dirinya, pikir Airin.


"Mas Rain."


Berusaha lagi untuk membangunkan, karena Airin kini sudah merasa lumayan pegal dengan posisinya menopang kepala Rain yang semakin berat saja.


"Mas Rain!"


Tak kunjung bangun, dengan sedikit sentakan keras pada bahunya, membuat kepala Rain longsor ke bawah hingga kini kepala itu mencari tempat nyamannya di paha Airin.


"Mas, jangan main-main. Zia sudah sadar."


Rain mulai bergerak, lalu bangkit. Mengangkat kepalanya dengan tegak, namun mata masih terpejam.


"Benarkah? Tapi, kenapa hari masih gelap? Suruh Zia tidur lagi saja." Celetukan Rain membuat Airin mendengus.

__ADS_1


"Mas buka matanya dulu. Ini sudah pagi."


"Berat. Kasih semangat dong."


Airin diam. Gagal paham dengan maksud Rain.


"Morning kiss," sambung Rain yang langsung dihadiahi pukulan keras pada bahunya.


"Akh! Kasar." Rain mulai membuka kedua netranya dengan sempurna. "Sama preman brengsek tadi malam saja kamu—Ups, maaf." Rain buru-buru menjeda ucapannya. Tak bisa membendung kekesalannya saat teringat posisi Airin ketika dirinya baru sampai di TKP.


Wajah Airin seketika memerah. Teringat dengan ide konyolnya tadi malam.


"Maaf .... " lirihnya.


"Jangan melakukannya lagi."


"Aku tidak akan melakukannya dengan pria manapun—"


"Jangan bertindak gegabah. Kau bisa membahayakan dirimu sendiri. Atau aku yang akan menyesal karena membiarkanmu terluka lagi," potong Rain.


Deg.


Airin mendongak. Menyelam ke dalam netra yang menatapnya dengan serius. Sepersekian detik mata mereka saling mengunci. Angin pagi mempermainkan beberapa helai rambut Airin yang terjuntai tak beraturan.


Bagai terhipnotis oleh wajah nan ayu itu, Rain tanpa sadar mulai mendekatkan wajah, berniat hendak menyapu bibir menggoda di depan dengan bibirnya.


'Kenapa saat bangun tidur seperti ini Airin tampak sangat cantik?' gerutu Rain dalam benak, tak bisa menghentikan reflek tubuhnya.


Saat jarak sedikit demi sedikit sudah terkikis, hembusan nafas hangat saling beradu pada wajah masing-masing. Airin otomatis memejamkan matanya. Rain pun demikian.


"Bunda .... " Suara lirih Zia kembali terdengar. Merangsek masuk pada pendengaran keduanya. Memaksa mereka untuk kembali sadar pada kenyataan. Hingga keduanya membuka mata secara serempak.


"M-maaf. Aku harus menemui Zia." Airin yang semakin tersipu malu segera berlari memenuhi panggilan Zia.


Meninggalkan Rain yang masih pada posisinya, duduk dengan canggung. Nyawanya yang belum terkumpul sempurna sepertinya sudah membuatnya seakan kehilangan akal sehat.


"Bodoh!" rutuknya sebelum menyusul Airin ke dalam ruang rawat Zia.


Saat baru masuk, dilihatnya Airin sedang memeluk Zia. Suara isak lirih mulai memenuhi ruangan.


"Bunda kenapa menangis? Zia baik-baik saja. Zia 'kan kuat."

__ADS_1


Menepikan rasa canggungnya, Rain pun mendekati ibu dan anak tersebut.


"Hai, tuan putri. Bagaimana perasaanmu?" Rain sudah berdiri di belakang Airin.


"Zia pengen makan cilok, Om."


Hampir saja Rain tertawa mendengar jawaban Zia yang tidak nyambung.


Airin bergeming. Terlalu semrawut membuatnya lupa jika ini sudah waktunya sarapan. Ia menoleh ke arah meja di samping brankar.


Satu nampan jatah sarapan Zia sudah menunggu untuk disantap.


'Kenapa suster tidak membangunkan kami tadi?' tanya Airin dalam hati dengan sedikit kesal.


"Zia makan bubur yang sudah disediakan dulu, ya?" Airin mengusap air matanya, hendak mengambil nampan itu.


"Zia tidak mau makan bubur!" protes Zia mengerucutkan bibir mungilnya.


"Nanti ciloknya Om belikan. Tapi Zia makan buburnya dulu. Habis itu minum obat. Biar cepat sembuh."


"Tidak mau! Sudah dibilang Zia tidak apa-apa, Om!" bentak Zia, yang langsung mendapat tatapan horor dari Airin.


"Zia—" Hampir saja Airin mengeluarkan taring jika saja Rain tidak meletakkan tangan pada pundaknya.


"Biar aku saja," tawar Rain, lantas mengambil alih nampan dari tangan Airin.


Airin berdiri mempersilahkan Rain untuk duduk di atas kursi kayu yang baru saja ia duduki, karena hanya ada satu biji di ruangan itu.


"Istirahatlah jika masih mengantuk." Rain mengendikkan kepalanya pada sofa di ujung ruangan.


"Terima kasih. Tapi aku sudah tidak mengantuk. Um, Mas mau kopi?"


"Boleh."


Airin pun beranjak menuju kantin rumah sakit. Sebenarnya itu jurus jitunya untuk menghindari Rain. Mengingat kejadian demi kejadian memalukan yang terus melibatkannya, Airin merasa malu menampakkan wajahnya pada pria itu untuk saat ini.


Airin menyempatkan diri menyambangi toilet untuk melakukan ritual juga mencuci wajahnya agar tak terlalu terlihat kusut.


Saat melewati ruang tunggu ia tak sengaja melihat siluet dua orang yang sangat dikenalnya. Hati Airin terasa nyeri, ternyata itu benar mereka. Dan salah satu dari mereka melihat ke arah Airin berdiri mematung saat ini.


Mata mereka bertemu. Seolah ruangan itu hanya menyisakan keduanya dan kenangan yang pernah mereka lalui bersama.

__ADS_1


Aku tak pernah bisa tidak melihat ke arahmu.


__ADS_2