Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 43. Luka yang Semakin Dalam


__ADS_3

"Hey, Tante. Kenapa Tante mengintip Bunda dan Om Keano dari balik pohon ini?"


Celia tersentak dengan suara gadis cilik yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


"Bunda? Om Keano?" gumam Celia, melempar pandang ke arah dua insan yang duduk di depan sana dan gadis kecil itu secara bergantian.


Apakah yang bocah ini panggil bunda itu ... Airin?


"Celia?"


Deep voice itu mengalihkan atensinya ke sumber suara. Wajah penuh tanya berubah menjadi keterkejutan. Bagaimana tidak?


Tempat persembunyiannya sudah ketahuan. Tujuannya berdiri di balik pohon ialah untuk memata-matai Keano.


Beberapa jam yang lalu ....


Celia masuk begitu saja ke dalam apartemen setelah memasukkan pin yang sudah ia hafal di luar kepala.


"Nono ... Wah, tau saja kalau aku mau ngajak makan siang." Celia langsung tersenyum sumringah saat melihat Keano sudah berpakaian rapi bersiap untuk pergi.


"Aku ada urusan."


Senyum Celia luntur mendengarnya.


"Kemana?"


"Bukan urusanmu." Keano berlalu tanpa sempat memandang Celia sama sekali.


"Nono! Aku di sini, loh. Kok dicuekin? Aku mau jemput kamu buat ajakin makan siang. Nono!" teriak Celia yang sayangnya hanya dianggap angin lalu oleh pria itu.


Keano tak ingin Celia mengacaukan pertemuannya dengan Airin. Karena tumben sekali wanita itu menghubunginya untuk mengajak bertemu. Meski semua itu dia lakukan sebab desakan Zia.


Namun tetap saja, Keano sangat antusias dengan ajak itu. Sampai-sampai dia sama sekali tak menyangka jika Celia membuntutinya dari belakang. Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah taman bermain dengan danau dangkal yang terletak di pinggirannya.


Melihat Keano lebih memilih menemui Airin dari pada menemaninya, membuat Celia kesal setengah mati.Ia berniat melabrak wanita itu. Tapi lagi-lagi dia merasa heran dengan interaksi Keano dengan Zia.


'Kenapa bocah itu selalu ada di dekat Airin?' batinnya. Insting Celia mencium bau mencurigakan.


Maka dia bersembunyi di balik pohon tak jauh dari mereka guna mengamati dan mengorek informasi lebih dalam.


Lamat-lamat Celia mendengar nama Arsen di sebut. Tentu dia kenal dengan pemilik nama itu. Karena sempat beberapa kali berpapasan dengannya saat di bangku SMA dulu.

__ADS_1


......................


"Celia?"


Mendengar namanya disebut, otomatis pengintaiannya terbongkar. Bukannya menjawab dia malah terdiam diri di tempat. Sempat syok dengan perkiraan yang baru saja terpikirkan.


Airin yang menyadari Zia berada di dekat Celia, segera menghampiri putrinya. Keano yang memang tak cepat tanggap menyusul di belakang Airin setelah wanita itu sudah beberapa langkah di depan.


"Zia. Ayo pulang, Sayang," ajak Airin segera meraih tangan Zia, hendak mengajaknya menjauh dari sana.


"Tapi, Bunda—"


"Bunda? Anak perempuan itu memanggilmu dengan sebutan Bunda?" Celia menoleh ke arah Airin seraya memicingkan matanya. Mengabaikan Keano yang menatapnya nyalang.


Airin tak menanggapi.


"Kau diam-diam mengikutiku, Cel?!" sela Keano menyadari kegugupan Airin.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang jelaskan siapa bocah itu sebenarnya?" Ternyata Celia tak terpengaruh. Dia tetep kekeuh dengan pertanyaannya.


Tak ada yang membuka mulut. Semua terdiam. Namun tiba-tiba Zia menyeletuk. " Jangan panggil bocah. Namaku Zia, Tante."


Lama Celia bertukar pandang mengamati Keano, Airin, dan Zia. Suatu gagasan sontak terlintas dalam otaknya. Sangat kentara jika Zia mirip dengan Keano. Mulai dari mata, hidung, hingga bibirnya. Celia seperti melihat keluarga kecil yang harmonis saat memandangi mereka.


"K-kami harus pulang," pamit Airin.


Menyadari situasi tak menguntungkan baginya. Dia takut Celia menyadari kenyataan dan membocorkan semuanya saat ini—di depan Zia.


Baru beberapa langkah meninggalkan tempatnya berdiri tadi, dia mendengar suara Celia yang lantang. "Bocah bernama Zia itu anakmu dengan Keano, bukan?"


Airin ingin sekali mengacuhkannya, namun mantan sahabatnya itu terus saja mendesak.


"Airin! Jawab aku! Jangan jadi pengecut."


Bahkan Zia sekarang sudah menghentikan langkahnya, menatap Airin dengan tatapan penuh tanya. Lalu melempar pandang ke arah belakang dimana terdapat dua manusia sedang beradu mulut di sana.


"Celia, sudahlah. Itu bukan urusanmu. Kau tak berhak memaksa seseorang untuk menjawab pertanyaanmu." Keano mencekal tangan Celia sebelum dia mengejar Airin.


"Jangan membela wanita ja lang itu, No. Aku tahu kau sudah paham situasinya. Jadi kau ayah dari bocah itu 'kan?" tantang Celia.


"Z-Zia, ayo!" Airin menarik paksa Zia agar mengikuti langkahnya suara Celia semakin membuatnya gundah.

__ADS_1


Zia tetap tak bergeming. "Bunda kenal dengan Tante itu?"


Kini mata bulat itu menatap Airin menunggu balasan.


"Iya," bisik Airin pasrah.


"Jaga bicaramu, Cel! Ja lang teriak ja lang. Memangnya siapa dirimu? Bayi yang kau kandung itu bukan anakku. Iya 'kan?" Keano tak terima saat mendengar mantan istrinya menghina masa lalunya.


Airin yang tak sengaja mendengarnya, menoleh ke arah keduanya. Batinnya bertanya-tanya. 'Apa yang Keano maksud? Celia bukan hamil anaknya?'


"Oke. Asal kita sama-sama jujur. Itu akan lebih baik. Bagaimana?" tawar Celia.


Airin mematung di tempat. Tak tahu lagi langkah apa yang akan dia ambil. Jika kenyataan itu dibuka saat ini juga, entah apa yang terjadi ke depannya. Tentu semua tak akan sama lagi. Semua berawal dari reuni yang seharusnya ia hindari.


Tapi terlambat. Semua hal yang tak seharusnya terjadi sudah berjalan sejauh ini. Mau memutar waktu kembali mundur pun tidak mungkin bisa. Hanya dapat mengikuti arus takdir yang entah akan membawanya kemana.


"Baiklah. Zia adalah anakku dan Airin. Tidak perlu membuktikannya dengan tes DNA, karena secara tatap muka saja hal itu sudah terlihat jelas. Zia sangat mirip denganku," jelas Keano panjang kali lebar tanpa memikirkan konsekuensi dari ucapannya.


Dua wanita dewasa dan satu gadis kecil termangu dengan apa yang mereka dengar.


"Jadi benar, kamu ayahnya Zia?" tanya Celia yang sengaja menaikan nada suaranya.


"Sekarang giliranmu untuk jujur," tagih Keano, seperti tak memperdulikan tatapan penuh amarah dari Airin.


"Jika aku menebak usia Zia sekarang sekitar 5 sampai 6 tahun .... " Celia menoleh, memastikan Airin mendengar apa yang akan dia katakan. "Berarti Airin hamil sebelum atau bahkan bisa saja setelah kita menikah. Jadi bisa dipastikan jika Zia anak di luar pernikahan, atau lebih tepatnya anak haram."


Airin semakin geram. Tangannya sudah mengepal kuat. Bahkan ia mempererat genggaman tangannya pada Zia. Dirinya seperti dipermainkan saat ini. Hanya dijadikan bahan keuntungan oleh keduanya. Okelah, tak masalah jika mau menyebut Airin bukan wanita baik-baik, atau apalah dia tidak peduli. Tapi bila sudah menyangkut Zia, Airin tak bisa diam saja.


Namun sebelum sempat ia mengambil langkah, Zia menggoyang-goyangkan tangannya. Airin menolehkan tatap pada putrinya itu. Dilihatnya mata bulat Zia semakin melebar. " Anak haram itu apa, Bunda?"


Suara itu begitu lirih namun terdengar bagai pukulan telak yang baru saja menghantam jiwa. Dadanya sesak oleh rasa sesal. Begitu pula Keano yang tersentak mendengarnya, baru tersadar jika Zia masih berada di sekitar mereka.


"Apa benar Om Keano ayah Zia?" Mata bening itu memandang satu persatu wajah tiga orang dewasa di sekitarnya secara bergantian, menanti sebuah jawaban.


"Zia, nanti Om jelaskan semuanya. Setelah urusan Om sama Tante ini selesai." Keano segera mengambil alih situasi agar tak semakin rumit.


Ditariknya Celia menjauh dari sana.


"Zia tanggung jawabku, jadi kau tak perlu ikut campur. Sekarang giliranmu untuk jujur," desak Keano, sudah tak sabar menghadapi wanita licik di depannya.


"Oke-oke. Aku akan jujur. Anak yang aku kandungan ini benar anakmu, No. Apa kau tidak ingat sudah melakukannya denganku?" Celia menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


"Brengsek!" sarkas Keano, kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun.Bodohnya dia baru tersadar sudah terpancing emosi oleh ular berbisa macam Celia.


__ADS_2