
"Airin! Asal kau tahu. Rain terlibat dengan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang menimpa kedua orang tuamu."
Airin mematung di tempat, menghentikan tangannya yang hendak menutup pintu. Rain juga ikut terdiam di samping Airin. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Keano untuk menguak kebenaran.
"Percayalah padaku. Aku memang pria brengsek. Tapi, aku tak akan berbohong mengenai kematian seseorang. Terlebih itu orang tuamu."
Airin masih terdiam, begitu juga Rain. Pria itu seolah pasrah dengan apa yang akan dikatakan oleh Keano.
Mungkin ini saatnya untuk jujur, pikir Rain.
"Kecelakaan itu disengaja, Rin. Ayah Ra—"
"Cukup, Ke. Jangan ungkit masalah itu lagi. Itu murni kecelakaan," potong Airin cepat, dengan suara sengau. Tak ingin kematian orang tuanya kembali diungkit.
"Tapi kau harus mendengarkanku, Rin. Kali ini saja, please .... "
"Maaf. Jangan membuat hatiku lebih sakit, Ke. Pergilah!" Sebelum air mata Airin lolos tanpa diminta, ia sudah lebih dulu menutup pintu rumah rapat-rapat.
Brakk!
"AIRIN! DENGARKAN AKU! RAIN BUKAN PRIA BAIK-BAIK! OY, KAU DENGAR, TIDAK?!" teriakan lantang Keano masih bisa menembus pintu.
Airin segera pergi menuju ke kamar, sembari menutup kedua telinganya dengan tangan. Rain yang merasa bersalah, hanya bisa menunduk lalu mengekor di belakang. Bergumul dengan pikirannya sendiri.
Suara tangisan yang terdengar pilu membuat Rain mengurungkan niatnya saat akan memasuki kamar. Dia lebih memilih berdiri di balik tembok, dengan masih mempertahankan kepalanya yang tertunduk.
Tangannya mengepal erat. Mendengar tangis Airin selalu berdampak pada hatinya yang ikut tidak baik-baik saja. Dia lebih memilih dipukuli hingga pingsan, daripada mendengar tangisan wanita yang dicintainya.
Tangisan yang tak kunjung berhenti memberi tekad pada Rain untuk menghampiri wanita yang mampu mengombang-ambingkan hatinya seperti kapal yang buta arah itu.
Tujuan hati Rain adalah berlayar ke hati Airin. Namun hati Airin belum bersedia untuk menjadi pelabuhan hatinya. Karena wujud batu karang bernama Keano seperti menghalangi jalur kapalnya.
Saat Rain masuk, wanita yang duduk di ujung ranjang itu masih tak bergeming. Segera direngkuhnya tubuh ringkih Airin yang bergetar ke dalam dekapan hangatnya. Seolah menyalurkan kekuatan agar wanita itu kuat dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Airin berdiri menyambutnya, meletakkan dagunya pada bahu Rain.Seolah itu hal yang biasa mereka lakukan.
"Kenapa? Kenapa orang itu selalu datang membawa luka? Tidak bisakah dia sadar jika dia itu telah menyakitiku sangat dalam? Hal yang seharusnya sudah tenang seiring berjalannya waktu, malah dia ungkit kembali dengan tak tahu dirinya. Bukankah itu namanya membuka luka lama? Luka yang dia torehkan saja belum hilang. Tapi dia sudah menyakiti hatiku di sisi yang lain," racau Airin, jejak air mata yang membentuk sungai kecil masih mengalir menghiasai pipinya.
"Aku tahu kau wanita yang kuat, Rin. Pasti bisa menghadapi semuanya. Setelah semua hal yang terjadi, kau masih bertahan hingga sejauh ini. Itu membuktikan jika kau hebat."
__ADS_1
Untaian semangat dari Rain mampu merasuk dalam relung hatinya Airin. Perlahan air matanya mulai surut lalu mengering.
Rain benar. Bukankah sekarang dia sudah menjadi wanita yang tangguh? Bukan Airin yang cengeng lagi. Tak ada gunanya menangisi seseorang yang bahkan tak peduli dengan hatinya.
"Terima kasih. Kau selalu bersedia berbagi pundak di saat aku sedih." Airin mulai melerai pelukan mereka.
Ditatapnya wajah Rain dengan seksama. Namun raut gelisah yang jelas tercetak pada wajah pria itu seperti menggangunya.
Airin teringat nama Arsen yang disebut Keano tempo hari juga mampu membuat air muka Rain langsung berubah.
"Ada apa?" tanya Airin, sadar ada sesuatu yang Rain sembunyikan.
"Aku .... " Rain terdengar ragu dengan apa yang hendak dia katakan.
Akan tetapi, menurut Rain inilah waktunya dia jujur. Yang namanya bangkai, sepintar apapun disembunyikan pasti suatu saat akan tercium juga busuknya. Sebelum aroma bangkai itu terendus, maka Rain harus bertindak apapun resikonya.
Daripada Airin mengetahui kenyataan itu dari mulut orang lain, akan lebih baik dirinya yang mengakui kebenarannya sendiri.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Rain dengan suara berat. Kedua netranya tak mampu tertuju pada Airin.
"Tentang?"
"Apa kau berharap aku akan mempercayai mulut pria brengsek itu?"
"Tapi Keano mengatakan yang sebenarnya, Rin."
"A-apa maksudmu?"
"Kejadian itu bukan murni kecelakaan. Itu semua sudah diatur. Ayahku salah satu dari beberapa pelaku yang merusak rem mobil yang kalian gunakan saat itu. Sebenarnya targetnya adalah kau, Airin."
"B-bohong. Kau berbohong 'kan, Mas?" tanya Airin pelan. Seolah suaranya hampir menghilang. Bahkan tubuhnya sudah merosot, lemas bagai tak bertulang. Rain segera membantunya duduk di atas ranjang.
"Tapi kami gagal dalam misi. Karena yang menjadi korban bukan kau, melainkan kedua orang tuamu," lanjut Rain, seolah buta melihat Airin yang jelas-jelas tengah terguncang.
"Omong kosong apa ini?" Airin menggeleng. Tak mengerti apa yang baru saja didengarnya.
Rain mengatakannya dengan bahasa yang lugas dan jelas. Namun dalam pendengaran Airin, pria itu seperti berbicara dengan bahasa asing yang tak dia mengerti.
"Maaf .... " Rain menunduk dalam. Suaranya sudah mulai serak. Airin yakin jika Rain berkata jujur. Raut penyesalan terpahat jelas pada paras pria itu. Namun hati Airin tetap berusaha menyangkalnya.
__ADS_1
Sulit dipercaya, jika orang yang selama ini ia anggap sebagai malaikat pelindungnya, tak ubahnya dia adalah malaikat pencabut nyawa yang sewaktu-waktu bisa saja merenggut nyawanya.
"Keluar!" Kata yang sebenarnya tak ingin diucapkan Airin malah keluar begitu saja dari bibirnya.
"Tapi aku tak ada hubungannya dengan kelompok itu, Rin. Aku berani menjamin."
"Aku bilang keluar, Mas. Hiks .... " Pertahanannya runtuh. Air bening yang tadi setengah mati ia tahan, mengalir dengan tak tahu diri tanpa menunggu perintah darinya.
"Aku tak berniat menyakitimu. Kau tahu 'kan kalau aku mencintaimu? Aku serius dengan ucapanku, Rin. Percayalah," bujuk Rain. Tak tega melihat air mata yang selalu sukses menyiksa hatinya itu.
"Hiks ... KELUAR!"
Bentakan Airin membuat Rain memundurkan langkahnya. Kedua netra teduhnya yang berubah sayu masih menatap Airin penuh harap. Tangis yang semakin menyesakkan dada membuat Rain memutar badannya. Tak sanggup melihat wajah sembab yang tampak menyedihkan itu.
Biasanya bahu Rain lah yang digunakan Airin untuk bersandar di saat rapuh seperti ini. Sebagai penyangga kesedihan untuk wanita yang dicintainya. Namun kali ini Rain memilih pergi. Bahunya sendiri bahkan sudah nampak lunglai.
"Mas Rain .... "
Panggilan itu bagai angin segar yang menerpa wajah kusut Rain. Dia menghentikan gerakannya sebelum mencapai ambang pintu.
Apakah Airin mau memaafkannya? Adakah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ayahnya? Pikiran itu sempat terlintas di benak Rain.
Rain berbalik. Netranya yang mulai berbinar bertemu dengan netra sembab Airin.
"Y-ya?"
"Aku berhenti dari Rain Caffe. Mulai sekarang aku bukan karyawanmu lagi."
Deg.
Hati Rain semakin sesak. Bahkan untuk bernafas saja dia seakan membutuhkan tenaga lebih.
"Itu hakmu, Rin. Aku permisi." Rain mencoba tegar. Ia tahu Airin akan membencinya.
Rain susah siap dengan konsekuensi yang akan dia terima. Ini adalah keputusannya. Maka dia juga harus sanggup menanggungnya apapun yang terjadi.
Bahkan jika harus kehilangan Airin untuk selamanya. Mengubur rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan dalam palung nestapa kehidupan.
Air bening mengaburkan pandangan Rain. Setetes bulirnya tak sengaja terjatuh di atas lantai yang ia pijak.
__ADS_1
"Aku tak pernah menyesal karena telah menaruh rasa padamu, Rin. Sebab itu pilihan yang kubuat sendiri, walau berakhir menjadi luka. Satu hal yang perlu kau tahu, rasaku padamu akan selalu tetap sama .... " lirih Rain sebelum benar-benar pergi dari kediaman Airin.