
"Bunda, Ayah 'kan sudah di sini. Jadi mulai sekarang kalau Ayah tinggal bersama kita, boleh tidak?"
"Uhuk .... " Rain terkejut hingga beberapa bulir nasi menghambat saluran pernapasan yang membuatnya tersedak.
Tak kalah terkejutnya dengan dua orang dewasa berbeda gender itu. Airin yang sudah kehabisan kata-kata tak mampu menjawab pertanyaan yang menurut Zia sederhana tersebut.
"Oh, sudah hampir terlambat. Kita berangkat sekarang yuk, Zia," ajak Keano setelah melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.
"Tapi, Ayah. Sekolah mulai setengah jam lagi. Ayah juga belum sarapan. Masakan Bunda enak lho," sanggah Zia.
"Jalanan macet, Zia. Dan sayang sekali, Ayah sudah sarapan tadi. Berangkat sekarang saja, yuk?" Keano berbohong agar Zia tidak melontarkan pertanyaan rawan yang membuat mereka begitu kewalahan mencari jawaban yang tepat.
"Oke deh."
Keano lega mendengarnya.
"Pamit dulu sama Bunda dan Om Rain," titah Keano.
Zia berlari menuju meja makan, meraih jemari Airin kemudian mencium punggung tangannya. "Zia berangkat sekolah dulu, Bunda."
Hal yang sama ia lakukan juga pada Rain. "Zia berangkat ya, Om."
"Belajar yang rajin," ujar Rain mengelus lembut surai Zia.
"Siap, Om." Zia meraih tas di kursi sebelum kembali menuju posisi Keano berdiri.
"Kami berangkat," pamit Keano, menyambut Zia dalam gendongannya seraya berjalan keluar rumah.
"Hati-hati .... " Sepasang kata pertama yang melompat dari bibir Airin setelah mampu mengkondisikan hati.
Jujur saja. Airin masih bimbang dengan pilihan yang akan dia ambil untuk kedepannya. Terlebih setelah telepati dengan Rain tadi. Bagaimana Rain bisa memberitahunya jika jawaban sudah ada di depan mata, sedangkan dia dihadapkan dengan dua pria dalam satu ruangan?
Merasa ambigu, Airin pun bertanya. "Apa maksudmu?"
"Eh? Maksud apa?"
"Tatapan Mas tadi. Seolah Mas bilang kalau jawaban dari pertanyaanku ada di depan mata, iya 'kan?"
Rain berpikir sejenak. Dia tidak merasa pernah berkata seperti itu, tatapan yang ia layangkan tadi hanya sebagai penguat Airin untuk menghadapi semua kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
"Jawaban sudah ada dalam hatimu. Kamu tinggal meraihnya saja. Pilihan ada di kamu. Aku pamit." Rain yang sudah menyelesaikan sarapannya beranjak dari kursi.
"Terima kasih. Masakannya enak," puji Rain sebelum benar-benar menghilang di balik tembok.
Meninggalkan Airin dengan otaknya yang masih bekerja keras mencerna perkataan Rain. "Aku saja tidak tahu hatiku memilih siapa."
"Sikapmu itu membuatku bimbang, Mas," monolog Airin dengan pandangan mata menerawang melihat punggung Rain yang makin menjauh, lalu tak terlihat lagi.
......................
"Ayah."
"Ya, Zia."
"Ayah hari ini sibuk, tidak?"
Keano menatap Zia sejenak sebelum kembali fokus ke jalanan. "Tidak."
"Asik, berarti nanti malam Ayah pulang ke rumah 'kan?"
Pertanyaan yang dihindari Keano akhirnya keluar lagi dari bibir mungil Zia.
"Umm, gimana ya .... "
Keano menarik nafas dalam berharap jawabannya tidak menyakiti siapapun. "Boleh, Sayang."
"Yeay, terima kasih, Ayah," girang Zia. Reflek memeluk Keano dari samping.
"Harusnya Ayah yang berterima kasih padamu, Nak." Keano mengelus lembut pucuk rambut Zia.
Menyalurkan kasih sayang yang selama ini sempat tertunda. Mendapat pelukan dari gadis kecil itu bagai candu yang ingin terus diulangnya. Sebuah rasa hangat menjalar dalam hati sampai ke seluruh sendi dalam tubuh. Hingga mampu melelehkan air bening pada sudut netranya.
Mengingat Zia yang tumbuh tanpa kehadirannya, selalu sukses membuat suasana sendu mendera. Namun sekarang dia sudah ada di sini. Di samping Zia. Maka sebisa mungkin Keano melakukan yang hal terbaik agar tidak mengecewakan anak semata wayangnya itu.
Sedikit memakan waktu untuk sampai di sekolah, karena Keano sengaja memperlambat laju mobilnya. Dia hanya mengantar Zia sampai di gerbang sekolah. Ini momen pertama kali baginya. Jika dia emak-emak sosialita, sudah dikeluarkan ponsel guna mengabadikan Zia yang melambaikan tangan ke arahnya sebelum memasuki gedung sekolah.
"Manis sekali," gumamnya. Masih melambaikan tangan meski Zia sudah memasuki ruang kelas beberapa menit yang lalu.
Waktu yang berlalu, seiring dengan kesadarannya yang mulai kembali. Perlahan hatinya juga mulai gusar.
__ADS_1
"Malam ini aku akan pulang. Tapi jujur saja, aku belum siap .... " lirihnya.
"Semoga Airin tidak marah dengan keputusanku. Huftt," sambungnya.
Kemudian mulai memacu kuda besinya menuju sebuah kafe. Mengingat dia sudah membuat janji dengan seseorang.
...----------------...
Tok Tok
"Itu pasti Ayah!" seru Zia sembari bangkit dari sofa ruang tamu. Berlari girang menuju pintu depan, lalu membukanya.
Ceklek
"Selamat datang,A—" Senyum antusiasnya sontak berganti dengan kerucutan bibir ketika sosok di hadapannya bukan orang yang dia nanti.
"Selamat malam, Zia," sapa Rain tersenyum ramah.
Bukannya menjawab, Zia berbalik dengan wajah lesu lalu kembali mendudukkan diri di atas sofa. Tingkah gadis kecil itu tak lepas dari pengamatan Airin yang duduk tak jauh dari sana. Sebenarnya dia sama berdebarnya dengan Zia yang menantikan kedatangan Keano malam ini.
Terkejut saat menjemput Zia dari sekolah tadi siang. Sepanjang perjalanan Zia terus membicarakan Keano yang akan pulang dan tidur bersamanya malam ini.
"Zia, tidak baik seperti itu. Jawab sapaan orang lain padamu. Jangan mengacuhkannya," tegur Airin.
"Iya, Bunda. Maaf. Selamat malam, Om Rain," sahut Zia dengan nada lemas tanpa berniat mendongakkan kepalanya yang tertunduk.
Airin merasa tidak enak dengan sikap Zia, segera bangkit menghampiri pria itu. Namun sebelum mulutnya sempat terbuka Rain sudah memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.
Rain menghampiri Zia yang tengah murung. Duduk di sampingnya seraya mengelus pelan surai gadis itu. "Ayah Zia sebentar lagi pulang kok."
"Benarkah?" Zia menatap Rain dengan manik mengkilat penuh semangat. Tapi tak lama binar itu kembali redup. "Sepertinya ayah lupa."
"Mungkin ayah Zia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," hibur Rain.
"Apa pekerjaan Ayah lebih penting daripada aku?"
Hati Airin ikut sakit mendengarnya. Ingin sekali dia melempar batu granit pada kepala Keano jika bertemu nanti, yang mungkin akan membuat kepala pria itu sedikit benjol. Berharap Keano sadar dengan kesalahannya.
Selalu seperti ini. Dia yang berjanji, dia pula yang mengingkari. Mengingat perilaku Keano dulu, tangan Airin sudah terkepal kuat siap melayangkan tonjokan di wajah pria tersebut.
__ADS_1
Keano boleh saja ingkar ataupun menyakitinya, akan tetapi tidak pada Zia. Gadis kecil tak bersalah itu sudah menanggung banyak kesedihan akibat perbuatan Keano selama ini.
"Kutil anoa sialan!" geram Airin seraya meregangkan sendi pada jari tangannya.